Saijo No Osewa

Saijo No Osewa
Saijo No Osewa Volume 1 - Bab 34


__ADS_3

...Bab 34...


...Enak, Ojuo-sama...


Sepulang sekolah.


“Belajar kelompok?”


Setelah menyelesaikan latihan rutinku, aku memberitahukan Shizune-san mengenai sesi belajar kelompok yang akan diadakan.


“Ya. Aku sedang berpikir untuk mengadakan sesi belajar kelompok dengan teman-temanku sebagai persiapan untuk menghadapi ujian.”


“Baiklah. Sebenarnya mulai besok aku juga berencana untuk menerepakan kurikulum sebagai persiapan untukmu menghadapi ujian yang akan datang, tapi kalau sudah begini, aku akan menyesuaikan jadwalnya.”


Shizune-san mengatakan itu dengan jelas, yang membuatku melebarkan kelopak mataku. Tampaknya, hanya karena Shizune-san tidak memberitahuku apapun tentang ujian itu, bukan berarti dia tidak memikirkan persiapan ujianku.


“Maaf ya. Padahal kau telah mempersiapnya banyak hal untukku.”


“Kau tidak perlu khawatir tentang itu, lagipula aku ini hanyalah orang luar. Aku yakin kalau sesama siswa yang terlibat akan jauh lebih baik.”


Namun demikian, jika dia sudah mempersiapkannya, aka sia-sia jika tidak dimanfaatkan. Yah, bersamaan dengan sesi belajar kelompok itu, kupikir aku juga harus menyelesaikan persiapan ujian yang telah Shizune-san siapkan untukku.


“Apa orang-orang yang mau bergabung dengan sesi belajar kelompok itu sudah diputuskan?”


“Ini masih belum pasti sih, tapi mungkin anggotanya akan sama seperti yang berpartisipasi di pesta teh tempo hari.”


Saat acara pesta teh itu, semua orang tampak bersnang-senang. Karenanya, alangkah baiknya jika kami bisa berkumpul lagi dengan anggota yang sama.


Tapi, saat aku melihat wajah serius yang ditampilkan Shizune-san, aku merasakan sedikit kegelisahan.


“...Erm, haruskah aku tidak terlalu memperluas interaksiku secara sembarangan?”


“Asalkan kau tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas, itu tidak apa-apa. Namun, harap berhati-hati saat Ojou-sama menemanimu.”


“Aku mengerti.” kataku, saat aku menganggukan kepalaku.


“Baiklah, pelatihan untuk hari ini sudah selesai. Dan karena Ojou-sama sedang menunggumu, jadi silakan pergi ke kamarnya secepat mungkin.”


“Ya, terima kasih lagi untuk hari ini.”


Berterima kasih pada Shizune-san, aku langsung meninggalkan dojo.


Sepulang sekolah, seorang pengurus memiliki jadwal yang cukup padat. Setelah melakukan persiapan dan pengulasan materi, aku akan diberi pelajaran etiket saat makan malam, kemudian belajar lagi sebentar, dan terakhir akan diberikan pelatihan bela diri. Setelah semua itu selesai, aku akan pergi ke kamar Hinako untuk mandi bersamanya.


Jadwal ini awalnya agak berat untukku, tapi akhirnya aku jadi terbiasa.


“...Oh, ada yang kelupaan...,”

__ADS_1


Teringat akan sesuatu, aku pergi ke kamarku lebih dulu. Setelah mendapatkan apa yang aku lupa, aku menuju ke kamar Hinako lagi.


“Muu~...”


Dan sekarang, seteleh membasuh tubuh kami, aku dan Hinako masuk ke dalam bak mandi, dan kemudian mencucikan rambutnya. Sementara itu, sedari tadi Hinako terus-terusan mengeluarkan erangan yang terdengar kesal.


“...Apa kau masih marah?”


“Padahal harusnya aku yang mengajarimu, tapi... Muu~...”


Rupanya, Hinako marah padaku perihal keikutsertaanku dalam sesi belajar kelompok.


“Erm, aku memang salah karena sudah memutuskannya seorang diri, tapi itu bukan berarti aku akan kehilangan sesi belajarku denganmu...”


“...Apa aku saja tidak cukup baik untukmu?”


“Tidak, bukan itu masalahnya, tapi...”


Tampaknnya kalau seperti ini aku tidak bisa memperbaiki suasana hatinya. Itu sebabnya, aku segera membilas sampo dari rambutnya dan berdiri.


“...Tunggu di sini bentar ya.”


Mengatakan itu, aku pergi ke ruang ganti dan mengambil sesuatu yang telah kupersiapkan sebelumnya.


“Ingat, rahasiakan tentang ini dari Shizune-san, oke!” kataku, saat aku mengeluarkan sesuatu dari kantong pendingin dan menyerahkannya pada Hinako.


“Itu es krim. Sebelum mobil datang menjemputku, aku membelinya secara diam-diam.”


Karena pengaturan cerita yang dibuat adalah aku dan Hinako tinggal di rumah yang berbeda, ketika pulang sekolah di saat kami akan menaiki mobil, Hinako akan naik terlebih dulu, sedangkan aku harus pergi ke titik pertemuan dan kemudian akan dijemput di sana menggunakan mobil yang sama. Dan tadi, secara diam-diam aku membeli es krim beserta kantong pendinginnya sebelum aku sampai di titik pertemuan, dan kemudian aku menyembunyikan di tasku untuk dibawa pulang. Saat aku pergi ke akademi, Shizune-san akan memberiku sejumlah uang saku, jadi dengan uang itu, aku membeli es krim tersebut.


“Hinako, apa kau pernah makan es krim sambil berendam di bak mandi?”


“Tidak, tapi...”


“Rasanya enak sekali loh!”


Aku juga membeli es krim untuk diriku sendiri, jadi aku mencobanya lebih dulu. Kemudian, Hinako meniruku dan menyeruput es krimnya sambil berendam di bak mandi.


“Enak...! Enak...! Enak~...!!”


“Ya kan.”


Dengan mata yang berbinar, Hinako terkesan akan sensasi makan es krim sambil berendam di bak mandi. Melihat ekspresi bahagianya itu, secara tak sadar aku tersenyum kepadanya.


Tampaknya aku berhasil memperbaiki suasana hatinya.


Sejak awal, esk krim ini kusiapkan untuk membuat Hinako jadi merasa rileks.

__ADS_1


Tugasku sebagai pengurusnya adalah memastikan bahwa Hinako tidak harus sering-sering pingsan . Jika sampai saat ini dia sering sekali pingsan..., maka aku yakin, dari dulu niat yang seperti kulakukan saat ini tidak pernah berhasil terhadapnya. Bagaimanapun juga, akumulasi kebahagian seperti ini itu penting, dan dengan pemikiran seperti itulah, aku mempersiapkan semua ini..., dan syukurnya, itu bisa membuatnya berada dalam suasana hati yang baik.


“Ah......” seru Hinako, saat potongan es krimnya jatuh ke lantai.


Karena lantai yang ada di kamar mandi suhunya hangat, potongan es itu dengan cepat jadi cair..., tapi, Hinako dengan cepat mengambil cairan es itu dengan telapak tangannya.


“Aturan tiga detik.”


Mendengar Hinako yang mengatakan itu dengan santai, sontak aku mengerutkan keningku.


“Eh, itu kan udah kena air sabun..., udah, jangan dimakan deh,”


“...Tapi, aturan tiga detiknya....”


Kalau kasusnya begini, aturan itu tidak berlaku. Kemudian, dengan sedih, Hinako meletkkan cairan es itu kembali ke lantai.


“Biar kuingatkan, jangan sampai menerapkan aturan tiga detik ini di depan umum, oke?”


“Mm..., aku akan berhati-hati.”


Jawabannya terasa ambigu, jadinya aku tidak yakin apakah dia benar-benar mendengarkanku atau tidak.


“Itsuki..., kapan sesi belajar kelompok itu di adakan?”


“Waktunya masih belum ditentukan sih, tapi menurutku lebih cepat akan lebih baik. Mungkin, besok atau lusa...”


“......Aku juga akan bergabung.”


Dari alur percakapan ini, aku sudah menduga kalau dia akan mengatakan itu. Tapi, tidak seperti saat acara pesta teh, saat ini aku merasa ragu-ragu untuk membiarkannya bergabung dalam sesi belajar kelompok itu.


“Sampai sekarang aku memang belum sempat menanyakan ini padamu..., tapi, mungkinkah alasan kenapa kau sakit sebelumnya adalah karena kau menghadiri pesta teh?” Dengan perasaan bersalah, aku melanjutkan perkataanku. “Kalau memang begitu, kupikir sesi belajar kelompok ini akan menjadi beban untuk tubuhmu. Itu sebabnya, akan lebih mudah baik jika kau kembali ke mansion lebih dulu.”


“Hmm......” Terhadap kata-kataku, Hinako mulai merenung, dan kemudian, “Tapi seperti itu juga tidak terlalu baik untukku.”


Dia hanya mengatakan itu dalam beberapa patah kata, tapi aku bisa memahami pemikiran Hinako.


“......Begitu ya.”


Tentunya, semuanya akan lebih mudah bagi Hinako jika dirinya bisa menghabiskan waktu seorang diri tanpa harus muncul di depan publik. Namun demikian, sesuatu seperti itu tidak selalu membawa kebahagian bagi dirinya.


Jujur saja, aku pribadi ingin agar Hinako berinteraksi sebanyak mungkin dengan orang lain. Mempertimbangkan Narika dan Tennoji-san sebagai contoh, kupikir akan lebih baik jika dia memiliki beberapa teman untuk dirinya.


“Selain itu, aku yang sekarang..., tidak ingin jika kau tidak berada di sisiku.” kata Hinako, yang kutanggapi dengan senyum masam.


“Baiklah, kalau begitu kita akan pergi bersama-sama nanti.”


“Mm.”

__ADS_1


__ADS_2