
...Bab 28...
...Ojou-sama yang Pingsan...
“Waaaa...”
Mobil yang membawa Hinako mulai melaju pergi.
Kemudian, Narika menghela napas dalam-dalam.
“Ada apa?”
“Tidak, itu, erm..., akhrinya aku bisa merileksan bahuku....”
Rupanya, dia merasa lega bisa lepas dari ketegangannya. Selama pesta teh tadi, Narika mampu mempertahankan sikap tegasnya, meskipun dia kadang-kadang terlihat gugup. Saat ini, dia langsung menjadi sesuatu yang cocok untuk gadis seusianya.
“Katamu kau tidak mahir berbicara dengan orang lain, tapi nyatanya kau bisa berbicara secara normal, bukan?”
“Itu terjadi bukan hanya karena kekuatan pribadiku. Berkat bantuan dari kalian semua, aku berhasil menghindari untuk tidak menyebabkan kekacauan...”
Yah, mungkin itu memang benar.
Secara khusus, Asahi-san dan Tennoji-san sangat prihatin tentang Narika. Asahi-san berusaha memeriahkan pembicaraan agar Narika bisa ikut nimbrung, dan Tennoji-san berusaha membawa Narika masuk ke tengah-tengah pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan secara halus.
“Itsuki... Terima kasih, ya.” Tiba-tiba, Narika mengucapkan terima kasih secara formal. “Kalau bukan karenamu, aku yakin kalau aku akan menghabiskan masalah SMA-ku tanpa bisa memiliki teman.”
“...Yah, meskipun kau bilang begitu, tidak mungkin juga kan kalau sampai seperti itu. Aku cuman membantu sedikit kok.”
“Tidak, aku benar-benar paham dengan diriku sendiri, makanya aku bilang begitu. Hari ini pasti merupakan hari yang telah mengubah hidupku.”
Mengatakan itu, Narika kemudian menatapku.
“Seperti yang kupikirkan, Itsuki..., kau adalah pahlawanku. Saat aku masih kecil, kau mengajariku tentnag dunia luar..., dan kali ini, kau menyelamatkanku dari kesendirian.”
Njir, pahlawan..., bukankah itu terlalu dilebih-lebihkan.
Narika telah memperindah kenangan yang dimilikinya, dan kini sangat emosional. Setelah beberapa saat, aku yakin dia akan menjadi lebih tenang. Selain itu, aku juga tidak bermaksud untuk mempermasalahkannya.
“Itulah sebabnya..., itu tidak adil.”
Menundukkan kepalanya, Narika mengatakan itu.
“Tidak adil..., tidak adil, tidak adil, tidak adil! Bersama Konohana-san..., itu tidak adil!”
“...Kau masih mau mengungkit itu.”
“Ya, aku mengungkitnya! Aku akan menungkitnya lagi dan lagi! Habisnya, sesuatu seperti ini—terlalu keterlaluan! P-Padahal kita baru saja bertemu lagi, tapi kenapa kau malah harus menetap di rumah Konohana-san!”
“Sekalipun kau bilang begitu..., aku hanya bisa menjawab kalau itu karena hubungan orang tua kami.”
Saat kubilang bahwa aku memang tidak punya pilihan lain, Narika mengerang, “Kuu ...!”.
“Sebelumnya kau bilang kalau kau cuman magang, tapi apa lagi yang kau lakukan? Kau juga pasti melakukan pekerjaan, kan?”
“Begitulah, tapi sekalipun aku bilang itu pekerjaan, itu cuman sekedar menjaga citranya.”
“Konohana-san tidak membutuhkanmu untuk menjaga citranya! Sejak awal orang itu memang sudah sempurna!”
Ya justru karena dia tidak sempurna, makanya jadi masalah.
Tentunya, aku tidak bisa mengatakan itu, jadi aku tetap diam.
“...Kapan magangmu itu akan berakhir?”
“Untuk saat ini, aku masih belum tahu...”
__ADS_1
“J-Jika kau sudah selesai magang di sana, bagaimana kalau kau datang ke rumahku? Kau sendiri juga ingin bernostagia, kan!”
Tentunya, aku memang ingin bernostalgia, tapi itu akan sulit karena aku akan dipekerjakan oleh keluarga Konohana sampai aku lulus.
“Yah, akan kupikirkan.”
“Lah, etiket sosialmu mana!?” seru Narika, terlihat sangat terkejut.
Aku bukanlah Tennoji-san, jadi tentnunya aku akan mengatakan satu atau dua kata tanpa etiket sosial.
---
“Baiklah, pelajaran untuk hari ini telah selesai. Kau telah melakukannya dengan baik.”
“T-terima kasih banyak...”
Di dojo keluarga Konohana, aku mengatakan itu di saat aku bersimbah keringat.
Bahkan pada hari diadakannya pesta teh, pelajaran harian tidak akan dibatalkan. Malahan, itu menjadi dikemas dengan lebih banyak konten dari biasanya, yang membuatku kelelahan.
“Itsuki, ayo mandi...”
Pintu dojo terbuka, dan Hinako muncul dari sana.
“...Oh, sudah waktunya, ya?” gumamku, saat melihat ke arah jam yang ada di dojo.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22;00, dan aku juga ingin membersihkan keringat, jadi aku memang sudah berencana untuk mandi, tapi—
“Ojou-sama. Ada yang ingin saya bicarakan dulu dengan Itsuki-san, jadi bisakah anda kembali ke kamar anda lebih dulu?”
“Mm..., aku mengerti, jangan lama-lama ya.”
Hinako mengangguk terhadap kata-kata Shizune-san dan meninggalkan dojo.
“Ya, ini tidak akan lama kok.” kata Shizune-san, dengan nada yang formal.
“Aku tidak ingin membuat Ojou-sama menunggu terlalu lama, jadi aku tidak akan menjelaskannya secara detail, tapi... akhir-akhir ini Ojou-sama sedang tidak enak badan, jadi Itsuki-san, untuk berjaga-jaga tolong teruslah awasi dia.”
“Tidak enak badan? ...Tapi pas di pesta teh tadi dia kelihatan baik-baik saja.”
Mungkinkah tadi itu dia memaksakan dirinya?
Saat aku berpikir begitu, Shizune membuka mulutnya dengan ekspresi serius.
“Kalau mau jujur, kupikir tubuhnya tidak akan kuat lagi dalam waktu dekat ini.”
“......?”
Aku sama sekali tidak mengerti arti kata-katanya, jadi aku memiringkan kepalaku.
“Asalkan kau selalu memperhatikannya, maka pasti tidak akan ada masalah. Kalau begitu, kau sekarang bisa pergi ke kamar Ojou-sama, Itsuki-san.”
Dengan itu, Shizune-san mulai membersihkan dojo.
Aku tidak benar-benar paham maksud dari percakapan tersebut, tapi aku disuruh untuk terus mengawasinya, jadi aku pasti akan mengingatnya dan berhati-hati.
Aku pun masuk ke kamar Hinako, dan kemudian menuju ke kamar mandi.
Baju renangku sudah disiapkan di ruang ganti. Setelah aku berganti ke pakaian renang, aku langsung masuk ke kamar mandi.
“Ah... Itsuki...”
“......Maaf membuatmu menunggu.”
Aku mendekati Hinako, yang tampak telah menungguku, dan segera mencuci rambutnya.
__ADS_1
“Apa ada bintik-bintik gatal?”
“Tidak ada……”
Karena mencuci rambut Hinako telah menjadi rutinitas harianku, aku juga diajari oleh Shizune-san bagaimana cara mencuci rambutnya. Aku menghangatkan kulit kepalanya dengan air panas di telapak tanganku, dan dengan hati-hatinya mencucinya menggunakan sampo. Setelah itu, aku mengambil kondisioner dan mengoleksannya ke rambutnya.
“...Tapi tetap saja, Shizune-san itu, dia juga membuat sesuatu yang luar biasa, ya.”
Saat aku mencuci rambut Hinako, aku melihat ke belakang.
Di sana ada ruang shower pribadi. Ini sudah seperti memiliki kamar mandi di dalam kamar mandi. Shizuna-san bilang, “Kalian tidak akan bisa mencuci tubuh kalian secara menyeluruh saat kalian memakai pakaian renang,” dan alhasil, dibuatlah ruangan yang digunakan untuk mencuci tubuh.
“Hinako, bisakah kau mengambil timba yang di sana?”
“OK...”
Lah, kau barusan bilang OK atau Oke...? [Catatan Penerjemah: Timba (桶/Oke).]
Aku meminta Hinako untuk mengambilkan timba yang sudah mau jatuh dari bak mandi, mungkin karena tersapu oleh air.
Namun, Hinako menjatuhkan timba itu dalam prosesnya mengambilnya.
Drang, suara dentangan pun bergema di dalam kamar mandi.
“......Ah.”
Hinako dengan cepat mengambil timba itu itu seolah-olah dia baru saja memikirkan sesuatu.
“Aturan tiga detik.”
“...Yah, itu memang benar sih.”
Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi Hinako, yang mengatakan itu sambil menyeringai.
“Ini..., menarik juga.”
“Kalau kau bilang begitu, maka kurasa itu layak untuk memberitahukannya padamu.”
Tapi yah, jika memungkinkan, jangan lakukan itu di depan umum.
“Tadi, setelah kita berpisah..., apa yang kau bicarakan dengan Miyakojima-san...?” tanya Hinako.
“Meskipun kau bertanya begitu..., itu hanya percakapan biasa tentang pesta teh yang menyenangkan. Cuman itu doang.”
“......Hmm.”
Dengan erangan seperti itu, Hinako menunjukkan ekspresi yang tampak entah apakah dia yakin atau tidak yakin dengan perkataanku.
“Itsuki..., kau adalah pengurusku.” dengan suara yang pelan, Hinako bergumam, “....Jangan pernah pergi kemana-mana.”
“Tadi kau bilang apa?”
Itu adalah suara yang pelan, jadi aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Namun, Hinako tidak menjawab saat aku bertanya kembali.
Lalu, dengan perlahan, Hinko merobohkan tubuhnya kearahku. Dia, yang hanya mengenakan pakaian renang, menemepel padaku, yang membuatku kebingungan.
“Hei..., kalau kau tidur di kamar mandi, nanti kau akan masuk angin loh.”
Sambil mengatakan itu, aku menggoyangkan tubuhnya dengan ringan. Tapi, Hinako sama sekali tidak mengatakan apa-apa.
“Hinako...?”
Menyadari bahwa ada yang tidak beres, aku melihat wajah Hinako. Dia tampak berkeringat. dan mendesah kesakitan.
“――Hinako!?”
__ADS_1