Saijo No Osewa

Saijo No Osewa
Saijo No Osewa Volume 1 - Bab 19


__ADS_3

...BAB 19...


...Kita akan bertemu lagi...


“Ngomong-ngomong, kenapa kau ada di akademi ini?”


Sejenak, aku memikran jawaban apa yang harus kuberikan terhadap pertanyaan itu.


Saat ini, posisiku di atur sebagai ‘pewaris perusahaan menengah’ dan hubunganku dengan Hinako adalah ‘kenalan melalui hubungan antara orang tua.’


Semua ini adalah kebohongan yang Shizune-san katakan padaku sebelumnya, dan aku hanya berpura-pura menjadi keberadaan yang bukan diriku.


Tapi..., kebohongan seperti itu tidak akan bisa memperdaya Narika. Bagaimanapun juga, dia mengetahui identitas asliku. Sekalipun di sini aku mengatakan bahwa aku adalah seorang pewaris dari suatu perusahaan kelas menengah, dia pasti akan segera memastikannya.


Jika dia sampai mengetahui tentang hubunganku dengan Hinako, itu berarti identitas asli dari Hinako juga akan terungkap. Sebagai pengurus, aku harus melindungi reputasi Hinako sebagai ‘Ojou-sama yang sempurna.’


“...Dulu aku pernah memberitahumu kalau Ibuku suka bermain judi, kan?”


“Iya, aku juga pernah mendengar banyak cerita mengerikan tentang Ibumu.”


Narika bersimpati. Kebanyakan dari itu pasti dia dengar dari mulut para pelayan.


“Ibuku menang besar dalam perjudian dan memperoleh cukup banyak uang. Berkat itu, aku bisa menghadiri Akademi Kekaisaran ini.”


Itu suatu kebohongan yang lumayan meskipun dipikirkan secara mendadak. Aku punya perasaan yang baik tentang itu, tapi...,


“...Kau berbohong.” kata Narika saat dia menyipitkan matanya. “Akademi Kekaisaran bukanlah akademi yaang bisa kau masuki asalkan kau punya uang saja. Sebelum kau bisa memasuki akademi ini, akan ada pemeriksaan latar berlakang yang sangat ketat. Aset yang diperoleh melalui perjudian tidak seharusnya dievaluasi.”


Begitukah... Terus bagaimana keluarga Konohana mendaftarkanku di akademi ini? Aku ingin tahu, apakah ada pintu belakang yang unik bagi mereka yang berkuasa?

__ADS_1


“Itsuki..., kenapa kau berbohong padaku seperti itu. Apa kau memiliki suatu keadaan dimana kau tidak bisa menjelaskannya...?”


Saat suatu kebohongan terungkap, sudah sewajarnya kalau yang muncul setelahnya adalah kecurigaan.


Saat aku bersimbah keringat dingin dan merasa panik di benakku, ponsel yang kuletkkan di kantong celanaku kembali bergetar menandakan adanya panggilan masuk.


Mungkin itu adalah Shizune-san. Menilai dari jeda waktu saat dia meneleponku sebelumnya, sangat mungkin kalau dia memiliki urusan yang mendesak.


“M-Maaf..., Aku mau mengangkat telepon lagi sebentar...”


Saat aku megatakan itu dan mencoba untuk pergi.


“T-tunggu dulu!” Narika meraih lenganku. “Kau..., tidak akan pergi dan hilang dariku lagi, kan...?”


Dengan suara yang bergetar, Narika menanyakan itu. Saat aku melihat ekspresi sedih di wajahnya, aku merenungkan situasinya.


Begitu ya.


Tapi Narika berbeda. Sebelum dia bertemu denganku, dia tidak pernah pergi keluar untuk bermain dengan anak-anak seusianya. Itu sebabnya, tidak sepertiku, Narika selalu mengingat hari itu, kecemasan yang dia rasakan hari itu.


“Jangan khawatir, kita akan bertemu lagi.”


“Sungguh......?”


“Ya, sungguh.”


Aku sudah menduga kalau aku akan bisa bertemu Narika lagi di sini, tapi sejujurnya, aku senang bisa bertemu dengannya lagi. Hanya karena aku memiliki pekerjaan sebagai pengurus, bukan berarti itu mengharuskan aku untuk menghindarinya.


“K-Kalau begitu..., Elus-elus kepalaku...”

__ADS_1


“Hah?”


“P-Pas dulu kau biasa melakukan itu padaku, kan! Seperti saat aku dimarahi oleh Ayahku dan di kesempatan yang lainnya...”


“......Ahh.”


Kalau dipikir-pikir, dulu aku memang sering mengelus kepala Narika. Aku khawatir dengan ponselku yang telah bergetar sejak beberapa waktu yang lalu. Tapi yah, kurasa aku hanya harus melakukan apa yang dia mau dengan cepat.


“......Ya, ya.”


Saat aku mengelus kepalanya, Narika menunjukkan senyuman lembut.


“Aa..., ini rasanya benar-benar melegakan.”


“Kupikir seorang siswi Kelas 2 SMA tidak harus merasa lega saat kepalanya dielus seperti ini?”


“A-Aku tahu kok! Hanya saja, ini..., adalah kenangan yang sangat penting bagiku.... Sejujurnya, kupikir aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi, Itsuki.”


Seperti di masa lalu, kata-kata Narika jujur dan terus terang. Sambil merasa tidak enak terhadapnya, aku terus mengelus kepala Narika.


“Maafkan aku..., telah menghilang begitu saja.”


“...Tidak apa-apa kok, lagipula sekarang kita sudah bertemu lagi seperti ini.”


Terlihat sangat lega, Narika tersenyum kepadaku.


Saat itulah, pintu ruang UKS terbuka.


“—Apa yang sedang kau lakukan?”

__ADS_1


Saat aku mendengar suara itu, aku berhenti mengelus kepala Narika.


Apa yang muncul dari bailik pintu adalah..., Hinako.


__ADS_2