Saijo No Osewa

Saijo No Osewa
Saijo No Osewa Volume 1 - Bab 23


__ADS_3

...Bab 23...


...Ojou-sama yang Tak Berpengalaman di Pesta Teh...


Aku dengan mudah menemukan orang yang saat ini kucari, Narika Miyakojima.


Suatu hari saat kami melakukan pembelajaran PJOK, aku mengetahui bahwa Narika ditempatkan di kelas 2B. Setelah aku memastikan kalau Hinako telah kembali ke kelas dan mulai berakting, aku langsung menuju ke kelas 2B dan segera menemukan Narika dalam beberapa detik.


...Dia benar-benar kesepian.


Aku memang sudah menduga ini, tapi Narika benar-benar menghabiskan waktu istirahat makan siangnya dalam kesendirian. Dia kini sedang duduk di bangku kedua dari belakang dekat jendela, terlihat sedang makan dalam diam.


Kalau dilihat secara sekilas, dia tampak sangat cantik dan bermartabat, tapi kalau dilihat lebih jeli, terdapat kerutan di antara alisnya, dan matanya yang menengadah tampak tidak bersahabat. Dalam hal ini, tidak heran jika tidak ada orang yang mau mendekatinya.


Karenanya, jika memungkinkan, aku ingin berbicara dengannya..., saat aku berpikir demikian, Narika menoleh ke tempatku berada.


“......? ......Itsuki!”


Saat Narika memperhatikanku, dia langsung berhenti makan dan dengan cepat berdiri dari kursinya. Kemudian, sambil tidak bisa menahan senyuman di bibirnya, dia mendekatiku.


Di sisi lain, suasana di ruang kelas 2B menjadi gempar.


“M-Mustahil...?”


“B-Baru saja..., M-Miyakojima-san memanggil nama seseorang...?”


Aku bisa mendengar tanggapan yang rasanya menyedihkan, tapi tanpa mempedulikan itu, Narika datang menghampiriku. Saat aku memikirkan bahwa saat ini aku mungkin terlalu mencolok, dengan mata yang berbinar, Narika mulai membuka mulutnya.


“K-kau ngapain di sini!? Apa kau ada keperluan denganku? K-Kebetulan saat ini aku sedang luang, jadi kau bisa berbicara denganku loh.”


Dia benar-benar bahagia..., sepertinya dia merasa sangat kesepian meghabiskan waktunya sendirian di dalam kelas.


“Bagaimana kalau kita pindah tempat dulu?”


“O-O-Oke! Kemanapun kau pergi, aku pasti akan mengikutimu!”


Bersama dengan Narika, aku berjalan keluar dari gedung akademi. Sementara itu, tatapan tajam yang tak terhitung banyaknya menusukku dari mana-mana.


Sebisa mungkin aku tidak ingin terlalu jauh dari kelas 2A supaya aku bisa segera bertindak jika terjadi sesuatu pada Hinako. Alhasil, aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang kurang populer di belakang gedung akademi, dan kemudian aku berbalik untuk menatap ke arah Narika.


“Erm, aku punya banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Selain itu, aku juga belum sempat menjelaskan tentang kejadian yang tempo hari.”


“Tempo hari...? Oh iya, aku masih belum memaafkanmu untuk itu!”


Seolah-olah dia akhirnya mengingatnya, wajah Narika menjadi merah padam dan dia mengungkapkan kekesalannya,


“P-Padahal kau ‘kan sudah menjadi pengurusku..., tapi kenapa, kenapa kau tiba-tiba menjadi penjaganya Konohana-san! D-D-D-Dasar tukang selingkuh!”


“Lah, kok selingkuh..., lagipula ‘kan aku yang menjadi pengurusmu itu sudah menjadi masa lalu.”


“B-bukankah itu terlalu kejam untuk menyebutnya telah menjadi masa lalu! Aku ‘kan..., aku ‘kan ingin tinggal bersama denganmu lagi!”

__ADS_1


“Eh....., b-begitukah?”


Saat aku merasa terkejut, Narika yang sepertinya telah menyadari apa yang barusan dia katakan dengan segera mewarnai wajahnya menjadi merah cerah, yang dimana itu jelas bukan karena rasa kesal.


“Waaaaaa!? Lupakan apa yang barusan kukatakan! Abaikan saja itu! Pokoknya lupakan!”


“B-Biaiklah..., dan juga, bisakah kau sedikit tenang.”


Bagaimana aku harus mengatakannya, bukankah tingkahnya menjadi lebih parah daripada saat kami masih kecil....? Dengan ekspresi masam di wajahku, aku menceritakan pengaturan yang telah dibuatkan Shizune-san untukku beberapa hari yang lalu.


“Tentang yang kemarin itu... Sederhananya sih, aku diadopsi.”


“...Diadopsi?”


“Iya, sekarang Ayahku adalah direktur dari perusahaan menengah. Dan perusahannya itu memiliki hubungan dengan keluarga Konohana, jadi di saat aku menghadiri Akademi Kekaisaran, aku akan bekerja di rumahnya Konohana-san.”


“Hmm..., tunggu dulu, kenapa kok bisa sampai seperti itu? Hanya karena keluargamu punya hubungan dengan keluarga Konohana, bukan berarti kau harus bekerja di keluarga mereka, kan?”


Aku juga berpikir begitu kok. Tapi dengan tenang, aku mengingat pengaturan yang mati-matian kuingat tadi malam.


“Apa kau tahu sesuatu yang disebut ‘behavioral apprentice’?”


“Ya. Itu adalah sesuatu dimana kau akan tinggal dan bekerja di rumah orang kaya dan belajar berbagai hal tentang etiket. Di Jepang, itu populer selama era Meiji, dan di Eropa, itu adalah kebiasaan dari Abad Pertengahan.”


Dia benar-benar telah banyak belajar. Bagaimanapun juga, Narika adalah murid dari Akademi Kekaisaran. Kepintarannya tidak bisa dibandingan denganku.


“Aku yang bekerja di keluarga Konohana itu kurang lebih seperti magang.... Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang etiket. Karenanya, aku bekerja sebagai imbalan untuk belajar di keluarga Konohana.”


“...Begitu toh, aku mengerti sekarang.” Narika mengangguk mengerti.


“T-Tapi ‘kan..., kalau memang itu masalahnya, kau juga bisa bekerja di rumahku.”


“Sekalipun kau mengatakan itu, apa yang pertama kali terlintas di pikiranku adalah keluarga Konohana...”


“......Mu~” gumamnya sambil mengerutkan kening.


“Hei, kalau bisa, jangan beri tahu siapa-siapa tentang ini ya.”


“...Iya, aku tahu kok. Lagipula, menjadi anak yang diadopsi adalah posisi yang rapuh.”


Tentunya ada alasan lain mengapa aku ingin dia merahasiakannya, tapi sepertinya Narika menafsirkannya dengan mudah. Kurasa begini saja sudah cukup untuk menjelaskan hubungan antara aku dan Hinako.


“Ngomong-ngomong, Narika. Apa sepulang sekolah nanti kau memiliki kesibukan?”


“Sepulang sekolah? Hmm, aku punya waktu luang sih.”


“Kalau begitu, apa kau mau pergi ngobrol-ngobrol di kafe?”


“Ngobrol-ngobrol di kafe? J-J-Jangan bilang itu..., pesta teh!?”


“Yah, sesuatu seperti itu.”

__ADS_1


“I-iya, aku mau!” katanya, dengan mata yang berbinar. “S-sejujurnya, aku sudah lama ingin ikut dalam pesta teh...! Kudengar bahwa semua siswa-siswi di Akademi Kekaisaran mengadakan pesta teh untuk memperdalam persahabatan mereka, tapi aku, tidak pernah diundang oleh siapa pun... Kupikir itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kulakukan sampai aku aku lulus dari akademi ini...”


“B-Begitu ya..., itu terdengar sulit untukmu.”


Saat aku berbicara dengan Narika, aku merasa kasihan terhadapnnya yang menceritakan serangkaian peristiwa menyedihkan yang di alami.


“Ngomong-ngomong, ada tiga orang lain lagi yang akan ikut dengam kita, Taisho, Asahi-san dan Konohana dari kelas 2A.”


“...Eh? Ada orang lain yang akan ikut...?”


“Ya. Bisa diilang, ini adalah pesta penyambutan pemindahanku di akademi ini.”


“Pesta penyambutan..., oh begitu ya. Dari apa yang kudengar, tampaknya kau baru saja pindah ke sini beberapa hari yang lalu.”


Sepertinya murid pindahan bukan merupakan hal yang aneh di Akademi Kekaisaran, tapi meski begitu, rumor masih beredar dengan ringan. Narika juga sepertinya tahu kalau aku baru-baru saja pindah ke sini.


“Aku ingin bergabung dalam pesta itu..., cuman aku agak cemas..., mungkin aku tidak akan bisa melakukan pembicaraan dengan baik...”


“Bukankah kau bisa berbicara dengan baik saat bersamaku?”


“Itu ‘kan karena..., kita sudah saling kenal sejak lama, jadi kupikir aku tidak perlu merubah cara bicaraku.”


“Lantas, kenapa kau tidak memperbaiki cara bicaramu saat berinteraksi dengan orang lain?”


“K-kalau aku bisa melakukan itu, maka aku tidak akan mengalami kesulitan seperti ini!!” kata Narika, dengan air mata di sudut matanya. “Selain itu..., aku tidak bermaksud untuk mengalihkan tanggung jawab, tapi ini juga karena beberapa faktor lain.”


“......Apa maksudmu?”


“Jika aku boleh mengatakannya sendiri, keluarga Miyakojima adalah keluarga yang relatif ternama di antara keluarga siswa-siswi lain yang bersekolah di akademi ini. Oleh karena itu, sebagian besar siswa diintimidasi oleh latar belakang keluargaku... Jadi bukan hanya karena aku orang yang canggung, tapi sejak awal pihak lain sudah merasa terintimidasi olehku.”


“...Jadi begitu.”


Ini mah, sudah pasti bukan masalah pribadinya Narika. Terlepas dari diri pribadi, sangat sulit untuk mengubah pandangan orang lain. Sepertinya ini bukanlah masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah oleh Narika.


“Dalam hal itu, Konohana-san adalah orang yang luar biasa. Aku benci mengakuinya karena dia telah mengambilmu dariku, tapi..., aku benar-benar merasa iri dengan popularitasnya. Biasanya, dengan keluarga yang setingkat dengan keluarga Konohana, sebagian besar siswa akan menghidnarinya..., tapi meski begitu, Konohana-san didekati oleh banyak orang tanpa adanya perasaan sungkan. Aku bertanya-tanya, bagaimana bisa dia memiliki popularitas yang seperti itu...” kata Narika, sambil menundukkan kepalanya.


Aku mungkin tahu mengapa Hinako sangat populer. —Itu karena aktingnya. Hinako adalah Ojou-sama yang sempurna, dan dia benar-benar bertindak untuk disukai oleh semua orang. Tapi, itu tidak bisa dilakukan begitu saja.


“Aku tidak tahu mengapa Konohana-san begitu populer, tapi..., jika kau berbicara dengannya, kau mungkin akan menemukan beberapa petunjuk.”


“...Kau benar. Lagipula kau juga akan ada di sana nanti, jadi aku ingin sekali berpartisipasi dalam pesta teh sepulang sekolah itu.”


Mengatakan itu, Narika mengepalkan tinjunya seolah-olah mengumpulkan keberanian.


“T-Tapi, apakah itu tidak apa-apa? Mungkin dengan adanya diriku, aku akan membuat perasaan yang tidak nyaman di sana...”


“Kupikir tidak apa-apa..., mungkin.”


“Mungkin......?”


“Pasti tidak apa-apa kok.”

__ADS_1


Aku menghibur Narika yang cemas sambil menghela napas.


Baik Asahi-san maupun Taisho tidak membenci Narika. Secara khusus Asahi-san, dia pernah bilang bahwa sebelumnya dia sempat mendekati Narika supaya mereka bisa berteman. Jika demikian, mereka pasti tidak akan berpikir demikian jika Narika bergabung dalam pesta teh tersebut.


__ADS_2