
...Bab 31...
...Ojou-sama yang Diurus...
Demam Hinako berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Menurut Shizune-san, Hinako harusnya sudah akan pulih pada hari Sabtu, tapi demamnya tidak kunjung turun hingga Minggu pagi. Untuk saat ini, diputuskan kalau dia akan menghabiskan hari dengan beristirahat, dan jika besok paginya demamnya sudah mereda, dia akan pergi ke sekolah.
Keeseokan harinya, Senin pagi.
Setelah sembuh dari demamnya, dengan lesu Hinako masuk ke dalam mobil untuk pergi ke akademi.
“Apa kau masih ngantuk?”
“Mm..., aku tidurnya terlalu larut tadi malam.”
Melihat Hinako yang mengantuk di sampingku, aku teringat akan apa yang telah kuputuskan pada hari Jumat.
Sebagai pengurusnya, aku ingin mengurangi beban Hinako sebanyak mungkin. Dan tentunya, sama sekali tidak ada perubahan dalam perasaan itu.
“...Pinjamin lututmu dong.”
“Ya, ya.”
Plak, Hinako meletakkan kepalanya di pangkuanku.
Aku kemudian dengan lembut mengelus kepala Hinako, yang terlihat sangat mengantuk. Kemudian, meskipun dia mengantuk, entah kenapa mata Hinako sedikit membelakak karena terkejut.
“...Itsuki, entah kenapa kau berubah?”
“...Kenapa menurutmu begitu?”
“Aku merasa kau lebih lembut dari biasanya.”
Baguslah jika memang demikian.
Namun, tanpa mengiyakan atau menyangkalnya, aku terus mengelus-ngelus kepalanya.
“Rasanya hangat......”
Hinako tampak merasa lebih nyaman dari biasanya, dan kami pergi menuju akademi.
Saat itu, ada lirikan yang datang dari kursi depan..., itu dari Shizune-san, yang memperhatikan kami dalam diam.
---
Begitu aku sampai di ruang kelas, aku langsung duduk di kursiku.
Di SMA-ku yang sebelumnya, biasanya ada banyak siswa-siswi yang tampak malas karena ini adalah awal dari hari kerja, namun siswa-siswi di Akademi Kekaisaran tampak penuh energi sejak hari Senin. Mereka pasti memiliki gaya hidup yang teratur.
“Yo, Nishinari!”
“Selamat pagi, Taisho-kun.”
Saat aku menggantungkan tasku di samping mejaku, Taisho memanggilku
Setelah acara pesta teh beberapa hari yang lalu, aku jadi merasa semakin dekat dengan Taisho. Shizune-san mengatakan padaku untuk jangan bertindak terlalu berlebihan saat di sekolah, namun aku diingatkan bahwa adalah penting untuk memperdalam hubungan pertemanan dengan teman sekelas.
__ADS_1
“Selamat pagi, Konohana-san! Pas hari Jumat kemarin kan kau gak masuk tuh, apa yang kau lakukan saat itu?”
“Selamat pagi, Asahi-san. Aku membantu-bantu pekerjaan di rumah ketika hari Jumat lalu.”
“Begitu ya, itu pasti sulit.”
Sambil berbicara dengan Taisho, aku mendegarkan percakapan antara Asahi-san dan Hinako. Orang-orang di akademi ini sama sekali tidak berpikir bahwa ketidakhadiran Hinako disebabkan oleh kondisi kesehatannya yang memburuk. Tentunya, itu mungkin cara yang tepat untuk melindungi citranya, tapi tetap saja, itu masih menjadi perasaan yang rumit bagiku.
Istirahat Makan Siang.
Seperti biasanya, aku dan Hinako menyelinap keluar dari kelas dan makan siang bersama-sama.
“Hinako, tolong buka mulutmu sedikit lebih lebar.”
“Mm......”
Setelah Hinako membuka mulutnya sedikit lebih lebar, aku kemudian menyuapi bekal makan siangnya. Sama seperti yang sebelum-sebelumnya, aku sedang memberi makan siang untuk Hinako.
......Aku merasa bahwa jarak inilah satu-satunya hal yang tidak pada tempatnya dari interaksi antara keluarga.
Yah, mungkin tidak juga, pas aku masih kecil, orang tuaku biasanya akan menyuapiku.
Pada intinya, jika ada sesuatu yang bisa membuat Hinako merasa nyaman, aku akan melakukannya sebisa mungkin.
“......Mu~”
Melihat ke arah bekal makan siangnya, Hinako mengerang pelan.
“Itsuki..., nih, untukmu.”
Mengatakan itu, Hinako mengarahkan sumpitnya ke mulutku.
Apa yang dia berikan padaku adalah adalah potongan paprika segar.
“...Tidak. Meskipun kau tidak menyukainya, kau harus tetap memakannya.”
“Eh...”
Jika dengan menuruti perintah Hinako akan bisa membuatnya merasa nyaman, maka aku yakin kalau pengurus lain selain aku juga bisa melakukannya. Tapi, bukan itu yang dia butuhkan. Apa yang dibutuhkan oleh Hinako adalah rasa aman layaknya sebuah keluarga. Aku harus memperlakukannya dengan sedemikian rupa sehingga dia mau mempercayakan dirinya kepadaku.
Untuk itu—lebih daripada menghargai keinginan Hinako, aku harus lebih menghargai apa yang baik untuk Hinako.
“Kalau kau sampai tidak mendapatkan cukup nutrisi, kau nanti malah akan measa tidak enak badan.”
“Muu~..., tidak juga, kalau aku merasa tidak enak badan, aku hanya akan tidur... Malahan, sesuatu seperti itu justru lebih menyenangkan...”
“Jangan bilang begitu lah.”
Aku tidak ingin kalau dia sampai berpikiran seperti itu, jadi kuputuskan untuk melakukan yang terbaik untuk membujuknya.
“Aku..., akan jauh lebih bahagia jika bisa melihatmu sehat dan ceria.”
Saat aku mengatakan itu, Hinako menurunkan pandangannya dan menarik kembali sumpitnya.
“......Aku akan memakannya.”
Dengan ragu-ragu, Hinako memasukkan paprika itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Saat melihat Hinako yang mengerutkan alisnya dan mencoba untuk mengunyah paprika itu, secara naluriah wajahku jadi memerah.
---
Sepulang sekolah.
Setelah kembali ke mansion bersama Hinako, seperti biasanya, aku mengikuti pelatihan dari Shizune-san.
“Terima kasih untuk makanannya.”
Setelah menyelesaikan makan malam di meja di kamarku, aku menyeka mulutku dan meninggalkan meja.
Hari ini, aku mempraktikkan etiket meja makan.
Shizune-san, yang berdiri di sampingku, dengan tenang menilaiku yang mengerahkan semua pengetahuan yang telah ditanamkan oleh dirinya ke dalam diriku, saat aku memakan semua makanan yang disajikan untukku.
“Pergerakanmu masih terkesan canggung..., tapi paling tidak kau sudah memiliki sedikit pengetahuan.”
“Terima kasih banyak.”
Menurut Shizune-san, aku memiliki bakat dalam bela diri. Namun di sisi lain, etiket adalah bidang yang sulit untukku. Aku merasa sedikit senang bisa dipuji meskipun aku tidak mahir dalam bidang tersebut.
“Tapi yah, harus kukatakan bahwa kau masih naif seperti biasanya. Padahal aku sudah berulang kali mengatakan bahwa ketika kau meninggalkan kursi, kau harus lewat dari sisi kiri.”
“Ah..., maaf, aku lupa.”
Saat aku masih duduk tadi, aku masih mengingat itu. Namun, ketika aku sudah selesai makan, aku merasa terlalu rileks dan berakhir meninggalkan kursi melalui sisi kanan.
Sungguh, masih ada banyak hal yang harus kupelajari.
Untuk bisa terus berada di sisi Hinako sebagai pengurusnya, aku harus mempelajari banyak keterampilan.
“...Ngomong-ngomong, apa yang biasanya Hinako lakukan ketika waktu makan malam?”
Tiba-tiba, aku teringat akan sesuatu yang selalu kupenasari, dan menanyakan itu pada Shizune-san.
“Apa maksudmu dengan ‘apa yang biasanya Ojou-sama lakukan’ ?”
“Kan kalau aku biasanya akan makan sambil diajari etiket di kamarku, tapi di saat seperti itu, Hinako ada di mana..., dengan siapa dia makan?”
“Ojou-sama makan malam di ruang makan mansion.” jawab Shizune-san, langsung ke intinya.
“...Apa dia makan sendirian saja?”
“Ya. Tentunya ada pelayan yang bersamanya, tapi hanya Ojou-sama yang makan.”
Mungkin mengerti apa yang ingin kutanyakan, Shizune-san menambahkan seperti itu.
“Erm..., kalau begitu, bolehkah jika mulai sekarang aku makan malam bersama Hinako?
“Tidak boleh.” Saat aku bertanya begitu, aku langsung tidak diperbolehkan. “Kau masih belum selesai mempelajari masalah etiket, Itsuki-san. Aku akan mempertimbangkannya setelah kau sudah bisa menguasai etiket.”
“......Aku mengerti.”
Jika mengusai etiket akan bisa membuatku berada di sisi Hinako, maka aku harus berusaha lebih keras lagi.
“Dan juga, Itsuki-san. Mulai besok pagi, tolong bangunkan Ojou-sama.” kata Shizune. “Seperti yang pernah kubilang pada hari pertamamu bekerja, pekerjaanmu akan meningkat selangkah demi selangkah. Pada akhirnya, pengurus adalah posisi yang akan mengurus Ojou-sama sejak dia bangun hingga dia pergi tidur.”
__ADS_1
“......Aku mengerti.”
Mendengar itu dari Shizune-san, aku mengangguk.