Saijo No Osewa

Saijo No Osewa
Saijo No Osewa Volume 1 - Bab 12


__ADS_3

...Bab 12...


...Serangan, Gaya Bicara Khas Ojou-sama...


[Catatan Penerjemah: Cara bicara yang dimaksud di sini adalah penggunaan ‘desuwa’ di akhir kalimat.


Setelah waktu istirahat makan siang selsai, pelajaran kelima dimulai.


“Kalau begitu..., Taisho-kun, bisakah kau mengerjakan soal ini?”


“Eh? ...M-Maaf, aku tidak mengerti.” Taisho, yang ditunjuk oleh guru, mengatakan itu dengan nada meminta maaf.


Melihat pemandangan itu, aku merasa lega di dalam hatiku. Pelajaran yang ada di Akademi Kekaisara sangat maju, tapi tidak semua siswa memhami materinya dengan baik. Tentu saja, karena sebelumnya Shizune-san telah mengajariku, aku ingin menjawab sebaik mungkin jika aku ditunjuk oleh guru, tapi kalaupun aku tidak bisa menjawab, sepertinya aku tidak perlu terlalu khawatir.


“Kalau begitu, Konohana-san. Tolong gantikan dia mengerkan soal ini.”


“Baik.”


Hinako ditunjuk sebagai pengganti Taisho. Berdiri di depan papan tulus, dia mengambil kapur dan menuliskan jawaban dari soal tersebut.


“Ini jawabannya.”


“Itu jawaban yang tepat. Terima kasih sudah mau mengejarkan.”


Guru itu mengangguk dalam-dalam pada jawaban yang diberikan dalam tulisan tangan itu. Saat Hinako kembali ke kursinya, teman-teman sekelasnya memandanginya dengan perasaan hormat. Aku sungguh tidak percaya kalau dia adalah orang yang sama dengan gadis yang sebelumnya tidur nyenyak di pangkuanku. Ya ampun, padahal tadi dia berencana untuk membolos...


Kemudian, bel bedering dan kami memasuki waktu jeda.


Saat aku memutar bahu untuk mengendurkan otot-ototku yang terasa kaku, Taisho mendekatiku.


“Fuuaaaa, lelah banget. Aku tidak menyukai pelajaran kelima karena itu membuatku mengantuk.” kaata Taisho sambil menguap.


Kemudian, Asahi-san mendekat dari belakang kami sambil menyeringai.


“Oh, ini Taisho-kun yang di pelajaran sebelumnya tidak bisa menjawab saat ditunjuk.”


“Ugh..., habisnya mau bagaimana lagi. Aku membuat kesalahan dalam persiapanku.”


Tampaknya persiapan itu sangatlah penting untuk dapat mengikuti pelajaran yang diberikan di Akademi Kekaisaran. Terkesan dengan Taisho, aku dengan santai melihat ke tempat duduk Hinako.


Lah, kok Hinako tidak ada?


Saat menyadari bahwa Hinako tidak ada di kelas, aku segera berdiri dari tempat dudukku.


“Aku mau pergi ke toilet sebentar.”


Setelah mengatakan itu pada mereka bedua, aku segera pergi mencari Hinako. Belum ada lebih dari lima menit sejak pelajaran sebelumnya berakhir, harusnya dia tidak terlalu jauh dari kelas. Kemudian, aku segera meninggalkan kelas dan melihat-lihat ke sekeliling koridor—aku menemukannya dengan mudah.


“...Astaga, jadi Hinako cuman mau ke toilet?”


Sambil mengobrol dengan beberapa siswi, Hinako masuk ke toilet. Beberapa menit kemudian, Hinako kembali ke kelas dan segera duduk di bangkunya.


Segera setelah aku mencoba kembali ke kelas, ponselku melaporkan adanya panggilan masuk.


[Apa situasi di sana baik-baik saja?]


“Iya.”


Aku memang punya gagasan tentang si pemanggil, tapi seperti dugaanku, pihak lain adalah Shizune-san.


[Ada kemungkingan kalau Ojou-sama menjatuhkan dompetnya,]


“Dompetnya?”


[Iya. Ada perbedaan antara informasi lokasi pemancar yang terpasang pada Ojou-sama dan pemancar yang terpasang di dompetnya.]


“...Aku tidak tahu kalau ada pemancar yang terpasang padanya.”


Kau ini sampai seberapa tidak dipercayainya sih, Hinako?

__ADS_1


Namun, itu mengingatkanku pada citra Hinako yang tempo haru kulihat di depan Kagen-san. Kalau tidak salah, gadis yang ada di video itu mengatakan bahwa Hinako menjatuhkan kartu kreditnya dan alhasil, itu disalahgunakan oleh orang lain...


“Aku akan segera mencarinya...., apa kau tahu dimana letak pemancarnya?”


[Aku cukup yakin itu terletak di sisi barat bangunan utama, tapi diluar itu, sulit bagiku untuk mengatakan letak pastinya.]


Sisi barat bangunan utama?


Mempertimbangan timing dari paggilan ini dan informasi lokasi tersebut. Bukankah itu berarti.......


“Mungkin..., dompet itu terjatuh di toilet.”


[......Aaa.]


Kupikir dia menjatuhkannya saat dia pergi ke toilet sebelumnya. Saat aku memberitahunya begitu, Shizune-san mengeluarkan suara yang terdengar seperti dia memiliki gagasan.


[Meskpun di depan umum dia adalah Ojou-sama yang sempurna, tapi dia pasti akan sendirian ketika berada di dalam toilet. Dia itu sering sekali menjatuhkan barang-barangnya.]


“Jadi begitu......”


[Pokoknya, aku ingin anda mengambilkannya.]


Dengan itu, Shizune-san mengakhiri panggilannya.


“Sekalipun kau mengatakan untuk mengambilkannya...”


Untuk saat ini, aku pergi ke toilet wanita dan berhenti tepat di depannya saat aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Sebagai seorang pria, aku tidak bisa masuk ke dalam. Apa yang harus kulakukan?


“Hei, kau yang di sana?”


Ketika aku kebingungan, sebuah suara memanggilku dari samping. Saat aku menoleh, di sana ada seorang siswi dengan penampilan yang sangat mencolok. Dia memiliki rambut emas panjang yang dililit secara spiral—yang disebut gulungan vertikal pirang. Gadis yang hanya pernah kulihat di dunia manga itu memiliki style yang sangat bagus sehinga itu bisa diketahui meski dia mengenakan seragam sekolah, warna kulitnya bahkan putih sekali. Mata cokelatnya memiliki kilatan yang tajam, menunjukkan bahwa bahwa dia ini orang yang berpikiran tajam.


“Kau ngapain di sini?”


“Tidak, ermm...”


“Diriku adalah Mirei Tennoji! Aku adalah putri satu-satunya dari pemimpin Grup Tennoji!” [Catatan Penerjemah: Sekedar referensi, kurang lebih cara bicaranya hampir seperti Tokisaki Kurumi (Date A Live).]


Dengan penuh kebanggaan dan agak sombong, gadis itu menyebutkan namanya.


“Hah.”


“Kenapa kau malah menjawab ‘hah’ yang linglung seperti itu? Tidak mungkin kan kalau kau tidak mengetahui tentang Grup Tennoji.”


“......Maaf.”


Maaf saja, tapi aku sama sekali tidak tahu.


Setelah meminta maaf seperti itu, mata Tennoji-san membelalak.


“M-Mustahil, kau tidak tahu? I-I-I-Itu Grup Tennoji loh?”


“Aku minta maaf atas ketidaktahuanku.”


“Itu lebih dari sekedar ketidaktahuan, tahu!”


Teriakan yang bernada tinggi menusuk telingaku.


“Grup Tennoji adalah grup super besar yang asal-usulnya dari manajemen penambangan! Sekarang, Grup tersebut menjadi rumah bagi produsen logam non-besi di Jepang serta produsen bahan kimia utama, dan juga, skalanya sebanding dengan Grup Konohana!”


“......Begitukah?”


Aku kewalahan terhadap Tennoji-san yang berbicara dengan keras.


“Reaksi itu..., kau pasti tahu tentang Grup Konohana, kan?”


“Eh, ya, begitulah.”


Saat aku menjawab dengan jujur seperti itu, wajah Tennoji-san menjadi merah padam dan dia gemetar karena amarah.

__ADS_1


“S-Seperti yang kupikirkan, aku tidak menyukainya, Hinako Konohana...! Karena wanita itu, ketenaranku jadi tidak menyebar...!!”


Semacam dendam pribadi bocor dari mulutnya, tapi aku memutuskan untuk berpura-pura tidak mendengar itu.


“...Terus, apa kau sedang dalam masalah?”


Saat Tennoji-san dengan tenang menanyakan hal itu, aku jadi teringat akan tujuan awalku ke sini.


“Di dalam toilet ini tampaknya ada dompet yang tertinggal, jadi aku bertanya-tanya, bagaimana cara supaya aku bisa mengambilnya.”


“Jika itu masalahnya, aku bisa mengambilkannya untukkmu. Harap tunggu sebentar.”


Mengatakan itu, Tennoji masuk ke dalam toilet. Semenit kemudian, Tennoji-san muncul dengan memegang dompet merah muda di tangannya.


“Yang ini kan.”


“Ya, terima kasih.”


“Mungkin agak terlambat untuk menanyakan ini, tapi kenapa kau yang seorang laki-laki bisa tahu kalau ada dompet yang tertinggal di toilet wanita?”


“Aaah..., tentang itu...”


Ini buruk, aku tidak bisa memikirkan jawaban yang bisa membuatku melewati situasi ini. Memperkerjakan otakku dengan keras, aku kemudian menjawabnya.


“Pemilik dompet itu menyuruhku untuk mencarikannya..., dan setelah memikirkan berbagai kemungkinan, kupikir itu mungkin ada di dalam toilet.”


Aku melontarkan jawaban yang hampir mirip dengan kenyataannya.


Tampaknya Tennoji-san memandang Hinako sebagai musuh, namun ia sepertinya tidak menyadari bahwa pemilik dari dompet tersebut adalah Hinako. Jika demikian, dia pasti akan puas dengan jawaban yang barus saja kuberikan padanya..., atau begitulah yang kupikirkan, tapi...


“Kau..., bukannya kau hanya dijadikan sebagai pesuruh?” kata Tennoji-san, dengan nada ketidakpuasan. “Kau tidak boleh seperti itu. Karena kau menghadiri akademi ini, maka tentunya di masa depan nanti kau akan berada di posisi otoritas, kan? Kalau sekarang kau dipermainkan oleh orang-orang seperti ini, aku tidak apakah akan masa depan untuk dirimu.”


“Errm, aku akan hati-hati.”


“Aku tidak begitu yakin tentang itu. Kau harus mengatakannya dengan lebih jelas.”


“Aku Akan Berhati-Hati!”


“...Nah, bukannya kau bisa melakukannya jika kau mau mencobanya?” seru Tennoji-sam sambil mengangguk puas. “Dan juga, kau perlu sedikit menegakkan posturmu. Bagaimanapun juga, kepercayaan diri lahir dari postur, benar begitu bukan?”


Seperti yang dia bilang, aku menegakkan punggungku.


“Nah, begitu saja tidak apa-apa.” melihatku yang seperti itu, Tennoji-san menunjukkan senyumannya. “Sepertinya pelajaran selanjutnya akan segera dimulai. Jika kedepannya kau mendapati masalah, maka carilah rambut emas ini.”


Mengatakan itu, Tennoji-san menunjuk ke arah rambutnya sendiri.


Tentunya, itu adalah sesuatu yang bisa dijadikan sebagai label, tapi pada saat yang sama, itu adalah sesuatu yang membuatku merasa penasaran.


“Errrm..., aku mau bertanya sesuatu yang sederhana, apa di akademi ini diperbolehkan untuk mewarnai rambut seperti itu?”


“Ap—!?”


Tennoji-san, yang hendak pergi dari sini dengan anggun, berhenti di jalurnya dengan teriakan yang aneh.


“M-Menurutmu, rambutku ini diwarnai...?”


“Eh, apa aku salah?”


“M-Menurutmu rambutku..., berantakan seperti sepotong lempengan...?”


“Aku ‘kan tidak mengatakannya sampai sejauh itu.”


Aku yakin kalau aku mengatakan bahwa itu adalah pertanyaan yang sederhana. Ini tidak seperti aku mengejeknya atau semacamnya.


“T-Tidak...” kata Tennoji-san dengan bisikan, kemudian dia melanjutkan. “Aku tidak mewarnainya...!!”


Sambil berteriak begitu, Tennoji-san berlari ke koridor.


“...Dia pasti mewarnainya.”

__ADS_1


__ADS_2