
...Bab 15...
...Kasus (Percobaan) Di Kamar Mandi...
“Ku~ha...”
Berendam di dalam bak mandi, Hinako mengeluarkan suara yang terdengar aneh. Saat ini, sosoknya dibalutkan oleh pakaian renang jenis bikini berwarna putih.
“...Jadi pakai pakaian renang, ya.”
“Nn, kau barusan bilang apa...?”
“Aku tidak bilang apa-apa.”
Aku terkejut saat dia mengajakku untuk pergi mandi bersamanya, tapi ternyata, itu adalah ajakan dengan kondisi dimana kami mengenakan pakaian renang.
Rupanya, sejak awal Hinako memang sudah berniat untuk mengajakku mandi bareng saat dia pergi ke sekitar kamar pelayan, dan juga, pakaian renang untukku sudah di siapkan di ruang ganti.
“Yah..., dengan ukuran bak mandi yang sebesar ini, aku bisa mengerti mengapa kau ingin memasukinya dengan orang lain.”
Di kamar Hinako, kamar mandinya kira-kira seukuran pemandiam umum versi mini. Kalau kau harus mandi sendiran di tempat ini, sudah sewajarnya kalau kau akan merasa kesepian.
“Hmm..., ini sangat nyaman.” ujar Hinako, sambil dengan ringan meregangkan tubuhnya.
Gerakannya itu terlihat sangat seksi. Wajah Hinako yang ceria diwarnai dengan warna merah cerah, dan dari rambut kuningnya, menetes air yang kemudian mengalir di sekitar kulitnya.
Menyadari aku yang menatapinya, Hinako tersenyum genit dan mencubit tali pakaian renangnya dengan jari-jarinya.
“Mungkinkah..., kau ingin melihat apa yang ada di balik ini?”
“...Jangan ngelantur.”
Ini adalah suatu momen dimana pemikiran rasional nyaris tidak akan menang.
Tenang. —Tenang , Tenang, Tenang.
Aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak memandangnya sebagai lawan jenis, tapi meski aku berpikir begitu, Hinao masih tetap anggota lawan jenis yang memiliki rupa sangat cantik. Kalau aku sampai lengah sedikit saja, nafsuku sebagai pria yang sehat akan menghancurkan pekerjaanku sebagai pengurus.
Untuk mengubah suasana hatiku, aku merogoh kertas-kertas yang telah kusisihkan. Dalam diam, aku membaca dokumen yang kutempatkan di dalam plastik bening supaya itu tidak basah.
“Apa itu?”
“Ini profil dari teman-teman sekelas kita. Shizune-san menyuruhku untuk mengingat semua profil mereka.”
Dokumen-dokumen tersebut berisi profil rinci dari siswa-siswi Kelas 2A. Aku kurang lebih sudah mengetahui profilnya Taisho dan Asahi-san, tapi tampaknya siswa-siswi lain juga merupakan pewaris perusahaan besar dan kerabat politisi terkenal.
“Hinako, apa di kelas kau punya orang yang sangat akrab denganmu?”
“Tidak ada.” jawabnya, dengan suara lembut yang biasa.
“Begitukah? Bukannya kau itu dikelilingi oleh berbagai orang di dalam kelas.”
“Memang benar..., tapi tidak ada yang bisa disebut sebagai sahabat.”
“......Begitu ya.”
__ADS_1
Jadi lebih seperti teman, tapi tidak bisa di sebut sebagai sahabat, ya.
Meskipun aku baru satu hari menghadiri akademi, kurang lebih aku mengerti tentang situasi yang dihadapi Hinako. Baik atau buruk, Hinako adalah keberadaan yang mengambang di Akademi Kekaisaran. Saat di dalam kelas, Hinako di ajak bicara oleh banyak orang, tapi jika dilihat dari sudut pandang lain, mereka terkadang lebih seperti teman daripada sahabat.
“Hinako, tidakkah kau punya pemikiran untuk memiliki seorang sahabat?”
“Hmm............” tidak seperti biasanya, Hinako berpikir sedikit lebih lama. “...Dirimu saja sudah cukup kok.”
Akan kuanggap perkataan itu sebagai suatu kepercayaan yang kuat terhadapku. Saat aku merasakan sedikit senang, dengan perlahan, Hinako berdiri dari bak mandi. Dia kemudian mendekatiku, lalu duduk membelakangiku.
“Cucikan rambutku.”
“......Hah?” Terrhadap Hinako yang menoleh ke arahku, aku hanya bisa memiringkan kepalaku. “K-Kau ‘kan bisa mencucinya sendiri.”
“...Biasanya Shizune yang akan mencucikan rambutku.”
Justru karena itu, bukankah sekarang lebih baik kau belajar mencucinya sendiri?
Terhadapnya yang seperti itu, aku menghela napas kecil. Yah, lagian Hinako ini memang benar-benar seorang Ojou-sama. Rambutnya yang sampai dicucikan oleh pelayan adalah suatu hal yang sangat khas dari seorang Ojou-sama.
“Kalau kau memang mau dicucikan, maka setidaknya keluarlah dulu dari dalam bak mandi.”
“Kenapa...? Biasanya aku selalu mencucinya di sini...”
Begitukah? Tidak, jika dipikir-pikir, ini adalah bak mandi pribadi milik Hinako. Dengan kata lain, setelah Hinako menggunakannya, semua air panas dalam jumlah besar ini akan dibuang begitu saja. Jika demikian, mungkin tidak akan ada masalah untuk mencuci rambutnya meskipun sedang berendam di dalam bak mandi... Tapi tetap saja, itu namanya pemborosan dalam tagihan air.
“Apa kau punya bintik-bintik gatal?”
“Tidak ada...”
“...Mu~” Saat aku mencuci rambutnya, Hinako mengeluarkan ******* kecil. “Rasanya gerah..., Ini menghalangi saja.”
Mengatakan itu, Hinako meraih punggungnya dan kemudian melepas bikininya.
“Ap—!?”
Sontak, tanganku yang mencuci rambutnya langsung berhenti. Terhadapku yang merasa terkejut, Hinako hanya memalingkan wajahnya ke arahku.
“Ternyata benar ya, kau ingin melihatnya, kan...?”
“J-Jangan ngelantur—”
“Tidak? Aku tidak ngelantur kok.” kata Hinako sambil tersenyum.
Aku benar-benar terkejut hingga napasku menjadi tersenggal-senggal.
“Lagipula, aku mengenakan pakaian renang karena Shizune terus memaksaku untuk mengenakannya.”
Dengan perasaan yang terkesan seperti merasa kesal, Hinako meraih bagian bawah pakaian renangnya. Tingkahnya yang benar-benar tanpa pertahanan itu sekali lagi mengalihkan pemikiran rasionalku—
“......Eh, tunggu sebentar.” Kayaknya aku baru saja mendengar kalimat yang tidak boleh kulewatkan, “...Apa Shizune-san tahu mengenai kita yang mandi bareng?”
“Mm.” Hinako mengangguk kecil.
Kemudian, aku menyadarinya. Aku bertanya-tanya, mengapa sampai sekarang aku tidak menyadarinya. Saat ini, pintu kamar mandi terbuka sekitar 5 mm. Melalui celah yang kecil itu—tatapan yang dipenuhi dengan niat membunuh tertuju ke arahku.
__ADS_1
“Whoa...!?”
Merasakan ketakutan yang luar biasa, tubuhku segera tersentak.
Itu adalah Shizune-san, sudah sejak kapan dia mengawasi kami?
Saat aku meneteskan keringat dingin akibat merasakan hasrat membunuh yang begitu kuat, pintu kamar mandi terbuka sedikit lagi dan memperlihatkan wajah Shizune-san seutuhnya. Dalam diam, Shizune-san mendesakku untuk terus mencuci rambut Hinako.
“Mmm..., itu geli.”
“Aah, maaf,”
Entah bagaimana, aku berhasil menekan kegelisahanku dan terus mencuci rambut Hinako. Setelah memanjangkan shower yang ada di samping dan membilas sampo yang ada di rambutnya, aku menarik napas lega.
“A-Aku sudah selesai mencucinya...”
Padahal sekarang aku lagi mandi, tapi seluruh tubuhku bersimbah keringat dingin.
“Terima kasih... aku akan menjadikan ini rutinitas harian kita.”
“Eh.”
“Setiap malam, cucikan rambutku ya.”
Setelah mengatakan itu, Hinako berdiri dan pergi ke ruang ganti.
Tunggu sebentar..., apa itu berarti, mulai sekarang aku harus merasakan kengerian ini setiap malam?
Kemudian, seolah menggantikan Hinako, Shizune–san masuk ke kamar mandi. Tatapannya terlihat sangat dingin.
“Terima kasih atas kerja kerasmu, Itsuki-san.”
“B-Begitu juga denganmu...., Erm, sejak kapan kau mengawasi kami?”
“Sejak awal.”
“Sejak awal, ya...”
Itu artinya, dia melihatku yang merasakan perasaan tidak bermoral saat sedang melihat Hinako. Aku jadi merasa malu dan takut pada saat yang bersamaan.
“Di ruang ganti aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu, kau bisa menggunakannya saat kau selesai mandi.”
“Ah, iya. Terima kasih banyak.”
“Dan juga—” mengatakan itu, Shizune meletakkan botol yang berisikan sesuatu seperti obat di sampingku. “Jika kedepannya kau memiliki perasan yang tidak bermoral terhadap Ojou-sama, harap untuk meminum obat ini.”
“Apa ini......?”
“Ini adalah obat yang akan dengan sengaja menyebabkan efek DE, dengan menggunakan efek samping antidepresan dan antikonvulsan. Yah, sederhananya..., ini adalah obat yang akan membuat itu tidak akan bisa berdiri tegak.”
“Hiiiii!?”
Kalau aku sampai meminum sesuatu seperti itu, aku akan menjadi seorang maid (pelayan).
Aku gemetaran saat melihat punggung Shizune-san yang meninggalkan obat itu dan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1