
...Bab 13...
...Ojou-sama Menolak Untuk Pulang...
Semua pelajaran untuk hari ini telah berakhir, dan akademi memasuki waktunya pulang sekolah.
“Yo, Nishinari. Kerja bagus untuk hari ini.”
“Hei? Bagaimana kalau setelah ini kita mengadakan pesta untuk menyambut kepindahanmu?”
Aku didekati oleh Asahi-san dan Taisho, kemudian ditanyai begitu. Namun, aku meminta maaf pada mereka dengan senyum pahit.
“Maaf. Aku disuruh untuk pulang secepat mungkin.”
“Yah, kurasa memang begitu saat kau masih hari pertama menghadiri akademi ini.” kata Taisho dengan kesan penyesalan.
Aku mulai merasa tidak enak tentang ini. Meskipun sejak pagi tadi mereka sudah baik kepadaku, aku menolak undangan mereka saat siang hari untuk pergi makan siang, dan bahkan sepulang sekolah juga demikian. Sudah sewajarnya bagiku untuk memprioritaskan pekerjaanku sebagai pengurus, tapi... aku ragu-ragu kalau harus terus mengabaikan kebaikan mereka.
“Kalau ada kesempatan, bolehkah aku bertanya-tanya lagi? Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang akademi ini.”
“Ya! Kau selalu bebas untuk bertanya pada kami!”
Taisho dan Asahi-san tersenyum. Saat itu, Asahi-san mengeluarkan ponsel dari saku roknya dan melihat ke arah layar.
“Tampaknya aku sudah dijemput, aku pulang duluan ya.”
“Sepertinya hari ini aku juga akan langsung pulang. Sampai jumpa besok, Nishinari.”
Setelah melakukan pertukaran seperti itu dengan mereka berdua, kami berpisah. Aku mengambil tasku dan memutuskan untuk meninggalkan sekolah. Yah, sekalipun aku bilang begitu..., sebagai pengurus, aku harus memastikan bahwa Hinako pulang ke rumah dengan benar.
“Baiklah, bagaimana dengan keadaan Hinako sekarang...”
Tepat saat aku bergumam itu, Hinako sudah hendak meninggalkan kursinya.
Karena aku dan Hinako diatur untuk berinteraksi satu sama lain, maka sama sekali tidak masalah jika kami melakukan percakapan normal, tapi jika memungkinkan, aku ingin menjaga jarak untuk mencegah masalah.
Hinako meninggalkan kelas, dan aku diam-diam mengikutinya sambil berusaha untuk tidak diperhatikan oleh orang-orang di sekitarku.
Setelah itu, Hinako keluar dari akademi begitu saja—atau begitulah yang kupirkan, tapi untuk beberapa alasan, dia singgah di sebuah toko.
“Tolong beri aku roti ini,”
Hinako membeli roti di konter pembelian, dan setalah mendapatkan roti, ia menujuku ke foodboard,
Setelah berganti ke sepatu luar ruangannya, dia menuju ke taman alih-alih gerbang sekolah. Di Akademi Kekaisaran, terdapat beberapa taman. Dan kali ini, Hinako pergi ke taman dekat aula siswa lama. Di taman itu ada kolam kecil dan beberapa meja-kursi, tapi tidak ada seorang pun di sana.
Tempat itu jauh dari bangunan tempat ruang kelas berada, dan aula siswa lama di dekatnya tidak digunakan karena fator usia, jadi tidak ada orang yang mau mendekatinya,
Hinako berdiri di tepi kolam, memotong-moetong roti menjadi potongan kecil dan melemparkannya ke dalam kolam tersebut. Segera, ikan mas berenang mengerumuni roti yang dilemparkan.
Tindakannya benar-benar seperti Ojou-sama pada umumnya, dia mungkin memiliki kecintaan pada seni dan rasa kasih sayang terhadap hewan.
Namun, untuk waktu yang lama tidak ada tanda-tanda pergerakan darinya. Shizune-san memberitahuku untuk tidak terlalu sering mampir-mampir saat sepulang sekolah, jadi setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, aku segera mendekati Hinako.
“Apa yang kau lakukan?”
“......Memberi makan.”
Yah, aku bisa tahu itu hanya dari melihatnya.
Melelaspakan topeng Ojou-sama-nya, Hinako yang dalam kondisi sifat asilnya berjongkok dan memandangi kawanan ikan mas yang mengerumuni roti.
“Enak sekali ya...” gumam Hinako. “Kalau seperti ini, kau hanya perlu membuka mulut untuk bisa mendapatkan makanan..., Aku ingin tahu, apa aku bisa bertukar posisi dengan mereka...”
“...Aku yakin kalau ikan mas mengalami kesulitakan yang dimana manusia tidak akan bisa mengerti.”
“Begitukah...”
Tampaknya di tidak peduli pada hewan, melainkan merasa iri pada mereka. Aku merasa seperti aku tidak bisa mengatakan apa-apa, jadi aku menghela napas.
“Sudah waktunya untuk pulang, aku yakin kalau Shizune-san sudah menunggu kita.”
“......Tidak mau.” jawab Hinaku dengan cemberut.
__ADS_1
Mataku membelalak terhadap penolakan yang jelas itu.
“Kau tidak mau pulang? Saat kau sudah ada di mansion, kau bisa bersantai loh.”
“Mana mungkin aku bisa bersantai......, ada sesi belajar, dan juga banyak hal lainnya.”
Jadi begitu ya. Sepertinya sulit juga menjadi Ojou-sama dari keluarga Konohana.
“Tapi ‘kan, meskipun kau tetap di akademi, bagimu itu hanya akan terasa terkekang.”
“Ini sepulang sekolah, jadi tidak terlalu ramai dan aku tidak merasa terkekang.”
Itu, mungkin memang benar.
Rupanya, di Akademi Kekaisaran tidak ada sesuatu seperti kegiatan klub yang dilakukan saat sepulang sekolah. Hal ini dikarenakan sebagian besar siswa-siswinya sibuk dengan pelajaran dan pekerjaan mereka saat sepulang sekolah. Selain itu, siswa-siswi Akademi Kekaisaran memiliki kekuatan finansial yang baik hingga dapat melakukan kegiatan klub sebanyak yang mereka suka di rumah mereka. Jadinya, tidak harus berada di akademi untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kolam renang ataupun lapangan.
“Tapi tetap saja, kita tidak bisa tinggal di akademi selamanya. Ayo segera pergi dari sini.”
“Ti~dak Ma~u...”
“Ini juga menyangkut Shizune-san, kalau kau males-malesan seperti ini, itu malah akan jadi lebih merepotkan untukmu, kan?”
“Ugh.”
Shizune-san adalah pelayan yang bisa menghukum tuannya. Untuk sesaat, Hinako terlihat merasa sangat tidak nyaman saat dia merenung, tapi pada akhirnya, dia masih kekeh menggelengkan kepalanya.
“T-Tetap saja..., aku tidak mau.”
Hinako, yang telah kembali ke kenyataan, dalam diam terus melanjutkan memberi makan ikan mas.
Dia sungguh Ojou-sama yang keras kepala. Meskipun saat ini sudah waktunya pulang sekolah dan kerumunan semakin menyusut, tetap saja madih ada beberapa siswa-siswi yang tersisa. Sekalipun begitu, aku tidak bisa dengan paksa menyeret putri dari keluarga Konohana pergi dari sini.
“Oh iya, sepertinya aku diberikan sesuatu untuk dapat digunakan di saat-saat seperti ini...”
Aku teringat akan tas hitam yang Shizune-san berikan padaku tadi pagi dan mengeluarkannya dari tasku.
Dia bilang kalau Hinako tidak mau dengar-dengaran, aku harus menggunakannya, tapi ngomong-ngomong, apa yang ada di dalam tas ini? Saat aku membuka mulut tas dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya—
“Keripiki kentang!!!”
“I-Itu curang..., mana mungkin aku bisa mengalahkan godaan itu...” kata Hinako dengan suara yang bergetar.
Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku aku melihat ada orang yang rela mematahkan kegigihnya demi keripik kentang.
“Kalau begitu aku akan memberikanmu ini asalkan kau mau pulang sekarang.”
“......Gununu.”
Mengerang dengan kekesalan, Hinako dengan enggan berdiri dan mengambil keripik kentang itu dari tanganku.
Mulai sekarang, seperti yang telah di atur, aku dan Hinako akan bertindak secara terpisah. Begitu Hinako melewati gerbang sekolah, sebuah mobil hitam muncul dan berhenti di dekatnya. Shizune-san keluar dari mobil dan menyapa Hinako. Aku menyaksikan kejadian itu, berpura-pura menjadi orang asing, dan kemudian melanjutkan berjalan-jalan sendirian.
Aku pun tiba di tempat yang kurang populer di mana kami akan bertemu dan menunggu sebentar. Kemudian, mobil yang membawa Hinako dan Shizune-san berhenti di dekatku.
“Maaf membuatmu menunggu.”
“Tidak, terimakasih sudah repot-repot datang ke sini.”
Jendela kursi depan terbuka dan Shizune-san berbciara padaku. Kemudian, aku masuk mobil dan duduk di kursi belakang bersama Hinako.
Bagi orang-orang di sekitar kami, itu terlihat sepeti aku dan Hinako pulang secara terpisah.
“Setelah kita kembali ke mansion, masih ada banyak hal yang harus dilakukan, tapi..., untuk saat ini, terima kasih atas kerja kerasmu di akademi.”
“Terima kasih banyak.”
Shizune-san, yang memiliki kesan kuat sebagai orang yang tegas, mengangguk.
Hinako, yang duduk di sampingku, sedang memakan keripik kentang yang baru saaja kuberikan padanya.
“Tampaknya apa yang kuberikan tadi pagi berguna.”
“Itu berguna di momen paling akhir. Aku tidak menyangka kalau keripik kentang akan dapat digunakan seperti itu.”
__ADS_1
“Bagaimanapun itu adakah itu kesukaannya Ojou-sama. Jarang dimakan, dan rasanya sangat enak.”
“...Loh, itu kan cuman keripiki kentang, kok sampai jarang untuk dimakan?”
“Tentu saja, makanan tidak sehat seperti itu tidak pantas untuk putri keluarga Konohana.”
Apakah keluarga yang kaya sangat ketat perihal makanan?
Tampaknya hanya karena kau punya uang, bukan berarti kau bebas untuk melakukan apapun yang kau inginkan. Malahan, tampaknya mereka justru lebih dibatasi dari orang biasa. Namun—
“Kupikir kalau cuman keripik kentang tidak masalah.”
“Tidak. Ini juga instruksi dari Kagen-sama. ....Tentunya, asalkan itu adalah irisan kentang yang disiapkan oleh koki tidak masalah untuk dimakan terus. Namub, Ojou-sama sepertinya lebih suka yang dikomersialkan.”
Dia ini sepertinya lebih menyukai rasa yang tidak baik untuk kesehatan. Saat aku melihat ke arah Hinako, aku melihat bahwa keripik kentang yang dia pegang terlalu besar untuk mulut kecilnya, sehingga, potongan-potongannya berjatuhan ketika dia menggigitnya.
“Duh, sisanya jatuh tuh.”
Saat aku meperingatinya, entah kenapa Hinako justru membuat wajah yang bangga,
“......Ini sama saja seperti saat kau menyeruput mie.”
“Hah?”
“Jatuhkan sisa-sisanya... Itulah etiket saat kau memakan keripik kentang,”
“Tidak, itu jelas tidak ‘kan.”
Apa yang kau katakan dengan ekspresi bangga di wajahmu itu?
“Itsuki, nih.”
Memanggil namaku, Hinako menawariku bungkus keripik kentang itu,
“...Kau mau memberikannya padaku?”
“Bukan begitu.”
Saat aku menerima bungkusan itu, Hinako membuka mulutnya dan mengarahkannya kepadaku.
“Lakukan seperti ikan mas tadi.”
Sekalipun kau bilang begitu..., Aku harus ngapain? Aku kebingungan terhadap Hinako yang membuka mulutnya.
“Masukkan keripik itu ke mulutku.”
Oh... jadi begitu.
“Ya, ya”
Aku mengambil sepotong keripik kentang dan membawanya ke mulut Hinako.
“Nyam...”
Krek, krek dengan suara-suara seperti itu, Hinako dengan bahagia memakan keripik kentang itu.
“Itsuki-san. Aku ingin kau mengingat ini, harap berhati-hati agar Kagen-sama tidak melihatmu melakukan itu.”
“......Aku mengerti”
Aku berpaling dari Hinako, yang memakan keripik kentang yang renyah.
Ini adalah pemandangan yang sepertinya dapat menimbulkan berbagai kesalahpahaman. Apa yang terbaik adalah tidak menunjukkannya kepada orang lain.
“Kau akan merahasiakann ini ‘kan, Shizune-san?”
“Jika bisa aku ingin segera melaporkannya... Tapi sayangnya, meskipun sekarang kau diberhentikan dari posisi pengurus, kami tidak bisa segera menyiapkan penggantimu.”
“...Jadi alasannya itu ya.”
“Untukku sendiri, aku menyarankan agar memotong itu sedikit karena telah berani-berani memperlakukan Ojou-sama seperti itu.”
“Astaga, jangan begitulah.”
__ADS_1
Aku membungkuk dalam-dalam pada Shizune-san.