Saijo No Osewa

Saijo No Osewa
Saijo No Osewa Volume 1 - Bab 33


__ADS_3

...Bab 33...


...Do~ya, Ojou-sama...


Di ruang kelas Akademi Kekaisaran yang saat ini aku sudah cukup terbiasa dengan suasana maupun materinya.


“Ujian tengah semester?”


Duduk di kursiku, aku menanyakan itu pada Taisho.


“Ya, kan kau baru-baru saja pindah ke akademi ini, jadi untuk berjaga-jaga, kupikir lebih baik aku memberitahukanmu kalau ujian tengah semester akan dimulai minggu depan.”


“Minggu depan, ya..., meskipun itu hanya ujian tengah semester, itu diadakan cukup awal.”


“Begitulah, bagaimanapun juga akademi ini memiliki upacara pembukaan yang lebih awal dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya.”


Kurang lebih aku paham maksudnya Taisho.


Hanya saja, aku tidak tahu kalau minggu depan akan dilangsungkan ujian tengah semester.


Aku juga tidak mendengar apapun tentang ini dari Shizune-san, tapi yah.... pada dasarnya aku setiap hari melakukan persiapan dan pengulasan materi. Meskipun aku baru akan mendengar tentang ini sehari sebelum ujian itu diadakan, apa yang akan kulakan pada dasarnya masih sama.


“Ngomong-ngomong, ini soal dari ujian yang sebelumnya.”


Mengatakan itu, Taisho menunjukkan padaku setumpuk kertas.


“Soal ujian sebelumnya...? Bagaimana kau bisa mendapatkan itu?”


“Sebelum ujian dimulai, pihak akademi akan membagikan ini di depan ruang guru. Kalau kau memerlukannya juga, kupikir lebih baik kau pergi untuk mengambilnya, Nishinari.”


“...Memangnya pihak akademi akan memberikan soal yang sama seperti di ujian sebelumnya?”


“Yah, meskipun dikatakan soal ujian sebelumnya, ini hanya sekedar memberikanmu gambaran kasar tentang ruang lingkup dan kesulitan dari soal. Tentu saja, soalnya tidak akan sama.”


“Jadi begitu ya.” Jawabku, dan kemudian meminta Taisho untuk menunjukkan soal dari ujian sebelumnya itu.


Saat aku melihat isi soalnya..., aku langsung keringat dingin.


“Ada apa, Nishinari?”


“......Tidak ada apa-apa.”


Ditanyai oleh Taisho, aku menanggapinya sambil tersenyum masam.


Saat aku melihat sekilas soal-soal dari ujian sebelumnya itu..., kebanyakan dari mereka adalah soal-soal yang aku tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.


Gawat nih.


Apa minggu depan nanti aku akan bisa mengerjakan soal ujian tengah semeseter yang diberikan?


Yah, bukan berarti kalau sampai saat ini kerjaanku hanya mengendur saja, tapi meski begitu, aku merasakan perasaan krisis yang luar biasa.


---


Istirahat makan siang.


Seperti biasanya, aku dan Hinako sedang makan siang bersama.


“Itsuki, selanjutnya aku mau makan yang itu.” kata Hinako, saat dia melihat ke arah kotak bekal makan siangnya.

__ADS_1


Namun aku tidak menanggapinya, dan terus menutup mulutku saat aku berkelana dalam pikiranku.


“......Itsuki?”


“Mm.... oh, maaf. Kau mau makan hamburger, kan?”


Menggunakan sumpitnya, aku mengambil steak hamburger yang terbuat dari daging sapi hitam Jepang dan membawanya ke mulut Hinako.


“Itshukwii..., khwau kwhnpwa?”


“...Telan dulu makananmu sebelum kau berbicara.”


Kalau seperti itu, aku tidak akan bisa mengerti apa yang kau katakan.


Hinako kemudian menelan makanan di mulutnya, lalu dia membuka mulutnya lagi.


“Itsuki..., kau kenapa?”


Tampaknya Hinako memperhatikan kalau aku bertingkah aneh.


Setelah menghela napas singkat, aku kemudian menjawabnya.


“Yah, ini bukan masalah besar sih, hanya saja..., tampaknya ujian tengah semester minggu depan akan jauh lebih sulit dari yang kupikirkan. Jadinya, aku merasa sedikit tertekan.”


Sebenarnya, ini adalah masalah yang sangat besar. Bagaimanapun juga, jika aku sampai mendapatkan nilai yang buruk, aku mungkin akan dipecat sebagai pengurusnya Hinako. Sampai saat ini, aku telah melalui semua pelatihan serta pembelejaran yang seperti hidup di neraka dari Shizune-san, dan sekarang, semua kerja keras keras itu tampaknya akan sia-sia.


IPS, Ekonomi, dan Bahasa Inggris adalah mapel dimana kau dapat membuat nilai yang kau raih menjadi sedikt lebih tinggi hanya dengan melakukan hafalan. Namun sayangnya..., aku tidak bisa melakukan apapun pada mapel yang tidak terlalu berpatokan pada hafalan.


“Haruskah aku mengajarimu...?”


“...Eh?”


“Gini-gini aku adalah murid terbaik di angkatan kita loh.” Katanya, dengan penuh kebanggan.


Kalau dipikir-pikir lagi, itu memang benar. Aku yang mengetahui kepribadian asli Hinako tidak benar-benar memikirkan tentang ini, tapi dia ini adalah murid yang paling berbakat di Akademi Kekasiaran.


“Oh iya, kau biasanya mengajari teman-teman di kelas tentang mapel yang mereka tidak kuasai, bukan?”


“Mm... kemampuanku ini sudah terbuktikkan. Do~ya?” katanya, dan lagi-lagi menunjukkan ekspresi yang penuh rasa kebanggan.


[Catatan Penerjemah: Do~ya ini semacam ungkapan saat seseorang mau berlagak, susah jelasinnya, pada dasarnya sih ini sfx.]


Namun, aku sedikit kesulitan untuk menjawabnya. Aku melakukan yang terbaik untuk bisa menjadi orang yang dapat dipercayai oleh Hinako, tapi..., aku ragu, apakah aku harus meminta bantuan dari dirinya.


Aku tidak boleh ragu-ragu.


Aku mengambil keputusan, dan kemudian menundukkan kepalaku.


“Bolehkah aku memintamu mengajariku?”


“Tentu, serahkan saja padaku...”


Kemudian, aku menyuapi Hinako yang sedang dalam suasana hati yang baik beberapa hidangan dari bekal makan siangku sebagai ungkapan terima kasih,


---


Setelah selesai makan, aku kembali ke ruang kelas dan duduk di kursiku.


Ketika aku merasa lega mengetahui bahwa aku memiliki prospek yang baik untuk bersiap-siap menghadapi ujian yang akan datang, Taisho dan Asahi-san mendekatiku.

__ADS_1


“Nishinari-kun, tadi aku sempat mendengar tentang ini, tampaknya kau cemas tentang ujian tengah semester nanti, ya?” tanya Asahi-san.


Tampaknya, Taisho memberitahukan perihal itu kepadanya.


“Iya... Untuk itu, sebagai referensi untukku, apa kalian meemiliki ide tentang bagaimana cara belajar yang baik untuk menghadapi ujian?”


“Menurutku sih tidak ada cara yang baik atau semacamnya perihal itu. Tapi jika aku harus menjawabnya, maka aku akan menjawab bahwa kau perlu menghabiskan lebih banyak waktumu untuk belajar daripada yang biasanya..., yah, kira-kira begitulah.”


“Jawabanku juga sama dengan Asahi. Yah, intinya sih melakukan persiapan maupun pengulasan.”


Setelah pulang sekolah, siswa-siswi di Akademi Kekaisaran biasanya akan melakukan pembelajaran mandiri. Itu sebabnya, aku yakin mereka dapat menghadapi ujian tanpa harus melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya.


“Ngomong-ngomong, Nishinari-kun, bagaimana kau akan belajar saat kau masih berada di sekolahmu yang sebelumnya?”


“Hm..., pada dasarnya sih sama saja dengan yang kalian berdua lakukan, tapi yah, kadang-kadang aku juga akan SKS. Selain itu...., kurasa aku akan melakukan belajar kelompok dengan teman-temanku.”


[Catatan Penerjemah: SKS (Sistem Kebut Semalam).]


“Belajar kelompok?” tanya Asahi-san, sambil memiringkan kepalanya.


“Maksudku, beberapa orang akan berkumpul untuk belajar bersama-sama. Di saat ada orang yang belajar bersamamu, itu akan membuatmu jadi lebih semangat lagi belajarnya, dan bahkan kalian akan bisa saling bekerja sama dengan mengajari apa yang kalian kuasai dan meminta diajari materi yang tidak kalian kuasai.”


Meskipun dikatakan bekerja sama, ada banyak kasus di mana itu akan berakhir dengan terus mengobrol dan malah tidak jadi belajar.


“Bagaimana kalau kita mencoba melakukan itu?”


“Eh?”


Saat aku merasa kebingungan, dengan gembira Asahi-san mengatakan niatnya di sampingku.


“Ayo kita lakukan belajar kelompok itu, kedengarannya menarik!”


Untuk suatu alasan, mata Taisho dan Asahi-san tampak bersinar.


“Untuk anggotanya, bagaimana kalau orang-orang yang sama seperti yang hadir di pesta teh kemarin. Saat itu ada banyak orang yang memiliki nilai yang tinggi-tinggi.”


“Kedengarannya bagus tuh! Oke, aku akan segera mengajak mereka!”


Aku yang mengemukakan topik belajar kelompok itu hanya untuk sekedar dijadikan bahan obrolan, tapi tau-tau, mereka berdua menjadi sangat antusias tentang itu.


Hanya saja..., gimana nih?


Aku berencana meminta Hinako untuk mengajariku belajar supaya aku bisa menghadapi ujian, tapi....


“Nishinari-kun, kapan kau punya waktu luang?” tanya Asahi-san.


“Erm, tapi kan aku belum memutuskan apakah aku akan berpartisipasi atau tidak...”


“Eh! Kau tidak berpartisipasi, Nishinari-kun!? Bukannya kau sendiri yang mengemukakan ide itu!”


“Itu benar! Karena kau yang mengungkitnya, maka kau juga harus berpartisipasi!”


Rasanya sulit sekali untuk menolak mereka.


Tapi yah..., kurasa aku bisa meminta Hinako untuk mengajariku di sesi belajar kelompok itu.


Selain itu, semakin banyak kesempatan untuk belajar akan jadi semakin baik.


“...Baiklah.”

__ADS_1


__ADS_2