
...Bab 24...
...Jika kau mengenalnya dan mengenal dirimu sendiri, kau tidak akan pernah kalah dalam seratus pertempuran, Ojou-sama...
Saat aku berpisah dari Narika dan hendak kembali ke ruang kelas 2A. Dari belakang koridor, aku bisa mendengar suara dua siswi yang sedang bercakap-cakap.
“T-Terima kasih banyak ya sudah mau membantuku!”
“Tidak perlu berterima kasih kok.”
Seorang siswi berambut pirang yang tergulung secara vertikal secara bermartabat menjawab gadis yang membungkuk kepadanya. Menyaksikan penampilannya yang sangat mencolok itu, namanya tanpa sengaja bocor keluar dari mulutku.
“Tennoji-san?”
“Ara~, kau kan yang kutemui tempo hari...” mengatakan itu, mata Tennoji-san yang menatap ke arahku segera menyipit.
Ngomong-ngomong, sebelumnya perpisahan kami agak aneh, dan karena akan canggung jika momen itu sampai teringat, aku segera mencari topik lain untuk dibicarakan.
“Um, apa yang kau lakukan?”
“Yah, aku tidak melakukan sesuatu yang khusus. Aku hanya membantu siswa yang piket membawakan materi untuk pelajaran berikutnya.”
Seperti yang kupikirkan saat sebelumnya dia mengambilkan dompet Hinako yang tertinggal di dalam toilet, terlepas dari penampilannya, Tennoji-san adalah orang yang baik hati. Sepertinya dia berinisiatif untuk membantu orang-orang setiap harinya.
“Oh iya, aku sudah mendengar tentang dirimu loh. Kau itu siswa pindahan, bukan?”
“Ya. Aku Itsuki Nishinari, aku pindah ke akademi ini kemarin lusa.”
Meskipun sudah terlambat, aku ingat bahwa aku belum memperkenalkan diriku padanya, jadi aku menyebut namaku. Nah, Tennoji-san mungkin sudah mengetahuinya.
“Jadi, Nishinari-san... Ada beberapa rumor yang beredar belakangan ini..., sepertinya kau pergi ke sekolah bersama dengan Hinako Konohana.”
Kalau dipikir-pikir kembali, Tenooji-san melihat Hinako sebagai musuhnya. Kalau seperti ini, akan merepotkan kalau dia juga sampai melihatku sebagai musuhnya. Kurasa aku harus membuat alasan di sini.
“Memang benar kalau aku dan Konohana-san pergi ke sekolah bersama-sama pada hari pertamaku pindah ke akademi ini, tapi itu agar dia bisa mengajakku berkeliling. Dan baik hari ini serta kemarin, kami pergi ke sekolah secara terpisah. Lagipula, keluargaku dan keluarganya Konohana-san punya hubungan. Jadi ya, hanya sekedar begitu saja.”
“...Begitukah? Jadi kau bukan bagian dari Faksi Konohana?”
“Faksi Konohana?”
Saat aku memiringkan kepalaku, Tennoji-san menjelaskan.
__ADS_1
“Aah, itu hanyalah sesuatu yang kusebut-sebut sendiri. Di Akademi Kekaisaran ini, ada banyak siswa yang mengagung-agungkan Hinako Konohana, jadi aku menyebut mereka yang seperti itu sebagai bagian dari Faksi Konohana.”
“...Begitu ya.”
Jadi intinya, semacam klub penggemar gitu ya. Sepertinya Akademi Kekaisaran ini juga lebih biasa dari yang terlihat.
“...Tennoji-san, apa kau membenci Konohana-san?”
“B-Bukannya aku membencinya! Hanya saja, karena Hinako Konohana, ketenaranku menjadi berkurang!” dengan nada yang panik, Tennoji-san mengatakan itu. “Aku mengakui kemampuan dari Hinako Konohana. Dia terlihat sebaik diriku, dan nilainya juga sama dengan nilaiku. Jadi sudah sewajarnya kalau dia menjadi populer.”
“Kau cukup percaya diri dalam membuat pujian untuk diri sendiri...”
Bisakah kau memberkan sedikit dari kepercayaan dirimu itu pada Narika?
“Tapi, wanita itu, Hinako Konohana..., dibandingkan dengan diriku yang merupakan putri dari Grup Tennoji, dia terlalu dielu-elukan! Padahal Grup Tennoji adalah perusahaan dengan skala yang sebanding dengan Grup Konohana, dan malah sejarah kami jauh lebih dalam daripada mereka! Dengan kata lain, akulah yang seharusnya, seorang dirikulah yang seharusnya menjadi fokus perhatian di Akademi Kekaisaran ini.”
Mengatakan itu dengan sangat tegas, Tennoji-san memelotiku.
“Jika kau bukan bagian dari Faksi Konohana, kau juga pasti berpikir begitu, kan!?”
“Eh? Yah,itu...”
Barusan, dia benar-benar telah menyentuh kebenarannya..., Yah, mending aku diam saja.
“Apakah ini karena kebaikannya pada orang lain? ...Tidak, selama dirimu adalah keturunan dari orang besar, maka kau harusnya bersikap tegas seperti diriku. Terlalu banyak tersenyum justru malah dapat merusak martabatmu, dan mengajari seseorang apa yang mereka tidak pahami dalam studi mereka bukan merupakan hal yang terbaik bagi mereka jika itu dilakukan dengan terlalu berlebihan. Lagipula, tempo hari wanita itu—”
Terhadap Tennoji-san yang bergumam pada dirinya sendiri, aku memberitahukan apa yang saat ini kupikirkan.
“Tennoji-san..., kau ini tahu banyak tentang Konohana-san, ya.”
“Ap—!? *-*-*-Tidak juga, ini suatu hal yang sangat normal!”
Dengan wajahnya yang menjadi merah padam, Tennoji–san menyangkal itu secara berlebihan.
“Aku dan Hinako Konohana itu..., yap, rival! Kami adalah rival! Karenanya, wajar jika kami salaing mengetahui tentang satu sama lain! Dikatakan bahwa jika kau mengenal pihak lain dan mengenal dirimu sendiri, kau tidak akan pernah kalah dalam seratus pertempuran!”
Saat dia mengucapkan itu, aku memikirkan sedikit tentang karakter dari Tennoji-san.
Sebelumnya Narika sempat bilang, bukan?
Saat kau membawa nama keluarga yang ternama, maka orang-orang di sekitarmu akan menyusut. Mungkin saja..., Tennoji-san juga mengalami masalah yang sama.
__ADS_1
Seperti yang sebelumnya dia katakan sendiri, Grup Tennoji adalah grup yang sama besarnya dengan Grup Konohana. Dan dari segi sejarah, mereka bahkan lebih tua dari Grup Konohana.
Tennoji-san, yang memiliki latar belakang keluarga seperti itu, mungkin sama kesepiannya seperti Narika. Meskipun kondisinya tidak seserius Narika... Mungkinkah Tennoji-san hanya menginginkan seorang teman yang bisa dia ajak bicara secara akrab?
Jika pihak lain adalah putri dari keluarga Tennoji, sebagian besar siswa-ssiwi pasti akan merasa segan terhadapnya. Namun, jika itu adalah Hinako.... jika itu siswi dengan skala keluarga yang sama, Hinako pasti bisa membangun hubungan yang setara dengan Tennoji-san. Tennoji-san mungkin terobsesi dengan Hinako karena itu.
“Erm..., apa sepulang sekolah nanti kau punya kesibukkan?”
“Sepulang sekolah? Yah, aku punya waktu luang, memangnya kenapa?”
“Sepulang sekolah nanti, aku dan teman-temanku berencana mengadakan pesta teh di kafe yang terletak di sebelah kantin. Ngomong-ngomong..., Konohana-san juga akan ikut bergabung dalam pesta teh itu.”
“H-Hinako Konohana!?” terkejut, mata Tennoji-san terbuka lebar. “Oh, kau pasti sedang mencoba merayuku untuk bergabung dengan Faksi Konohana, ‘kan...!”
“Kenapa kau sangat waspada seperti itu..., aku ‘kan hanya mengajakmu untuk pergi nongkrong bareng.”
Dia terlalu parno tentang Hinako.
“Y-Yah, jika wanita itu benar-benar bersikeras ingin aku ikut bergabung, kurasa aku tidak punya pilihan selain bergabung dengan kalian.”
“Tidak, itu tidak seperti Konohana-san ada mengatakan sesuatu seperti itu...”
“...Begitukah?”
“Begitulah.”
“......”
“......”
“......”
“...Oh, kalau tidak salah dia memang ada mengatakan sesuatu seperti itu, jadi maukah kau berpartisipasi di pesta teh tersebut?”
“A-Apa boleh buat! Kalau begitu, aku akan berpartisipasi!”
Suasananya terasa canggung, jadi aku memutuskan untuk berbohong dengan lembut. Saat itu, mata Tennoji-san tampak berbinar. Kurasa dia benar-benar ingin ikut dalam pesta teh ini.
“Bagaimanapun juga, dikatakan jika kau megnenal pihak lain dan mengenal dirimu sendiri, kau tidak akan pernah kalah dalam seratus pertempuran!”
Aku sudah dengar itu tadi.
__ADS_1