
...Bab 14...
...Pelajar Ekstrim Dari Pelayan...
Begitu kembali dari akademi, aku langsung menerima pelajaran dari Shizune-san.
“Pertama, kita akan mulai dengan persiapan untuk besok. Besok akan ada pelajaran administrasi bisnis yang belum pernah kau pelajari sebelumnya, jadi kita akan fokus pada pelajaran itu. Cakupan materinya mengenai keuangan perusahaan.”
Di Akademi Kekaisaran, ada begitu banyak siswa-siswi yang akan mengambil posisi manajemen di masa depan. Karenanya, mata pelajaran administrasi bisnis lebih praktis dibandingkan mata pelajaran lainnya. Berbagai pengatahuan perihal cara menjalankan perusahan di tanamkan ke kepalaku oleh Shizune-san.
“Aku telah menilai kuisnya. Nilaimu 87..., Ada banyak kesalahan akibat kecerobohan. Kau tidak cukup berkonsentrasi.”
“Iya.”
Persiapan, yang akan terus berlanjut hingga aku mendapatkan nilai sempurna, akhirnya terselesaikan dalam waktu tiga jam.
“Baiklah, sekarang setelah persiapannya selesai, selanjutnya adalah kelas etiket. Selain Ojou-sama, ada anak-anak dari orang kaya yang menghadi Akademi Kekaisaran. Jika kau sampai tidak menghormati mereka, kau dapat menyebabkan masalah yang tidak perlu. Karenanya, yang terbaik adalah memperlajari semuanya selagi kau bisa mempelajarinya. Kali ini, kita akan mempelajari tentang etiket dalam memakan masakan Prancis.”
Bahkan saat makan malam, aku masih tetap menerima pelajaran dari Shizune-san.
Pertama, pegang garpu dan pisau, masing-masing dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Hidangan pembuka yang merupakan ikan harus dimakan tanpa merusak citranya, dan minum supnya tanpa mengeluarkan suara. Kemudian, daging mesti dipotong dengan pisau sesuai dengan pola irisannya, buat itu seukuran gigitan sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
“Itu salah. Merupakan etiket Inggris untuk meletakkan pisau dan garpu pada posisi pukul 6 setelah kau selesai makan. Dalam etiket Prancis, itu ditempatkan pada posisi pukul 3.”
“Ah, iya.”
Pisau dan garpu diletakkan secara horizontal dengan pegangan di sisi kanan piring. Pada titik ini, bilah pisau harus menghadap ke arahmu.
“Selanjutnya adalah pelajaran bela diri. Untungnya, tubuh Itsuki-san telah terlatih dengan baik berkat pekerjaan sambilan yang membutuhkan kekuatan fisik, jadi ayo kita kita tingkatkan kekuatan fisikmu dan mempelajari jurus-jurus. Pelajaran hari ini adalah Jujutsu. Pertama-tama, kita akan memulai dengan ukemi ke depan, lakukan itu 100 kali.“
{Catatan Penerjemah: Jujutsu adalah nama dari beberapa macam aliran beladiri dari Jepang. Tidaklah betul jika dikatakan bahwa Jujutsu mengacu pada satu macam beladiri saja.]
Setelah berganti ke seragam judo, aku pergi ke dojo mansion untuk menerima pelajaran bela diri seperti hari-hari sebelumnya,
Setelah berlatih ukemi, aku mempelajari teknik dasar melempar, dan akhirnya kami berlatih dalam pertarungan sungguhan.
“Fuu—!!”
“Naif.”
Pada saat yang sama ketika aku menarik Shizune-san ke arahku, aku menyapu kakiku dan bersiap untuk mengunci.
Namun, Shizune-san memprediksi gerakanku dan melemparkan tubuhnya ke luar. Kemdudian, dia dengan ringan memukul punggungku yang terhuyung-huyung akibat pergerakan yang gagal hingga aku terjatuh ke atas matras.
“Aku bisa melihat waktu penggeseran pusat gravitasimu. Tentunya, itu mungkin bisa mengalahkan seorang yang amatir, tapi itu tidak akan berhasil saat melawan seseorang yang memiliki pengetahuan seni bela diri.”
“I~ya...”
Aku tidak bisa menyembunyikan kelelahanku, jadi aku menjawabnya dengan suara yang menyedihkan.
Di tempat pertama, alasan aku diajari bela diri adalah untuk mewaspadai penculikan, seperti yang menjadi pemicu pertemuanku dengan Hinako. Kudengar dalam banyak kasus, pelaku penculikan adalah orang yang terbiasa baku hantam. Karenanya, kemampuan untuk dapat mengalahkan amatir saja tidak cukup.
“B-Boleh tidak, istirahat, sebentar...”
__ADS_1
“Tidak boleh. Sebagai pengurus, kau harus melindungi Ojou-sama saat terjadi keaadan darurat. Aku akan cemas kalau cuman dalam latian setingkat ini, kau sampai mengeluh seperti itu.”
Iblis..., orang ini adalah iblis.
Monster. Spartan. Setan. Berbagai kata muncul di benakku. Tapi pada saat yang sama, aku memiliki rasa hormat terhadapnya. Shizune-san melakukan segalanya dengan sempurna, termasuk belajar, etiket, dan bela diri. Selain itu, dia juga melakukan pekerjaannya sebagai pelayan, seperti memasak dan mencuci, tanpa adanya suatu hambatan. Jika Hinako adalah Ojou-sama yang sempurna, maka Shizune-san adalah pelayan yang sempurna. Dan tidak seperti Hinako, Shizune-san sempurna dalam artian yang sebenarnya, tidak hanya di permukaan.
“Kurasa untuk hari ini sudah cukup. Kau telah melakukannya dengan baik.”
“T-terima kasih banyak......”
Pada akhirnya, pelajaran bela diri berakhir dalam dua jam setelah aku membuat banyak keluhan.
“Kau menelaah semua pelajaran itu lebih cepat dari yang kubayangkan.”
“Benarkah?”
“Ya. Terutama dalam bela diri, kau mungkin punya bakat dalam bidang itu. Kalau kau kau terus memolesnya, aku yakin kalau kau akan menjadi pandai dalam bidang tersebut.... Di sisi lain, kau agak sulit menelaah pelajaran etiket.”
“Uggh..., maafkan aku”
Keluargaku memiliki standar hidup yang tidak bisa dikatakan kaya. Aku bahkan masih belum terbiasa menggunakan pisau dan garpu.
“Akan merepotkan jika kau berkeliaran di sekitar mansion dengan berkeringat seperti itu, jadi silakan pergi mandi. Namun, selagi kau berendam di bak mandi, terima ini.”
Mengatakan itu, Shizune-san memberiku setumpuk kertas. Kertas-kertas tersebut menyertakan nama-nama siswa-siswi di akademi.
“Apa ini......?”
“Ini adalah profil dari teman sekelasmu Itsuki-san. Kau perlu mengetahuinya.”
Yah, lagian ini adalah pekerjaan dengan gaji 20.000 yen per harinya. Aku tidak punya pilihan selain menerimanya.
“Oh iya, tadi ada orang lain lagi yang berinteraksi denganku di akademi.”
“Siapa itu?”
“Dia adalah gadis yang bernama Mirei Tennoji. Kami berada di kelas yang berbeda, tapi...”
Saat aku mengatakan itu, mata Shizune-san membelalak.
“Kau berinteraksi dengan Tennoji-sama?”
“Eh, iya..., apa ada masalah dengan itu?”
“Tidak, tidak ada masalah dengan itu. Hanya saja, di akademi, ada rumor yang mengatakan bahwa Tennoji-sama dan Ojou-sama itu seperti anjing dan monyet. Karenanya, itu akan menjadi hubungan yang rumit.”
Aku baru pertama kali mendengarnya. Nah, karena aku baru sehari memasuki akademi tersebut, aku belum pernah mendengar rumor yang seperti itu,
“Kesampingkan Tennoji-sama, tampaknya Ojou-sama tidak ada niat seperti itu. Namun, Grup Konohana dan Grup Tennoji adalah grup korporat yang skalanya hampir sama. Oleh karena itu, sering kali mereka bersaing satu sama lain, dan ada kalanya hubungan antara satu sama lain menjadi tegang.”
“......Begitu ya.”
“Aku akan menyiapkan materi untuk menghadapi Tennoji-sama besok. Untuk hari ini, mohon konsentrasilah untuk mengingat profil teman sekelasmu.”
__ADS_1
Aku mengangguk kepadanya.
Ini adalah akhir dari pelajaran hari ini, tapi Shizune-san memintaku untuk juga melakukan pembelajaran secara mandiri. Aku harus memastikan supaya aku mengingat profil teman sekelasku sebelum aku pergi tidur.
Sepertinya Shizune-san membersihkan dojo dengan riangan, jadi aku memutuskan untuk meninggalkan dojo terlebih dahulu. Aku sangat ingin membantunya, tapi kekuatan fisikku sudah sampai pada batasnya. Kalau sekarang aku menawarkannya bantuan, aku yakin kalau aku hanya akan memperlambatnya.
“Itsuki...”
Dalam perjalanan kembali ke kamarku, aku bertemu dengan Hinako.
Di sekitar sini cuman ada kamar pelayan. Ngapain dia dia ini? Sebelum aku bertanya seperti itu, Hinako mendekatiku.
“Mu~”
“Ada apa?”
“......Kau bau keringat.”
“Yah, itu sudah pasti.”
Aku segera menjauhkan diri dari Hinako yang mengerutkan dahinya.
“Kau mau kemana?”
“Aku mau kembali ke kamarku dan pergi mandi.”
“Mandi? ...Kalau begitu, ikuti aku.”
Hinako meraih tanganku dan membawaku ke suatu tempat.
Penampilan diriku yang mengenakan seragam judo sedang dibawa pergi oleh Hinako sangat mencolok di dalam mansion. Sambil merasa tidak nyaman dengan perhatian para pelayan, aku terus mengikuti Hinako.
“Tempat ini......”
“Kamarku.”
Tempat kami tiba adalah kamar pribadinya Hinako.
Ini lebih dari lima kali ukuran kamarku. Kamar tersebut didekori dengan gaya yang khas dari kamar seorang Ojou-sama, dengan karpet coklat yang membawakan nuansa menenangkan dan tempat tidur berkanopi.
“Kamar mandinya..., ada di sini.”
Hinako membuka pintu yang menuju ke ruang ganti.
“Oh..., Ini besar sekali”
Kamar mandinya juga jauh lebih besar dari yang ada di kamarku. Atau lebih tepatnya, kamar mandi itu berukuran sama dengan kamarku. Bisa dibilang, ini adalah pemandian umum berukuran mini.
Tapi, kenapa Hinako membawaku ke tempat seperti ini?
Saat aku bertanya-tanya seperti itu di benakku, Hinako memberitahuku
“Ayo kita masuk dan mandi sama-sama.”
__ADS_1
“......Lah?”
Lah?