Saijo No Osewa

Saijo No Osewa
Saijo No Osewa Volume 1 - Bab 32


__ADS_3

...Bab 32...


...Ojou-sama yang Manja...


Pagi hari di keluarga Konohana itu lebih awal.


Saat aku bangun pukul 6 pagi, aku langsung membasuh wajahku, berganti pakaian ke seragam Akademi Kekaisaran, dan keluar dari kamar. Biasanya, pelayan seharusnya berganti pakaian ke seragam pelayan, tapi karena aku harus pergi ke akademi dengan Hinako sebagai pengurusnya, aku harus mengenakan seragam akademi.


Begitu aku keluar dari kamarku, aku melakukan pembersihan sederhana. Dengan hati-hati, aku memberishkan kotoran di depan pintu, koridor, dan di dekat tangga, lalu meletakkan peralatan pembersih yang kugunakan di tengah lantai pertama.


Tamu pada dasarnya jarang memasuki ruang tamu para pelayan, tapi jika ruangan ini kotor, debu dan semacamnya mungkin dapat menempel pada seragam para pelayan. Sangat tidak sopan apabila pelayan berdiri di depan tamu dengan mengenakan pakaian yang kotor, jadi mereka disuruh untuk membersihkan ruangan itu secara menyeluruh.


Tugas bersih-bersih dilakukan secara bergiliran, dan hari ini adalah giliranku. Dan jika itu bukan giliranku, maka aku akan bisa tidur sedikit lebih lama.


Pukul 7 pagi. Para pelayan akan berkumpul di ruang makan untuk sarapan dan memulai rapat pagi. Pada dasarnya, jadwal para pelayan telah ditentukan sehari sebelumnya. Rapat pagi ini diadakan untuk menangani setiap perubahan jadwal atau penambahan beban kerja yang tiba-tiba.


Pelayan yang bertugas di malam hari dan pelayan yang sedang dapat jatah hari libur tidak akan berpartisipasi dalam rapat tersebut.


Di ruang makan itu, ada sekitaran 30 pelayan yang berkumpul.


“Hari ini tidak ada perubahan dalam jadwal. Ayo selesaikan pekerjaan sesuai jadwal.”


Para pelayan kemudian menjawab “ya” terhadap kata-kata Shizune-san.


Aku mengetahuinya setelah aku aku mulai bekerja di keluarga Konohana, tapi tampaknya Shizune-san adalah kepala pelayan (maid), posisi terbesar diantara para pelayan wanita (maid) di keluarga Konohana. Para pelayan keluarga Konohana berpusat di sekitar kepala pelayan wanita (maid) dan kepala pelayan laki-laki (butler).


Pukul 7:30.


Para pelayan menyelesaikan sarapan mereka dan segera pindah ke tempat mereka bekerja.


Aku juga demikian, dan menuju ke kamar Hinako.


“Selamat pagi, Itsuki-san.”


Dalam perjalanan ke kamar Hinako, salah satu pelayan (maid) menyapaku.


“Selamat pagi.”


“Aku tahu kalau itu sulit untuk bekerja sebagai pengurus, tapi tetaplah lakukan yang terbaik.”


“Ya, terima kasih.”


Wanita yang menyemangatiku itu kemudian berbalik dengan gerakan santai.


“...Sedikit demi sedikit, aku mulai diterima di mansion ini.”


Sudah seminggu sejak aku mulai bekerja sebagai pengurus. Dan yah, wajahku sudah dikenal oleh para pelayan yang bekerja di rumah ini.


Ketika aku sampai di depan kamar Hinako, aku berhenti dulu disana, dan merenung sejenak sebelum mengetuk pintu.


Aku hanya harus membangunkannya dengan normal, kan?


Aku tidak tahu apakah ada cara yang normal atau khusus untuk membanungkan seseorang, tapi jika aku memikirkannya dengan tenang, aku tidak pernah membangunkan seorang gadis.


Shizune-san adalah orang yang tidak akan memberikan instruksi secara sembarangan. Aku yakin kalau aku yang diberi pekerjaan ini karena dia menilai bahwa aku yang sekarang bisa melakukannya.


“Permisi.”


Mengetuk pintu, aku memasuki kamar Hinako.


Di atas ranjang yang berkanopi, Hinako terlihat masih tidur dengan nyenyak.


“Hinako, bangun, sudah pagi.”

__ADS_1


“Mmmmm..., entaran aja, 3 jam lagi.”


Buset, selang waktunya gak main-main. Kalau cuman tiga menit, mungkin aku bisa membiarkannya, tapi tidak mungkin aku bisa menunggu selama tiga jam.


“Kalau kau tidak segera bangun, kau akan terlambat pergi ke akademi.”


“...Yaudah, aku mau terlambat aja.”


“Tidak boleh.”


Kalau kau melakukan itu, semua akting yang kau lakukan akan sia-sia.


Jika citra publik Hinako jadi hancur karena aku, aku mungkin akan dipecat sebagai pengurusnya. Jika sudah sepert itu, aku tidak akan bisa untuk berada di sisi Hinako lagi.


“Duh, bangun cepat.”


Menyebarkan tirai anti tembus pandang ke kiri dan ke kanam, cahaya matahari yang menyilaukan menyinari kamar itu.


“Muu~...”


Mengusap-ngusap kelopak matanya dengan punggung tangannya, Hinako kemudian mengankat bagian atas tubuhnya.


“E-Eh..., Itsu~ki...?”


“Selamat pagi.”


Saat aku menyapanya, Hinako terlihat linglung sejenak..., dan kemudian dia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang lagi.


Lah, kenapa kau malah tidur lagi?


“...Bangunin.” kata Hinako, sambil mengangkat tangannya ke atas.


Apa dia ingin aku menariknya bangun? ...Terhadap Hinako yang bertingkah manja seperti itu, aku hanya bisa tersenyum masam.


Aku kemudian menarik tangan Hinako, mengangkat tubuhnya.


Saat aku melakukan itu, dia dengan lembut memeluk bagian atas tubuhku dan tersenyum.


“Selamat pagi..., Itsuki.”


“Ya, selamat pagi.”


Setelah bertukar salam pagi lagi, aku mengambil seragam perempuan yang digantung di hanger.


“Seragammu kutaruh di sini. Aku akan menunggu di luar pintu saat kau ganti pakaian.”


“...Bantuin.”


“Eh?”


“Bantuin aku..., mengganti pakaianku.”


Mengatakan itu, Hinako kemudian merentangkan tangannya ke depan.


“Tidak, mana bisa aku melakukan itu...”


“Ce~pe~tan...”


Tugasku adalah membangunkan Hinako dan membawanya ke ruang makan. Dan apakah itu..., termasuk membantunya berganti pakaian?


Kemudian, dengan perlahan aku mulai membuka kancing piyama Hinako.


Saat itu, aku bisa melihat kulit Hinako melalui celah piyamanya.

__ADS_1


“......”


Aku benar-benar kewalahan saat melihat pemandangan yang luar biasa itu.


Namun di sisi lain, Hinako menutup kelopak matanya tanpa pertahanan dan mempercayakan dirinya padaku.


“Tenang..., aku harus tenang.”


Sambil mengatakan itu pada diriku sendiri, aku membantu Hinako mengganti pakaiannya.


Saat aku akhirnya membuka semua kancing piyamanya, aku bisa melihat pakaian dalamnya yang berwarna pink. Aku kemudian menyipitkan mataku sesipit-sipitnya, lalu membuatnya mengenakan seragamnya.


...Hinako..., dia tidak melihatku dalam pandangan yang seperti itu.


Aku yakin..., Hinako ingin mencari kehangatan sebuah keluarga yang bisa dipercaya dari diriku.


Untuk memenuhi keingannya itu, aku harus menyingkirkan pemikiran-pemikiran yang tidak perlu.


Dan pada saat itu, ada ketukan di pintu kamar.


“Itsuki-san, apa kau ada di dalam?”


“Iya~a!?”


Apa yang datang dari balik pintu itu adalah suaranya Shizune-san.


Aku sangat terkejut akan dia yang tiba-tiba memanggilku, jadinya aku menjawab dengan nada suara yang sangat aneh.


“Aku lupa memberitahumu, tapi Ojou-sama..., dia sering mengigau dan mengatakan hal-hal yang aneh.” kata Shizune-san, dari sisi lain pintu. “Misalnya, dia terkadang akan mengatakan sesuatu seperti menggantikan pakaiannya..., tapi tidak mungkin kan seorang pria sepertimu akan menganggap serius kata-katanya itu?”


Lah, tadi aku malah menganggapnya dengan sangat serius!


Duh, apa yang harus kulakukan sekarang?


Haruskah aku meminta maaf? Dengan begitu, mungkin aku masih bisa terselamatkan..., tidak.


Ini sudah terlambat. Jika Shizune-san melihatku di situasi seperti ini, hidupku sebagai seorang pria akan berakhir.


“T-Tentu saja! T-Tidak mungkin aku akan menganggapnya dengan serius!”


“Yah, kurasa memang begitu. Maafkan aku. Kau ini memang bukan monyet yang penuh dengan nafsu... Dalam beberapa hari terakhir ini, aku telah mengerti bahwa kau adalah pria yang memiliki kepribadian lugas. Seperti Ojou-sama, aku juga mempercayaimu, Itsuki-san.”


Sakit, sakit, sakit... Kepercayaan itu sungguh menyakitkan.


Shizune-san, kenapa kau justru memujiku di saat-saat seperti ini?


“Erm..., Hinako.”


“A~pa...?”


“...Bolehkah aku memintamu untuk tidak bilang pada Shizune-san kalau hari ini aku membantumu berganti pakaian?”


Saat aku bertanya dengan keringat dingin, Hinako menyeringai padaku.


“...Jika kau mau, kau bisa loh menjadikan ini sebagai bagian dari rutinitas harianmu.”


“Eh?”


“Mulai sekarang, mohon bantuannya setiap pagi...”


Tolong Ampunilah Hambamu Ini.


Dalam hatiku, aku menangis dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2