
...Bab 29...
...Ojou-sama yang ingin digenggam...
Setelah Hinako pingsan di kamar mandi, aku segera membawanya ke dalam kamar dan memanggil Shizune-san.
Awalnya, kupikir dia hanya pingsan saja, tapi dia terlihat sesak dan sepertinya sangat kesakitan. Setelah menyeka tubuh Hinako dengan lembut, aku meminta Shizune-san untuk memeriksa kondisinya.
“Dia mengalami demam ringan.” kata Shizune-san, sambil menatap Hinako yang sedang berbaring di ranjang. “Untuk saat ini, biarkan Ojou-sama tidur seperti ini.”
“...Aku mengerti.”
Shizune-san sudah menyiapkan perlengkapan untuk merawatnya. Saat aku berada di luar kamar, Shizune-san dengan cepat menggantikan pakaian Hinako menjadi gaun tidurnya dan kemudian memberikannya obat untuk diminum. Namun, terhadap tindaknnya yang terlihat sangat terlatih itu, aku merasa sedikit aneh.
“Ada apa?”
“Tidak, itu..., kelihatannya kau sangat tenang.”
“Ya, begitulah, sesuatu seperti ini sering terjadi.”
“Sering terjadi...?”
Terhadapku yang menunjukkan ekspresi bertanya-tanya, Shizune-san mulai menjelaskan.
“Alasan mengapa Ojou-sama pingsan adalah karena stres yang diakibatkan oleh aktingnya sehari-hari.”
Untuk sesaat, aku tidak bisa memhami arti dari kata-kata itu.
“Stres karena akting? Jangan bilang yang kau makusd itu adalah akting yang dia lakukan sepanjang waktu?”
“Ya.”
Mataku membelalak terhadap pengiyaan sederhana dari Shizune-san. Terhadapku yang terkejut seperti itu, Shizune-san terus menjelaskan.
“Dia memainkan kepribadian yang sangat jauh dari kepribadiannya yang sebenarnya loh? Jadi wajar saja jika dia sampai merasa stres.”
Shizune-san memberitahukanku itu dengan jelas. Kata-kata itu mengirimkan gelombang kejut ke kepalaku.
Memang benar, Hinako selalu berakting dengan sangat teliti. Namun, begitu dia sampai di rumah, dia akan kembali ke kepribadian semulanya yang ceroboh, dan meskipun dia tampak lelah, dia tidak terlihat seperti kesakitan. Aku memang sudah bisa menduga kalau dia pasti merasa terkekang oleh aktingnya itu..., tapi, aku tidak menyangka kalau itu akan sangat melelahkan sampai akan membuatnya pingsan.
“T-Tunggu dulu, kenapa kau bersikap biasa saja? Ini beban yang berat sampai-sampai membuatnya pingsan tahu? Bagaimana bisa sesuatu seperti ini diabaikan begitu saja...”
“Sekalipun sampai pingsan, ini adalah demam yang akan mereda dalam beberapa hari. Jangan terlalu khawatir.”
“Tidak, tapi kan, jika dia sampai pingsan seperti ini, bukannya akan lebih baik untuk berhenti berakting—”
“—Tolong urus saja urusanmu sendiri.” Mengatakan itu, Shizune-san menatapku dengan tajam. “Ini adalah kesepatakan dari keluarga Konohana. Ini bukanlah sesuatu yang bisa diatur oleh perasaan pribadi..., dan tentu saja, Ojou-sama sendiri juga menyadari hal ini.”
Hinako juga menyadari hal ini. Kata-kata itu menusuk kepalaku dengan kuat.
Kekesalanku memudar saat mengatahui penyebab Hinako pingsan. Dia sendiri tahu itu, dan dia berakting sampai dia pingsan. Lantas, pada siapa aku harus mengungkapkan kekesalanku? Kemana aku harus mengarahkan perasaan ini?
“Saat Ojou-sama sedang berada di depan publik, dia akan fokus pada aktingnya. Karenanya, dia akan mengendur untuk istirahat satat dia berada di mansion. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa alasan mengapa Ojou-sama akan bermalas-malasan saat berada di mansion adalah karena kelelahan akibat akting yang dilakukannya.”
“...Jadi maksudmu, itu adalah dampak dari akting yang Hinako lakukan, dan ketika dia tidak berada di depan umum, dia akan bermalas-malasan?”
“Benar. Tentunya, dia tetap memiliki kepribadiannya yang alami, tapi..., pada hari ketika sedang libur dimana dia tidak harus berakting, dia akan selalu lebih energik.”
Dengan kata lain, tidak salah lagi kalau akting yang dia lakukan menjadi beban untuknya.
Aku benar-benar tidak tahu tentang itu.
“Itsuki-san. Mungkin lebih baik kau segera pergi tidur, karena jika tidak, itu akan bisa mempengaruhimu saat di sekolah besok.”
Kata-kata itu membuatku melebarkan mataku.
“Hah? Di saat Hinako sakit sepeti ini, aku masih tetap harus pergi ke sekolah?”
“Tentu saja, mengingat kemampuan akademis yang kau miliki, sebisa mungkin kau tidak boleh sampai absen.”
“Tapi, aku adalah pengurusnya Hinako...”
“Suatu pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang tepat. Aku adalah orang yang sangat paham tentang apa yang harus dilakukan jika Ojou-sama sampai pingsan.”
Dengan mengatakan itu, Shizune menatap lurus ke arahku.
“Aku akan berkonsentrasi merawatnya, jadi kembalilah ke kamarmu, Itsuki-san.”
---
Keesokan harinya, aku pergi ke Akademi Kekaisaran sendirian.
“Yo, Nishinari! Kemarin itu menyenangkan sekali ya!”
__ADS_1
“...Kau benar.”
Saat aku duduk di dalam kelas, Taisho memanggilku dengan santuy. Segera setelah aku ngobrol-ngobrol dengan Taisho, Asahi-san kemudian ikut nimbrung.
“Ngomong-ngomong, hari ini Konohana-san tidak datang ke sekolah ya.” kata Asahi-san, saat dia melihat sekeliling kelas.
“Ya..., mungkin, ini seperti yang biasanya.”
“Biasanya?”
Aku memiringkan kepalaku terhadap kata-kata Taisho.
“Oh, kau tidak tahu ya Nishinari. Sesekali Konohana-san akan absen dari akademi.”
“Begitukah?”
“Kudengar-dengar dia membantu bisnis keluarganya. Konohana-san juga sepertinya sangat kerepotan ya.”
Sambil memberikan respon yang normal terhadap Taisho, aku kemudian memikirkannya.
Jadi begitu ya pengaturannya.
Tampaknya Hinako yang biasanya pingsan merupakan suatu kerahasian dari teman-teman sekelasnya. Aku tidak tahu sampai sejauh mana mereka merahasiakannya. Wali kelasnya sih mungkin tahu, tapi mungkin fakta itu dirahasiakan dari semua orang yang terlibat di akademi.
Tapi, jika demikian—tidak ada yang akan mengkhawatirkannya.
Padahal Hinako menyembunyikan sifat aslinya dengan berakting.
Lantas, siapa yang bsia berada di sisi Hinako?
Saat Hinako mengalama kesulitan, siapa yang akan bisa membantunya?
Dengan perasaan yang rumit seperti itu, aku terus menjalani pelajaran demi pelajaran hingga waktunya pulang.
---
“Kerja bagus untuk hari ini.”
Saat aku masuk ke mobil yang menjemputku, Shizuna-san, yang duduk di kursi depan, mengatakan itu padaku. Karena hari ini Hinako tidak pergi ke sekolah, aku memiliki kursi belakang yang luas untuk diriku sendiri. Namun, aku merasa tidak nyaman dengan ini.
“Shizune-san, bagaimana kondisinya Hinako...?”
“Dia masih sedang beristirahat.”
“...Kira-kira berapa lama waktu yang diperlukan sampai dia bisa sembuh?”
“Yah..., menilai dari kondisinya saat ini, kurasa besok atau lusa dia sudah akan pulih. Untungnya, besok dan lusa adalah hari libur, jadi dia pasti akan sembuh pada hari Senin.”
Syukurlah hari ini adalah hari Jumat..., eh, tidak, bukan begitu.
Pada hari Senin nanti, Hinako harus pergi ke akademi lagi. Dengan kata lain, dia harus kembali berakting.
Mengapa, sesuatu seperti ini harus terjadi?
Nama dari orang yang pasti tahu akan jawaban untuk pertanyaan itu terlintas di pikiranku.
“Erm..., apa Kagen-san tidak akan datang ke mansion?”
Saat aku bertanya begitu, Shizune-san, yang duduk di kursi depan, menjawab sambil tetap menatap ke depan.
“Kagen-sama sedang bekerja. Dia ada di kediaman utama sekarang.”
“Tapi, Hinako sedang sakit, kan?”
“Kagen-sama adalah ketua Grup Konohana. Dia tidak berada dalam posisi untuk bisa menangguhkan pekerjaannya hanya karena Ojou-sama sedang sakit.”
Seperti itu, kupikir itu agak tidak adil untuk menekankan bahwa dunia tempat kami tinggal berbeda. Apapun yang dikatakan, aku sama sekali tidak mengerti akan akal sehat ini.
“Ngomong-ngomong, sampai saat ini aku masih belum menanyakannya, tapi..., di mana Ibunya Hinako?”
Setelah jeda singkat, Shizune-san kemudian menjawab pertanyaan itu,
“Beliau sudah meninggal.”
“............Begitu ya.”
Lagi-lagi, aku tidak tahu akan itu.
Yah, wajar saja. Aku masih baru-baru ini menjadi pengurusnya Hinako. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak hal yang tidak kuketahui.
Namun—Ayahnya, Kagen-san, tidak menjenguknya, dan Ibunya telah meninggal dunia. Lantas, berapa banyak orang yang bisa berada di sisi Hinako yang saat ini sedang menderita? Aku ingin tahu..., apakah aku..., bisa menjadi salah satu orang yang dalam posisi itu?
“...Umm, mengenai pelajaran hari ini..., bisakah kau membatalkannya?”
__ADS_1
“Tidak bisa. Kau masih memiliki banyak hal yang harus dipelajari Itsuki-san.”
“Kalau begitu, kumohon untuk menyelesaikannya lebih awal dari biasanya.” Mata Shizune-san melebar, dan aku melanjutkan, “Sebagai gantinya, aku pasti akan melakukan yang terbaik dalam belajar hari ini.”
“...Baiklah. JIka demikian, ayo lakukan 1,5 kali lebih cepat dari biasanya.”
Ini akan menjadi jadwal yang sangat melelahkan, tapi aku tidak bisa berpaling dari itu.
Begitu kami sampai di mansion, Shizune-san melakukan apa yang dia katakan. Pelajaran hari ini benar-benar menjadi 1,5 kali lebih cepat dari biasanya. Persiapan, pengulasan, kelas etiket, bela diri. Setelah menyelesaikan semuanya, aku sangat lelah sampai kepalaku terasa pusing, tapi sebagai gantinya, aku bisa memiliki waktu luang pada jam 8 malam, dua jam lebih awal dari biasanya.
“Baiklah, pelajaran hari ini sudah selesai.”
“T-terima kasih banyak.... Bolehkah aku pergi ke kamarnya Hinako?”
“Iya, boleh. Aku juga akan pergi ke sana nanti, jadi tolong rawat dia.”
Saat aku meninggalkan dojo, pertama-tama aku pergi ke kamarku untuk membersihkan keringat, dan kemudian dengan cepat pergi ke kamar Hinako.
Ruangan itu redup dengan hanya lampu malam jingga yang meneriangi. Sambil berhati-hati dengan langkahku, aku mendekati ranjang tempat Hinako sedang tidur.
“Oh, Itsuki...”
Hinako, yang sedang tidur di ranjangnya, menyadari keberadaanku.
“Maaf. Apa aku membangunkanmu?”
“Enggak kok..., dari tadi aku cuman melamun doang.”
Sebelumnya Shizune-san bilang kalau sepanjang hari ini dia terus tidur, jadi dia mungkin sudah cukup tidur.
“Itsu~ki..., terima kasih...” tiba-tiba, Hinako mengucapkan terima kasih. “Aku..., senang..., kau datang ke sini...”
“...Itu sudah jelas, bukan? Aku adalah pengurusmu.”
“......Ehehe.”
Hinako, yang tadinya tampak gelisah dan kesepian, tersenyum lega.
“Beri tahu aku ya jika kau memiliki sesuatu yang kau ingin aku lakukan.”
Saat aku mengatakan itu, Hinako mengarahkan tubuhnya ke arahku dan membuka mulutnya.
“Kalau gitu..., genggam tanganku...”
Dengan perlahan, Hinako mengulurkan tangannya.
“Baiklah, sesuai keinginanmu.”
Seperti yang dia minta, aku menggenggam tangannya. Itu adalah telapak tangan yang sangat kecil. Tangan Hinako, yang lebih mulia dan unggul dari siapa pun di akademi, sangat kurus, kecil, dan rapuh sehingga terasa bisa dipatahkan hanya dengan menyentuhnya.
“...Jadi kau tidur lagi, ya.”
Hinako mendesah kecil saat dia tidur.
Sambil menggenggam tangannya, aku melihat sekeliling.
Hanya seorang diri di ruangan yang sebesar ini pasti akan membuat seseorang kesepian. Merasa kesepian saat sedang sakit adalah hal yang biasa terjadi. Karenanya, seseorang harus berada di sana untuk merawat mereka.
......Aku ingin tahu tahu, apa tidak apa-apa aku berada di posisi itu?
Pikiran seperti itu terlintas di benakku.
Aku bertanya-tanya, apa Hinako benar-benar merasa nyaman hanya karena aku berada di sisinya? Sekalipun aku adalah pengurusnya, itu tidak lebih dari sebatas pekerjaan. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Hinako yang sebenarnya terhadap diriku.
Benar—aku tidak begitu tahu apa yang Hinako pikirkan tentangku.
Seorang pelayan yang bisa diganti. Seorang pelayan yang berguna. ...Aku ingin percaya bahwa dia tidak menganggapku dengan enteng. Namun, itu terlalu jauh untuk dikatakan menjadi pelayan biasa, dan kami berdua tetap tenang mengani hubungan antara pria dan wanita. Memang tidak nyaman, tapi ada kalanya ketika aku bertanya-tanya tentang hubungan ini.
......Kurasa itu tidak dapat dihindari jika saat ini aku memikirkan sesuatu seperti itu?
Setidaknya, aku tahu bahwa dia mempercayaiku. Jika demikian, saat ini, yang harus kulakukan adalah menurutinya.
“Hinako..., kau pasti akan baik-baik saja kok.”
Rambut kuningnya menempel di dahinya karena keringat. Aku menyingkirkan rambutnya kesamping, sambil mengelus kepalanya saat melakukannya.
“Mm...”
Kemudian, Hinako tersenyum dengan senyum yang mengembang.
“.........Papa........ “
Saat aku mendengar ngigauan pelan itu, aku—menjadi paham akan peranku sebagai pengurus.
__ADS_1