Saijo No Osewa

Saijo No Osewa
Saijo No Osewa Volume 1 - Bab 35


__ADS_3

...Bab 35...


...Ojou-sama yang belajar kelompok ①...


Sepulang sekolah.


“Erm......” erangku, saat aku melihat wajah siswa-siswi yang berkumpul di sekitar meja bundar. “Oke, kalau begitu, ayo kita mulai sesi belajar kelompok ini.”


“Yay!!”


Orang yang meneriakkan sorakan kebahagian itu adalah Asahi-san. Nah, menilai dari suasananya, ini tidak bisa disebut sebagai sesi belajar kelompok. Tapi yah, kurasa lebih baik aku tidak mengatakan itu, jadi kuputuskan untuk tutup mulut saja.


Begitu kami pulang sekolah, kami segera mengunjungi kafe yang sebelumnya kami gunakan sebagai tempat untuk mengadakan pesa teh. Orang-orang yang hadir juga sama seperti sebelumnya, termasuk aku, Asahi-san, Taisho, Hinako, Narika dan Tennoji-san. Saat Asahi-san dan Taisho tampak bersenang-senang, di sisi lain, Hinako dan Tennoji-san dengan pelan mengucapkan “Mohon kerja samanya.” Dan untuk Narika, aku tidak tahu apa yang dia katakatan, tapi terlihat kalau mulutnya terbata-bata.


“Tapi tetap saja..., ini sungguh wajah-wajah yang kuar biasa. Memiliki peringkat satu dan peringkat dua di akademi ini untuk bergabung dalam sesi belajar kelompok ini, sungguh orang-orang yang dapat diandalkan.”


Terhadapat perkataan Taisho, aku menanyakan sesuatu.


“Setauku peringkat satunya adalah Konohana-san, tapi siapa peringkat keduanya...?”


“...Diriku yang peringkat kedua.”


Tennoji-san, yang duduk di sebelah kananku, menjawab pertanyaanku dengan nada yang kesal. Seperti biasanya, persaingan antara Tennoji-san dan Hinako masih membara. Sambil merasa canggung, aku meminta maaf padanya dengan suara yang hanya dia yang bisa mendengarnya.


“Kau sendiri memiliki nilai yang bagus kan, Asahi?”


“Begitulah~, aku juga cukup yakin kalau Miyakojima-san pun memiliki nilai yang bagus, kan?”


“Eh!?”


Menerima pertanyaan dari Asahi-san, Narika sontak melebarkan kelopak matanya.

__ADS_1


“A-Aku cuman mahir di pelajaran PJOK dan Sejarah saja... “


“Sejarah? Aku memang sudah tahu kalau kau mahir berolahraga, tapi ternyata Sejarahmu juga bagus toh.”


“B-Begitulah. Bagaimanapun juga, keluarga Miyakojima adalah keluarga yang menghormati semangat Bushido. Itulah sebabnya, sejak aku masih kecil, aku sudah banyak diajari tentang sejarah.” kata Narika, seolah dia kesulitan untuk mengatakannya.


[Catatan Penerjemah: Semangat Bushido adalah semangat hidup yang terinspirasi dari kaum para ksatria Jepang. Bushi sendiri artinya ‘Ksatria’ dan Do artinya ‘Jalan’.]


“Tapi, di mapel-mapel lainnya...., kebanyakan nilaiku merah.”


Seketika, tempat itu menjadi sunyi, dan Narika menunduk karena malu.


Tidak seperti Hinako yang berspesialisasi baik dalam hal akademis maupun olahraga, Narika hanya berspesialisasi dalam olahraga.


“Erm, apa yang harus kukatakan..., maafkan aku.”


“...T-Tidak, tidak apa-apa kok, jangan khawatirkan itu.” kata Narika, dengan ekrpresi menyedihkan.


“Ini..., tampaknya kita harus benar-benar serius dalam mengadakan sesi belajar kelompok ini.” dengan wajah sulit, Tennoji-san mengatakan itu saat dia menatapku. “Nishinari-san, apa kau punya ide tentang bagaimana kita harus melanjutkan belajar kelompok ini?”


“Tidak juga..., pada dasarnya kita hanya harus berkumpul dan belajar bersama, jadi...”


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita dibagi menjadi sisi yang mengajar dan diajari? Denagn demikian, belajar kelompok ini akan menjadi efisien... Aku, Konohana-san, dan Asahi-san akan berada di sisi pengajar.”


Dengan kata lain, tiga orang sisanya; aku, Taisho, dan Narika akan menjadi orang yang diajari. Merasa tidak keberatan dengan inisiatif itu, aku pun menganggukkan kepalaku.


“Nah, Nishinari-san, mapel apa saja yang tidak terlalu kau kuasai?”


“Pada dasarnya mapel-mapel yang tidak berpatokan pada hafalan...., terutama Matematika, itu sangat sulit.” kataku, jujur mengungkapkan mapel yang tidak kukuasai.


Kemudian, Hinako, yang duduk di sebelah kiriku, menunjukkan reaksi.

__ADS_1


“Kalau begitu, jika kau tidak keberatan, biar aku—”


“――Kalau begitu, aku akan membantumu belajar, Nishinari-san. Diriku ini cukup mahir loh dalam mapel Matematika.”


Hinako terdengar seperti dia mengatakan sesuatu, tapi suara melengking dari Tennoji-san menenggelamkan suaranya.


Seketika, senyum Hinako langsung membeku.


“Kalau begitu, haruskah aku mengajarimu, Miyakojima-san? Aku memang tidak memiliki mapel yang kukuasai, tapi aku juga tidak memiliki mapel yang aku buruk di dalamnya, jadi kupikir aku bisa membantumu hingga mencapai nilai rata-rata.”


“M-Mohon bimbingannya!” jawab Narika, dengan suara yang agak keras.


“K-kalau begitu, aku akan diajari oleh..., Konohana-san...?”


“...Ya. Mohon kerja samanya, Taisho-kun.”


“Y-Ya, aku juga, mohon bimbingannya!”


Meskipun terlihat kalau Taisho merasa gugup, tapi jelas kalau dia pasti merasa senang.


Di sisi lain, Hinako menampilkan senyum lembut—sambil menginjak kakiku dengan kuat.


Buset, sakit banget...


Kalau dipikir-pikir lagi, sejak kemarin Hinako ingin mengajariku belajar. Aku yakin, itulah yang menjadi penyebab dia berada dalam suasana hati yang buruk karena aku justru diajari oleh Tennoji-san, bukan dia.


Tapi kan, ini tidak seperti aku dan Hinako tidak bisa belajar bersama saat kami pulang di mansion nanti... Ampun dah, sakit banget, jangat menekan tumitmu dengan sekuat tenaga di kakiku.


“Baiklah, ayo kita mulai sekarang juga.”


Atas kata-kata Tennoji-san, kami pun mulai belajar.

__ADS_1


__ADS_2