
"Bangun sayang...terdengar suara ibu dari balik pintu sembari berjalan menuju jendela dan menarik gorden sehingga sinar mentari menerpah wajahku, yah... itu adalah kebiasaan Ibu dipagi hari ".
"Ibu...tolong tutup kembali gordernya, aku masih ingin tidur ...
Sayang kamu harus bangun Ayah dan kak Teo sedang menunggumu untuk melanjutkan perbincangan semalam.
"Baiklah Ibu...nanti aku akan menyusul Ibu sehabis aku mandi, Baik sayang sahut Ibuku sambil berlalu meninggalkanku.
Sebenarnya aku masih mengantuk tapi, aku harus segera menemui Ayah kalau tidak aku bisa kena omel Ibuku.
Pagi Ayah....
Pagi Kakak....
"sambil tersenyum aku berlari dari tangga menghampiri mereka yang sedang menunggu dimeja makan.
dag...
dig..
dug ....
jantungku rasanya mau copot... itu bukan tanpa sebab tapi semua itu terjadi karena aku berlalu didepan Kak Noldi. Sambil menujuh kearah Ayah, kak Noldi melempar senyum kearahku, membuat pipiku semakin meronah.
"Rasa ini datang lagi..
"aku pun membalas senyumanya dengan pipi memerah".
"Pagi sayang, sahut Ayah sambil memegang secangkir teh kesukaannya".
....
__ADS_1
"Pagi adikku sayang....sambung kak Teo "
" Wah pagi ini kamu sangat bersemangat, sahut kak Teo."
Tentu saja kakak.
" Sembari meneguk teh ditangannya, Jadi apa yang kamu inginkan ucap kak Teo kearahku".
hmmmmmmmmmm......
"Ayah aku ingin menikah".
..
APA ????
..
..
'Tidak Ibu ,aku tidak bercanda'.
Pernikahan itu bukan permainan , sambung kak Teo .
"Bukankah kalian berjanji memenuhi semua permintaanku?
Ok, baiklah Sahut Ayahku untuk mencairkan suasana yang mulai tegang.
"Apa alasanmu ingin menikah, tanya Ayah padaku.
"Aku ingin memiliki keluarga yang menyayangiku setelah kalian pergi ke Amerika, agar aku tidak kesepian, jawabku sambil menoleh kearah Ayahku".
__ADS_1
"Tapi ...
"Ayah, sahu kak Teo
Adik masih sangat mudah bahkan dia belum memahami banyak hal tentang pernikahan.
"jika Ayah tidak mengijinkan makan aku harus ikut dengan kalian ke Amerika, sahutku sambil berpaling ke arah kak Noldi, dan ternyata gerakanku itu di perhatikan oleh kak Teo ".
"Baiklah dengan siapa kamu akan menikah tanya Ibu, penasaran...
bukankah selama ini kamu belum pernah mengenalkan kekasihmu kepada kami".
"iya sahut kak Teo dengan suara sedikit tinggi tanda tidak suka.
"Ayah aku ingin menikah dengan kak Noldi, sahutku.
Suasana ruangan saat itu mencekam dan kak Teo dengan sigap bangun dan menyeret kak Noldi ke arahnya sambil mengepal tangan dan menghajarnya dengan membabi buta.
Tanpa menghiraukan kak Noldi yang kebingungan.
"Brengsek....
bug..
bug...
Bajingan...sejak kapan kamu menggoda adikku, apa tidak ada gadis lain diluar sana, sambil terus menghajar kak Noldi. Ayah dan Ibu hanya menyaksikan saja, karena mereka juga merasa kesal.
"Hentikan...", teriakku sambil berlari menghampiri kak Noldi yang hanya pasrah menerima serangan kak Teo yang membabi buta.
" Entah apa yang ada dipikiran kakakku sekarang ini" gumamku dalam hati.
__ADS_1
kak Teo menyeret kak Noldi keruangan kerjanya. Tapi entah apa yang mereka lakukan diruangan itu aku hanya pasrah dalam hati, karena mereka adalah pria yang sudah dewasa aku tahu mereka akan menyelesaikannya dengan dewasa juga. Ini semua karenaku suasana pagi menjadi tegang, kami masih menunggu kedua orang itu keluar dari dalam kamar dan mendengarkan, keputusan kak Teo,aku sangat berharap semua terjadi sesuai dengan yang aku inginkan. Ayah yang tadinya sedang sarapan pagi, jadi menghentikan aktivitasnya dan hanya menyeruput tehnya dengan kasar.