Sang Perindu Kesempurnaan

Sang Perindu Kesempurnaan
Aduh Senangnya Pengantin Baru


__ADS_3

Farah tersenyum dan mengangguk. "Iya. Kita memang janjian untuk bertemu," jawab Farah.


"Ooohh." Inez melirik apa yang Farah bawa. Es Boba rasa capuccino. "Mas Zayn tidak suka yang seperti itu," ucapnya judes. Entah ada apa dengan wanita satu ini. Farah merasa jika Inez membencinya setelah ia jadian dengan Zayn. Padahal Farah dan Zyan jadian setelah Zayn dan Inez putus lama.


"Sekarang dia suka kok, Mbak," jawab Farah. "Permisi," ucap Farah selanjutnya. Dia segera berlalu dari hadapan Inez. Lama-lama Farah bisa dilanda cemburu jika terus berdebat dengannya.


"Wah, Bu Guru datang," ujar rekan Zayn yang saat itu ada di kantor kepala desa.


"Ada satu murid Bu Guru disini," sambung rekan satunya.


Farah tersenyum dan membungkukkan sedikit badannya. "Assalamualaikum," sapanya.


"Wa'alaikumussalam," jawab semuanya. Zayn menyambutnya dengan senyum.


"Aduh senangnya pengantin baru," ibu lurah yang kebetulan ada ditempat turut mengambil suara. Saat ini, suasana kantor kepala desa memang cukup ramai. Karena baru saja diadakan penyuluhan penanaman tumbuhan obat-obatan. 


"Jangan diledek, nanti Bu guru tidak mau kesini lagi. Bagaimana jika aku rindu." Bukan membela istrinya, Zayn malah ikut meledeknya. Membuat wajah Farah merah merona.


Suasana kantor kepala desa menjadi ramai karena meledek sepasang pengantin baru ini. Farah dengan sopan meminta izin untuk duduk di kursi depan Zayn.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu guru?" tanya Zayn sengaja.


Farah menatapnya lucu tetapi kemudian berubah menjadi serius. "Pak, barusan saya bertemu mantan bapak, lho." jawab Farah pelan agar tidak ada telinga yang mendengar selain telinga Zayn.


Zayn langsung nyengir mendengar itu. "Sayang, kau mau beli apa. Ayo ku antar," ucapnya manis. "Aku sangat profesional, sungguh. Aku tidak menatapnya, suer."


Farah mengangguk. "Tapi lirik-lirik sudah pasti ya."


Zayn tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya untuk mencubit-cubit pipi Farah. "Cemburu ya ...."


"Uhum. Mas, masih ada orang banyak." Bu lurah berdehem dan menggoda mereka lagi.


"Ah Bu lurah tidak tahu saja. Pengantin baru itu, semua tempat serasa dunia milik berdua," sahut perangkat desa lainnya.


Zayn berdiri dari duduknya. Dia mengambil berkas-berkas penting yang harus ia serahkan ke kantor kecamatan.


"Saya permisi dulu," ucapnya pada semua. "Ayo, Dik," ajaknya pada Farah dengan mengulurkan tangan. Uluran tangan yang di sambut lembut oleh Farah.

__ADS_1


"Jadi pengen nikah lagi," celutuk rekan Zayn.


"Bisa di cincang sama Bu Yayuk," sahut rekan satunya.


Farah segera menarik tangan Zayn agar segera keluar kantor. Dia malu mendapat ledekan terus.


"Assalamualaikum," pamit Farah pada semuanya.


"Wa'alaikumussalam," jawab semuanya serempak.


Saat mereka keluar, masih ada Inez di tempat parkir. Gadis itu terlihat kesusahan menyalakan mesin motornya.


"Kenapa, Nez. Mogok?" tanya Zayn.


Inez segera menoleh mendapat pertanyaan dari Zayn. Ada rasa bahagia dalam hatinya.


"Eh, iya nih, Mas," jawab Inez dengan raut wajah yang sedih.


"Bantuin, Mas. Kasihan," ucap Farah.


Zayn melangkah maju, meninggalkan Farah di teras kantor kepala desa untuk menghampiri Inez.


Inez tersenyum lebar dengan manis melihat itu. Sementara Farah menatap getir punggung Zayn yang semakin lama semakin jauh darinya. Langkah kaki Zayn begitu pasti menuju wanita cantik yang dulu pernah menjadi yang indah dihatinya.


Namun kemudian, langkah kaki itu berbelok. Laki-laki itu menghampiri pak penjaga kebersihan yang tengah sibuk memotong rambut. Zayn terlihat berbincang sebentar padanya dan kemudian mereka sama-sama menatap Inez.


Setelah itu, Pak penjaga kebersihan melangkah menuju Inez, sementara Zayn melangkah menuju Farah.


Farah tersenyum melihat itu. Hatinya berbunga-bunga setelah sempat begitu layu karena melihat Zayn melangkah menghampiri Inez.


Farah menyedot minuman bobanya dengan senyum dan ia segera memberikannya pada Zayn saat laki-laki itu sampai di depannya.


Zayn menunduk sedikit untuk menyedot boba dari tangan Farah.


"Panik enggak, panik enggak?" tanya Zayn menggoda.


Farah menatapnya cemberut. "Paniklah," jawabnya. Jawaban yang membuat Zayn tertawa kecil. 

__ADS_1


"Bukankah tadi ada yang menyuruhku untuk membantunya?" Zayn bertanya dengan sengaja. 


"Aku hanya menguji saja," jawab Farah. 


"Jadi apakah aku lulus ujian, Bu guru?" tanya Zayn selanjutnya. 


"Lulus. Dengan nilai sembilan puluh," jawab Farah. 


Zayn membukakan pintu mobil untuk Farah. "Kenapa hanya sembilan puluh?" protes Zayn. 


"Nilainya dipotong karena sempat membuatku panik," jawab Farah. Dan mereka berdua masuk ke dalam mobil. 


Sementara disana, Inez kesal bukan main karena perkiraannya salah. Zayn seolah menghempaskan harapnya begitu saja dengan meminta pak penjaga kebersihan yang menolongnya. 


Mobil milik Zayn melaju pelan menuju kota. Melewati jalan desa yang panjang dengan sawah-sawah yang terbentang luas. 


Sesampainya di sebuah minimarket. Zayn membuka sabuk pengamannya. 


"Mas ikut turun?" tanya Farah. 


Zayn mengangguk. "Ya. Tentu saja," jawabnya. 


"Tapi Mas harus ke kantor kecamatan." 


"Nanti setelah mengantarmu belanja." 


"Bagaimana jika telat?" 


"Tidak. Ke kantor kecamatan hanya untuk menyerahkan laporan saja." 


______________


catatan Penulis 🥰🙏


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 😘 Terima kasih. Luv Luv.


Komentarmu Semangatku

__ADS_1


__ADS_2