Sang Perindu Kesempurnaan

Sang Perindu Kesempurnaan
Ketahuan


__ADS_3

Selepas Magrib, Farah izin pada Zayn untuk datang ke rumah Mbah Wasinah. Tentu Zayn tahu untuk apa istrinya berkunjung kesana.


"Mas antar, ya," ucap Zayn.


"Aku sama Ibu saja sudah cukup, Mas," jawab Farah. Dia duduk di pangkuan Zayn dan memeluknya. "Do'akan kali ini berhasil ya, Mas," ucapnya.


"Aamiin," jawab Zayn. Dia menunduk mencium pucuk kepala Farah. "Semangat ya, Sayang." Zayn menyemangati istrinya.


Setelah itu, Farah pergi dengan Ibunya. Dia mengendarai sepeda motor warna merah miliknya. Berboncengan dengan ibunya.


Sesampainya di sana. Mbah Wasinah langsung memijatnya dengan halus dan hati-hati.


"Posisinya sudah sangat bagus," ujar beliau setelah  memijit Farah. "Insyaallah, ini gampang memiliki keturunan," lanjut Mbah Wasinah. 


Seperti mendapatkan air di tanah yang gersang Farah bahagia mendengar itu. Farah dan Ibu Mia tersenyum lebar dan mengucapkan hamdalah. Farah ingin bertanya bagaimana dengan organ reproduksinya tetapi dia takut dan malu. Karena sekarang dia sadar jika kondisinya berbeda dengan wanita pada umumnya. Pada akhirnya, dia tidak menanyakan itu. Dia hanya berharap semoga setelah pijat ini, dia bisa melayani suaminya dengan sempurna.


Sepulang dari Mbah Wasinah, Farah dan ibunya mampir sebentar ke penjual jagung bakar dekat lapangan voli.  


"Dari mana, berdua sama anak?" tanya tetangga yang kebetulan ada di situ menunggu jagung bakar. 


"Dari Mbah Wasinah," jawab Bu Mia. 


"Farah udah ngisi?" tanya tetangga itu lagi. 


Bu Mia tersenyum. "Belum," jawab beliau. "Sedang ikhtiar, Bu. Semoga dimudahkan," lanjut Bu Mia. 


"Aamiin. Apa kata Mbah Wasinah?" tanya sang tetangga lagi. 


Farah pamit pada ibunya untuk ke warung sebelah. Dia ingin membeli cemilan.

__ADS_1


"Tadi sore disini rame lho, Bu guru Farah," ucap sang pemilik warung dengan senyum. "Gara-gara ada Inez dan Zayn yang tidak sengaja bertemu di sini," lanjutnya. 


Farah yang menunduk memilih cemilan langsung mengangkat wajah dan menatap ibu penjaga warung. 


"Bertemu berdua?" tanyanya. 


"Tidak. Banyakan. Zayn sama teman-temannya," jawab bu penjaga warung. Kemudian dia menatap Farah dengan canggung. "Maaf ya Bu Farah. Saya tidak bermaksud apa-apa. Mas Zayn sama teman-temannya kok. Mampir kesini karena haus habis main voli." 


Farah mengangguk dengan senyum. "Tidak apa-apa, Bu. Kita tinggal di desa yang bersebelahan, sudah pasti sering bertemu," jawab Farah bijak tetapi sungguh dia merasa cemburu dalam hatinya. Dia membayangkan antara Zayn dan Inez yang saling melirik. 


Farah membeli beberapa cemilan lalu segera membayarnya. 


Setelah jagung bakar pesanan ibu jadi, mereka segera pulang. Farah kembali dengan wajah yang cemberut. Dia bahkan langsung masuk kedalam kamarnya. 


"Kata Mbah Wasinah bagus," ucap Ibu pada Zayn sambil memberikan jagung bakar.


"Alhamdulillah," jawab Zayn penuh syukur.


"Masih di mushola, Bu," jawab Zayn. 


Ibu Mia mengangguk dan kemudian masuk ke dalam rumah untuk menonton serial drama India kesayangan. 


Sementara Zayn segera masuk ke dalam kamar. Dia mengira wajah sedih yang cemberut itu karena Farah mendengar kabar lain dari Mbah Wasinah yang Ibu tidak tahu. 


"Tidak apa-apa, Sayang," ucap Zayn penuh kelembutan. Dia mencoba mengusap rambut Farah. Wanita itu menatapnya dengan tajam. 


"Mas bahagia?" tanya Farah. 


Zayn mengerutkan keningnya. Oh jadi info dari Ibu benar adanya. Jika keadaan Farah bagus. "Iya, sangat bahagia," jawabnya. Jawaban yang membuatnya mendapatkan pukulan keras di dadanya. 

__ADS_1


"Ya sudah sana ke warung saja, tidak perlu pulang. Sana betah-betah di warung saja," kesal Farah. Dia merasa sedih. Farah membalik badan membelakangi Zayn dengan sangat kesal.


"Maksudmu?" tanya Zayn tak mengerti. Warung? Dan dia langsung sadar apa yang dibahas Farah. Ah dasar Bu penjaga warung. Kenapa begitu saja harus mengadu pada Farah. 


Zayn melangkah mendekatinya dan memeluknya dari belakang. "Sayang, aku tidak mentraktirnya secara khusus, aku mentraktir semua teman-temanku," ucapnya mencoba menjelaskan. Sungguh ... Dia salah dalam penjelasannya. 


Farah melepaskan pelukannya dan membalik badan. Dia menatap Tajam Zayn. 


"Traktir? Mas mentraktir dia?" 


"Eh?!" Zayn sadar dia salah dalam menjelaskan. "T- tidak. Tentu saja tidak," jawabnya. 


"Itu hanya alasan saja, mentraktir semua teman-teman Mas, padahal tujuan utama adalah mentraktir dia. Benarkan?" tanya Farah dengan sedih. Dia merasa cemburu. Dan semakin cemburu saat memikirkan cara Zayn yang memilih mentraktir semua teman-temannya demi bisa mentraktir Inez. 


"Bukan seperti itu," jawab Zayn. 


Farah melangkah ke nakas dan mengambil tasnya. Dia mengeluarkan dompet dan kemudian mengeluarkan atmnya, dia juga mengeluarkan semua uang yang Zayn berikan padanya. 


"Aku tambahin, Mas. Cukup tidak?" 


"Aku sudah bilang jika aku tidak mentraktirnya secara khusus," jelas Zayn. 


Farah mengangguk. "Besok traktir dia lagi, ya. Secara khusus saja tidak apa-apa." 


Zayn mengambil nafasnya dalam. "Jangan salah faham." 


_______


Catatan Penulis 🙏 

__ADS_1


Maaf kalau ada typo2. 


Jangan lupa like koment ya kawan


__ADS_2