Sang Perindu Kesempurnaan

Sang Perindu Kesempurnaan
Ke Dokter


__ADS_3

Mereka berangkat pukul setengah tiga sore. Perjalanan membutuhkan waktu satu setengah jam.


Farah diam sepanjang perjalanan. Butiran tasbih terus bergulir di tangannya. Bibir dan hatinya tak lepas dari zikir. Dia cemas dan takut.


Setiap hari pada sepertiga malam, dia selalu menengadah kedua tangannya untuk meminta pada Sang Maha segalanya agar kiranya memberikan mereka kemudahan dalam hal apapun.


Farah berkeringat dingin saat mobil Zayn berhenti di halaman praktek dokter yang mereka tuju. Disini sudah sangat ramai.


"Yuk," ajak Zayn. Farah menatapnya dengan wajah cemas. "Tidak apa-apa, Sayang," ucap Zayn meyakinkan.


"Bagaimana jika aku menderita penyakit yang serius, Mas?" Farah berkata dengan cemas. Pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya.


"Kita obati. Apapun hasilnya nanti, pasti ada obatnya," jawab Zayn menenangkan Farah. "Yakinlah, semua penyakit yang ada di bumi pasti ada obatnya." 


Farah mengangguk meskipun dia masih diliputi dengan ketakutan. Mendengar vonis dokter adalah hal yang paling menakutkan dan membutuhkan mental yang kuat. 


Mereka duduk berdampingan menunggu antrian. Tangan Farah begitu dingin dalam genggaman Zayn. Jantungnya berdegup kencang. Hatinya tak henti-hentinya berzikir meminta pengampunan serta mengagungkan kebesaran Allah. 


Farah menyadarkan kepalanya di pundak Zayn dan kemudian berbisik pada laki-laki itu. 


"Jika aku sungguh memiliki penyakit yang serius, apa Mas akan meninggalkanku?" tanyanya. Sebuah pertanyaan yang sudah lama ia pendam. Sebenarnya dia takut menanyakan ini. 


Zayn, semakin menggenggam tangan Farah. Jawaban jika apapun yang terjadi tangannya akan selalu menggenggam tangan Farah. 


"Mas tidak akan meninggalkanmu," jawabnya berbisik. 


Farah mengangguk dengan perasaan lega di hatinya. Semoga, janji ini terucap selamanya. Bahkan saat Zayn berulang kali kecewa. 


Farah ingin memeluknya tetapi ada banyak orang disekitarnya. Pada akhirnya, dia hanya berbisik jika dia sangat mencintai Zayn. 

__ADS_1


"Nyonya Farah Amalia." 


Kini tiba gilirannya. Zayn menatap Farah dan mengangguk. Meyakinkan wanita itu untuk siap dan menerima apapun yang nanti akan di katakan dokter.  


"Bismillah, kamu sehat dan baik-baik saja," ucap Zayn penuh harap. 


Farah mengangguk. Dia juga berharap dia tidak menderita penyakit yang serius. 


Mereka masuk ke dalam dan duduk di depan meja dokter. 


"Nyonya Farah Amalia," ucap Sang Dokter menyebutkan nama lengkap Farah. Dokter yang rambutnya sudah mulai memutih.  "Keluhannya seperti apa?" tanya Sang Dokter. 


Farah mengigit bibirnya takut. Dia tidak tahu harus menjawab apa dan dari mana harus menceritakan ini.


Pada akhirnya, Zayn yang menjelaskan keadaan Farah. 


Dokter mengangguk mengerti. Dokter kemudian meminta Farah untuk merebahkan diri di ranjang untuk pemeriksaan lanjut. 


"Tidak apa-apa," ucap dokter setelah melakukan pemeriksaan. "Nyonya Farah hanya kurang cairan saat penetrasi. Nyonya harus tenang, jangan panik, jangan takut, jangan cemas dan harus bahagia selalu. Jangan banyak pikiran," jelas dokter.


Farah dan Zayn menghembuskan nafas lega mendengar itu. Alhamdulillah jika Farah tidak apa-apa. Ya, mungkin saja memang Farah yang belum bisa tenang.


Dokter kemudian memberikan resep obat dan alat pelumas alami untuk pasangan itu.


"Alhamdulillah aku tidak apa-apa," ucap Farah. Meskipun dalam hati dia merasa sedikit ragu dengan diagnosis ini. Pasalnya, selama beberapa bulan ini, dia sudah melakukan berbagai cara agar tenang. Dia bahkan mengikuti senam juga.


Dua hari setelah pemeriksaan, Mereka mencobanya lagi. Bismillah ....


Namun pada malam itu, merek masih saja kecewa. Farah masih tidak bisa memberikannya.

__ADS_1


Mereka terus mencobanya setiap malam dengan pelumas alami yang dokter berikan tetapi hingga obat dan pelumas itu habis, mereka masih belum bisa menjalankannya.


Farah mulai murung dan terus menangis. Padahal besok adalah acara pindah rumahnya. Ya, mereka sudah memiliki rumah sendiri dan besok adalah waktu mereka pindah ke rumah sendiri.


Zayn selalu mencoba menenangkannya. Mencoba membuatnya tidak memiliki pikiran yang macam-macam.


Saudara-saudara dan bahkan orang tua, mengira jika mata sembab Farah karena dia akan pindah dari rumah orang tuanya.


"Masih satu desa ini, Far," ucap saudara menenangkan Farah.


"Kalau kangen ya tinggal datang ke rumah Bu Mia. Kalau malas masak, Bu Mia suruh nganterin lauk. Enggak usah dipikirin nyampe dalem," sambung saudara lainnya. Dan masih banyak lagi yang mereka bahas.


________


Acara pindah rumah berjalan lancar. Farah sedikit melupakan kesedihan hatinya. Rumah barunya ramai oleh keluarga dan tetangga yang berujung.


Banyak sekali do'a yang dipanjatkan untuk pasangan ini malam ini. Rumah baru, semoga membawa kebahagiaan yang berlipat.


Kedua orang tua mereka dan beberapa saudara menginap di rumah baru ini. Bu Atun dan Bu Mia sibuk masih terjaga menemani saudara di ruang tamu.


Farah, di sisi lain sudah merasa ngantuk karena sedari kemarin dia tidak tidur.


"Mas, aku ngantuk." Farah mengirimkan pesan pada Zayn. Laki-laki itu juga masih sibuk di luar menemani para saudara.


"Iya sebentar lagi," balas Zayn.


________


Catatan Penulis 🥰

__ADS_1


Terima kasih yang udah ngikutin 🥰🙏 Ilupyu


__ADS_2