
Bulan berikutnya. Farah dan Zayn ganti tinggal di rumah orang tua Farah. Rumah mereka masih dalam tahap penyelesaian. Jadi sementara ini, mereka berpindah untuk tinggal, agar kedua orang tua merasa adil akan anak-anaknya.
"Sudah ada tanda-tanda belum, Far?" Bude Enik yang kebetulan tengah berkunjung bertanya pada Farah.
Farah tersenyum tipis tetapi hatinya menangis. Bagaimana bisa menjadi tanda-tanda kehamilan, dia bahkan belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk Zayn.
"Baru juga tiga bulan, jangan ditanya itu." Bu Mia, Ibunda Farah yang menyahut. "Biarkan mereka menikmati hari-hari berdua," lanjut beliau.
"Semakin cepat 'kan semakin baik, to," jawab Bude Enik.
"Yang penting mereka siap, bukan masalah cepat atau tidaknya," sahut Bu Mia lagi membela putrinya.
Sementara di luar sana. Zayn dengan adik laki-laki Farah tertawa terbahak-bahak karena menyaksikan acara televisi.
Farah menghela nafas pelan. Pertanyaan ini, mungkin akan sering mereka dapatkan dikemudian hari. Farah hanya berharap satu, apapun yang terjadi padanya, Zayn tetap setia dan ada di sisinya. Ya, itu adalah do'a yang selalu ia panjatkan.
****@****
Pada satu kesempatan. Di hari Jum'at saat ada pengajian rutin. Farah menemui ustazah setelah pengajian itu selesai. Dia ingin berbicara empat mata dengan beliau.
Farah yakin jika apa yang akan dia tanyakan tidak akan sampai kemana-mana saat dia bertanya dan bercerita pada orang yang tepat.
Tidak banyak yang ia tanyakan. Dia hanya bertanya bagaimana membahagiakan dan memenuhi kebutuhan suami saat istri tidak bisa melayaninya.
"Apakah maksud Mbak Farah adalah saat kondisi istri haid atau nifas?" tanya ustazah untuk memastikan pertanyaan Farah, memahami pertanyaan adalah suatu hal yang harus, agar jawabannya tepat dan benar.
Farah terdiam sejenak untuk berfikir. Bukan keduanya itu, tetapi dia malu untuk berkata yang sebenarnya pada ustazah. Dia malu tentang keadaannya.
"Be- benar ustadzah," jawab Farah pada akhirnya.
Ustazah mengangguk dengan senyum. Kemudian beliau menjawab, "Islam tidak menghukumi fisik wanita haid sebagai benda najis yang selayaknya dijauhi. Dengan demikian, seorang suami boleh melakukan apa saja selain apa yang dilarang Allah dalam Al-Qur'an, yaitu berhubungan badan. Itu haram hukumnya."
Farah mengangguk mengerti. "Lalu bagaimana cara saya untuk memuaskan suami saya, Ustazah?" Farah bertanya lagi.
"Mbak Farah boleh menggunakan tangan," jawab Ustazah. "Suami boleh mengeluarkan maninya dengan tangan istrinya dan haram menggunakan dengan tangannya sendiri."
Farah mencerna baik-baik jawaban ustazah. Dia bertanya apapun yang ingin dia ketahui. Dia ingin memenuhi kebutuhan batin suaminya. Dia ingin membahagiakan Zayn. Dia selalu sedih saat setiap malam Zayn menelan kekecewaan darinya.
"Terima kasih atas jawabannya, ustazah," ucap Farah tulus.
Malam hari, Farah memakai baju tidur yang sedikit tipis. Dia telah belajar bagaimana ia harus menggunakan tangannya. Namun harapannya tetap sangat tinggi pada keadaannya, dia berharap, semoga malam ini dia bisa. Semoga kelas Yoga selama ini bisa membantunya.
__ADS_1
Pukul sebelas malam, Zayn belum juga kembali. Dia masih berada di pos ikut nonton bola. Pukul sebelas malam, seharusnya bola sudah selesai sedari tadi tapi kenapa Zayn belum juga kembali.
Farah mencoba mengirimkan pesan. Tetapi ternyata ponsel Zayn ada di rumah. Farah kesal sendiri di dalam kamar. Namun kemudian ia melatih kepiawaian tangannya lagi. Dia mencoba sepintar mungkin. Setidaknya, ini adalah usahanya untuk tidak mengecewakan Zayn.
Minggu depan, mungkin Farah akan datang ke dukun bayi. Wanita-wanita desa biasanya akan seperti itu saat mereka mempersiapkan kehamilan dan bahkan saat mereka hamil.
Tak lama, terdengar salam dari luar. Suara Zayn yang khas. Mendengar itu, Farah segera menyembunyikan timun besarnya. Itu adalah alat untuk melatih tangannya.
Wanita itu cemberut. Bahkan dia mengambil gamis dalam lemari dan memakainya. Dia tidak mau langsung kelihatan seksi. Karena Zayn pulang terlambat.
Setelah pulang, Zayn bahkan tidak langsung pergi ke kamarnya. Dia lebih dulu berbincang dengan Ayah di depan televisi. Masih dengan pembahasan yang sama. Tentang bola, Indonesia vs Malaysia.
Farah semakin cemberut karena Zayn tak kunjung masuk. Sepuluh menit kemudian, Zayn mengakhiri perbincangannya dengan mertuanya. Dia pamit untuk tidur.
Pelan, Zayn membuka pintu kamar. Dengan pelan juga, dia melangkah masuk ke dalam karena takut membangunkan Farah. Pukul sebelas malam, biasanya Farah memang sudah tidur.
Zayn naik ke atas ranjang dan mengusap rambut Farah. Laki-laki itu mengira jika Farah tertidur tak sengaja karena masih mengenakan gamis. Namun kemudian Farah membuka matanya. Membuat Zayn terkejut dan kemudian terkikik lucu.
"Pura-pura tidur ya?" tanyanya gemas. Dia langsung merebahkan diri di samping Farah.
"Mas kenapa lama sekali pulangnya. Bukankah bola selesai jam setengah sepuluhan?" tanya Farah kesal. Dia menatap Zayn tajam.
"Biasa, kita bahas pertandingan dulu," jawab Zayn. Dia menarik resleting gamis yang Farah kenakan. "Kenapa masih memakai gamis," tanyanya. Dan dia terkejut saat mendapati baju lagi dibalik gamis yang Farah kenakan.
"Eh, tidak boleh menghalangi," ujar Zayn. Dia mencoba menyingkir tangan Farah.
"Mas Zayn ngeselin, bikin aku nunggu lama," gerutu Farah. Tangannya tidak menghalangi Zayn lagi. Dia mempersilahkan Zayn untuk membuka gamisnya.
"Maaf, Sayang," ucap Zayn. Nafasnya mulai tidak teratur. Sejatinya, dia adalah laki-laki yang sangat normal dan berhasrat setiap waktu, saat ia menyentuh istrinya tetapi dia tahu bagaimana kondisi Farah dan dia selalu menahannya. Dia hanya berharap semoga Farah tidak menderita suatu penyakit yang serius.
"Pantas saja cemberut, teryata menunggu dengan seksi," komentar Zayn.
Farah memukul dadanya. "Tidak perlu diucapkan juga," protesnya. Itu membuat Zayn tertawa kecil.
Dia meletakkan gamis Farah di kursi kayu samping ranjang mereka.
Zayn mengusap rambut Farah dengan kasih. Menatap matanya dengan cinta. Dan kemudian menunduk mencium kening Farah. Masih seperti malam-malam yang sama, dia mengucapkan do'a sebelum menyentuh istrinya dengan hasrat.
Farah mengusap pipi Zayn setelah laki-laki itu selesai mencium keningnya. Mata mereka bertemu menghantarkan perasaan cinta dan keinginan yang sama.
"Mas," panggil Farah.
__ADS_1
"Ya, Sayang," jawab Zayn.
"Aku mencintaimu, Mas," ucapnya.
Zayn mengangguk. "Mas juga mencintaimu, Farah," jawab Zayn tulus. Dia kemudian menunduk untuk membuat kecupan di seluruh wajah Farah. Dia ingin menciptakan suasana manja tetapi menggoda.
"Sayang, apa kau tahu cita-citaku saat aku masih kecil?" tanya Zayn di sela-sela cumbuan mereka. Ini agar Farah tidak tegang, agar wanita itu santai.
"Menjadi Presiden," jawab Farah. Suaranya terdengar memberat, itu artinya wanita ini sudah terbawa dalam arus yang Zayn ciptakan.
"Salah, bukan itu," ujar Zayn. Dia semakin intens memberi sentuhan untuk Farah, agar wanita ini nyaman.
"Lalu apa?" Farah balik bertanya.
"Tebak."
"Pilot."
"Salah."
"Guru."
"Salah."
"Pak Sekdes," jawab Farah dengan tawa kecil tetapi juga dengan nafas yang tidak teratur. Jawaban yang juga membuat Zayn tertawa kecil.
"Apakah kali ini jawabanku benar?" tanya Farah.
"Salah."
"Lalu apa?"
"Saat kecil, aku tidak punya cita-cita," jawab Zayn. Dan itu membuat Farah memukul dadanya pelan.
"Tidak ada cita-cita, kenapa disuruh nebak cita-cita Mas apa?" protes Farah. Dan mereka tertawa kecil penuh canda.
Mari kita mencobanya lagi.
________
Catatan Penulis 🙏
__ADS_1
Maaf kalau ada typo2 🙏
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 😘 Terima kasih luv luv.