Sang Perindu Kesempurnaan

Sang Perindu Kesempurnaan
Jangan Mudah Percaya Pada Orang Lain


__ADS_3

Zayn mengambil nafasnya dalam. "Jangan salah faham."


Farah mengalihkan pandangannya dan tersenyum getir. "Aku tahu, aku tidak sempurna. Hingga detik ini aku bahkan belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu," ucapnya dengan hati yang pedih. Dia merasa rendah diri. "Aku benar-benar wanita yang tidak berguna."


"Farah." Zayn mengusap lengannya. "Jangan bicara begitu," ucapnya.


"Nyatanya memang seperti itu, Mas!!" jawab Farah. Dia kembali membawa pandangannya pada Zayn. Pandangan mata mereka beradu. Zayn adalah tipe orang yang tidak suka pedebatan.  Jadi dia meminimalisir untuk berdebat dengan seseorang terlebih itu pada Farah.


"Boleh saja cemburu tapi jangan bicara begitu," sahut Zayn tak suka.


"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Aku bukan wanita sempurna," jawab Farah lagi. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Pernahkah aku mempermasalahkannya!! Apakah aku kurang sabar padamu, Farah?!!" Suara Zayn sedikit tinggi. Ya, dia memang paling tidak suka perdebatan yang memakai emosi.


Dan kini Farah diam. Zayn menghela nafas rendah. Dia kemudian keluar kamar untuk mengambil minum. Masih ada ibu di depan televisi. Semoga ibu tidak mendengar perdebatan mereka barusan, batinnya.


Setelah mengambil minum. Zayn tidak lantas kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin bertengkar lagi dengan Farah.


Zayn lebih dulu menghampiri adik laki-laki Farah yang tengah mengerjakan PR. Laki-laki kelas dua SMA itu terlihat serius di meja belajarnya.


"Wah kebetulan," ucap Vino adik Farah setelah melihat kakak ipar berdiri di sampingnya.


"Pelajaran apa?" tanya Zayn. Dia duduk di samping Vino.


"Matematika," jawab Vino. Dia langsung memberikan bukunya pada Zayn. "Sumpah ini sulit banget," ucapnya.


Zayn memperhatikan soal matematika di depannya. Kemudian kembali menatap Vino.


"Harus dikerjakan?" tanyanya.


"Iyalah," jawab Vino.


"Hei dengar." Zayn menatap adik iparnya. "Orang kaya, saat menghitung duit tidak pakai rumus. Jikapun uangnya sangat banyak, sudah ada pihak bank yang akan mengelolanya. Jadi, matematika yang kau pelajari hingga membuat otakmu hampir meledak tidak begitu dibutuhkan."


Ajaran sesat dari sang kakak ipar membuat Vino tertawa terbahak-bahak.


"Jadi sekarang aku harus bagaimana?" tanya Vino yang tergoda akan ajaran sesat kakak iparnya.


"Ayo kita beramian PS saja," ajak Zayn. Ajakan yang langsung disetujui Vino.


"Tapi bagaimana dengan PR matematikaku?" tanyanya. Sekarang dia galau.


"Besok bisa nyontek temanmu," jawab Zayn sesat lagi.


Jika Farah tahu tentang ini, dia akan menjewer telinga keduanya. Beruntung, Farah tidak tahu konspirasi ini.


Mereka berdua ke ruang samping dan bermain PS dengan seru. Zayn berjanji jika Vino bisa mengalahkan dirinya maka besok Vino akan mendapat uang jajan tambahan. Vino yang kuotanya tengah sekarat merasa tertantang dengan tawaran itu.


Sementara di sana. Farah duduk termenung menatap pantulan wajahnya di cermin. Dia membandingkan dirinya dengan semua wanita di desa ini. Dan benar adanya jika sepertinya hanya dia yang begini.

__ADS_1


Farah mengusap wajahnya dengan sedih. Dia bingung.


Pukul sepuluh malam, Zayn belum juga kembali ke kamar. Padahal sebenarnya Farah menunggunya. Gadis itu ingin meminta maaf.


Farah keluar dari kamar. Sudah tidak ada lagi Ibu di depan televisi. Beliau sudah tidur.


Farah membuka pintu utama. Dia berfikir jika Zayn mungkin pergi ke pos depan. Menyusul Zayn? Rasanya berlebihan. Nanti Zayn dikira suami takut istri.


Farah kembali menutup pintu. Dia berjalan ke belakang untuk mengambil minum dan saat itu juga ... samar-samar dia mendengar suara-suara yang terdengar begitu seru.


Pelan, Farah menuju kamar samping dan membuka pintunya. Dia tersenyum lebar menemukan seseorang yang ia cari ada di sini.


"Sepertinya permainan kita harus selesai sampai disini," ucap Vino setelah menyadari kedatangan Farah. Saat ini dia berada di posisi unggul. Jadi jika permainan ini dihentikan paksa, dia adalah pemenangnya.


Zayn melirik sedikit ke arah samping dan kembali fokus dengan permainannya.


Farah tahu Zayn marah.


"Besok sekolah, Vino. Pergi tidur," ujar Farah. Dia melangkah masuk ke dalam dan duduk di samping Vino. Ya, dia memilih duduk di samping Vino dan bukan di samping Zayn.


"Bentar lagi, Mbak. Aku harus menang," jawab Vino.


"Apa hadiahnya," tanya Farah.


"Dibeliin kuota," jawab Vino.


Farah menatap Zayn yang terlihat begitu serius dengan permainannya. Wajahnya yang serius karena permainan atau karena ada Farah disini.  Yang jelas, dia semakin ketinggalan skore semenjak kedatangan Farah.


Vino tetap fokus dengan permainannya. "Nggak asik," tolaknya pada penawaran Farah. Dia lebih bangga jika bisa mengalahkan Zayn. Dia sudah dua kali kalah dari kakak iparnya itu. 


"Mbak tambahin bakso deh," Farah menawarinya.


"Enggak," Vino menolaknya.


"Tambah sepatu futsal," Farah menawarinya.


Vino membawa pandangannya pada Farah. "Ok. Deal," dia setuju. Dia kemudian membawa pandangannya pada Zayn. "Mas maaf ada tawaran yang lebih menggiurkan," ucapnya.


Zayn mengangguk dan membiarkan Vino keluar dari ruangan itu.


"Sudah malam, tidur, yuk," ajak Farah. Dia menatap Zayn dari samping. 


"Nanti. Aku belum ngantuk," jawab Zayn dengan singkat. Terdengar sangat tidak bersahabat. 


"Ini sudah tengah malam," ujar Farah. Dia menggeser duduknya mendekati Zayn. Laki-laki itu tidak menjawabnya. Dia masih sibuk dengan gamenya. 


"Mas," panggil Farah rendah. 


"Apa."

__ADS_1


"Ayo tidur." 


"Ya sudah sana tidur." 


"Ayooo," ajak Farah. Kali ini dengan suara manja. 


"Nanti," jawab Zayn singkat. 


Farah menunduk mencari celah diantara tangan Zayn. Dia dengan lincah menyusup diantara celah itu dan dengan perlahan menempatkan diri di pangkuan Zayn. Mereka berhadapan. Farah dengan sengaja menempatkan wajahnya tepat di depan wajah Zayn agar laki-laki itu tidak bisa melihat layar televisi. 


Zayn menggeser wajahnya ke kanan, Farah ikut ke kanan. Zayn ke kiri, Farah ikut ke kiri. Hingga akhirnya, Zayn menatapnya. 


"Mas jangan marah," ucap Farah. 


"Aku enggak suka kamu bicara yang seperti tadi," jawab Zayn. 


Farah mengangguk. "Iya. Aku minta maaf," ucapnya. 


"Dan jangan gampang salah paham," tambah Zayn. 


Farah mengangguk lagi. 


Zayn meletakkan kedua tangannya di pinggul Farah.


"Ada banyak orang sore itu setelah latihan voli. Kebetulan ada Inez juga disana dengan teman-temannyam. Dia kemudian minta dibayarin," jelas Zayn tanpa Farah minta. 


"Kenapa enggak ditolak saja?" tanya Farah. Dia cemberut lagi. 


"Nanti Mas salah lagi. Malah jadi bahan gunjingan seolah Mas menghindari dia. Nanti dikira Mas masih ada rasa karena terlalu ketara menghindarinya. Itu pernah terjadi, kau ingat. Sebelum kita menikah. Ada saja tetangga yang bikin gosip tidak benar."


Farah mengangguk. 


"Intinya jangan mudah berburuk sangka dan gampang percaya dengan cerita dari satu sisi," lanjut Zayn menasehati istrinya. 


Farah mengangguk lagi. 


Zayn mengusap pipinya dan kemudian menyatukan bibir mereka. Saling bermanja lewat sebuah kecupan. 


Di sana. Vino baru sadar jika ponselnya tertinggal. Dia kembali keluar kamar dan menuju kamar samping. 


"Astagfirullah," pekiknya pelan dengan mata melotot. Dia melihat adegan penuh cinta itu. 


Vino kemudian segera membalik badan dan meninggalkan ruangan itu. 


"Sial, jadi karena itu Mbak Farah mengusirku? Jika tahu begitu, aku akan meminta sogokan yang lebih mahal lagi." gerutu Vino. "Rugi kalau cuma sepatu futsal, kuota dan bakso."


_________


Catatan Penulis 🥰🙏

__ADS_1


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 😘 Terima kasih.


__ADS_2