
Mereka menjadi diam dan saling menatap. Jantung mereka berdegup seirama. Pandangan mata Zayn masuk kedalam jantung Farah. Menghujamnya dengan keindahan.
Pelan, Zayn menunduk untuk mencium kening Farah lalu pada kedua kelopak matanya. Dunia ini adalah milik mereka berdua. Tidak peduli bagaimana ramainya di luaran sana. Saat ini, mereka hanya ingin berdua.
Namun, suara perut lapar Zayn mengacaukan semuanya.
"Mas lapar?" tanya Farah dengan tawa kecil.
Zayn merebahkan diri di samping Farah. "Padahal Mas ingin makan kamu dulu baru makan nasi." Zayn terkekeh kesal. Sungguh perutnya tidak bisa diajak berkompromi. Namun sebenarnya dia memang tidak ingin langsung mengambil kembang perawan Farah pagi ini. Malam nanti ... ya, malam nanti. Dia harus sabar sebentar lagi.
"Mau makan di sini atau kita cari makan di luar?" Zayn menawari.
"Diluar saja," jawab Farah. Dia kemudian memakai topi pantai dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang santai.
Seharian mereka bermain di pantai dan kembali setelah matahari tenggelam.
__ADS_1
Saat malam tiba, mereka menyewa sebuah sepeda untuk berkeliling dan menikmati keindahan Karimun Jawa pada malam hari. Makan makanan khas pulau itu dan tentu membeli beberapa pernak pernik khas pulau Karimunjawa.
"Kita di sini masih dua hari lho," ucap Zayn. Dia mengusap punggung Farah. Wanita itu tengah sibuk memilih pernak pernik khas Karimunjawa.
"Iya, aku ingin membeli ini untuk Ibu Guru, ibu guru dan juga anak-anak," jawab Farah. Dia masih semangat memilih.
Zayn menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Maksud dari ucapannya adalah ... dia ingin segera kembali ke homestay dan segera bercengkrama berdua. Jika Farah sibuk, bisa jadi ... nanti wanita itu akan langsung tidur saat sampai nanti.
"Sayang, besok bisa milih lagi," Zayn mengusap punggungnya lagi.
"Ini beli sekalian saja, Mas, biar harganya lebih murah," jawab Farah. Wanita memang sangat jeli dalam hal-hal yang seperti itu.
"Kalau bisa beli lebih murah, kenapa harus yang mahal," sahut Farah. "Dengan kualitas sama, harusnya lebih baik kalau bisa dapat harga yang lebih murah."
Berdebat dengan ibu menteri keuangan memang susah. Yah, sudahlah. Zayn pada akhirnya sabar menunggu istrinya membeli oleh-oleh yang ingin dibagikan.
__ADS_1
Hingga pukul sepuluh malam, mereka baru kembali ke homestay. Bunga-bunga yang tadi pagi telah diganti yang baru.
Farah yang awalnya ingin membongkar barang belanjaan terlebih dahulu menjadi mengerti jika malam ini adalah malam indah yang mereka nanti dan dia akan melupakan apa-apa yang selain menyenangkan suaminya.
"Ummm, Mas. Aku mandi dulu sebentar ya. Rasanya sangat lengket, bau keringat," ucap Farah. Dia menjadi sangat canggung.
Zayn mengangguk mempersilahkannya. "Mau ditemani tidak?" dia menggoda Farah.
"Aku berani sendiri," jawab Farah dan langsung berlalu dari hadapan Zayn. Dia masuk ke dalam kamar mandi. Jantung berdegup. Semoga malam ini dia bisa memberikan keindahan pada suaminya. Semoga malam ini, dia bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Farah membersihkan diri dengan sangat bersih dan wangi. Setelah itu, ia keluar dengan menggunakan bathrobe diatas lutut. Saat ia keluar, suasana kamar sudah redup. Lampu utama sudah padam dan hanya menyisakan lampu malam yang begitu romantis.
Terlihat Zayn yang berdiri di sana. Laki-laki itu tengah terlihat menyembunyikan kedua tangannya di balik badan.
"Mandinya sudah?" tanya Zayn.
__ADS_1
Farah mengangguk malu-malu. Jantungnya berdegup kencang. "Sudah. Apakah aku membuat Mas menunggu lama?" tanyanya.
Zayn menggeleng. "Tidak," jawabnya. Zayn melangkah maju menuju Farah.