Sang Perindu Kesempurnaan

Sang Perindu Kesempurnaan
Merasa Bersalah


__ADS_3

Farah mengatur nafasnya yang masih tidak teratur. Dia sungguh masih merasakan nyeri yang teramat sangat pada bagian kewanitaannya.


"Astagfirullah hal'azim," ucapnya berulang kali meminta pengampunan Tuhan yang maha agung.


Zayn yang sudah memakai bajunya lengkap segera keluar kamar untuk mengambil segelas air hangat. Suasana sudah sepi saat itu. Semua anggota keluarga sudah tertidur karena lelah.


Zayn segera kembali ke kamar dengan membawa segelas air hangat untuk Farah. Dia menyalakan lampu utama dan membantu Farah untuk duduk.


"Minum dulu, Sayang," ucap Zayn perhatian. Dia berfikir jika ini karena Farah terlalu tegang pada malam pertama mereka.


Farah menerimanya. Dia menyesap minuman hangat pemberian Zayn beberapa kali. "Terima kasih, Mas," ucapnya.


Zayn mengangguk dan berjalan untuk meletakkan gelas di atas nakas. Setelah itu, ia merebahkan diri di samping Farah.


Farah menoleh menatap Zayn. Menatapnya dengan penyesalan. "Mas, aku minta maaf," ucapnya sedih.


Zayn menggeleng. "Tidak apa-apa," jawabnya. "Tidak apa-apa, Farah. Kita sama-sama belajar," lanjutnya. Zayn juga tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. Apakah karena Farah terlalu tegang atau dia yang tidak pintar membawa keindahan malam ini pada Farah. "Maaf membuatmu sakit," lanjut Zayn.


Kini Farah yang menggeleng. "Aku yang minta maaf, Mas. Karena aku belum bisa memberi hak Mas malam ini," ucap Farah.


Zayn mengusap lengannya pelan. "Hari sudah hampir pagi, tidurlah," ucap Zayn.


Farah masih menatapnya. "Aku benar-benar minta maaf, Mas," ucapnya lagi.


Zayn tersenyum. Dia menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Farah lalu membuat kecupan manis di kening Farah. "Tidak apa-apa, Sayang. Sungguh. Aku ridlo," jawab Zayn dengan tulus.


Mata Farah berkaca-kaca. "Terima kasih, Mas," ujarnya.


Zayn kemudian memeluknya dan memejamkan mata setelah ia membaca do'a.


Sementara Farah masih terjaga karena memikirkan betapa sakitnya rasa itu. Bagaimana ia akan menjalaninya nanti. Dia yang orang awan dan tidak mengerti apa-apa tentang itu, mengira jika hubungan suami istri untuk yang pertama kali memang sesakit itu.


Dia akan mencoba relaks besok. 


***@***


Saat Azan Subuh berkumandang. Farah belum bisa memejamkan matanya. Dia benar-benar merasa bersalah terhadap Zayn.

__ADS_1


Zayn perlahan membuka matanya. Dan mengeratkan pelukannya pada Farah. "Kamu tidak tidur?" tanyanya. Dia mencium pipi Farah.


"Aku tidak bisa tidur." Farah menjawab pelan. Dia mengusap lengan Zayn yang berada di perutnya.


Zayn mencium pipi Farah lagi. "Kenapa tidak bisa tidur? Masih terasa sakit?" tanyanya.


Farah mengangguk samar. "Sedikit," jawabnya. "Aku tidak bisa tidur karena merasa bersalah pada Mas Zayn."


"Tidak apa-apa, Sayang. Kita bisa mencobanya lagi nanti. Namanya juga pertama pasti ada yang gagal ada yang lancar," jawab Zayn. "Sudah, jangan dipikirkan," lanjutnya.


Farah diam menatapnya.


"Subuh, yuk," ajak Zayn. 


Mereka membersihkan diri lalu sholat berjamaah. 


Setelah sholat subuh, Farah baru bisa memejamkan matanya. Dia tidur dengan memeluk Zayn. Sementara laki-laki itu berselancar di dunia maya. Dia mencari cara agar bisa membuat wanita relaks dan nyaman saat melakukan hubungan suami istri.


Pukul tujuh pagi, pintu kamar terketuk pelan.


Zayn yang mendengar itu, dengan pelan melepaskan pelukan Farah dan beranjak dari tidurnya untuk membuka pintu.


"Farah masih tidur, Bu," jawab Zayn.


"Astagfirullah, ini sudah siang," ujar Sang Ibu terkejut. "Bangunkan saja, Nak. Nanti kebiasaan."


Dan seseorang menyahut dari belakang.


"Namanya juga pengantin baru, wajarlah Bu."


Dan beberapa saudara ikut meledeknya. Tawa pagi yang renyah langsung memenuhi ruangan itu. 


"Bangunkan Farah, ya. Kita sarapan bersama," ucap Bu Mia rendah pada Zayn menantunya. 


"Baik, Bu," jawab Zayn sopan. Dia kembali menutup pintu setelah ibu mertuanya pergi. 


Zayn membuka selimut Farah dan mencium pipinya. 

__ADS_1


"Sayang, bangun, yuk. Sudah pukul tujuh," ucapnya. Zayn tidak tega sebenarnya.


Farah membuka matanya perlahan dan tersenyum menatap Zayn. "Maaf baru bangun," ucapnya malu.


Dan mereka mendapat ledekan saat datang ke meja makan. Terlebih saat melihat jalan Farah yang sedikit aneh.


Farah menunduk canggung sementara Zayn tersenyum lebar..


"Sebentar lagi dapat keponakan baru," ucap salah satu saudara yang ada di meja makan.


Itu adalah tuntutan baru di masyarakat kita. Menikah dan segera memiliki anak. Mereka-mereka yang tak kunjung memiliki anak seolah aib dan tidak sempurna sebagai seorang wanita.


Setelah selesai sarapan. Ibu memberi Farah jamu.


"Ini agar kau cepat hamil," ucap beliau.


Tidak menolak, Farah menerimanya dan ia meminum jamu itu hingga habis. Memiliki keturunan setelah pernikahan adalah keinginannya juga.


Setelah sarapan, Farah dan Zayn kembali masuk ke dalam kamar. Mereka membuka kado-kado dari para rekan dan sahabat.


"Apa ini?" tanya Farah saat membuka salah satu kado dan menemukan baju tidur seksi. Menyadari itu, dia berseru malu dan segera menyembunyikan dari Zayn.


"Mana coba lihat," pinta Zayn.


"Tidak boleh. Mas tidak boleh melihatnya, itu rahasia perempuan," jawab Farah dan semakin menyembunyikan kado itu.


"Sedikit saja, sini aku mau lihat seberapa seksi baju tidur itu," godanya.


"Jangaaan!!" tolak Farah. Mereka saling bercanda pagi ini. Farah bahkan meledek saat menemukan kado dari mantan pacar Zayn.


________


Catatan Penulis 🥰


Maaf kalau ada typo2.


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 😘 Terima kasih. 

__ADS_1


__ADS_2