
Farah menunduk saat Zayn menatapnya dengan senyum. Ada rona dikedua pipinya. Jantungnya berdegup hebat.
Tangan Zayn mengulur untuk mengusap pipi halus Farah lalu ia menunduk untuk mencium pucuk kepalanya. Lalu bergerak pelan membuat kecupan di seluruh wajah Farah hingga mempertemukan bibir mereka.
Farah memejamkan matanya, kedua tangannya menggenggam erat baju yang Zayn kenakan.
Pelan, Zayn mengangkatnya. Membawanya ke atas ranjang dan mulai membawanya pada gerbang surga dunia.
Begitu senyap dan tenang. Perlahan mereka mulai terbuai akan indahnya cinta. Perlahan mereka mulai hanyut dalam alunan kasih yang mereka bangun.
Farah mempersiapkan dirinya dengan sangat baik. Tidak ada degupan jantung karena cemas, saat ini ia mulai terbawa hasrat keindahan yang Zayn berikan. Dia sungguh siap. Namun ... tetap saja. Tubuhnya seolah menolak dan bahkan seolah menentang. Ini terlalu sakit, sangat sakit.
Farah mengigit bibirnya kuat, dia mencoba melawan rasa sakit ini. Dia mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Namun ini sungguh luar biasa sakit. Dia menggeleng dengan tangis. Sungguh dia tidak kuat. Pada akhirnya dia benar-benar tidak sanggup dan menangis. Dia bahkan dengan tidak sadar mendorong tubuh Zayn dengan kuat.
Zayn menghela nafasnya panjang, dia diam. Dia mengalah dan tidak memaksa. Justru dia merasa kasihan dengan Farah. Wanita itu terlihat sangat kesakitan.
__ADS_1
Zayn dengan perhatian menyeka air mata Farah dan kemudian mencoba menenangkannya.
Farah menangis menahan sakit hingga ia tidak bisa mengeluarkan suaranya sekedar untuk meminta maaf pada Zayn. Wanita itu hanya menggenggam tangan Zayn lalu menciumnya.
Zayn mengecup keningnya sekali lagi. Dia kemudian menyelimuti Farah dan kembali mengenakan pakaiannya.
"Sayang, minum dulu," ucap Zayn. Dia membawa segelas air putih untuk Farah. Zayn dengan perhatian membantu Farah untuk sedikit demi sedikit menyesap minumannya.
"Apa kau butuh air hangat untuk mengompresnya?" tanya Zayn setelah meletakkan bekas gelas Farah. Dia menatap Farah penuh kasih, mengusap pucuk kepala Farah dengan sayang. Wanita itu menggeleng. Dia belum mampu untuk berbicara. Dia masih sesenggukan dan menggenggam tangan Zayn. Sekali lagi, dia tidak bisa memberi hak Zayn sebagai suaminya. Sekali lagi, Zayn belum bisa mengambil kembang perawan istrinya.
Zayn mengganguk. "Tidak apa-apa, Farah," jawab Zayn penuh kerelaan. Sungguh dia tidak memaksa. Zayn kembali menunduk dan mencium kening Farah. "Aku akan sabar menunggu hingga kau siap."
Farah memeluknya. "Terima kasih, Mas," ucap Farah dengan kecewa terhadap dirinya sendiri.
Zayn menunduk mencium keningnya dan kemudian membalas pelukannya.
__ADS_1
"Sudah larut," ucap Zayn. Dia memejamkan matanya. Malam ini ... dia masih belum bisa mengambil kembang perawan istrinya. Tak mengapa, dia akan mencobanya lagi nanti.
Disisi lain, Farah merasa malu. Dia merasa menjadi wanita yang payah karena masih belum bisa santai dalam menjalani malam pengantinnya. Dia merasa bersalah karena belum bisa memberikan hak itu pada suaminya. Malam indah yang mereka bayangkan, nyatanya tetap menjadi malam yang mengecewakan.
"Ya Allah, aku ini kenapa?" Farah bertanya dalam hati. Dia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan dirinya dan kekecewaan Zayn padanya.
Farah menjadi tidak sebahagia saat pertama kali ia datang. Dia menjadi murung dan hanya diam duduk di teras belakang sambil menatap laut lepas di sana.
"Sayang, kita belum berkunjung ke pantai Annora, kita juga belum melakukan snorkeling. Yuk siap-siap," ajak Zayn. Dia berdiri di samping kursi Farah. Namun tidak ada respon dari wanita itu.
Zayn menghela nafas rendah dan kemudian duduk di samping Farah. Gerakan yang membuat wanita itu terkejut.
"Mas?"
Zayn merangkulnya. "Kenapa malah ngalamun, hmm?" tanya Zayn.
__ADS_1
Farah menoleh menatapnya. "Mas, pulang yuk."