Sang Perindu Kesempurnaan

Sang Perindu Kesempurnaan
Minyak Zaitun


__ADS_3

Mereka masuk ke dalam minimarket bersama. Zayn yang langsung menuju tempat minuman, sementara Farah langsung menuju tempat baby oil. Dia mengambil satu dan kemudian berjalan menuju area kosmetik. Tidak ada minyak kelapa asli disini jadi dia menggantinya dengan minyak zaitun. 


"Minyak zaitun." suara Zayn tiba-tiba terdengar di belakangnya. Membuat Farah melonjak kaget. 


"Astagfirullah," pekiknya. 


Zayn nyengir melihat istrinya terkejut. "Mau coklat tidak?" tanyanya kemudian. 


"Mau," jawab Farah. "Jajan juga," tawarnya. 


"Apalagi?" 


"Mas-mas kasirnya boleh juga." 


Dan Farah langsung menerima cubitan di hidungnya. 


"Bu guru tidak boleh lirik-lirik yang lain. Ingat sudah punya suami," ucap Zayn. 


Farah tertawa kecil. Dia kemudian memilih beberapa cemilan hingga memenuhi keranjang mereka. Dan saat mereka berada di kasir, Zayn berkata. "Mas, ada kasir wanita tidak?" dia bertanya pada kasir laki-laki. 


Farah langsung memukul lengannya pelan. 


"Jangan dengarkan dia," sahut Farah. Membuat Zayn tertawa terkikik. Satu sama.


Setelah dari minimarket, mereka pergi ke kantor kecamatan. Zayn menawari Farah untuk ikut kedalam tetapi wanita itu menolak. Dia memilih menunggu di dalam mobil. 


Setelah Zayn keluar dari mobil. Farah segera membuka internet. Dia mencari sebuah artikel tentang bagaimana agar lancar saat berhubungan suami istri. Dia juga mencari artikel tentang bagaimana agar tidak sakit saat berhubungan. Dan macam-macam artikel yang membahas tentang itu. 


Farah membuka kantong plastiknya dan mengambil minyak zaitun. Selama ini, mungkin dia kurang memiliki cairan, pikir Farah. 


"Bismillah, semoga ini membantu," ucapnya penuh harap. Dia ingin menjadi seorang istri yang sempurna. Istri yang memberikan hak suaminya. Istri yang memenuhi kebutuhan batin suaminya. 


Setelah dari kantor kecamatan, Zayn dan Farah mampir dulu ke kantor kepala desa. Itu karena Zayn masih dalam waktu kerja.


Zayn menata belanjaan mereka di dalam jok motor Farah. Satu kantong lagi di bagian tengah dan satu kantonh lagi es cendol Farah letakkan di stang motor maticnya.


"Hati-hati," ucap Zayn setelah Farah pamit dan mencium tangannya.


"Assalamualaikum, Mas."


"Wa'alaikumussalam."

__ADS_1


Motor matic berwarna merah meninggalkan area kantor kepala desa. Motor itu melesat pelan melewati beberapa rumah penduduk. Minggu ini, dia tinggal di rumah ibu mertuanya. Tak henti-hentinya Farah mengangguk untuk menyapa dan membalas sapa dari tetangga yang ia lewati.


Siapa yang tidak kenal Farah. Ibu guru muda yang cantik, istri Zayn Pak SekDes. Menantu juragan beras yang memiliki hektaran tanah.


Banyak sekali gadis desa yang iri dengan Farah karena berhasil menjadi istri Zayn. Zayn, laki-laki tampan yang masa depannya terlihat begitu cerah. Dia adalah anak pertama dari dua bersaudara.


Setelah 750 meter. Farah telah sampai di halaman rumah. Ada Ibu Atun ibunda Zayn di teras rumah. Beliau baru saja pulang dari toko dan duduk santai di teras.


"Assalamualaikum, Bu," sapa Farah dengan santun. Dia mengambil es cendol yang ia beli dan membawanya untuk Bu Atun.


"Wa'alaikumussalam," jawab Bu Atun dengan senyum dan menerima es cendol dari menantunya.


"Baru pulang, Far?" tanya beliau.


"Iya, Bu," jawab Farah.


Setelah itu, Farah kembali untuk mengambil belanjaannya. Dua plastik besar dengan logo khas mini market. Melihat itu, ekspresi wajah Bu Atun mendadak berubah.


"Dari kota?" tanyanya dengan nada yang pendek. Matanya menatap dua kantong besar yang Farah bawa.


"Iya, Bu," jawab Farah. Dia menunduk dan pamit untuk masuk ke dalam. Pada ujung pintu, adik perempuan Zayn menghampirinya.


"Aku mau, aku mau," serunya semangat. Gadis ini baru kelas satu SMP.


"Sini, Mbak beli banyak untukmu," ucap Farah. Mereka membongkar jajan itu di ruang tengah.


"Jadi wanita itu harus yang hemat," komentar Bu Atun tiba-tiba. Beliau duduk di kursi dekat Farah. Memperhatikan belanjaan menantunya itu.


Farah diam dengan jantung yang seolah langsung ditusuk. Sebuah ucapan yang seperti duri tajam yang ditancapkan dalam hatinya.


"Jangan satu minimarket kamu borong," lanjut Bu Atun. "Istri itu harus pintar mengatur keuangan. Jangan boros. Agar bisa menabung."


Dada Farah sesak mendengar itu. Dia mengigit bibirnya menahan sesuatu yang rasanya ingin keluar dari matanya.


"Iya, Bu," jawabnya pelan. Setelah membiarkan sang adik ipar memilih, Farah membawa sisanya ke dalam kamar. Dia meletakkan belanjaannya diatas nakas dan langsung membiarkan sesak di dadanya keluar. Dia menangis.


Dia mengambil ponselnya dan membuat panggilan pada Zayn. Panggilan yang langsung terhubung.


"Assalamualaikum," ucap Zayn.


"Wa'alaikumussalam," jawab Farah masih dengan tangisnya. Itu membuat Zayn cemas.

__ADS_1


"Sayang, kenapa?" tanyanya. Dia berkata pelan agar rekannya tidak menguping.


"Habis dimarahi ibu," jawab Farah jujur. Dia masih menangis.


"Dimarahi kenapa?" Zayn bertanya perhatian.


"Karena boros. Karena jajan banyak. Padahal aku cuma jajan dua kantong plastik tapi ibu bilang jika aku membeli satu minimarket." Farah menjawab dengan terbata.


Zayn tertawa kecil di seberang sana. Membuat Farah sewot.


"Kenapa malah tertawa," serunya kesal.


"Beri saja Ibu coklat, nanti beliau senyum lagi." Zayn memberikan usulan.


"Mana bisa. Dipecat jadi menantunya, iya."


Farah menyeka air matanya. Paling tidak, perasaannya sedikit lega karena sudah bercerita pada Zayn.


"Coba saja."


"Enggak mau," tolak Farah. "Sudah dulu. Curhat selesai, Pak sekdes. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam, Bu Guru. Jangan lupa bayar tarif curhat."


"Semangkuk kolak cukup?" tanya Farah yang akan membayar tarif curhat.


"Semangkuk ciuman saja lebih lezat," jawab Zayn.


Farah tersenyum lebar dengan wajah yang bersemu merah di sana.


"Muach."


Klik. Dan dia langsung mematikan ponsel setelah itu. Dia malu


________


Catatan Penulis 🥰🙏


Maaf kalau ada typo2. 


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 😘 Terima kasih. Luv Luv. 

__ADS_1


__ADS_2