
Minyak Zaitun??
Zayn mengerutkan kening melihat apa yang diberikan Farah. Namun sedetik kemudian, ia mengerti.
Zayn mengambil minyak zaitun itu dari tangan Farah.
"Bismillah," ucapnya penuh harap. Dia adalah laki-laki yang paling sabar, jika tidak ... mungkin dia sudah uring-uringan sedari awal mereka menikah karena Farah yang belum bisa memberikan haknya sebagai suami.
"Farah," bisik Zayn. Dia mencoba membuat Farah relaks. "Sayang, aku mencintaimu," ucap Zayn. Ucapan lembut yang merasuk pada dinding hati. Begitu hangat dan sempurna.
Farah mengangguk dengan mengigit bibirnya. Dia mulai merasakan sakit. Dan tubuhnya secara otomatis seolah menolak semuanya. Otot-ototnya seketika menegang.
"Mas, sakit," gumamnya. Dia mulai menangis.
Tidak ingin berputus asa, Zayn menambahkan minyak zaitun dan ia mencobanya lagi. Tetapi sungguh, Farah tetap tidak bisa. Rasa sakit itu bahkan membuat Farah dengan tidak sadar mencengkeram lengan Zayn dengan tajam. Cengkraman yang hingga membuat lengan Zayn sedikit berdarah.
Zayn berhenti dan ia menatap lengannya. Betapa sakit yang Farah rasakan hingga cengramannya begitu kuat di lengan Zayn.
Farah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan menangis. Dia tidak bisa. Malam ini masih tidak bisa. Farah marah pada dirinya sendiri. Dia bahkan tidak sanggup untuk meminta maaf pada Zayn, dia menangis dengan hati yang berkecamuk marah pada dirinya sendiri. Dengan rasa sesak dalam dadanya. Kenapa dia tidak bisa? Kenapa ini begitu menyakitkan
Zayn seperti biasa mengambil segelas air hangat untuk Farah.
"Sayang minum dulu," ucapnya perhatian. Ya, meskipun sering kali kecewa, laki-laki ini masih begitu perhatian pada Farah. Mungkin, jika bukan Zayn orangnya, Farah akan diceraikan saat malam pertama mereka. Namun ini adalah Zayn, laki-laki yang begitu sabar padanya. Semoga hingga saat nanti Zayn tetap tidak kehilangan sabar dan keikhlasannya.
"Sayang," panggil Zayn. Dia mencoba membuka selimut Farah. Tetapi wanita itu memegang kuat selimutnya. Dia menangis dan terus menangis. Kekecewaan akan dirinya sendiri membuatnya berfikir jika dia adalah wanita yang tidak berguna.
Zayn meletakkan gelas di atas nakas. Dia merebahkan tubuhnya di samping Farah.
"Tidak apa-apa, Farah," ucapnya pelan penuh keikhlasan.
Dada Farah semakin sesak mendengarnya. Ucapan sama yang selalu ia dengar saat malam dimana Zayn kecewa padanya. Kekecewaan yang terulang lagi. Farah semakin menangis, suara tangisnya bahkan tidak lagi terdengar karena dadanya begitu sesak. Kenapa dia begini.
__ADS_1
"Farah," Zayn memanggilnya. Tidak ada jawaban dari Farah. Dia masih menangis tanpa suara.
"Jangan menangis. Ini bukan salahmu, mungkin aku yang tidak pandai membimbingmu," ucap Zayn.
"Ini salahku." Pada akhirnya Farah mengeluarkan suara. Suara yang begitu dalam.
Zayn mencoba menarik lagi selimut Farah. Kali ini Farah membiarkannya.
Zayn mengusap rambut Farah lembut. Dia kemudian menunduk untuk membuat kecupan di pucuk kepala Farah.
"Kita belajar bersama-sama, ya," ucap Zayn. "Jangan dipikirkan lagi. Tidak apa-apa."
Farah membawa pandangannya pada Zayn.
"Maaf mengecewakanmu lagi, Mas," ucapnya dengan sesenggukan. Suara yang sebenarnya sangat sulit untuk keluar dari bibirnya.
Zayn mengangguk dan kembali membuat kecupan di pucuk kepalanya. Dia mengucapkan do'a di sana.
"Stttt." Zayn mengusap bibirnya agar Farah tidak berkata yang bukan-bukan.
Selalu saja begini. Malam syahdu yang perlahan menjadi sebuah tangis dan kekecewaan. Farah benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri. Apakah dia kurang relaks. Apakah dia masih saja sangat tegang dan grogi.
"Mas," panggil Farah sangat pelan. Dadanya masih sesak.
"Hmm." Zayn memeluknya. "Jangan dipikirkan lagi," ucapnya.
"Aku minta maaf, Mas," ucap Farah. Ucapan permintaan maaf yang tak pernah lelah ia ucapkan.
Zayn mengangguk dan mencium pipinya. "Jangan dipikirkan lagi, okey. Bu guru cantik," hibur Zayn.
"Mas, aku mencintaimu. Sungguh. Mas percaya padaku 'kan?"
__ADS_1
"Iya. Aku percaya."
Farah menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Zayn. Dia memeluk laki-laki itu erat. Dia diam beberapa saat dan memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku kenapa ya, Mas?"
"Kenapa apanya?"
"Sepertinya, tidak semua wanita sepertiku," jawab Farah.
Zayn mengambil nafasnya panjang dan mengeluarkannya perlahan. Sejujurnya dia juga tidak tahu. Tetapi dari cerita teman-temannya, dia tahu bahwa, malam pertama mereka berjalan dengan baik-baik saja. Ini dia yang tidak pandai atau Farah yang tidak bisa. Entahlah. Mereka berdua sama-sama awam.
"Bagaimana jika kita ke dokter?" Zayn mencoba memberikan saran.
Farah segera menggeleng. Dokter adalah seseorang yang menyeramkan bagi Farah. Dia tidak mau. Apalagi ini tentang organ reproduksinya.
"Mungkin ada cara lain, Mas," jawab Farah. "Aku akan rajin meminum jamu, atau datang ke dukun bayi, atau ikut olahraga khusus."
Zayn mengangguk. Ya, semoga saja. Sedikit demi sedikit mereka akan mencari cara. Sedikit demi sedikit mereka akan berusaha. Bismillah.
Pagi harinya. Farah menata seragam yang Zayn pakai.
"Pak sekdes, gantengnya. Semoga tidak ada yang melirik," ucap Farah.
"Bu guru juga semoga tidak ada yang godain."
Farah terkekeh. Setelah itu, mereka sarapan bersama. Ibu memperhatikan mata Farah yang terlihat sembab. Ibu Atun berfikir apakah Farah menangis karena gadis itu tidak betah disini atau kenapa.
"Assalamualaikum, Bu," ucap Farah pamit pada Ibu mertuanya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ibu Atun.
__ADS_1