
Klik. Dan dia langsung mematikan ponsel setelah itu. Dia malu. Tepat setelah itu, pintu kamar terketuk pelan.
"Far, makan," suara Ibu Atun terdengar.
Farah mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Dia sadar jika Ibu perhatian padanya tapi terkadang, ucapan beliau menyakitkan dalam menyampaikan.
"Iya, Bu," jawab Farah. Farah beranjak dari ranjangnya dan mengambil coklat. Dia melaksanakan instruksi dari suaminya.
Ibu Atun tengah menonton serial drama India di televisi saat dia keluar. Drama india kesukaan Bu Atun.
"Lauknya ditempat biasa," ucap Bu Atun saat melihat menantunya keluar kamar.
Farah mengangguk pelan. Dia berjalan menuju Bu Atun yang tengah fokus menonton serial drama India kesukaan.
"Untuk Ibu," ucap Farah dengan menyodorkan sebungkus coklat pada Bu Atun.
Bu Atun menatap coklat itu dan kemudian membawa pandangannya pada Farah.
"Apa ini?" tanya beliau yang awam tentang makanan secamam ini.
"Kata Mas Zayn, ini bisa membuat ibu tersenyum," jawab Farah jujur.
__ADS_1
"Memangnya ini apa?" tanya Bu Atun lagi semakin heran. Meski begitu, beliau menerima coklat dari Farah.
"Ummm, sini Farah bukain bungkusnya," ujar Farah. Dia kembali mengambil coklat dari tangan Bu Atun. Dan memberikannya kembali setelah ia mengupasnya.
Pelan, Bu Atun mengigit coklat itu lalu mengunyahnya. Alisnya terlihat berkerut saat beliau menikmatinya. Beliau menggerakkan pipinya lebih keras karena potongan coklat menempel di giginya. Ini sangat merepotkan, batinnya.
"Rasanya biasa saja," komentar Bu Atun setelah coklat di mulutnya habis.
"Tapi Mas Zayn bilang kalau ini bisa membuat Ibu tersenyum," Farah menjawab lugu.
"Anak itu memang aneh," sahut Bu Atun. Ternyata bukan Bu Atun yang tersenyum kembali tetapi Farah. Bibir wanita itu melengkung melihat ekspresi bingung mertuanya. Bahkan dia masih saja tersenyum saat kebelakang untuk mengambil makan.
Disisi lain, Bu Atun lama-lama menghabiskan coklat pemberian menantunya sambil menyaksikan drama India yang menguras perasaan.
Saat Zayn pulang dari kantor, dua orang itu sudah saling bercanda dan bercerita di teras rumah sambil mencatat beras-beras yang akan di ambil besok.
"Assalamualaikum," ucap Zayn.
"Wa'alaikumussalam." Dua wanita itu menjawab dengan bersamaan. Zayn lebih dulu mencium tangan ibunya. Lalu kemudian pada Farah.
***@***
__ADS_1
Malam harinya. Malam setelah semua aktivitas terlewati. Kini saatnya mengistirahatkan tubuh.
Farah sudah memakai baju tidur yang lumayan seksi. Hanya ada tali kecil di kedua pundaknya. Jika ditanya, apakah dia memiliki hasrat, jawabannya adalah iya. Dia memiliki hasrat. Dia seperti wanita biasa yang memiliki itu. Dia layaknya wanita biasa yang juga menginginkan itu.
Farah meletakkan sisir di atas nakas setelah menyisir rapi rambutnya. Tepat setelah itu, pintu kamarnya terbuka.
Wajah Zayn bersemu merah saat mendapati istrinya begitu cantik dan terlihat seksi malam ini.
"Uhumm." Zayn terbatuk kecil. Dia segera mengunci pintunya.
"Berbincang dengan Ayahnya sudah?" tanya Farah.
Zayn mengangguk. Dia menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongan yang rasanya mengering. Tanpa melepas pandangan, Zayn melangkah mendekati Farah. Dia mengulurkan tangan dan mengusap rambut Farah dengan kasih.
"Sayang, kamu sangat cantik," tuturnya memuji.
Farah tersenyum senang dengan rona dikedua pipinya. "Masyaallah," imbuh Farah.
Pelan, tangan Zayn turun untuk mengusap pipinya dan kemudian menunduk untuk membuat ciuman pada bibirnya.
Suara malam begitu syahdu. Berbaur dengan angin dan jangkrik yang bernyanyi di luaran sana. Lampu utama itu sudah mulai padam. Kedua anak manusia itu sudah mulai tenggelam.
__ADS_1
"Mas," Farah menahan tubuh Zayn. Dia kemudian dengan malu mengambil minyak zaitun yang tadi siang baru ia beli. "Ini," ucapnya seraya memberikan minyak zaitun pada Zayn.
Minyak Zaitun?