
Malam hari berikutnya, mereka tidak mencobanya lagi. Farah masih merasa sedikit trauma. Ya, sebenarnya ada rasa tidak percaya diri dan minder dalam dirinya. Terkadang, dia bahkan mereka takut untuk mencobanya lagi. Namun dia selalu membalik pikirannya berkali-kali.
Jika dia tidak mau mencobanya lagi, bagaimana dengan Zayn. Itu adalah hak Zayn. Semua laki-laki yang telah memiliki istri pasti membutuhkannya. Jika Farah tidak melawan ketakutannya, bagaimana jika Zayn meninggalkannya. Farah tidak mau itu.
"Aku sudah menemukan tempat olah raganya, Mas," ucap Farah pada kesempatan yang lain.
"Olahraga jenis apa?" tanya Zayn.
"Ada senam kegel dan yoga," jawab Farah. "Untuk saat ini, aku ingin mencoba yoga dulu."
Zayn mengangguk. "Semangat," ucapnya.
Dan mereka melewati malam ini dengan begitu panjang.
Malam yang Farah rindukan itu entah kapan bisa menemuinya. Malam-malam ini masih terasa menyedihkan. Begitu pilu dengan sayatan kekecewaan dan ketakutan.
Dalam hati, sebenarnya ada ketakutan besar. Farah takut dia menderita sesuatu yang diam-diam menggerogoti tubuhnya. Suatu penyakit yang ternyata bersarang di tubuhnya. Namun dia selalu menampik akan hal itu. Dia selalu mengatakan pada dirinya jika dia baik-baik saja. Sedikit demi sedikit, dia akan mengubah pola hidupnya. Semoga ini bisa membuat keadaannya menjadi membaik.
Sepulang mengajar, Farah izin pada Zayn untuk pergi ke kota. Ini adalah hari pertama dia mengikuti kelas yoga.
Saat kelas yoga selesai, Farah tidak berani pulang. Dia takut mendapat tatapan tajam dari mertuanya karena pulang terlambat. Dia juga tidak berniat untuk memberi tahu tentang dirinya yang mengikuti kelas yoga. Dia takut ibu Atun akan menganggap jika itu adalah pekerjaan yang sia-sia dan menghamburkan uang.
Farah mengirim pesan untuk Zayn.
"Mas," ketik Farah dalam pesannya.
"Ya, Sayang," balas Zayn. Kerjaannya sedang tidak banyak. Jadi dia bisa dengan cepat membalas pesan istrinya. "Yoganya sudah selesai?" tanya Zayn selanjutnya masih dalam chat.
__ADS_1
"Sudah tapi aku enggak berani pulang," jawab Farah.
"Kenapa?"
"Takut dimarahin ibu." Farah menjawab jujur. "Takut Ibu ngira aku borong minimarket lagi."
Zayn tertawa kecil membaca balasan Farah. Sepertinya, dia harus berbicara pada Ibunya agar tidak begitu keras pada Farah. Agar membiarkan Farah nyaman saat berada di rumahnya.
"Ya sudah nanti kita pulang bareng."
"Tapi aku tidak mau ke kantor kepala desa. Teman-teman Mas selalu meledek."
Dan ponsel Farah berdering. Dia menerima panggilan dari Zayn.
"Mau jalan-jalan dulu?" tanya Zayn setelah panggilan terhubung dan mengucap salam.
"Jalan-jalan kemana?" Farah balik bertanya.
Pada akhirnya, Farah jalan-jalan dulu. Dia pergi ke sebuah toko baju dan membelikan baju untuk Zayn serta adiknya.
"Sayang, dimana? Sebentar lagi aku pulang." Zayn mengirimi Farah pesan.
"Masih di kota, Mas. Tunggu aku di tikungan masuk desa ya, Mas," balas Farah. Wanita itu kemudian membawa motor matic merahnya untuk kembali. Sudah ada Zayn saat ia sampai di pertigaan masuk desanya.
Farah tersenyum melihatnya. Dia merasa bersyukur karena Zayn adalah laki-laki yang sabar dan sangat pengertian padanya.
Pelan, Farah menghentikan motornya tepat di samping mobil Zayn. Laki-laki itu segera membuka kaca mobilnya dan tersenyum menyapa istrinya.
__ADS_1
"Ayo pulang," ucap Farah. "Aku ada sesuatu untuk Mas," lanjutnya. Setelah mengatakan itu, Farah kemudian melajukan motornya lagi dengan Zayn yang membuntutinya dari belakang. Laki-laki itu menatap penuh cinta wanita yang ada di depannya.
Sesampainya di kamar, Farah memberinya baju yang baru saja dia beli.
"Suka nggak, Mas?" tanyanya. "Uuhh, ganteng banget." Farah mencubit-cubit pipi Zayn.
"Terima kasih, Sayang," ucap Zayn. Dia mencium pipi Farah dengan sayang.
Saat malam tiba. Farah selalu diliputi kecemasan. Dia bahkan memiliki perasaan takut dalam dirinya.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan Zayn belum juga kembali. Laki-laki itu tengah menghadiri rapat di kantor kepala desa.
Di atas ranjang, Farah duduk dengan mencoba menyilangkan kedua kakinya seperti saat ia berlatih latihan dasar Yoga tadi. Dia kemudian memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam.
Saat ini, Farah memiliki pikiran untuk mencoba dengan jarinya. Ini, bukan tentang hal yang dilarang tetapi dia hanya ingin memastikan, apakah menggunakan sesuatu yang lebih kecil, bisa atau tidak. Mungkin, ini akan menjadi salah satu terapinya.
Jantung Farah berdegup kencang. Dia membaca istighfar dan basmalah terlebih dahulu untuk mencobanya. Dia mencobanya dengan sangat hati-hati.
Dan ia memekik tertahan karena merasakan sakit saat jarinya menekan di sana. Sama seperti saat ia mencobanya dengan Zayn. Tiba-tiba otot-ototnya menegang dan menolak semuanya.
Jadi ... dengan jarinya bahkan tidak bisa. Farah menghela nafas kecewa. Dia takut. Dia khawatir. Ada apa dengan dirinya. Kenapa dia begini.
Air mata Farah menetes. Dia menunduk merasakan ketakutan dalam dirinya. Apakah dia mengidap sebuah penyakit? Penyakit apa yang seperti ini. Sepertinya, teman-teman dan semua wanita yang ada di desa tidak ada yang seperti dirinya.
Farah akan lebih giat lagi untuk ikut kelas Yoga. Jika satu bulan nanti masih belum membuahkan hasil, dia akan datang ke dukun bayi. Barangkali, Mbah dukun bayi bisa membantunya.
Farah mengganti baju tidurnya dengan baju tidur panjang. Dia bahkan langsung memejamkan matanya setelah itu. Farah tidak ingin melihat kekecewaan lagi di wajah Zayn.
__ADS_1
_______
jangan lupa like koment ya kawan tersayang 😘 Terima kasih.