
Malam ini, Zayn dan Farah mencobanya lagi. Barangkali setelah di pijat akan bisa. Farah juga menyiapkan baby oil serta minyak Zaitun sebagai cairan.
Namun lagi-lagi mereka gagal. Dan entah harus menghabiskan berapa malam untuk selalu menelan kecewa ini.
"Bagaimana jika kita periksa saja?" Zayn menyarankan.
"Aku takut, Mas," jawab Farah dengan gelengan.
Zayn menghela nafas panjang. "Tapi jika begini, kita tidak akan tahu penyebabnya. Apakah ada sesuatu atau kenapa."
"Aku akan minum jamu dan obat-obat herbal, aku akan rajin ikut yoga dan pijat," rengek Farah. Dia benar-benar takut untuk periksa ke dokter. Apalagi ini tentang organ reproduksinya.
Zayn menggenggam tangannya. "Kita periksa saja, ya, Sayang. Agar cepat ditangani," bujuk Zayn. "Ini sudah bulan ke enam kau berusaha selain pada dokter, tapi belum ada hasilnya."
Farah menatap suaminya. Ada ketakutan di dalam mata wanita itu.
Bagaimana jika ternyata aku punya penyakit yang serius, Mas?" Farah bertanya dengan kecemasan dalam hatinya.
"Kita obati. Jika perlu, kita cari dokter terbaik," jawab Zayn. Dia mengusap pipi Farah lalu memeluknya. "Kita berobat ya, Sayang. Jika ini adalah sebuah penyakit, maka agar segera mendapatkan obatnya," bujuk Zayn.
Bertemu dokter dan menerima diagnosa bukanlah hal mudah seperti yang orang katakan. Itu harus memiliki tekad dan kesiapan.
"Tapi, Mas. Aku ...."
"Sayang, apa kau tidak kasihan padaku?" tanya Zayn. Dia menggunakan dirinya agar Farah mau berobat ke dokter.
Farah melepaskan pelukannya dan menatap Zayn. Banyak sekali perasaan bersalah dalam dirinya pada Zayn. Banyak sekali perasaan syukur dalam hatinya untuk Zayn. Laki-laki yang begitu sabar padanya.
"Aku min---"
Zayn menutup bibir Farah dengan jarinya. "Sttt. Jangan bilang maaf lagi. Aku hanya ingin satu. Kita ikhtiar ke dokter."
__ADS_1
Pada akhirnya, Farah mengangguk. "Jangan bilang siapa-siapa, ya, Mas. Termasuk Bapak dan Ibu. Aku takut nanti Bapak dan Ibu bertanya macam-macam, aku bingung jawabnya," pesan Farah.
Zayn mengangguk. "Iya, Mas tahu," jawabnya.
"Kalau bisa dokternya cewek ada engga ya, Mas?" tanya Farah. Dia merasa malu jika dokternya laki-laki.
"Nanti Mas cari info dulu," jawab Zayn. Yang terpenting sekarang adalah Farah mau untuk berobat ke dokter.
***@***
Sepulang dari mengajar, Farah datang ke tempat praktek Bu bidan. Ini karena besok ada pembagian vitamin untuk anak-anak sekolah dasar. Memiliki kesempatan ini, Farah bertanya tentang dokter SpOG wanita di kota ini.
"Dokter wanita sepertinya belum ada, Bu," jawab Bidan desa. Beliau kemudian merekomendasikan dokter SpOG yang sudah terkenal dan bagus.
Setelah berbincang dan selesai mendata nama-nama murid, Farah kemudian pamit.
"Eh ada Bu Farah," sapa seorang tetangga yang kebetulan datang ingin suntik KB.
"Sudah berapa bulan, Bu?" tanya tetangga tadi.
Farah tersenyum sekali lagi. Kali ini sebuah senyuman canggung. "Belum, Bu," jawabnya.
"Oh, kirain kesini sedang kontrol hamil."
"Enggak, Bu," jawab Farah sopan. Dia kemudian pamit dengan sopan.
Tempat praktek Bidan, tak jauh dari Balai desa. Farah mampir dulu kesana sekedar menyapa suaminya. Seiring berjalannya waktu, sudah tidak ada ledekan seperti dulu saat mereka masih menjadi pengantin baru.
"Assalamualaikum, Pak Sekdek. Saya mau bikin surat keterangan tidak mampu," ucap Farah saat melihat Zayn begitu sibuk dengan komputer di mejanya.
Mendengar suara itu, Zayn langsung mengangkat wajahnya. "Wa'alaikumussalam," jawabnya. "Surat tidak mampu melupakanmu," lanjut Zayn menebak maksud istrinya.
__ADS_1
Farah menggeleng. "Tidak mampu menahan rindu terlalu lama," jawabnya dengan senyum. Dan tawa gemas dari Zayn. Farah kemudian duduk di depan Zayn.
"Dari sekolah atau dari mana?" tanya Zayn.
Farah mengeluarkan cemilannya dan menyuapi Zayn.
"Dari Bu bidan," jawab Farah pelan.
Zayn mengangguk-angguk. Dia membuka mulutnya lagi untuk menerima suapan dari Farah.
"Aku menanyakan tentang dokter spesialis itu. Tapi kata Bu bidan, di kota ini belum ada dokter spesialis SpOG wanita," jelas Farah dengan suara yang pelan.
"Lalu?" Zayn mulai khawatir, takut Farah mengurungkan niatnya. Takut gadis ini berubah pikiran. "Dimanapun itu, ayo kita kesana. Mas bakal mengantarmu."
"Jauh," jawab Farah. "Tapi tadi Bu Bidan ngasih rekomendasi. Beliau bilang jika, dokter SpOG ini sangat bangus dan berpengalaman."
Zayn mengangguk. "Jam berapa beliau praktek?" tanyanya.
"Jam empat," jawab Farah.
Zayn mengangguk lagi. Dia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Farah. "Kita kesana hari ini, ya," ajaknya dengan kelembutan.
Farah menatapnya. Menatap kedalam matanya. Dan gadis itu meyakinkan hatinya untuk memeriksakan diri ke dokter. Semua usaha telah ia lakukan. Kini ke dokter adalah ikhtiar selanjutnya.
Farah mengangguk. Persetujuan yang disambut senyum di bibir Zayn. Berbicara tentang hasrat lelakinya, sangat tidak bisa dipungkiri jika dia sangat membutuhkannya. Dia juga ingin seperti suami lainnya yang bisa menyalurkan hasrat dengan sewajarnya.
___________
Catatan Penulis 🥰🙏
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 😘 Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1