
Malam terasa semakin dingin dan hening. Zayn membisikkan untaian kata indah pada Farah. Dan dengan mengucap do'a dia mencoba untuk mengambil kembang itu lagi. Kembang perawan yang masih belum bisa ia ambil sedari mereka menikah.
Farah mencengkeram kuat lengan kokohnya. Wanita itu mencoba menahan rasa sakit berharap Zayn bisa melakukan tetapi sungguh ini terlalu sakit hingga seolah meremukkan tubuhnya.
"Mas," panggil Farah dengan mendorong tubuh Zayn. Dia tidak sanggup.
Seperti malam yang sudah-sudah, Zayn mengangguk mengerti. Dia melepaskan Farah dan memeluknya.
"Aku minta maaf, Mas," ucap Farah. Ucapan yang sama seperti malam-malam yang telah lalu.
Zayn menggeleng. Dia mengusap air mata Farah.
"Jangan meminta maaf, tidak apa-apa," jawabnya dengan ketulusan. "Dan bolehkah aku meminta suatu?" tanyanya kemudian.
Farah menatapnya. Dia dilanda kecemasan. Meminta sesuatu? Bagaimana jika Zayn meminta menikah lagi karena Farah tidak bisa memenuhi kebutuhan batinnya. Bibir Farah bergetar. Dia mengalihkan pandangan.
"Apa?" tanyanya sedih.
Zayn mencium pipinya. "Jangan menangis lagi," ucap Zayn penuh kasih.
Farah segera membawa pandangannya pada Zayn. Hati yang sempat begitu cemas kini digantikan perasaan haru yang menyelimuti.
Zayn membalas tatapan matanya. "Jangan menangis setelah kita mencobanya. Itu membuatku merasa bersalah karena menyakitimu," ucap Zayn.
Mendengar itu, mata Farah berkaca-kaca, dia begitu terharu. "Mas." Dan Farah memeluknya dengan erat.
Zayn mengusap-usap punggungnya dengan sayang.
"Saat kau mulai merasakan sakit, beritahu aku. Agar aku tidak semakin membuatmu sakit," ujar Zayn.
Farah mengangguk. "Terima kasih atas sabarmu, Mas," ucapnya.
__ADS_1
Zayn mencium rambutnya. Namun tak lama dia merasakan sesuatu yang lain. Sebuah sentuhan dari tangan halus Farah.
"Farah," panggil Zayn tertahan. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Farah.
Wanita itu tersenyum manis. "Izinkan aku sedikit menuntaskan hasratmu, Mas," ucap Farah lembut. Ustazah bilang, jika dia bisa membantu Zayn dengan tangannya. Ini adalah salah satu bentuk upayanya untuk Zayn. Karena Farah yang belum bisa menjadi istri yang sempurna.
Zayn mengangguk mempersilahkan dengan senyum. Dia kemudian menunduk untuk mengambil ciuman.
Dua hubungan yang terjalin atas nama cinta. Semangkuk cinta berpayung ridlo dari Allah. Semangkuk cinta yang tidak ingin mereka bagi.
'Mas, setialah selamanya. Aku akan mencoba berbagai cara agar kau tetap bahagia bersamaku,' batin Farah.
Malam ini ... walaupun mereka gagal lagi tetapi dihadapi oleh perasaan saling rela dan mengerti. Mereka akan sama-sama mencari solusi.
****@****
"Ibu, dukun bayi yang bagus, Mbah siapa ya?" tanya Farah sore itu saat mereka duduk di teras. Zayn tengah bermain voli di lapangan desa saat ini.
"Kamu mau urut? Ke Mbah Wasinah, bagus," jawab sang Ibu. Beliau juga setuju jika Farah urut Mbah dukun bayi, agar letak rahimnya dibenarkan. Kepercayaan warga sekitar memang seperti itu. Dengan diurut, bisa segera memiliki keturunan.
Farah mengangguk.
"Nanti saja habis Magrib, Bu," jawab Farah. Semakin cepat, semakin baik, pikirnya.
Sang ibu mengangguk. "Kalau nanti malam, biar ibu siapkan dulu gula, teh dan beras untuk dibawa kesana," ujar Bu Mia. Beliau beranjak untuk pergi ke warung membeli gula dan teh.
Mbah Wasinah tidak memasang tarif, beliau mengerjakan profesinya sebagai dukun pijat turun temurun dengan dibayar seikhlasnya.
Di sana. Di lapangan voly. Permainan itu telah selesai dan para pemainnya mampir ke warung samping lapangan untuk melepas dahaga.
"Wahh ada Mbak mantan," seru salah satu teman Zayn.
__ADS_1
Seorang wanita cantik yang kebetulan ada disana menoleh dan langsung menemukan Zayn diantara banyaknya pemain voly yang ada di warung itu. Bibirnya tersenyum manis menyapa meskipun dia tidak menerima balasan. Laki-laki itu bahkan enggan menatapnya.
"Beli apa Nez?" tanya salah satu teman Zayn lainnya.
"Inez beli gorengan, Mas," jawab wanita cantik itu dengan suaranya yang lembut. Dia datang dengan dua teman wanitanya.
"Eh ketemu mantan, aseeek." Kini teman Inez yang meledek.
"Awasi, awasi," goda mereka.
"Takut ada yang CLBK."
"Huss, kasihan yang di rumah."
Cewek-cewek memang sangat pandai mencari bahan untuk mereka bahas. Inez tersenyum dan beberapa kali melirik Zayn.
"Mas Zayn, bayarin dooong," pinta Inez yang mencari perhatian.
Zayn menatapnya sekilas lalu menatap teman-teman main volinya.
"Ya, silahkan ambil yang kalian inginkan. Memang hari ini aku yang bayar," jawabnya. Dia menyetujui dengan mentraktir semua teman-teman volinya, tidak dikhususkan untuk Inez dan teman-temannya.
"Yeyyy," seru teman Inez.
Sementara Inez tersenyum manis dengan menatap Zayn. Tatapan mata yang terkadang bertemu.
"Terima kasih, Mas Zayn," ucap Inez dengan senyum.
Zayn mengangguk samar tetapi tidak menjawabnya.
________
__ADS_1
Catatan Penulis 🥰
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 😘 Terima kasih. Luv Luv