
Zayn menatapnya dengan senyum sedih. "Kenapa pulang? Kita masih libur empat hari lagi," tanyanya.
Farah menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, aku ingin pulang saja," jawabnya rendah dengan tercekat.
"Kita kesini untuk berlibur, jangan ada yang dipikirkan, okey."
Farah menatapnya. "Bagaimana aku tidak memikirkannya, Mas. Kita kesini untuk berbulan madu tetapi hingga saat ini, aku masih sangat payah. Aku---"
"Sttt." Zayn mengusap bibirnya. "Istighfar. Jangan bilang begitu."
"Tapi nyatanya memang seperti itu."
"Far!!!"
Air mata Farah menetes. Dia tidak memberikan jawaban lagi. Dia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri. Kenapa dia sangat payah dalam melayani suaminya.
Zayn merengkuhnya. Memeluknya penuh pengertian.
Farah menggenggam baju lengan Zayn. Dia menangis dalam pelukan suaminya. "Maafkan aku, Mas," ucapnya.
Zayn mengangguk memaklumi. "Tidak apa-apa," jawabnya. "Tidak apa-apa, Sayang." Dia mengusap punggung Farah perhatian. Dia sungguh memaklumi itu. Dia sungguh ridho.
"Yuk, jalan-jalan," ajaknya lagi. Namun Farah menggeleng. Hatinya tak lagi seindah pertama datang kemari. Dia sangat sedih karena ternyata dia begitu payah.
__ADS_1
Zayn melepaskan pelukannya. Dia menatap Farah dan mengusap air matanya. "Jangan dipikirkan. Kita bisa mencobanya lagi. Jika kau bersedih, bagaimana denganku?" Zayn mengusap rambutnya dengan sayang. "Mas sungguh tidak apa-apa. Mas Ridho. Justru Mas sedih jika kamu begini," ucapnya.
Air mata Farah menetes. Benar-benar terima kasih atas kesabaran Zayn padanya. Farah menghamburkan pelukannya pada Zayn. "Aku mencintaimu, Mas," ucapnya.
Zayn mendekapnya. Mengusap rambutnya. "Mas juga mencintaimu. Sangat. Sangat banyak."
Zayn berhasil membujuk Farah. Dia berhasil menghibur istrinya. Hari ini dan bulan madu ini biarlah terlewati begitu saja tanpa malam warna merah di atas seprei. Tak apa ... Zayn tidak menuntutnya.
Malam-malam bulan madu terlewati begitu saja. Zayn tak lagi memintanya. Dia tidak ingin Farah menjadi murung dan menangis saat mereka di Karimunjawa. Tak mengapa, bukankah hari masih begitu panjang. Dia akan selalu sabar untuk menunggu Farah, hingga wanita itu telah siap.
Dan ... ini adalah malam terakhir mereka di Karimunjawa. Malam ini, mereka berendam dan sesekali mencoba berenang di kolam renang belakang homestay. Menikmati malam bertabur bintang dengan sinar bulan bulat yang membias dalam lautan luas.
"Karimunjawa adalah tempat yang ingin kunjungi sedari aku masih SMA," cerita Farah.
"Tapi ibu tidak pernah mengizinkan untuk datang kesini," lanjut Farah.
"Kenapa?"
"Takut nyasar, takut kenapa-kenapa, dan masih banyak sekali alasan ibu untuk tidak mengizinkan anaknya jalan-jalan," jawab Farah. Dia mengusap lengan Zayn di bawah permukaan air. "Mas tahu sendiri kan, aku menjadi sangat KuPer -Kurang Pergaulan- dan menjadi anak rumahan."
"Ibu sudah benar," jawab Zayn. Dia membela ibu mertuanya.
Farah menoleh menatapnya. "Kenapa begitu? Aku bahkan merasa kesal. Setiap kali teman-teman post foto jalan-jalan, aku hanya bisa melihat tanpa bisa seperti mereka yang bebas kemanapun."
__ADS_1
"Itu karena ibu sangat menjagamu, Sayang. Dan sepertinya aku harus berterima kasih pada beliau. Ibu dan bapak menjagamu dengan sangat baik untukku." Zayn mencium pipi Farah. "Mas akan menjagamu dengan sangat baik, untuk mereka," Zayn melanjutkan.
Farah membalik badan dan memeluknya. "Sayang Mas banyak-banyak," ucapnya.
Setelah selesai membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Farah mendatangi Zayn dengan baju tidur yang tipis, walaupun bukan baju tidur transparan tetapi itu adalah jenis baju tidur yang lumayan seksi.
Farah bukanlah tipe wanita yang berani menggoda. Dia sangat malu dan harus mengumpulkan seluruh keberaniannya hanya untuk memakai baju tidur yang sebenarnya mungkin tidak begitu seksi -bagi wanita lainnya- Namun bagi Zayn ini sudah sangat luar biasa. Mereka adalah pasangan yang sederhana.
"Apakah bidadari telah datang padaku malam ini," ucap Zayn sambil menatap Farah yang melangkah malu-malu kearahnya.
Farah tidak ingin menyerah begitu saja. Dia ingin memberikan hak pada suaminya. Dia ingin Zayn menerima sesuatu yang memang seharusnya laki-laki itu terima pada hari-hari pengantin baru mereka.
Zayn berdiri menyambut bidadarinya. Mengulurkan tangannya dan menunduk mencium tangan Farah saat wanita itu menerima uluran tangannya.
Zayn lalu memeluknya. Mengajaknya untuk sedikit bergerak seperti seseorang yang tengah melakukan dansa.
"Sayang, kau sangat cantik." Terangkai pujian dari bibir Zayn. Dia juga meninggalkan kecupan pada leher Farah. Merambat halus pada telinga wanita itu.
Farah memeluknya. Menyerahkan dirinya dengan sangat rela. Membiarkan Zayn melakukan apapun yang laki-laki itu inginkan pada dirinya. Dan sungguh ... Farah mulai terbuai. Nafasnya mulai tergesa.
"Mas, aku sungguh memberikan diriku padamu. Ambil bunga itu apapun yang terjadi," ucap Farah di sela ciuman yang Zayn berikan..
Dengan penuh kasih sayang, Zayn mengangkat Farah, menggendong wanita itu dan merebahkannya di atas ranjang.
__ADS_1
Farah menyambutnya dengan cinta. Apapun yang terjadi malam ini. Dia harus berhasil. Dia akan menahan segala rasa sakit yang mungkin akan menyerangnya. Ini adalah malam terakhir bulan madu mereka.