Sang Perindu Kesempurnaan

Sang Perindu Kesempurnaan
Malam Kedua


__ADS_3

Malam kedua, kamar ini masih begitu hangat. Harum bunga melati khas pengantin masih semerbak wangi memenuhi ruangan ini.


Di atas ranjang, mereka bercerita tentang masa kecil mereka. Farah yang sangat benci pada Zayn karena sering mengganggunya. 


"Aku nangis setiap kali pulang sekolah dan mengadu sama Ibu," ucap Farah.


"Dan besoknya aku di jewer," sahut Zayn. Ada tawa di ujung bibirnya saat ia mengatakan itu.


"Tapi nanti Mas nakalin aku lagi." Farah juga tertawa kecil mengingat masa kecil mereka.


"Kamu lucu. Jadinya Mas suka gangguin."


Farah menatap Zayn dengan senyum lebar. "Jangan-jangan ... Mas suka ya ... hayooo." Gadis itu meledeknya. Ia mengangkat jari telunjuknya untuk menunjuk Zayn. "Hayooo ketahuan naksir aku dari kecil," ledeknya lagi.


Zayn menggerakkan wajahnya untuk mengigit jari telunjuk Farah, membuat wanita itu memekik manja.


"Jika iya kenapa?" Zayn baik bertanya.


Farah menepuk-nepuk pipi Zayn. "Tapi kenapa Mas malah pacaran sama dia, hmm."


"Tapi sebenarnya aku sukanya sama kamu," jawab Zayn. Jawaban yang membuat pipi Farah merona.


"Bohong," sahutnya malu. Tangannya kini berada di pinggang Zayn dan membuat gerakan kecil di sana.


"Serius," jawab Zayn.


"Bohong." Farah menggerakkan tangannya di pinggang Zayn. Laki-laki itu segera menangkapnya dan kembali mengigit jari Farah.


"Geli," ucap Zayn.


Farah menatapnya. "Oh ya? Mistos mengatakan bahwa itu artinya istri Mas cantik."


Zayn mengusap rambutnya dengan sayang. "Ya. Istri Mas memang cantik, sangat cantik, masyaallah."


Kedua mata mereka saling menatap penuh kasih. Zayn menelan ludahnya dan kemudian membuat kecupan di kening Farah. Memberikan do'a dalam kecupan kecilnya.


"Sayang," panggil Zayn.


"Hmm." Jantung Farah berdegup kencang. Kedua tangannya berada di dada Zayn dan ia menggenggam erat baju yang Zayn kenakan.


Malam begitu senyap dan tenang. Dari sebuah kecupan kecil di kening, lalu pada pucuk hidung dan perlahan kedua bibir mereka bertemu, membawa mereka pada taman yang indah bernama keinginan cinta. Perlahan, mereka mulai hanyut dalam alunan kasih yang mereka bangun. Namun kecemasan mulai menghampiri hati Farah saat perlahan Zayn menanggalkan pakaiannya satu persatu.

__ADS_1


"Mas!" Gadis itu meletakkan tangannya di dada Zayn agar laki-laki itu tidak memeluknya. Kedua bola matanya bergerak menatap Zayn dengan cemas. Masih begitu jelas dalam ingatannya bagaimana malam kemarin sangat menyakitinya. Masih begitu jelas terasa bagaimana saat itu membuatnya hampir pingsan. Ada rasa takut dalam dirinya untuk mencobanya malam ini. Namun bukankah itu adalah kewajibannya sebagai istri.


Zayn mengusap pipinya. Dia mengerti kecemasan Farah. "Mas ada libur dan akan mengambil cuti. Bagaimana jika kita bulan madu?" tanyanya lembut. Dia menarik selimut dan menyelimuti Farah. Dia mencoba melupakan apa yang sedang ia inginkan.


Kedua mata Farah berubah sendu. "Maafkan aku, Mas," ucapnya. Dia menunduk.


"Tidak apa-apa," jawab Zayn perhatian. Dia mengecup pucuk kepala istrinya.


"Bukan aku tidak ingin menunaikan kewajibanku sebagai istri tetapi aku sungguh merasa takut. Mohon keridhaan Mas untuk menunggu hingga aku melupakan rasa sakitnya," ucap Farah dengan menunduk. Dia merasa berdosa. Malam ini, dia tidak bisa memberikannya.


Zayn mengusap punggungnya. "Tidak apa-apa, Sayang. Mas ridho," jawab Zayn. "Jangan dipikirkan," lanjutnya. "Kamu ingin bulan madu kemana?" tanyanya segera untuk mengalihkan kesenduan malam.


"Apakah ada pilihannya?" Farah balik bertanya.


"Bali, Semarang, Jakarta, Bandung, Karimunjawa, Bogor, Kepulauan seribu, Jakarta, Jogjakarta, Surabaya." Zayn menyebutkan beberapa kota wisata.


Farah nampak berfikir sejenak. "Boleh milih dua atau tiga?" tanya Farah.


Zayn tersenyum lebar. "Satu saja dulu, Sayang. Mas tidak di beri izin libur banyak," jawab Zayn. "Nanti kalau ada libur lagi, kita jalan-jalan lagi."


Farah mengangguk. Dia juga tidak memiliki libur yang banyak. "Karimunjawa," jawab Farah. Dia memilih Karimunjawa sebagai tempat bulan madu mereka. Bulan madu yang sebenarnya tidak masuk dalam rencana mereka berdua.


"Baik, besok kita langsung berangkat." Zayn menyetujui.


Zayn kembali membuat kecupan di keningnya. "Selamat tidur, Istri cantik," ucapnya dengan pujian. Itu membuat rona di kedua pipi Farah.


"Selamat tidur Mas," jawab Farah.


Malam ini masih belum bisa menjadi malam mereka berdua. Bintang di atas sana berkerlip indah begitu setia menemani malam-malam yang pekat.


***@***


Setelah menengadahkan kedua telapak tangan di sepertiga malam, Farah mulai merapikan baju-baju yang akan mereka bawa ke Karimunjawa.


"Memangnya berangkat ke sana, mendadak seperti ini, bisa Mas?" tanya Farah.


"Bisa," jawab Zayn. "Kita pamit dulu sebentar ke rumah Ibu, ya," ucap Zayn selanjutnya. Ibu yang ia maksud adalah ibunya. Ya, karena saat ini ia masih berada di rumah ibu Farah.


"Iya," jawab Farah. "Kita berangkat jam berapa ke Jepara?"


"Harusnya ini sudah berangkat, karena kapal akan berangkat dari pelabuhan pukul tujuh pagi."

__ADS_1


"Astagfirullah." Farah langsung memekik kaget. Dia langsung berdiri dan menarik Zayn. "Ayo, ayo. Kenapa Mas santai banget. Ayo cepat, aku tidak mau tertinggal kapal dan gagal ke Karimunjawa," ucap Farah bersemangat.


Zayn terkekeh. "Iya, iya," jawabnya. "Mas buka sarung dulu."


Farah melepaskan tarikan tangannya. Dia segera mengganti pakaiannya dan merapikan skin care yang wajib ia bawa.


Mereka kemudian pamit kepada kedua orang tua Farah.


"Lho, kenapa buru-buru sekali?" Bu Mia terkejut.


"Nanti ku ceritakan, pokoknya hari ini Farah dan Mas Zayn mau ke Karimunjawa," jawab Farah. Dia segera mencium tangan dan pipi ibu dan bapaknya.


"Tunggu sebentar. Ibu ada pisang, ada kolak. Ibu juga masak ayam kecap dan ketan serundeng. Tunggu bawa buat bekal kalian." Bu Mia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan.


Farah segera mengejarnya. "Ibu terima kasih tapi ini tidak sempat. Aku dan Mas Zayn harus segera berangkat," ucap Farah. Dia mencium pipi Ibunya sekali lagi. Di ikuti Zayn yang mencium tangan Bu Mia.


"Ya Allah, kenapa kalian buru-buru sekali. Kalian belum sarapan." Bu Mia ikut panik terburu-buru. Sambil menjawab, beliau sambil memasukkan pisang dan ketan serundeng.


Farah sudah berlari lebih dulu ke depan, sementara Zayn masih menunggu ibu mertuanya yang ingin membawakan bekal.


"Ini, ini. Buat bekal nanti kalau di jalan lapar." Bu Mia memberikan pada Zayn.


"Maass!!" Terdengar teriakan Farah dari luar.


"Ya Allah, kenapa buru-buru sekali kalian ini. Bukannya bilang dari semalam. Biar Ibu bisa menyiapkannya." Bu Mia menggerutu sambil berjalan ke depan.


Zayn mencium tangan bapak mertuanya dan kemudian masuk ke dalam mobil bersama Farah.


"Assalamualaikum," ucap Zayn.


"Assalamualaikum," sambung Farah dengan lambaian tangan.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati di jalan. Selamat sampai tujuan dan balik ke rumah." Bu Mia membalas lambaian tangan putrinya.


_____


Catatan Penulis 🥰🙏


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang aku 😘 Okey.


Oh iya. Aku minta maaf kalau ada kata yang salah. Misal ... "Masyaallah. Mashaallah. Masha Allah." atau "Khusnul / Husnul."

__ADS_1


Ucapkan itu dengan benar dalam lisan atau hatimu, tidak perlu memperdebatkan sebuah tulisan mana yang sesungguhnya benar. Okey.


Maaf curhat dulu ya, sebelum ada yang ceramah soal tulisan 😅😘😘 Makasiih semuanya. Ilupyu poreper.


__ADS_2