
“vira” panggil dika membuat vira melihatnya, dika masih ragu takut vira menolaknya membuat dirinya malu.
“aku ingin malam ini aku meminta hak ku” ucap dika menatap vira dengan ragu namun yang dipikirkan dika salah, vira menganguk mengiyakan ucapan dika.
Suasana pun berlalu, langit gelap mulai memudar tetesan air mata terus mengalir dipelupuk wanita itu, wanita yang sudah melaksanakan kewajibannya kepada suaminya dan tinggal menunggu mendapatkan hasil yang dapat menyenangkan keluarga barunya ini.
‘sabar untuk menunggu’ bisik vira didalam batinnya mengingat kejadian tadi dengan terpaksa dirinya melepaskan mahkota berharganya kepada pria disebelahnya ini yang sedang tertidur kelelahan sembari memeluk dirinya.
‘segeralah engkau hadir di sini, agar diriku tidak tersentuh lagi oleh siapapun’ ucap vira dalam hati sembari mengelus perutnya yang datar itu.
***
Sinar mentari mulai memasuki ruangan bernuansa hitam putih dan mengusik tidur kedua sejoli yang sudah beradu kasih. Bukan mengusik kedua namun satu, setelah melakukan kewajibannya wanita itu tidak dapat tidur dirinya hanya menangis dan memikirkan nasibnya.
Vira merasakan kasur disebelah bergerak dan mendengar suara uapan seseorang yang baru saja bangun.
“vira, aku orang pertama yang mengambilnya ?” tanya pria itu seakan ingat kejadian semalam, membuat pria itu tersenyum mendapatkan angukan sebagai jawaban dari wanita yang masih setia membelakanginya itu.
“terimakasih” ucap pria itu lalu bangun dan pergi masuk kedalam kamar mandi meninggalkan vira yang masih tidur membelakanginya.
Vira memperbaiki dirinya dengan duduk bersandar sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak terdapat sehelai benang. Suara ketukan dari luar terdengar membuat vira bingung.
“non vira tuan dika ini bik ina” ujar bik ina dari luar membuat vira kembali dibuat bingung ingin menjawab apa.
Tiba-tiba dika keluar dari walk in closet dengan pakaian kantor lengkap.
“bik ina akan membantumu membersihkan diri” ucap dika dan melenggang pergi meninggalkan vira menahan kesal yang sedang merutuki dirinya.
Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya yang sedang senyam senyum kearah vira.
“non sudah milik tuan dika seutuhnya” ujar bik ina sembari mengutip pakaian yang terletak dilantai, ucapan bik ina membuat vira tersenyum malu.
“bagus dong, jika begitu rumah tangga tuan dan nyonya akan berjalan dengan baik” ujar bik ina menghampiri vira.
“mari non saya bantu” tawar bik ina menuntun vira berjalan menuju kamar mandi.
***
Di dalam mobil dika tersenyum sembari menatap jendela mobil yang menampilkan pemandangan yang selama ini di hiraukan dika.
‘pantesan dia suka melihat jendela, ternyata bisa merileks kan’ batin dika saat merasakan kerileksan dengan menatap pemandangan luar.
‘tulip kuning’ batin dika di saat ketidak sengajaan matanya melihat taman dengan tanaman bunga tulip berwana kuning dengan bunga tulip warna-warna lain.
__ADS_1
***
“buk” panggil vira yang sedang duduk sembari melihat kegiatan yang di lakukan bik ina.
“iya non” bik ina yang merasa di panggil melihat kearah vira yang sedang duduk di meja riasnya sembari melihat dirinya dengan tatapan penuh pertanyaan.
“bisakah ibu menemaniku pergi ke dokter ?” tanya vira membuat bik ina terkejut, segera bik ina menghampiri vira dengan rasa kuatir saat nyonya muda nya itu menyebut rumah sakit.
“emang ada apa non ? apa non sakit ? atau..”
“hanya menemui dokter itu saja” potong vira untuk menghilangkan rasa kuatir bik ina, dirinya mengerti bahwa bik ina sangat mengkuatirkan dirinya.
“nyonya ingin menemui dokter apa biar saya menelphone dokter keluarga Arios” ucap bik ina.
“tidak perlu bik, aku hanya ingin menemuinya ke rumah sakit itu saja” ujar vira dengan nada keinginan untuk bebas sebentar saja.
“tetapi non majikan dengan pembantu tidak boleh ada hubungan spesial” ucap bik ina dengan nada pasrah dengan peraturan di mension Arios itu.
“sekali saja bik aku mohon” mohon vira dengan wajah memelas.
“non.. baiklah jika begitu” putus bik ina saat melihat wajah vira meminta kepadanya, sungguh berat rasanya untuk menolak permintaan vira. Vira tersenyum saat mendengar bik ina mengiyakan permintaannya itu.
***
satu penerangan.
“kamu tenang saja mereka sudah melakukannya” jawab seseorang dari balik telphone, pria itu hanya tersenyum mendengar jawaban dari orang tersebut.
“itu sangat mudah untuk di lakukan, tidak adakah yang bisa aku lakukan lebih dari ini ?” tanya orang itu membuat pria itu kembali tersenyum.
“kamu tenang saja sayang aku sudah menyiapkan semuanya” ujar pria itu dengan menatap selembar foto yang ada di tangan kirinya.
“baiklah aku akan menunggunya” ujar orang itu dan mengakhiri panggilan itu dengan sepihak.
“langkah selanjutnya”
***
Vira sudah siap dengan pakaiannya dan tas ranselnya, vira keluar kamar dengan berjalan hati-hati saat pintu kamar di buka nampaklah sosok bik ina dengan siaga membantu vira berjalan.
“tidak apa-apa buk santai saja” ujar vira kepada bik ina, bik ina yang mendapatkan ucapan itu dengan segera bik ina mundur.
Vira bejalan yang diikuti bik ina dari belakang, vira berjalan seakan baik-baik saja. Vira menuruni satu demi satu anak tangga dan menampilkan seorang wanita yang sedang berbicara dengan seseorang di balik telphone.
__ADS_1
“ma” panggil vira membuat wanita yang di panggil mama itu menutup panggilannya dan beralih ke arah vira.
“hmm” jawab wanita itu dengan singkat saat melihat menantunya itu ada di hadapannya sekarang.
“ma,-”
“vira mama sedang tidak ada waktu berbicara dengan mu” potong wanita itu dan melenggang pergi meninggalkan vira yang sedang melihat kepergian mama martuanya itu.
Vira akhirnya pergi dengan bik ina yang mengikutinya dari belakang.
***
Di usia muda dimana anak-anak tumbuh dengan aktif, bermain dengan teman-teman menghabiskan waktu masa muda dengan bersenang-senang.
Berbeda dengan wanita yang menjelang usianya genap 18 tahun itu, dirinya harus membuang masa-masa remajanya dengan kehidupannya yang tidak berhenti dengan tangisan.
Kini wanita itu sedang berjalan santai sembari melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing, tidak sengaja matanya tertuju dengan taman yang di penuhi bunga tulip itu dengan segera dirinya melangkahkan kakinya ka taman tersebut.
“waaaa” ucap wanita itu dengan kagum dan sangat bahagia, setelah sekian lama akhirnya dirinya dapat melihat bunga kesukaannya itu dari dekat.
“buk fotoin vira di sini” ucap vira meminta tolong kepada bik ina sembari menyodorkan ponsel kepada bik ina.
Dengan segera bik ina mengambil foto vira dengan vira yang bergaya, tanpa memperdulikan orang-orang yang melihat ke arahnya.
***
“han” titah dika kepada sekretarisnya itu, seakan mengerti han memarkirkan mobil di parkiran yang di sediakan.
Dika turun dari mobil dan berjalan masuk ke taman yang di lihatnya tadi, dengan jalan santai dika berjalan kearah bunga tulip itu.
“tuan” panggil han sembari memberikan topi hitam kepada dika.
Dika mengambil topi itu dan melanjutkan jalannya ke arah bunga tulip itu, dengan seketika langkahnya terhenti.
“waaaa” ucap seorang wanita dengan menggunakan daster bunga-bunga berwarna cokelat itu, dika hendak berjalan mendekati wanita itu namun lagi-lagi wanita itu membuatnya diam.
Dika melihat wanita itu yang berpose, tanpa di sadari dika menampilkan senyum kecilnya saat melihat wanita itu berpose dengan gaya yang menurutnya lucu.
“seperti wanita lepas dari jangkar saja” ucap dika pelan.
“ha? apa tuan?” ujar han saat mendengar dika seperti mengatakan sesuatu, dika hanya mengabaikan ucapan han dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
“sabar” ucap han dan kembali mengikuti dika.
__ADS_1