Santapan Malam (Menangis Dalam Diam)

Santapan Malam (Menangis Dalam Diam)
Santapan Malam 19


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat tanpa menyadari hari-hari yang di tunggu-tunggu semakin dekat, hari – hari yang membawa kabar suka maupun duka.


“vira” teriak seseorang membuat pemilik nama tersebut mengalihkan pandangannya melihat siapa yang memanggil dirinya.


“yuni” ucap vira pelan sembari menahan air mata yang siap menanti untuk jatuh.


“aish akhirnya lo masuk juga, argh setelah berminggu-minggu hilang” ucap yuni dengan kesal, orang yang selama ini mengganggu pikirannya akhirnya mucul di hadapannya.


“owh apa-apaan ini” ucap yuni setengah teriak berhasil membuat vira tidak mengerti apa yang di katakan sahabatnya ini.


“owww ?” nada suara yang selalu ingin vira hindari, vira bertatapan dengan yuni.


‘mata itu, apa yang membuatnya... ha!!’ batin vira berteriak saat mengetahui apa yang terjadi.


“apa lo sudah jebol” ujar yuni dengan nada merayu, mendengar itu vira membalikkan badannya dan melanjutkan jalannya.


“yaaa! kamu aja jalan seperti itu berarti udah kan” teriak yuni membuat semua mata melihat ke arahnya, yuni menetralkan dirinya dan berlari mengejar vira yang sudah berjalan lumayan jauh darinya.


“yaaa! tunggu”


***


“tuan” ujar seseorang sembari memberi menundukkan kepalanya.


“berita apa yang kamu dapatkan tentangnya?” tanya pria itu tanpa mengubah posisinya sedikit pun.


“ternyata vira menikah bukan atas keinginanya, tetapi atas kehendak tuan aga” ujar mata-mata pria tersebut.


“selama nona vira menikah nona hampir sering mengalami kejadian-kejadian yang mmbuat nona diam membisu”


“kejadian” ujar pria yang di panggil tuan itu dengan nada yang cukup misterius.


“iya tuan kejadian-kejadian kecil yang membuat nona vira mengingat kejadian demi kejadian yang membuat nona semakin diam membisu” jelas mata-mata pria itu.

__ADS_1


“kenapa pria breng**k itu semakin menyiksamu” ucap pria itu sembari menatap selembar kertas foto.


“tawamu, keceriaanmu yang dulu sudah hilang tenggelam di lautan air matamu. Tangismu mengisi hari-harimu dan menjadi santapanmu di pertengahan malam”


“bersabarlah, tidak perlu menunggu waktu lama aku akan membebaskanmu sesuai dengan janji ku kepada mu”


***


Suasana riuh, gelar tawa yang menggema memenuhi ruangan. Suasana yang benar-benar di rindukan dirinya, walaupun dirinya tidak pernah bergaul suasana ini penghilang letihnya disaat dirinya membutuhkan hiburan.


Lain hal dengan wanita yang duduk di sebelahnya saat ini yang dulu sangat aktif tiba-tiba menjadi wanita yang betah dengan kegiatannya saat ini.


“ayolah yun aku risih dilihatin seperti itu terus” ujar vira kesal melihat sahabatnya itu tidak seperti biasanya.


“aku hanya heran saja kenapa aku bisa berteman dengan wanita misterius seperti mu” ucap yuni tanpa mengalihkan pandangannya.


“misterius apa ?” tanya vira yang merasakan ada hal aneh terjadi dengan sahabatnya ini.


***


‘sebenarnya aku ingin kamu tetaplah yuni yang dulu, tingkahmu membuatku menghilangkan sakit batinku sejenak. Namun siapa sangkah waktu dan situasi tidak dapat di ketahui sekalipun kita tau itu tidak sepenuhnya benar-benar terjadi’


‘kak aku rindu, aku rindu ceramahmu aku bingung, aku dilema seakan waktu tidak adil kepada diriku, seakan diriku hanya manusia yang tidak berguna yang tidak dapat melakukan apapun demi keinginan sendiri’


“suatu saat jika memang benar diriku tidak ada lagi, atau kemungkinan Tuhan bertindak lain aku berharap kamu di temukan oleh seseorang yang aku harapkan, seseorang yang aku inginkan untuk mengetahui isi hatiku, perasaan dilema ku dan keinginanku yang yang sebenarnya”


“see you, ini harapan ku”


***


“joe”


“hy vir, apa yang kamu lakukan di situ ?” tanya pria yang bernama joe itu sembari menatap tempat dimana vira mengutarakan isi hatinya.

__ADS_1


“ti.tidak apa-apa” jawab vira dan pria itu ber o ria.


“owh ya kamu mau kemana ?” tanya vira kepada joe.


“oh aku mau ziarah ke pemakaman ibu, kamu mau ikut ?” tawar joe kepada vira dan langsung diaguki vira, jawaban yang membuat joe tersenyum.


“ayo” ajak joe dan vira mengikuti langkah joe yang berjalan menuju pemakaman ibu nya.


Tidak perlu waktu lama dan tidak perlu perjalanan panjang joe dan vira sampai di depan makam yang bernisan IRA SANASTY.


“beraninya kamu membohongi saya”


DOOR DOOR


“bik ira”


“n.non t.tumbuh.lah men.jadi anak yang baik”


“vira bik ira sudah pergi untuk selamanya”


Bayangan demi bayangan terngiang di benak vira dan rasa bersalah semakin menyeruak di batin, hingga tidak terasa air mata yang tidak di tahan lolos begitu saja membuat joe melihat vira menagis terkejut melihat momen yang cukup langkah untuk dilihat.


'disaat kamu seperti ini aku melihat dirimu sangat menderita, matamu tatapanmu di penuhi dengan rasa sakit yang selama ini kamu tahan. Benar yang di katakan ibu selama ini dirimu sangat Misterius, kamu adalah wanita yang menangis dalam diam dan membiarkan malam menjadi saksi bisu akan sakitnya hati dan batinmu' batin joe saat melihat vira menangis.


***


"terimakasih sudah menemaniku berziarah kepemakaman ibu" ucap joe mengisi suana sunyi yang terjadi sejak mereka pulang dari pemakanan.


"seharusnya aku yang bilang terimakasih kepadamu, berkat dirimu akhirnya aku dapat berziarah di tempat peristirahatan bik Ira" balas vira sembari menatap joe yang sedang fokus mengemudikan mobil.


"Kamu tidak lapar? Aku sangat lapar, apa kamu tidak ingin mencoba makanan luar?" Tanya joe yang berhasil membuat vira diam dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


"Tenang aja, aku tidak akan memberitahu siapapun, lagian ini salah satu amanah yang di berikan ibu kepadaku yaitu membawa dirimu menikmati makanan-makanan luar, dan membuatmu tersenyum" ujar joe yang berakhir dengan aksi tatap menatap antara dirinya dengan vira.

__ADS_1


__ADS_2