
Duduk diam sambil menatap jalanan seperti sedang menghafal jalan, merasa kebingungan dengan apa yang dilihatnya sedari tadi yaitu jalan yang tidak terlalu ramai dan perlahan demi perlahan jalan yang berisik tidak kedengaran sama kali pemandangan berubah menjadi pepohonan yang menjulang tinggi dan berpagarkan tumbuhan bunga yang disusun dengan rapi.
Seketika kembali dengan keterkejutan yang tertahan melihat apa yang sedang dilihat yaitu pagar menjulang tinggi dengan otomatis terbuka. Mobil yang dinaikinya itu pun memasuki area yang ditutupi pagar yang menjulang tinggi dan menampilkan mension yang berdiri tegak dan mewah membuat wanita itu kembali terkejut melihat apa yang dilihatnya.
Pria yang disamping wanita itupun turun seakan tau wanita itu segera menyusul pria itu lagi-lagi dia dibuat terkejut melihat apa yang sedang dilihatnya tepat dihadapannya, yaitu sekumpulan pria berpakaian hitam berdiri tegap dan sekumpulan wanita berpakaian hitam putih menunduk membuat wanita yang sedari tadi menatap dengan diam.
“selamat datang nyonya vira” ucap salah satu wanita disana membuat vira hanya tersenyum dan membalas sapaan mereka dengan menunduk.
“jaga sikap mu, kamu disini atasan mereka” ujar dika dengan sinis membuat vira yang mendengarkannya menunduk diam dan mengikuti dika yang melenggang pergi setelah berkata sinis kepadanya.
Di sela melewati para wanita berpakaian hitam putih itu vira yang sedang mengekori dika menyebar senyum ramahnya dan berkata.
“semangat” ujar vira tidak terlupakan tangannya yang mengiringi ucapnya. Semua wanita berpakaian hitam putih itu pun melongo mendengar penuturan nyonya baru mereka ini.
“kelihatannya nyonya baru kita orang yang ramah” ujar salah satu maid yang berdiri di barisan ke dua.
***
Sembari mengekori dika yang ada dihadapannya wanita tersebut dibuat kagum melihat isi dari mension yang dimasukinya ini, berbeda dengan rumahnya mension ini dipenuhi dengan barang-barang yang harganya fantasti.
Hingga sampailah vira disuatu ruangan yang bernuansa putih namun barang-barang yang ada didalam ruangan itu serba hitam.
Membuat dirinya berpikir sejenak ‘bukankah ini termasuk nuansa hitam putih, apa pria ini memiliki kesamaan warna yang sama dengan aku’ tanya vira kepada dirinya sendiri membuat dirinya berjalan menulusuri setiap sudut ruangan dan sampai lah pada suatu titik.
‘eh apa ada kaki disini’ tanya vira dalam batin dan perlahan mengangkat wajahnya. Dengan terkejutnya dia melihat pemilik kaki itu, dengan sigap vira membelakangi dika dan merutuki dirinya dengan seenaknya dia mengatakan bahwa dika adalah patung.
“baju kamu ada di ruangan sana” ucap dika lalu melenggang pergi memasuki ruangan yang ada di dalam ruangannya saat ini. Dan vira pergi keruangan yang dikatakan dika tadi betapa terkejutnya vira melihat ruangan ini berisi pakaiannya dan dika, vira melihat seragam sekolahnya yang baru bukan hanya baju ruangan ini berisikan sepatu dan tas yang bermerek kelas atas.
Vira terfokus pada benda yang diletakkan ditengah-tengah ruangan ini. Dia mengangukkan kepalanya setelah mendapi benda itu berisikan sekumpulan jam pria dan wanita.
‘eh jam wanita ? berarti jam wanita ini udah ada yang punya ?’ tanyanya dan hanya menganguk lagi.
“itu jam tangan untuk nyonya, semua ukurannya sama dengan tangan nyonya” ucap seseorang dengan tiba-tiba membuat vira terkejut dan berbalik mendapati seorang wanita paruh baya berpakaian hitam putih itu menghampirinya.
__ADS_1
“jam ini untuk nyonya, apalagi jam ini sama merek dengan milik tuan dika”ucap wanita itu dan mengambil salah satu jam itu dan memasangkannya ketangan vira yang dipanggilnya dengan sebutan nyonya.
“ha pas, jam ini sangat cocok di tangan nyonya” ujar wanita itu sembari senyam-senyum melihat jam itu pas di pergelangan tangan vira.
“nama ibuk siapa ?” tanya vira membuka suaranya yang sedari tadi hanya dia menyaksikan.
“eh maaf nya kalau saya lancang, tolong jangan aduin saya ketuan dika” ucap wanita paruh baya itu dengan ketakutan dan kembali keposisinya menunduk di hadapan vira.
“buk jangan takut saya ngak akan ngaduin ibuk kepada mas dika, saya hanya nanya nama ibuk siapa itu saja kok” ujar vira sembari memegang pundak sang wanita yang menunduk ketakutan.
“nama ibuk ina nyon” jawab wanita itu dengan menatap lega, majikannya kali ini sangat lembut. Dan tanpa disadari ada seseorang yang memperhatikan kedua wanita itu.
***
“buk apa kita bisa berteman” tanya vira membuat yang ditanyapun terkaget akan ucapan nyonya barunya ini.
“non ibuk ini hanya seorang pelayan dirumah ini tidak lebih” jawab wanita itu dengan hati-hati namun yang memberi pertanyaan itu membuat wajahnya cemberut.
“dirumah aku dulupun sama seperti ini, ngak ada yang bisa diajak bicara aku hanya butuh seorang teman buk aku merasa kesepian” lanjut vira dengan wajah berharap kepada wanita paruh baya yang dihapannya saat ini.
“tapi non saya takut tuan dika marah, karena peraturan disini tidak boleh majikan berteman dengan salah satu pelayan disini” tutur wanita itu
memohon untuk mengerti dengan posisinya.
“please buk, aku janji ngak akan memberi tau kepada siapapun termasuk dika” ucap vira dengan memohon. Melihat majikan barunya itu memohon dan mengatakan keinginannya membuat wanita itu merasa prihatin dan
menghela nafas.
“baik lah non” jawab wanita paruh baya itu membuat vira yang menunggu jawaban itu pun tersenyum, dengan seketika senyuman itu pun luntur melihat siapa yang bediri di depan pintu masuknya ke walk in closet, ke dua wanita itu langsung mematung.
“baiklah apa ?” tanya dika dengan datar membuat wanita paruh baya itu menunduk, melihat itupun seakan mengerti situasinya saat ini tidak aman untuk dirinya. Namun..
“a.a.aku hanya minta tolong kepada bibik untuk menjelaskan semua pakaian ini yang mana formal dan informal itu saja kok” bela vira melawan kegugupannya, dia tidak ingin kehilangan teman di mension ini karena kepolosannya. Yang di belapun sangat terkejut mendengar pembelaan majikannya untuk dirinya.
__ADS_1
“emang kamu tidak tau pakaian formal dan informal” tanya dika dengan nada itrogasi membuat semuanya pucat seketika.
“engak, soalnya aku belum pernah melihat pakaian sebanyak ini lagian aku tidak diizinkan pergi kemana-mana selain acara keluarga” ucap vira menunduk dan diakhiri suara yang mulai serak akibat menahan tangisan mengingat masa remajanya yang terkekang.
“oh” ujar dika dan berlalu pergi dari ruangan itu yang meninggalkan kedua wanita yang menunduk.
***
Sementara itu vira masuk kedalam kamar mandi menghidupkan air dan menangis, tangisan semakin lama semakin pecah mengingat nasibnya tidak ada yang baik dan tidak ada yang beruntung.
Tidak terasa vira menghabiskan waktunya di kamar mandi berjam-jam hingga larut malam. Vira keluar dengan pakaian yang sudah terganti dan turun kebawah melihat semua orang berlalu lalang memanggil namanya, yang membuat wanita itu berpikir ‘apa mereka semua mencariku’ tanya vira berkutik dengan pikirannya.
“wanita misterius, eh kakak ipar” teriak pemuda yang berada di bawah, semua orang mencarinya pun melihatnya dengan lega. Pemuda itu pun menghampiri vira yang sedari tadi diam.
“lo kemana aja sih, semua orang disini panik tau” ujar pemuda itu sembari menarik tangan vira dan mendapatkan tatapan tidak mengenakkan dari semua orang termasuk ayah dan suaminya yang menatap sinis melihat tingkah laku pemuda disamping vira. Dengan refleks vira menarik tangannya dari genggamannya dan kembali menunduk.
“hey wanita misterius kenapa” tanya pemuda itu yang masih bisa didengar oleh semua orang, membuat semuanya berbisik-bisik membuat vira yang dilihat pun turun cepat meninggalkan pemuda itu dengan meneriaki dirinya.
“hey wanita misterius” teriak pemuda itu sembari menuruni tanggu mengejar vira yang sudah turun duluan.
“jean!” ucap seseorang dengan suara beritonnya membuat semua orang di mension ini diam dan menunduk. Vira yang melihat wajah papa martuanya tidak dapat diartikan.
“jean dia itu kakak iparmu bukan wanita misteriusmu” ucapan itu sukses membuat jean yang sedari tadi menyebarkan senyumnya murung, membuat vira yang dipanggilnya itu wanita misterius merasa posisinya tidak tepat di mension ini.
Vira hanya bisa diam dan menunduk tidak bisa berbuat apapun membuat vira merasa bersalah.
“dan kamu vira ingat bahwa kamu itu istrinya dika kakaknya jean” ucap pria yang hanya mendapatkan angukan dari menantunya itu.
“ya udah virakan sudah ketemu lebih baik kita makan” kata wanita yang disamping pria itu dengan senyumnya menuntun semuanya untuk mengakhiri aksi dingin yang sedang melanda.
Semua orang pun berjalan menuju meja makan yang sudah terhidang berbagai macam makanan dan minuman.
Vira pun duduk disebelah pria yang sudah menjadi suaminya itu dan berhadapan kepada pemuda yang bernama jean itu.
__ADS_1