
Di perjalanan yang lumayan cukup jauh membuat wanita yang berada didalam mobil menatap terkejut kearah luar.
“apa dia udah gila, aish awas saja kalau sudah sampai akan ku maki-maki lo vira” gerutu yuni pelan dan mengucapkan sumpah serapahnya membuat pemuda yang sedang fokus menyetir tersenyum simpul melihat tingkah yuni yang unik.
“apa kita sudah sampai?” tanya yuni kepada pemuda yang disampingnya itu, namun bukannya menjawab pemuda itu keluar dari mobil dan meningalkan yuni.
Yuni yang melihat itu itu langsung menyumpahi pemuda itu tanpa malu disaksikan oleh orang-orang.
“DASAR PRIA DINGIN KALAU SEPERTI ITU MANA ADA WANITA YANG MAU SAMAMU” teriak yuni dan berjalan menghentakkan kakinya masuk kedalam gedung.
Sejenak yuni terkagum melihat dekorasi pesta sahabatnya itu, begitu banyak orang-orang berkelas dengan memakai pakaian termahalnya. Yuni yang melihat itu langsung merapikan rambutnya yang sudah kusut di karenakan perjalanan jauh.
***
Vira Pov
Diam membisu hanya itu yang dapat aku lakukan saat ini dimana aku hanya duduk sembari tersenyum kepada para tamu yang datang mengucapkan selamat dan memberi hadiah pernikahan.
‘kemana sih kamu yun, aku butuh celotehanmu mendengar mu cerita ngak jelas membuatku sedikit rileks ngak seperti ini merasa tegang’ ucapku dalam batin dengan kesal yang berjanji tidak pernah nongol batang hidungnya membuatku semakin kesal aja.
Tamu-tamu pun perlahan demi perlahan berpulangan membuat diriku pasrah dengan ketidak hadiran yuni diacara pernikahanku.
Tiba-tiba aku mendengar suara cempreng dan menggema diseluruh ruangan membuat diriku mencari keberadaannya.
“viiirraaa” teriakkan itu semakin keras dan aku merasa suara itu semakin dekat dengan diriku, namun keberadaannya tidak terlihat sedikitpun.
“ayo turun udah waktunya istirahat” ujar suamiku dengan tegas dan dingin membuat aku hanya menurut saja. Saat langkahku mau meninggalkan panggung tiba-tiba suara itu terdengar lagi.
“vira tunggu, tunggu jangan pergi dulu” ucap gadis itu membuat diriku ingin berteriak memakinya dan menebar senyuman kepadanya, namun apa dayaku aku anak keluar jeson yang memiliki tata krama yang sangat ketat dan tidak dapat diubah.
“yuni” ucapku pelan yang masih terdengar oleh pria yang disampingku yang sedari tadi menatap tajam gadis tersebut membuatku semakin takut untuk menghampiri yuni.
“eh vira lo gila ya bikin pesta jauh amat, apalagi tidak ada jangkauan tranportasi” ucap yuni dengan kesal yang sukses membuat pria yang disampingkku berdehem menandakan menjaga kesopanan dalam berucap. Dan dengan begonya diriku tidak memberi tranportasi kepadanya.
“oho kamu dika ya, Mr. Dika Arios” ucap yuni dengan blakblakkan dan itu sukses membuat suamiku menatap dengan menandakan permusuhan antara dirinya dan yuni. Itu membuatku semakin takut bahwa suatu saat dia tidak akan mengizinkanku untuk bertemu dengan yuni.
“yuni” tegurku dengan wajah memohon kepadanya, yang dipanggil pun merasa sedikit bersalah dan berdehem mengubah tingkah lakunya dan cara bicaranya.
“hai saya yuni ayunta sahabat vira sejak kelas satu SMP hingga saat ini senang bertemu dengan dirimu suami sahabatku” ucap yuni dengan lembut dan bertingkah feminim dengan akhir kata yang sukses membuat diriku maupun suamiku melongo atas ucapan tadi, walaupun kenyataannya emang benar.
“senang bertemu dengan dirimu Ms. Yuni” balas suamiku dengan nada dingin dan ketus sambil menjabat tangan yuni.
__ADS_1
“saya pergi deluan, jika selesai segera kembali” ucap dika dengan nada mengingatkan kepada diriku dan berlalu pergi meninggalkan diriku dengan si biang rusuh.
Aku mengajaknya turun dan duduk di salah satu meja tamu yang sudah kosong dan bersih itu, membuat diriku dapat bercakap dengan leluasa.
“yun maaf tidak memberitau mu bahwa lokasinya tidak dijangkau tranportasi” ucapku merasa tidak enak kepada yuni karena lupa memberi taunya.
“hee santai aja kali ngak usah merasa bersalah banget karena lo ngak sepenuhnya bersalah” ucap yuni dengan nada yuni, yuni yang blakblakkan, yuni yang super duper bikin orang terkaget-kaget dengan tingkahnya. Aku pun hanya diam menunggu kelanjutan ucapan yuni.
“dan begonya diriku tidak memperhatikan alamatnya, yang aku pikirkan itu adalah QR nya suapaya aku dapat masuk kesini” ucap yuni yang berhasil membuatku tersenyum simpul tidak berlebihan.
Lagi-lagi aku dibuat cengo melihat aksi yuni entah sejak kapan meja sudah dipenuhi dengan berbagai macam makanan dan dengan tidak ada rasa malu yuni melahap makanan itu dengan tangan dia seperti tidak diberi makan berhari-hari.
“yun, santai aja makannya jangan seperti ngak di kasih makan” ucapku dengan menahan tawa. Dengan santainya yuni berkata seperti ngak tau malu.
“vira gue itu lagi makan jangan ganggu, kalau lo mau makan makan aja ini makanannya enak-enak semua loh” ucapnya yang sukses membuat para pelayan berhenti melihat aksi yuni, mereka hanya merespon dengan menggeleng-geleng kepalanya.
“vir lo harus coba ini nah” ucap yuni sambil menyodorkan piring yang berisikan makanan yang tidak kusangkah adalah makanan kesukaanku.
“yun ini itu-” belum lagi aku selesai dengan ucapanku lagi-lagi dia menyanggah
“udah makan aja ngak usah koment aja kerjanya” ucapnya yang berhasil membuatku terdiam dan ikut menikmati makanan tersebut dengan santai dan sopan tidak seperti yuni yang cara makannya seperti anak kecil belajar makan.
***
“emang apa yang aku lakukan, aku hanya ingin bertemu dengan wanita yang selama ini aku cari-cari” jwab pria itu berbalik menghadap wanita itu dari cahaya yang redup.
“keluar,-”
“kenapa ? kenapa kamu takut ?” ujar pria itu dengan berjalan perlahan mendekati wanita itu.
“ma, mama” panggil seseorang dari luar ruangan membuat wanita itu mendorong tubuh pria itu.
“pergilah” ujar wanita itu dan keluar dari ruangan itu dan berjumpa dengan putranya.
“kenapa mama sekali, semua orang sudah menunggu mama” ucap pemuda itu saat mendapati mama nya yang baru saja keluar dari kamarnya.
“sekarang mama sudah disinikan ayo nanti kakak kamu terlalu lama menunggu, kamu taukan jean kakak kamu tidak suka lama menunggu” ujar wanita itu membawa jean berjalan disampingnya dan diiringi canda tawa.
“aku tidak akan menyia-nyiakan mu lagi, permainan di mulai”
***
__ADS_1
Disinilah dia berdiri gadis yang sudah berubah status itu yang memiliki nama Vira Aliana Arios berdiri diambang pintu. Tidak ada kata surat perjanjian, tidur dikamar berbeda membuat vira berpikir untuk masuk kedalam kamar dirinya degan sang suami.
Dengan melawan rasa gugup vira membuka pintu kamar, dengan rasa terkejutnya vira menelusuri kamar penginapan itu dan mencari keberadaan sang suami namun nihil.
Dengan ragu vira membuka pintu kamar mandi namun nihil juga itu membuat vira segera mengambil piyamanya dan membersihkan badannya yang lengket dan terasa pegal akibat mengenakan gaun yang cukup berat untuk dikenakan.
Setelah selesai dari kamar mandi dengan terkejutnya dirinya melihat sang suami sedang bersandar di kepala kasur sambil memangku laptop yang sedang di otak atik. Rasa gugup lagi-lagi menimpa dirnya, dengan melawan gugupnya itu dia mengeringkan rambutnya dan menyisirnya.
Setelah berkutat dengan rambutnya vira pun menghampiri suaminya dan duduk disamping sang suami.
“ada apa?, apa ada yang perlu ditanyakan” tanya dika dengan tiba-tiba membuat vira terkejut.
“m.ma.maaf” ucap vira terputus-putus akibat gugupnya yang mulai memuncak.
“tidak perlu minta maaf, lagian kamu tidak tau siapa dia” ucap dika seakan tau maksud dari perminta maaffan wanita itu kepada dirinya.
“aku akan memenuhi hak dan kewajibanku sebagai seorang suami begitu juga sebaliknya” ucapan dika sukses membuat vira kembali terdiam dan membisu memikirkan apa nasibnya selanjutnya.
“ini milikmu, kamu bisa mengunakannya dengan baik” ucap dika sembari menyodorkan atm yang dibilangnya itu kepada vira. Dan vira hanya diam dan mengambilnya membuat dirinya ngak percaya akan kenyataan yang dihadapin, dika tidak memperdulikan apa yang sedang dipikirkan vira. Dika bergerak menyimpan laptop yang dipangkuannya dan tidur seperti tidak terjadi apa-apa.
Berbeda dengan vira yang tidak bisa tidur, vira bangun dari tidurnya dan melihat kesamping suaminya sudah tidur dengan tenang.
Vira beranjak dari ranjangnya menuju balkon hotel penginapan, vira menatap pemandangan dari balkon terlihat lapangan golf yang cukup ramai vira yang melihat itu hanya tersenyum.
Flashback On
“kakak ago mainnya” ucap anak kecil yang berlari menghampiri kakaknya baru saja siap bermain golf.
“iya dong kakak siapa dulu” ucap suara anak gadis yang datang langsung memeluk kakaknya yang berkeringatan itu.
“ih kak via, itu kakak aku juga”rajuk anak kecil itu, membuat kedua orang itu tertawa gemas melihat tingkah adiknya itu.
“iya iya kakak juga kakaknya adik akak yang paling gemes ini” ujar pemuda itu sembari mencubit pipi adikknya yang tembem itu.
“lain kali kak nathan dengan kak via main lagi ya” ucap anak kecil itu sembari menebarkan senyumannya.
“iya adik kakak” ucap anak gadis yang di panggil via itu.
Flashback Off
“kamu ngapain disitu?” tanya dika yang melihat vira termenung sembari senyam senyum, membuat vira kembali ke alam nyatanya.
__ADS_1
Vira menoleh ke arah sumber suara dan mendapatti dika yang melihatnya dengan melipatkan tangan di dadanya, vira kembali menunduk tidak berani melihat wajah dika dan memainkan jari-jarinya.
“jika kamu keluar biasakan tutup pintunya”ucap dika dan melenggang masuk ke dalam kamar, vira melihat kepergiaan dika tidak lama dika masuk vira akhirnya masuk kedalam dan membaringkan tubuhnya.