Santapan Malam (Menangis Dalam Diam)

Santapan Malam (Menangis Dalam Diam)
Santapan Malam 7


__ADS_3

Suasana sunyi dan redup menggambarkan kondisi ruangan yang ditempati wanita bernama vira itu. Membelakangi suaminya yang sedang tertidur dengan damai, memikirkan perihal yang diucapkan ayah martuanya itu.


“vira, besok kamu akan bersekolah di sekolahnya jean kamu harus ingat kamu harus jaga sikap, ingat dirimu sudah menikah, jangan genit jangan hancurkan kepercayaan suamimu jangan pikirkan kesenangan sendiri pikirkan orang lain” ujar pria itu tanpa mengetahui perasaan yang dirasakan vira.


Vira kembali meneteskan air mata tanpa mengeluarkan suara membuat vira berdebat antara pikiran dan hatinya yang merutuki nasib wanita rapuh ini.


‘lihat sekarang keluarga baru mu saja tidak menanyakan apa yang kamu rasakan” ucap hati vira.


‘apa aku salah mengambil keputusan dengan menikahi pria disebelahku ini’ pemikiran vira yang mendapat kan jawaban sebaliknya dari apa yang dirasakannya


‘utamakan perasaanmu vira jangan pikirkan orang lain, lihat hidupmu bisa dihitung kapan kamu tersenyum’ tentang hatinya yang mengerti perasaan yang dirasakannya saat ini.


Vira pun memutuskan untuk mengakhiri perdebatan antara persaannya dan pemikirannya. Vira melihat jam yang menampilkan pukul yang sebentar lagi malam berganti pagi.


Vira pun bangkit dari tidurnya dan membasuh wajahnya lalu turun kebawah pemandangannya langsung turun ke arah dapur, dia pun menuruni tangga dan memasuki dapur vira memutuskan untuk mulai beraktivitas.


Di selah aktivitasnya yang sudah hampir selesai tiba-tiba saja kepala pelayan itu datang menghentikan aktivitas wanita itu.


“nyonya apa yang nyonya lakukan, ini tugas kami” ucap wanita itu dengan cemas dan melihat keseliling takut majikannya yang lain bangun.


“nyonya kami mohon, biar kami yang melanjutkan sisanya” ucap kepala pelayan itu dengan tangan yang memohon. Melihat itu vira pun mengakhiri aktivitasnya dan tersenyum lalu pergi kekamar dirinya dan suaminya.


Saat memasuki ruangan itu vira dibuat terkejut dengan ruangan yang terang ‘tadi saat ditinggalkan tidak seperti inilah, apa aku lupa mematikan lampu’ tanya vira dalam diam dan memutuskan untuk masuk dan disambut oleh seorang pria yang sudah bangun dan duduk bersandar.


“dari mana?” pertanyaan itu sukses membuat vira kebingungan untuk mencari jawaban yang dapat menyelamatkan para pelayan karena dirinya yang begitu ceroboh melupakan peraturan dirumah ini.


“a.aku tadi ngambil minum kebawah” ujarnya dengan mengelak dari kenyataan.


“itu ada minum ngapain ambil ke bawah” tanya diks sukses membuat vira merutuki dirinya sendiri.


“tiap bangun tidur biasanya aku langsung minum air hangat” jawab vira menyakinkan dika yang sedang mengintrogasinya.


“kenapa ngak minta disiapin sebelum kekamar” tanya dika lagi membuat vira semakin merutuki dirinya untuk bertindak lebih bijak lagi di sini


berbeda seperti dirumahnya dulu.


“karena mendengar hari ini aku akan kembali bersekolah jadi dengan semangat aku menyiapkan perlengkapan untuk dibawa nanti” jawab vira dengan memikirkan kembali jawaban apa yang akan dia berikan kepada suami nya itu.


Namun tidak disangka dika bangkit dari duduknya dan memasuki kamar mandi yang membuat vira yang gugup dapat menghirup udara kesantaian. Sembari menunggu dika mandi vira merapikan tempat tidur dan menyiapkan pakaian yang akan dikenakan dika dan dirinya.


Mendengar pintu kamar mandi menuju walk in closet terbuka yang menandakan dika telah selesai dari kegiatan mandinya membuat vira masuk mengunci kedua pintu kamar mandi dan memulai ritualnya.


Setelah selesai dari ritualnya dan mengenakan seragam sekolah dia kembali dibuat terkejut melihat pria itu mengenakan pakaian yang dirinya siapkan, dan memperhatikan kearah pria itu menatap.


‘ngapain dia menatap kasur apa jangan-jangan.. ah kamu berpikir apaansih vir positif thinking ok’ ujar pemikirannya menuntun vira kembali kedunia nyata.


“siapa yang menggantinya” ucap dika membuat vira kembali mengingat yang tadi ia lakukan ‘kok dia tau aku mengganti sepreinya, padahal warnanya sama semua ngak ada bedanya’ rutuk dirinya kepada diri sendiri,


“a.a.aku”ucap vira dengan nada takut salah atas perbuatannya. Namun jawaban vira sama sekali tidak digubris sedikit pun oleh dika, yang membuat vira hanya mengendus kesal dikacangi.


***


Suasana sunyi yang tidak ada bedanya mension ini dengan suasana rumahnya, membuat vira hanya duduk diam menikmati selembar roti yang tak kunjung-kunjung habis.


“eh kakak ipar, kitakan satu sekolah gimana kita berangkat sama ?” ujar jean menghentikan aktivitas minum vira.


“jean, vira itu tanggung jawab kakakmu jadi biarkan kakakmu yang mengantar dan menjemput vira” tutur surya mengingatkan putra keduanya itu.


“aku sudah siap ayo berangkat” ucap dika yang membuat vira menghentikan tangannya untuk mengambil roti yang tak kunjung habis. Vira bangkit dari tempat duduknya dan menyalim kedua martuanya, namun vira menghentikan aktivitasnya saat tangannya tak kunjung di sambar oleh kedua martuanya itu.


Vira berlalu dari sana dan mengejar suamiya yang sudah menghilang dari hadapannya. Vira duduk diam sambil menatap jalanan lewat jendela, vira kembali berfikir kejadian tadi ‘apa mereka tidak senang disentuh tangannya? Atau mereka belum menerimaku sebagai menantunya ?’ tanya vira pada dirinya sendiri, hanya dirinya yang dapat ditanyanya hanya dirinya yang mengetahui perasaannya.


Vira mengerjap matanya untuk menghalang air matanya jatuh dengan sembarangan tanpa permisi kepadanya.

__ADS_1


“ini uang jajan mu, aku tau disana tidak menerima kartu” ujar pria itu membuyarkan lamunan vira. Vira hanya diam dan menerimanya.


***


Tidak terasa perjalanan dari rumah ke sekolah sudah sampai, membuat vira menyalim tangan dika dan turun dari mobil. Dika yang melihat vira menyalim tangannya terkejut dan mengerjapkan matanya agar sadar dengan cepat dika memerintahkan untuk segera jalan meninggalkan pekarangan sekolah.


Vira menatap sekolahnya itu, dimana dia berjuang untuk masuk ke sekolah ini dengan hasil kerja kerasnya belajar. Vira tersenyum simpul melihat sekolahnya itu yang ternyata milik keluarga Arios.


Vira memasuki koridor sekolahnya dan berjalan menuju lokernya, saat vira membuka lokernya vira dikejutkan dengan sebuah kotak.


‘siapa yang memasukkannya ke dalam lokerku’


Vira membuka kotak itu berisikan selembar foto yang membuat vira terkejut dan memegang dadanya yang sesak terasa sakit. Vira mengambil foto itu dan menyimpannya di kotak yang vira kunci dan menyimpannya di loker miliknya itu.


“vira” panggil seseorang membuat vira denga segera menutup lokernya.


“why?” tanya yuni kepada kepada vira yang terlihat berkeringat dingin, membuat yuni kuatir dan kebingungan melihat sahabatnya itu.


“kamu kenapa vir” vira melihat kekuatiran yuni vira langsung tersenyum ke arah yuni seakan tidak terjadi apa-apa.


“aku tidak apa-apa” jawab vira membuat yuni mendengus dengan kasar. ‘dibilang tidak apa-apa padahal ada apa-apa’ ujar yuni dalam batinnya denagan kesal melihat sahabatnya ini yang tertutup, bukan yuni tidak tau alasan vira tertutup tapi apa dayanya tidak dapat membantu vira.


“ayo masuk kekelas” ujar vira membuyarkan lamunan yuni.


***


Kendaraan beroda empat berbaris panjang memasuki pekarangan gedung pencakar langit itu membuat semua orang terkagum-kagum dengan gedung tersebut.


Dika keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki gedung tersebut dan langsung mendapatkan hormat dari seluruh karyawan yang bekerja di gedung tersebut. Bukannya membalas sapaan dari karyawannya dika melewati karyawannya begitu saja dan masuk ke dalam lift khusus untuk dirinya dan sekretarisnya.


“cari biodata gadis itu secara rinci” printah dika kepada sekretarisnya itu.


“gadis? Gadis yang mana ya tuan?” tanya han kepada kepada dika yang bingung dengan kata-kata tuannya ini.


“baik tuan” jawab han mengikuti dika dari belakang.


Saat dika memasuki ruangannya seorang wanita duduk dengan santai diruangannya, tanpa melihat wanita itu dika melanjutkan jalannya menuju bangku kekuasaannya dan memulai kegiatannya.


“kamu menikah tapi kamu ngak mengundangku?!” tanya wanita itu dengan kesal yang sedari tadi dirinya diabaikan dika.


“han”


“baik tuan” seakan mengerti maksud tuannya han melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan dika dan berjalan menuju ruangannya.


“ada apa?” tanya dika kepada wanita itu.


“kenapa kamu tidak mengundangku diacara pernikahanmu?” ucap wanita itu


“tanpa aku undangpun kamu pasti datang” jawab dika menatap wanita yang dihadapannya


“baiklah, pulang nanti mari kita makan” ucap wanita itu dengan nada manjanya.


***


Suasana ramai dan canda tawa menggelar membuat orang-orang yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“vira pulang sekolah nanti temani gue ya membeli novel keluaran baru” ucap yuni disela-sela makannya.


“tapi yun,-”


“kapan sih kita bisa keluar bareng lagi ? lagian lo kan sudah menikah ya pasti tidak akan terikat dengan aturan bokaploh” potong yuni membuat vira terkejut.


“yun walaupun aku sudah menikah ya pasti ada peraturan baru” ucap vira membuat yuni kesal dan menghentikan aktivitasnya.

__ADS_1


“vir kapan sih lo melanggar aturan keluargamu ? sekalipun tidak pernahkan ! dan kapan lo memikirkan kesenanganmu ? ha katakan vira” ucap yuni dengan kesal kepada sahabatnya ini.


“yuni”


“iya apa ? apa lo bisa menjawabnya” ucap yuni dengan ketus. Vira yang mendengar ucapan yuni merasa tersentuh dirinya kira yuni belum bisa memahaminya namun apa yang dilihatnya saat ini.


“yuni kamu mengundang semua orang melihat kita” ucap vira lirih dengan menundukkan wajahnya.


Yuni yang melihat sahabatnya itu menundukkan kepalanya langsung meninggalkan vira di kantin sendirian.


‘kenapa kamu seperti itu vira aku tau semejak kepergian kak Jonathan kamu berubah derastis dari gadis yang ceria menjadi gadis murung’ keluh yuni dalam batinnya dan mempercepatkan langkahnya menuju kelas.


***


“yun” panggil vira dan menghampiri yuni yang sedang duduk sembari memainkan ponselnya.


“pulang sekolah nanti jadi?” ucap vira dengan ragu sembari menekan jari jemarinya. Yuni yang mendengar ucapan vira tadi membuat dirinya bingung.


“aku akan menemani mu”


“SERIUS” histeris yuni tidak percaya dengan ucapan vira tadi membuat yuni langsung memeluk vira.


“mari kita berangkat” ucap yuni menarik tangan vira keluar dari kelas yang di tarikpun melongo kebingungan.


“yun bukannya kamu bilang pulang sekolah?” tanya vira saat dirinya sudah masuk kedalam mobil milik yuni.


“kalau sekarang bisa kenapa nanti, ck gue ngak percaya tuh kalau nanti lo akan mau ikut” jawab yuni tanpa memalingkan pandangannya.


Vira hanya diam dan memperhatikan jalan diluar, vira belum pernah melalui jalanan ini dirinya hanya menuju tempat-tempat yang sudah di tentukan ayahnya.


***


Tidak terasa vira dan yuni sudah sampai di sebuah mall besar membuat vira kagum melihatnya.


“yuk masuk, toko bukunya ada didalam” ujar yuni sembari menarik tangan vira.


“apa kamu sering kesini yun?” tanya vira dengan polosnya membuat yuni tertawa membuat orang-orang melihat aneh ke arah mereka.


“ya iyalah, emang kayak lo yuk cari toko bukunya” ucap yuni.


Setelah berkeliling mencari toko buku, akhirnya mereka tiba di toko buku terbesar di mall itu membuat vira kagum dengan toko buku itu.


Vira mengikuti yuni berjalan ke rak buku yang berisikan novel, vira ikut mencari novel dan ketemu dengan novel yang menceritakan tentang perjodohan karena penasaran vira membaca epilog novel itu membuat vira memutuskan untuk ikut membeli novel ini.


Vira terus mencari novel-novel yang seruh saat vira hendak mengambil novel itu tidak sengaja vira melihat seseorang yang tidak asing baginya, vira mengurungkan niatnya untuk mengambil novel itu dan berjalan mencari yuni.


***


“gue lapar nih, yuk cari makan” ujar yuni dan menarik tangan vira agar mengikutinya.


Tibalah di sebuah caffe yang mewah dan duduk di sudut kaca membuat pemandangan sangat nyaman membuat yuni diam-diam mengambil foto vira yang sedang terkagum melihat pemandangan di caffe pilihannya.


Dirinya sangat senang melihat vira saat ini seperti vira yang dikenal waktu pertama kali dirinya jumpa dengannya.


“vira lo mau makan apa?” tanya yuni sembari mebolak-balikkan buku menunya. Vira yang mendapatkan pertanyaan bingung ingin jawab apa dirinya takut dimarahi.


“ya udh kalau gitu samain aja ya mbak” ujar yuni kepada pelayan yang mencatat pesanan vira dan yuni.


“yun kita pulang aja ya” ucap vira kepada yuni dan mendapatkan tatapan tajam dari yuni.


“vira apa lo ngak bosan di rumah mulu, ayolah vira nikmati aja” ujar yuni membuat vira tidak bisa berkutik lagi, vira memilih untuk melihat caffe ini dan tidak sengaja mata vira tertuju kepada seseorang yang sedang duduk dan menikmati makanannya dengan seorang wanita.


“hay apa aku boleh bergabung ?”

__ADS_1


__ADS_2