Santapan Malam (Menangis Dalam Diam)

Santapan Malam (Menangis Dalam Diam)
Santapan Malam 18


__ADS_3

“mas aku ke toilet sebentar” izin vira kepada dika dan melenggang pergi saat mendapatkan izin dari dika.


Vira meninggalkan sejenak acara berisik itu, acara yang tidak ada kebahagiaan di kedua mempelai.


Hingga tanpa ada yang mengatakan berhenti kaki vira dengan tanpa izin diam tidak mau melanjutkan jalannya ke tujuannya..


“hay” sapa seseorang yang memiliki tubuh tegap mengahadap kearah vira sembari mengulas senyum kebanggaannya kepada vira.


Melihat itu vira kebingungan apa yang harus dia lakukan, dan akhirnya vira melanjutkan jalannya ke arah tujuannya.


“jangan sentuh aku !” ucap vira sembari menarik tangannya yang sempat di tahan pria itu.


“tenang aku tidak akan membalasnya” ucap pria itu membuat vira yang mendengar terkejut degan ucapan pria itu.


“aku hanya melaksanakan amanah ibu aku” ucap pria itu dan menatap vira dengan wajah yang sudah berubah menjadi kebingungan.


“bisa kita berbicara sebentar” ajak pria itu dengan ragu vira akhirnya menerima ajakan pria itu.


***


“baiklah secepat mungkin acara pernikahannya akan di laksanakan” ujar surya dengan bahagia tanpa memikirkan perasaan putra bungsunya itu.


Berbeda dengan dika yang selalu memperhatikan arah toilet hingga menampilkan orang yang sedari tadi di tunggu-tunggu.


‘apa dia tadi bertemu dengan hantu ? kenapa wajahnya seperti ketakutan’ batin dika saat melihat wajah vira yang pucat.


“kenapa lama sekali ?” tanya dika kepada vira yang sudah berada di sampingnya itu, dan vira menatap kearah dika yang kebetulan menatapnya. Dan terjadilah kejadian tatap menatap.


‘kenapa jantungku lari maraton’ batin dika dan menghentikan kejadian aneh itu, membuat suasana diantara vira dan dika menjadi sunyi.


“hay apa kamu yang namanya vira ?” tanya seorang wanita dengan tiba-tiba membuat vira sedikit terkejut saat wanita itu menyebut namanya.


“i.iya” jawab vira membuat wanita itu menganguk mengerti.


“aku rita calon istrinya jean” ujar wanita itu sembari memajukan tangannya selayaknya seperti seorang teman.


“vira” balas vira sembari membalas jabatan tangan wanita yang bernama rita itu tidak luput dari senyum andalannya, dika hanya bisa diam melihat tingkah vira yang begitu sangat mudah menutupi perasaannya.


***


Di perjalanan pulang hanya ada kesunyian yang terjadi tidak ada terjadi percakapan sedikitpun, tidak terasa hujan pun turun dengan deras membuat suasana sunyi itu sedikit berisik oleh guyuran hujan.


“bisakah berhenti sejenak” ucap vira kepada han dan bergantian menatap pria yang duduk di sampingnya itu, tidak ada jawaban yang maupun gerakan yang di berikan dika kepada han membuat vira kembali menunduk dan menatap jalan yang di guyur oleh rintikan hujan.


‘maafkan aku, aku tidak bisa mengunjungimu’ batin vira menatap sayu jalanan.

__ADS_1


Han melihat vira dari kaca membuat han menghembuskan nafasnya kasar, sungguh pasangan yang sedang di bawanya itu sangat-sangat mmbingungkan.


***


“apa! Vira sudah menikah?” ucap seorang pemuda kepada seseorang di sebrang.


“aarrghhh” teriak pemuda itu frustasi sembari menjambak rambutnya frustasi, wajah yang sudah dibaluti emosi yang tertahan.


“dasar pria tidak perasaan, dengan seenaknya saja menikahkan vira dengan pria tidak punya hati itu” geram pemuda itu.


“vira kakak akan kembali untukmu, ibu, dan kirana”


***


Satu demi satu mobil mobil mewah memasuki pekarangan mension megah yang menjulang tinggi diatas tanah, Mobil mobil mewah itu terpakir dengan rapi sesuai dengan urutannya.


“papa tunggu” teriak jean sembari mengejar surya yang sudah melangkahkan kakinya memasuki mensionnya itu.


“ini yang papa katakan acara penting ?” tanya jean dengan nada ketidak sukaannya.


“katakan apa yang ingin kamu katakan jangan berbelit belit” ujar surya dengan dingin tanpa merasa bersalah.


“aku tidak ingin memiliki nasib sama seperti kak dika !!” ucap jean kepada surya sembari mengarahkan tangannya ke arah dika.


“nasib apa yang kamu katakan” tanya surya yang masih tenang.


“kaTAKAN !!”


“MELAMPIASKAN EMOSI DENGAN MEMPERMAINKAN WANITA !!” teriak jean sembari manahan emosinya.


Bagai tersambar petir ucapan jean berhasil membuat vira hampir kehilangan keseimbangannya, tidak ada yang perlu vira tangisi saat ini .


“jaga ucapanmu jean, aku tidak melakukannya kepada semua wanita” ujar dika dengan santai dengan wajah yang tidak memiliki kesalahan.


“tidak semua wanita berarti pernahkan” ujar jean dengan nada mengejek.


“apa sekarang setelah menikah kamu masih melakukannya ? atau melampiaskannya ke vira ?” tanya jean dan diakhiri mendapatkan hadiah tamparan dari tangan sang papa.


“jaga ucapanmu, kalau kamu masih mau menyandang nama Arios” ucap surya dengan penuh penekanan dan melenggang pergi.


“BAIKLAH JIKA ITU MAU KALIAN AKU AKAN PERGI DARI RUMAH INI !!!” teriak jean dan beralih menatap vira yang hanya diam menatap sendu ke arahnya, Jean melangkahkan kakinya melewati vira yang masih senantiasa melihatnya.


“JEAN !!” teriak seorang wanita yang berhasil menghentikan langkah jean yang akan menghilang di telan lobi mension kediaman mereka.


“jangan pergi nak mama mohon” ujar tika yang sudah meneteskan air matanya dan berlarih ke arah jean sembari memeluknya.

__ADS_1


“mama mohon jika kamu tidak mau tinggal dengan mereka, tinggallah demi mama” ucap tika dengan sendu.


“ibu” ujar vira pelan.


***


Dini hari yang memiliki suhu yang menusuk ke kulit, angin laut yang bertiup menambah suasana semakin dingin.


Vira wanita yang tidak tau harus melakukan apa untuk dirinya terjaga setelah kejadian yang membuat dirinya mengetahui sedikit kebenaran dari keluarga barunya itu.


‘tidak beda jauh dari keluargaku’ batin vira yang masih mengingat jelas kejadian yang terjadi hari ini.


Kejadian perjodohan yang tanpa ada rasa restu dari kedua mempelai, tanpa ada kata penolakan dari mulut ke dua mempelai.


Kehidupan yang sudah di tentukan, peraturan yang harus di laksanakan tanpa ada pelanggaran.


Kehidupan yang harus di pantau tanpa terlepas dari pandangan orang kepercayaan, lalai sedikit nyawa melayang.


Begitulah yang harus di hadapi vira setiap hari, ingin rasanya dirinya bebas dari semua ini namun ayahnya menikahkan dirinya dengan keluarga yang di penuhi dengan pearaturan yang harus di laksanakan.


“apa yang harus aku lakukan ?” tanya vira kepada angin yang berhembus.


“emang apa yang harus kamu lakukan ?” tanya seseorang dengan tiba-tiba membuat vira terkejut akan suara itu.


Vira melihat ke arah sumber suara itu dan melihat sosok pria yang di hindarinya selama ini, namun waktu berkata lain.


“a.ayah” ujar vira gugup dan kebingungan, apa yang akan ayahnya ini lakukan lagi terhadap dirinya.


“santai saja, kamu seperti melihat hantu saja” ujar pria yang berstatus ayahnya vira, vira yang melihat tingkah ayahnya ragu untuk berhadapan dengan ayahnya.


“bagaimana pernikahanmu ?” tanya ayahnya bagaikan hujan tanpa mendung, di dalam kehidupannya belum pernah sekali pun ayahnya menanyakan kehidupan yang di jalaninya.


Sungguh kalimat yang langkah untuk di ucapkan ayahnya kepada dirinya, kalimat itu berhasil membuat hati vira tersentuh.


“jika kamu tidak menjawabnya ya sudah tidak apa-apa” ujar pria itu dengan ketus tanpa mengubah sedikitpun rasa senang yang tersirat di hati vira.


“ayah tidak punya banyak waktu, segeralah beri ayah dan ibumu ini seorang cucu “ ujar pria itu dan vira hanya diam mengiyakan apa yang dikatakan ayah nya itu kepada dirinya.


Entah apa yang terjadi kepada vira hari ini entah kemana jiwa jatuh, sungguh malam ini dirinya tersenyum dengan sendirinya tanpa ada pemaksaan.


***


“kemungkinan besar rencana kedua kita ini berhasil” ujar seseorang .


“hmm kemungkinan semuanya berjalan dengan mulus” balas seorang pria yang masih setia membelakangi lawan bicaranya itu.

__ADS_1


“apa rencana selanjutnya” tanya orang itu membuat pria itu menghadap kearah lawan bicaranya.


“ tidak perlu buru-buru, tunggu sampai anak itu hamil baru kita akan memulai ke tahap selanjutnya”


__ADS_2