
Kania menyeringai puas, dia merasa begitu bahagia melihat penderitaan Arga dan Rasti sudah di mulai. Dia menimang boneka jerami berbalut kafan dengan foto Rasti masih menempel erat di badannya. Bibirnya tersenyum smirk, membayangkan kehancuran Rasti, sahabat yang telah tega menusuknya dari belakang.
'Ini baru permulaan, Rasti sayang. Selanjutnya, penderitaanmu akan lebih berat dan menyakitkan, bahkan lebih dari rasa sakit yang pernah kau tebarkan untuk keluargaku dulu, dan di saat-saat itu aku akan tertawa melihatmu tak berdaya. Hahaha,' desis Kania geram, 'dan kau Mas Arga ... kau akan menyesali keputusanmu untuk meninggalkan aku demi memilih perempuan sundal berlidah ular itu! Akan kubuat kau mengejar-ngejarku lagi dan melupakan perempuan sialan itu!'
Mata Kania beralih ke cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Dia melihat dirinya sekarang begitu kurus dan kusam tidak seperti saat dia masih bahagia bersama Arga. Rasa sakit itu telah merubah dirinya begitu jauh, terlebih setelah begitu banyak peristiwa yang dia alami.
Kania melangkah menjauhi cermin itu, dipandanginya dua buah bingkai foto yang ada dalam kamarnya. Foto dirinya dan Arga tengah diapit oleh orang tua mereka masing-masing dan foto dirinya bertiga dengan kedua orang tuanya. Foto-foto itu adalah sumber kekuatannya sekaligus jadi sumber kebenciannya.
"Ayah, ibu, maafkan Kania. Kania berjanji, semua rasa sakit ayah dan ibu akan Kania balaskan. Kania tidak akan pernah berhenti sebelum Arga dan Rasti menerima akibat dari perbuatan mereka. Ayah dan ibu, tidak usah khawatir dengan Kania, Kania bisa jaga diri." Sebulir butir bening jatuh dari mata indahnya membasahi foto mereka bertiga.
Untuk sejenak, Kania terisak mengingat kedua orang tuanya yang begitu menderita saat mereka harus mengalami beberapa teror dari orang-orang tak dikenal, saat pernikahannya hancur karena ditikung oleh orang yang sangat dekat dengan mereka, saat ayahnya sakit keras hingga sempat kritis karena stres memikirkannya.
Ingatan-ingatan itu membuat batin Kania semakin teriris, perih dan berdarah. Dia telah bersumpah tidak akan memaafkan semua kejadian itu. Dia sudah menguatkan hati untuk berpindah menjadi pengabdi setan karena merasa putus asa setelah doa-doanya tak berbalas.
'Ayah, ibu. Apa kabar kalian sekarang? Semoga kalian bahagia di sana, maafkan Kania yang nggak pernah lagi ke sana. Aku nggak tega melihat ayah dan ibu yang sekarang, tiada gairah untuk hidup. Tapi aku janji, akan mengembalikan semua kegembiraan ayah dan ibu,' batin Kania.
***
Sementara itu di daerah Seminyak, Bali tampak sepasang suami istri yang sedang duduk menikmati suasana pantai jelang matahari terbenam. Mereka tampak seperti pasangan suami istri yang sempurna tiada cela. Namun, bila diamati dengan sungguh-sunggguh, sebenarnya keadaan sang suami tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.
Lelaki setengah abad itu dalam kondisi setengah badannya lumpuh setelah terkena stroke hampir dua tahun lalu, mereka berada di sini pun untuk usaha pemulihan sang suami. Lelaki itu terkena serangan stroke setelah mengetahui bahwa kondisi pernikahan anak semata wayangnya sedang tidak baik-baik saja, bahkan cenderung menderita.
'Kania, kamu sedang apa, Nak sekarang? Kenapa kamu nggak pernah cerita pada kami tentang kondisimu, Nak? Kenapa kamu memendamnya semua sendiri?' batin Irvan mengingat-ingat anak gadis semata wayangnya yang kini memilih hidup sendiri, jauh dari siapa pun.
Irvan menghela nafas panjang sambil beberapa kali mengusap kedua matanya yang berkaca-kaca dengan tangannya yang masih bisa bergerak. Tanpa dia sadari, di sebelahnya tampak seorang wanita tengah memandangnya pilu.
"Ayah," tegur wanita itu, "kenapa menangis? Ayah pasti lagi mikirin Kania ya?" tanya wanita yang tetap setia bersamanya hingga dua puluh sembilan tahun ini.
Irvan hanya mampu mengangguk, tanpa mampu menjawab. Digenggamnya tangan wanita cantik berambut hitam legam itu, seolah ingin mencari kekuatan di sana.
Citra memahami perasaan suaminya, sejak Irvan mengetahui perihal kehancuran rumah tangga putri mereka yang akhirnya membuatnya terkena stroke, Irvan seakan tidak ada keinginan untuk hidup karena bagi Irvan putri semata wayangnya itu adalah sebuah permata rapuh yang tidak boleh dihancurkan siapa pun juga.
"Ayah, mau video call nggak sama Kania? Ibu sambungkan ya," tawar Citra menghibur Irvan, suaminya.
Citra lalu mengambil ponselnya kemudian menekan nomor putrinya untuk melakukan panggilan video melalui aplikasi hiijau di ponselnya.
Tuuut! Tuuut! Tuuut! Klik!
Terdengar nada sambung panggilan yang disusul dengan nada tombol panggilan diterima.
[Assalamualaikum, Kania.]
Sapa Citra, ibu Kania mengawali panggilan.
[Eh, ibu. Ibu dan ayah, apa kabar? Kania kangen, Bu.]
tanya Kania, begitu tahu ibunya yang meneleponnya.
__ADS_1
[Baik, alhamdulillah baik, Nak. Kamu juga apa kabarnya di Jakarta, Sayang?]
Citra menyatakan kabar putrinya yang sudah lama tidak bersua.
[Kania baik, Bu. Oh ya, Bu, Kania tadi pagi sudah kirim laporan keuangan resto dan perusahaan ke e-mail ibu ya. Omset akhir tahun keduanya meningkat tajam, Bu jadi ibu dan ayah nggak usah khawatir soal resto dan perusahaan, Kania akan berjuang keras untuk kita semua, Bu.]
Kania memberitahukan kondisi terakhir keuangan restoran dan perusahaan yang sekarang dia kelola penuh setelah ayahnya terkena stroke.
[Kania. Ini ada yang mau ketemu kamu, Nak. Kamu sapa ya.]
Ucap Citra memberitahu.
[Iya, Bu.]
Balas Kania.
Kamera ponsel pun menampilkan Irvan Prasetyo, ayah Kania. Seketika Kania membeku menatap manik lelaki yang akan selalu menjadi cinta pertamanya itu. Meski perih mengiris hatinya, saat mengingat betapa murka ayahnya sewaktu tahu kalau dia telah membohongi mereka berdua perihal pernikahannya dengan Arga, tetapi Kania tahu bahwa sesungguhnya lelaki separuh abad yang masih tampan itulah yang paling terluka.
[Ayah ... Kania senang melihat ayah mulai sehat, semoga ayah terus sehat ya. Cepat pulih, Yah. Kania berjanji pada ayah dan ibu bahwa Kania akan membalas semua yang telah menyakiti kita, terutama yang telah menyakiti dan menghancurkan ayah juga ibu.]
Kania mengungkapkan tekadnya kepada ayah tercintanya yang kini hanya diam tak berdaya.
[Uh ... hanan Hania, yah nta hanan. Afan aja eta, ak aik mehenham.*]
[Uh ... jangan Kania, ayah minta jangan. Maafkan saja mereka, tak baik mendendam.]
Kania menggelengkan kepalanya sambil sesekali mengusap air matanya kasar, dia tidak suka melihat sikap ayahnya yang mau memaafkan mereka begitu saja.
[Maafkan Kania, Ayah. Kania tidak akan menuruti permintaan ayah kali ini. Kania akan tetap menuntut balas.]
Kania bersikukuh dengan keinginannya, dan dia meminta ayah dan ibunya agar mendoakan dirinya selamat serta tidak terlalu mencemaskannya. Kania berjanji dia akan berhati-hati.
[Ayah, ibu ... Kania minta doakan Kania agar Kania di sini selamat. Ayah dan ibu jangan terlalu mencemaskan Kania. Kania janji akan berhati-hati dengan semua yang Kania lakukan dan suatu hari pasti Kania akan datang menjenguk ayah dan ibu di Bali. Kania, barusan transfer 200 juta ke rekening ibu ya untuk biaya ibu dan ayah selama berobat di Bali, nanti kalau ibu dan ayah perlu apa-apa, kabari Kania.]
Mendengar permintaan Kania, ayah dan ibunya hanya berpesan supaya dirinya jangan sampai terbawa nafsu amarah, selalu mengingat Allah dan menjaga diri.
[Iya, Kania. Ayah dan ibu pasti selalu akan mendoakanmu, Nak. Kami minta kamu jangan terbawa nafsu, jangan sampai amarahmu membakarmu. Jangan lupakan Allah, jaga dirimu selalu. Ibu dan ayah sudahi dulu ya. Untuk transferan, setelah ini ibu cek m-banking ibu ya. Terima kasih, Sayang sudah menjadi anak yang begitu perhatian kepada kami. We always love you, Kania. Wassalamualaikum.]
Ucap ibu Kania sebelum dia mengakhiri panggilan videonya.
[I love both of you, Bu, Ayah.]
Balas Kania kemudian mematikan ponsel kesayangannya.
Kania terdiam untuk sejenak, hatinya terasa pilu mendengar permintaan ayahnya. Sesaat hatinya meragu, apakah sebaiknya dia akhiri saja mumpung belum terlalu jauh. Namun di satu sisi, dia sangat ingin membalas orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya.
Saat Kania menimbang-nimbang antara ingin melanjutkan atau menghentikan permainan yang baru saja dimulainya, tanpa dia sadari lampu di kamarnya mulai berkedip, sebentar nyala, sebentar mati.
__ADS_1
Aroma amis pun mulai menyeruak masuk ke dalam rongga pernafasan, tiba-tiba terdengar bisikan tak kasat mata tepat di telinganya yang menyuruhnya untuk terus melanjutkan permainannya.
"Saudariku Kania ... lanjutkan permainan kita, jangan berhenti. Jika kamu berhenti, kamu tidak akan pernah bisa membalaskan sakit hatimu pada mereka. Mereka patut diberi pelajaran yang setimpal. Aku akan membantumu mewujudkan semua inginmu karena hanya aku yang peduli padamu, hanya aku ... Kania." Kania mengusap bulu kuduknya yang meremang saat mendengar suara yang serak dan mengerikan itu begitu dekat dengan telinganya.
Kania melirik pantulan wajahnya di layar ponsel yang masih digenggamnya, dia melihat ada sesosok wanita tengah berdiri tepat di belakangnya, wanita itu tampak mengulurkan tangan kirinya yang pucat pasi dengan kuku-kuku runcingnya ingin memegang bahu kirinya.
Deg!
Detak jantung Kania terasa berhenti begitu saja, saat merasakan tangan dingin dan pucat itu menyentuh sedikit kulit lehernya. Bagaikan terhipnotis oleh sosok wanita itu, Kania menganggukkan kepalanya dan berkata bahwa dia akan melanjutkan permainan yang sudah dimulainya dan baru akan berhenti setelah dendamnya usai terbalaskan semua.
"Aku akan melanjutkan permainan kita, dan tidak akan berhenti hingga dendamku terbalaskan. Arga, Rasti tunggu pembalasanku berikutnya! Haha! Hahaha! Hahahaha!" Tawa Kania terdengar menggema keseluruh ruangan, tanpa dia sadari sosok wanita itu menampakkan senyum smirknya mendengar Kania begitu mudah masuk ke dalam perangkapnya.
'Teruslah kau bermain, Kania! Teruslah menjadi pengikutku! Tetaplah setia padaku! Jangan pernah berpikir untuk berpaling dari diriku atau kau akan menyesal selamanya!' desis sosok wanita itu sambil menyeringai menampakkan gigi-gigi runcing miliknya dan wajahnya yang rusak sebagian.
Gedebruk! Prang!
Semua barang di kamar Kania berjatuhan, terhambur, buku-buku, pigura foto, alat-alat kosmetik, kursi meja rias, bahkan bola lampu yang ada di kamarnya itu pun pecah terserak di lantai kamarnya tanpa ada yang menyentuhnya. Tirai-tirai kamar berkibar dengan kencang seperti ditiup oleh angin ribut.
"Hahaha! Hahaha! Hahaha! Arga! Rasti! Kalian pasti menyesal! Kalian pasti mati! Pasti! Mati! Hahaha!" Kania terus tertawa terbahak-bahak tanpa mempedulikan apa pun.
Kriet! Blam!
Terdengar suara pintu kamar terbuka dan terbanting sendiri, untuk beberapa saat suasana di dalam kamar Kania terasa sangat mencekam. Aroma amis dan wangi silih berganti merasuk ke dalam rongga hidung.
Situasi mencekam itu baru berhenti saat terdengar suara azan Magrib bergema melalui pengeras suara dari masjid yang hanya berjarak satu kilometer dari rumah Kania.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)
Hayya 'alashshalaah (2x)
Hayya 'alalfalaah. (2x)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Laa ilaaha illallaah (1x)
"Panas! Panas! Aaarrrgghh!" Sosok wanita mengerikan itu berteriak kesakitan dengan suara melengking menakutkan sebelum menghilang karena mendengar panggilan Illahi.
Suara azan terdengar syahdu memanggil setiap umat muslim untuk mendatangi penciptanya dalam sujudnya. Namun, tidak dengan Kania, dengan langkah angkuhnya dia mengambil penghisap debu dan mulai membersihkan bekas-bekas kerusuhan tadi kemudian melangkah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya dan langsung merangsek ke tempat tidur setelahnya tanpa peduli kewajibannya sama sekali belum ditunaikan.
Kira-kira apa lagi yang akan dilakukan Kania untuk menuntaskan dendamnya?
***
__ADS_1