Santet Pengantin

Santet Pengantin
Part 2


__ADS_3

Sementara itu di dalam kamar sebuah rumah di kawasan elit Cempaka Putih, tampak ada seorang gadis berparas jelita, berkulit putih merona, tiada henti-hentinya menusuk boneka jerami berbalut kafan bertempelkan foto Rasti dengan penuh rasa dendam di hatinya, senyuman jahat tergambar nyata di wajah gadis jelita berhidung mancung itu.


'Kamu harus mati, Rasti! Kamu harus merasakan pembalasanku! Aku akan terus mengejarmu, ke neraka sekalipun!' desis Kania.


Sementara itu dari dalam sebuah rumpun bambu yang berada di seberang rumahnya ada satu sosok wanita dengan rambut terurai masai menutupi sebelah wajahnya yang hancur sedang mengamatinya dari kejauhan


Sosok wanita bergigi tajam, bergaun merah darah yang berasal dari sebuah pulau di seberang lautan itu tersenyum senang melihat Kania sudah benar-benar terjerat dalam permainan semunya.


"Kania! Kania! Tetaplah seperti ini, minta apa pun yang kau mau kepada kami maka kami akan mengabulkannya dan kau akan menjadi pengikut istimewa kami." Serak bisikan sosok wanita bergaun merah mampu membekukan siapa pun yang mendengarnya.


Di kejauhan suara lolongan anjing semakin keras terdengar, bersahut-sahutan dengan suara burung gagak, udara di kamarnya terasa semakin dingin dan sangat pengap serasa menusuk tulang dan membungkam rongga penciumanya, tirai-tirai di kamarnya berkibar-kibar. Bisikan tak kasat mata itu kembali terdengar di telinganya.


'Bagus! Bagus sekali Kania, saudariku! Mintalah apa pun kepadaku! Minta apa saja yang kau inginkan! Aku pasti mengabulkan! Cukup berikan aku tumbal berupa darah dan daging segar seorang anak dan kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan! Tanpa terkecuali!' bisikan itu terdengar begitu lirih dan serak.


Seringaian Kania semakin nyata terlihat di bibirnya. Keinginan membalas dendam itu semakin kuat tertanam di dalam dadanya. Kebencian itu semakin kuat mengakar dan tak akan lepas begitu saja sebelum semua deritanya terbalaskan


'Aku ingin perempuan dalam foto ini ... mati dengan perlahan-lahan, agar dia tahu apa dan bagaimana rasa sakit itu. Buat dia menderita, dan anak ... anak yang ada di dalam perut perempuan itu kuberikan dia padamu, sebagai persembahan pertamaku,' bisik Kania tak kalah lirih.


Suara gonggongan dan lolongan anjing  kembali bersahutan dari berbagai arah di kejauhan usai persembahan Kania seolah mengamini keinginannya.


Angin dingin meniup api lilin, membuat nyalanya meliuk-liuk seakan-akan hendak padam. Perlahan tetapi pasti, bau amis mulai menerpa indera penciumannya.


'Kania,' Terdengar bisikan seorang wanita tepat di telinganya membuat bulu kuduknya meremang seketika itu juga.


Kania melihat pantulan dirinya dalam cermin, tampak sesosok wanita dengan rambut coklat masainya terurai menutupi sebagian wajahnya yang hancur dengan gigi tajam sedang berdiri di belakangnya, tangannya yang putih pucat berkuku hitam, panjang dan runcing tampak terjulur ingin memegang bahu Kania.


Dingin! Tangan itu terasa sangat dingin dan amis saat bersentuhan dengan kulitnya, sehingga membuat Kania sedikit tersedak.


"Kuterima persembahanmu. Akan kukabulkan permintaanmu ... sekarang!" bisik perempuan itu, lalu menghilang.


Seiring dengan kepergian sosok itu hilang pula suara lolongan anjing dan burung gagak yang tadi terdengar riuh bersahutan tiada henti.


'Sebentar lagi ... semua akan tercapai. Sabar, Kania ... kamu harus sabar,' batin Kania diikuti senyuman yang lebih mirip seringaian di wajahnya.


Seringaian itu terhapus dari wajahnya saat dirinya tanpa sengaja menatap jari manis miliknya, di sana masih tersemat cincin pertunangan pemberian terakhir dari Arga, pemuda tampan berhidung mancung yang pernah menjadi kekasih bahkan sudah menjadi suaminya beberapa tahun yang lalu.


"Arga," bisik Kania.


Ingatan Kania kembali ke lima tahun lalu. Ingatan yang mampu membuatnya merasa bahagia, sesak, marah, sedih sekaligus memendam dendam dalam satu waktu yang bersamaan kepada Rasti dan Arga, dua orang yang pernah sangat dekat dengannya dahulu.


"Rasti, aku nggak nyangka kamu tega nusuk aku dari belakang, padahal aku udah nganggap kamu seperti saudaraku sendiri dan Mas Arga, tak kusangka semudah itu kamu berpaling dari diriku bahkan setelah kita menikah sekali pun," batin Kania sambil mengusap bulir bening di ujung matanya.


***

__ADS_1


Lima Tahun Lalu


Kania tampak sangat bahagia karena sebentar lagi dia akan menikah dengan lelaki yang sangat menyayangi dan memujanya, lelaki yang diidolakan semua gadis di kampusnya.


[Yang, besok jangan lupa bawa dokumen untuk ke KUA ya. Setelah selesai kita pergi ke butik Tante Irna. I love you, Sayang.]


Pesan terakhir yang dikirim Arga kemarin malam saat mereka berbalas pesan.


[Iya, Yang. Aku inget kok. I love you too, Sayang.]


Balas Kania.


Pagi ini Kania dan Arga, tunangannya itu berencana pergi ke KUA untuk melengkapi semua dokumen yang diperlukan untuk pernikahannya, kemudian mereka akan ke butik milik Tante Irna, kakak tertua mami Arga untuk mencoba kebaya dan gaun pengantin yang nanti akan dipakainya untuk acara akad nikah dan resepsi pernikahannya nanti.


"Hai, lu kenapa senyum-senyum sendiri? Kesambet lu?" Tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang oleh seorang gadis cantik, seusianya.


"Eh elu, Ras. Sialan lu! Masa gue masih waras gini dibilang kesambet sih. Elu kali yang kesambet. Hahaha," goda Kania balik.


Rasti tertawa terbahak-bahak mendengar gurauan sahabatnya. Ya, Rasti dan Kania berteman secara tidak sengaja pada saat masa orientasi mahasiswa-mahasiswi baru di kampus mereka beberapa tahun lalu, dan menjadi sahabat karena ternyata mereka berdua berada di fakultas yang sama.


"Duduk sini, Ras. Temenin gue dong," pinta Kania.


"Nunggu siapa sih lu? Arga? Emang lu ada janji ketemu sama dia jam berapa?" Rasti mencecar Kania dengan begitu banyak pertanyaan tanpa memberi kesempatan Kania untuk menjawab.


"Jam sepuluh sampai kampus sih, tapi lewat tiga puluh menit Arga belum datang juga," jelas Kania sambil menerima es jeruk yang tadi sempat dipesannya di kantin kampus.


"Assalamualaikum, Sayang. Apa kabar kamu pagi ini? Kangen rasanya nggak ketemu kamu beberapa jam aja," goda pemuda itu sambil meraih tangan Kania.


Mendengar godaan kekasihnya, Kania hanya bisa menunduk malu dengan pipi mulai bersemu merah, "Iih, apaan sih. Baru juga berapa jam nggak ketemu, nggak usah gombal deh. Malu tau!" Kania mencubit gemas tangan pemuda itu.


"Hahaha ... biarin aja napa sih, Yang. Ngegombal sama calon istri ini," goda pemuda itu semakin menjadi.


Mendengar rayuan pemuda itu pipi Kania menjadi semakih merah, wajahnya pun semakin menunduk malu apalagi ketika disadarinya sahabatnya masih duduk di depannya sambil tertawa menggodanya.


"Wah, yang bentar lagi mau nikah,  makin mesra aja!" goda Rasti pada Kania, sahabatnya. "Sampai nggak nyadar masih ada gue di sini! Udah dong, jangan sampai gue ngiri liat kemesraan elu berdua!" imbuh Rasti membuat Kania tersipu malu.


"Nganan aja, Ras. Kalau ngiri nanti salah jalan. Jangan sampai keliru kasih lampu sein, Lu. Hahaha!" Sambil tertawa Arga menggoda Rasti yang spontan memajukan bibirnya.


"Udah deh mending elu berdua cepetan cabut sana gih, daripada di sini terus! Apa perlu gue rebut Arga dari elu, biar lu nggak bisa manas-manasin gue terus?" usir Rasti masih dengan wajah cemberut.


"Ih! Kok lu ngomong gitu sih, Ras! Emangnya lu tega nyakitin gue?" tanya Kania dengan perasaan bingung mendengar perkataan sahabatnya yang terasa teramat sangat janggal di telinganya itu.


"Ah! Udah sana buruan cabut! Gue nggak perlu jawab pertanyaan elu yang nggak penting itu!" Rasti mendorong Kania dan Arga untuk segera pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Sambil melangkah pergi, Arga dan Kania melambaikan tangannya ke arah Rasti yang langsung membalas lambaian tangan mereka.


"Dah, Rasti. Kami pergi duluan ya, kamu hati-hati. Maaf nggak bisa nemenin kamu," pamit Arga dan Kania bersamaan.


"Dah. Iya, nggak apa-apa. Aku juga mau pulang kok, sekarang. Kalian hati-hati juga ya," balas Rasti.


Sepeninggal Kania dan Arga, Rasti segera mengeluarkan telepon genggam dari dalam tasnya dan langsung melakukan panggilan suara kepada seorang lelaki yang sudah cukup dikenalnya.


"Halo, Zen gimana udah dapet belum yang gue minta sama elu kemaren?" tanya Rasti pada seseorang.


"Dapet, dong. Buat Zen, nyari barang kaya gitu aja sih, kecil!" balas seorang pemuda dengan nada bangga.


Rasti mengangguk puas mendengarkan jawaban yang diberikan oleh pemuda itu. Dia tersenyum miring, dia senang karena beberapa dari rencananya berjalan lancar hingga sejauh ini.


"Elu tinggal kasih gue sesuai yang kita sepakati kemarin. Kalau elu udah siap, gue anter sekarang," ucap Zen.


"Oke, kalau gitu sekarang kita ketemuan di Meet Up Cafe. Setengah jam dari sekarang gue sampai sana!" ucap Rasti mengakhiri percakapan dengan lawan bicaranya.


Setengah jam kemudian, di Meet Up Cafe di sebuah tempat yang cukup terlindung dari keramaian,  tampak Rasti berbincang-bincang dengan seorang laki-laki.


Setelah merasa aman, laki-laki tersebut tampak mengeluarkan sebuah bungkusan plastik kecil berisi dua butir pil berwarna hijau.


"Elu yakin pil ini bakalan bekerja seperti yang gue mau, Zen?" tanya Rasti.


Pemuda yang dipanggil Zen itu hanya mengangguk sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Sip! Gue berani jamin. Kalau nggak sesuai, lu boleh ambil balik duit elu. Lu boleh tanya ke temen-temen lu yang ngenalin gue ke lu soal kebenaran omongan gue. Lu boleh cek reputasi 'berlian' yang gue jual," yakin Zen.


Melihat reaksi Zen, serta-merta Rasti mengeluarkan amplop coklat yang sudah dipersiapkannya dari tadi pagi sebelum berangkat kuliah.


"Ini, yang gue janjikan. Inget, elu nggak kenal gue. Gue nggak mau ada yang curiga sama gue," ancam Kania pada Zen.


"Sip. Elu tenang aja, rahasia lu aman di tangan gue. Lain kali hubungi gue, kalau lu cari barang lagi." Zen mengacungkan dua jempol tangannya tanda memahami ucapan Rasti tadi.


"Oke," jawab Rasti singkat.


Zen melihat sekilas pada Rasti kemudian membuka amplop yang diberikan oleh Rasti beberapa saat lalu.


Setelah menghitung uang dalam amplop coklat itu, tanpa mengatakan sepatah kata pun Zen segera pergi meninggalkan Rasti yang tengah tersenyum jahat.


"Nggak lama lagi gue bakal rebut Arga dari elu, Kania! Gue harus jadi istri Arga bagaimana pun caranya!" desis Rasti dengan seringaian samar di wajahnya.


Apa yang direncanakan Rasti terhadap Arga dan Kania?

__ADS_1


Jangan lupa berlangganan untuk mengikuti lanjutan ceritanya


***


__ADS_2