
"Makasih banyak, Mas. Sebenernya Mas nggak perlu sampai segininya sama aku, toh sepatuku hanya sepasang dan tiruan bukan seperti sepatu-sepatu mahal ini," ucap Kania manja sambil menampilkan senyum termanis miliknya untuk kembali memikat Andra.
"Sama-sama, Kania. Eh, kamu lapar nggak? Kita makan di Restoran Godhong Ijo itu yuk, di sana masakannya enak-enak atau kamu mau makan yang lain?" tawar Andra.
Kania melihat sekelilingnya dengan wajah pura-pura kebingungan, hingga akhirnya Kania menjatuhkan pilihannya ke restoran makanan Jepang milik ibunya. Namun, sebelum itu Kania kembali berpura-pura sedih karena celananya kotor dan sedikit berlubang akibat terjatuh tadi.
"Di sana aja, Mas. Aku pengen makan makanan Jepang, tapi ... nggak jadi deh, Mas." Kania pura-pura merajuk.
"Kenapa, Kania?" tanya Andra keheranan dengan sikap Kania yang tiba-tiba berubah.
Kania tidak menjawab, hanya menunjukkan celana palazzo miliknya yang kotor dan sedikit sobek di bagian pinggangnya, lalu menutupi wajahnya yang bersemu malu.
"Astaghfirullahaladzim, celanamu jadi korban juga? Ya udah yuk, kita ke butik itu, cari ganti untuk kamu baru kita makan," ajak Andra meraih tentengan yang di bawa Kania tadi dan menyuruh Kania berjalan di sampingnya.
Kania mengangguk dan menyerahkan tiga tas besar berisi sembilan kotak sepatu hasil 'merampok' Andra tadi, lalu bergegas berjalan di samping Andra.Usai berbelanja dan makan siang, Andra mengantar Kania pulang ke rumah. Kania sengaja meminta Andra untuk berhenti jauh dari rumahnya, agar Andra tidak bisa mencarinya kelak.
Sesampainya di rumah, Kania bergegas masuk ke dalam kamar, tetapi sebelum itu dia menelepon salah satu kru restoran untuk mengantarkan mobil dan barang pesanannya ke rumah setelah jam kerjanya selesai.
'Kamu target selanjutnya, Andra. Kita akan memainkan permainan yang cantik dan memabukkan tapi sangat mematikan, dan kamu tidak akan menyadarinya. Saat kamu menyadari, racun itu telah membunuhmu.' Senyuman smirk terbayang samar di wajah cantik Kania.
Menjelang senja, barang pesanan dan mobil Kania diantarkan ke rumah oleh salah satu kru restoran. Setelah menerima barang yang dipesannya tadi, Kania segera masuk kembali ke dalam kamarnya dan dibukanya kotak kecil yang memang ditunggunya dari tadi.
Kania mengeluarkan sebuah gelas bekas dipakai Andra minum direstoran tadi dan sebuah foto postcard dari dalam kotak, foto dirinya berdua dengan Andra yang tadi diambilnya waktu mereka makan siang di restoran milik Citra.
Kania menerbitkan senyum smirk khasnya sambil membatin, 'nanti malam aku akan membuatmu tunduk padaku, dan setelah itu kita tunggu kehancuranmu.'
Tengah malam, Kania memulai kembali ritualnya, kali ini sasarannya tidak hanya Andra. Kania juga menambahkan Arga sebagai sasaran tembaknya yang kedua. Dia akan membuat dua orang lelaki tampan itu tergila-tergila dan memperebutkan dirinya, bila perlu rela mati demi dirinya.
'Arga dan Andra ... hmm duet duo A yang menggairahkan, mulai malam ini akan aku buat kalian berdua menjadi budak cintaku, agar kalian tahu rasanya disakiti, hahaha,' desis Kania penuh angkara.
Dupa dinyalakan dan wangi asap dupa mulai memenuhi ruangan berbaur dengan wangi bunga kantil yang baru dipetiknya. Harum wangi bunga kenanga dan bunga kantil menguar dari tubuhnya. Mantra demi mantra perlahan mulai diuntai, mantra aji pengasihan jaran goyang dirapal sebaris demi sebaris, merasuki sukma yang dituju.
***
Sementara itu di sebuah hunian elit di Pondok Indah, Arga tengah melaksanakan salat di waktu sepertiga malamnya ketika tiba-tiba ingatannya terbang kepada satu sosok gadis cantik yang pernah singgah dan menetap di dalam hidupnya, sebagai pendamping dirinya walau pun tak lama.
Dalam ingatannya terbersit kerinduan yang mendalam pada wanita itu, wanita yang begitu dicintainya melebihi dirinya sendiri, tetapi sekaligus dibencinya karena telah mengkhianati cintanya dengan seorang laki-laki dengan cara yang sangat tidak berakhlak.
Arga terdiam mengingat semua kenangan indah bersama perempuan itu, mulai awal perkenalan mereka yang menurut dirinya begitu memalukan yang nantinya malah membawa mereka terikat dalam sebuah pernikahan yang berakhir menyakitkan.
'Kania ... apa kabarmu sekarang?' bisik Arga begitu pelan sehingga hanya dirinya dan angin saja yang dapat mendengar.
__ADS_1
Sepanjang waktu hingga azan Subuh berkumandang, hanya nama dan wajah Kania yang bertahta dalam ingatan Arga. Dirinya begitu ingin bertemu kembali dengan Kania, kekasih yang ternyata diam-diam masih menduduki singgasana paling tinggi dalam hatinya.
Walau pun hanya untuk sekedar bertukar kabar atau hanya sekedar untuk melihat wajahnya dari kejauhan itu sudah cukup bagi Arga, karena dia tahu tidak akan mungkin baginya untuk mendekati wanita itu lagi.
'Aaargh! Bisa gila aku kalau seperti ini! Kenapa setelah sekian lama, aku harus mengingatmu kembali, Kania! Kenapa!' Arga meremas rambutnya dengan geram. Dia merasa begitu frustasi, karena kembali mengingat Kania sama artinya dengan kembali mengingat luka di hatinya, luka yang masih terasa sakit dan Arga tidak tahu kapan luka itu akan sembuh dan menghilang.
Arga berdiri dan berjalan ke kamar mandi dengan gusar, di sana Arga memutuskan mandi untuk menghilangkan bayangan wajah Kania dan bayangan laki-laki yang telah menggoreskan luka di dalam hatinya dalam waktu yang bersamaan.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu kamar mandi mengejutkan Arga yang tengah melamun, sehingga membuat dirinya terburu-buru menyelesaikan acara mandinya. Ketika keluar dari kamar mandi, dilihatnya Rasti sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Lama amat mandinya, Mas. Aku sudah nunggu dari tadi mau mandi juga. Mas, nggak apa-apa 'kan? tanya Rasti mengkhawatirkan Arga yang menurutnya sudah terlalu lama di kamar mandi.
"Iya, aku nggak apa-apa. Hanya saja tadi aku tiba-tiba agak sakit perut, jadi lama di kamar mandi. Ya udah, kamu cepetan sana mandi, lalu kita salat Subuh berjamaah, Yang," ajak Arga kepada istrinya, Rasti.
"Iya, Mas," jawab Rasti lalu melangkah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara menunggu Rasti mandi, Arga membuka Al-Qur'an dan berniat membaca salah satu surah, ketika angannya kembali kepada Kania. Ingatan saat dia memberi Kania mas kawin berupa seperangkat alat salat lengkap dan sebuah Al-Qur'an, yang langsung dibuka dan dibaca oleh Kania saat akad nikah.
'Ah, Kania. Kenapa kau hadir begitu saja dalam ingatanku.' Arga merasa begitu resah karena ingatan itu.
"Mas, Mas Arga kenapa? Kok sepertinya sedang gusar? Ada yang mengganggu pikiran Mas Arga?" tanya Rasti yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Arga.
Rasti menuruti saja perkataan suaminya, meski pun dia merasa ada yang janggal dengan sikap suaminya, tetapi Rasti tidak ingin mencari masalah dengan suaminya saat ini. Dalam hatinya, Rasti memutuskan pagi ini dia akan mendatangi seseorang yang sudah sangat lama tidak dijumpainya setelah dia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
Usai sarapan, Rasti meminta ijin pada Arga untuk pergi menemui seseorang teman kerjanya dulu di Garuda Nusa Televisi. Dia mengatakan kepada Arga bahwa temannya itu baru saja kehilangan ayahnya, sehingga Rasti bermaksud untuk menyelawat. Arga yang tidak tahu bahwa dirinya telah dibohongi oleh istrinya memberikan ijin kepada Rasti dengan syarat sebelum azan Duhur berkumandang, dia harus sudah ada di rumah.
"Mas, aku mau minta ijin ke rumah Gita, bekas temen di Garuda Nusa. Ayahnya 'kan baru saja meninggal, jadi aku mau ke sana menyelawat, boleh nggak?" tanya Rasti.
"Boleh, tapi jangan lama-lama ya. Sebelum azan Duhur usahakan sudah ada di rumah, kamu kan belum boleh terlalu capek. Jadi jangan membantah," titah Arga tidak ingin dibantah.
Rasti menganggukkan kepalanya kemudian memeluk suaminya dan mengucapkan terima kasih karena sudah diberi ijin untuk keluar rumah, "ya, Bos. Terima kasih sudah diijinkan keluar rumah."
Arga mengangguk dan berpamitan kepada Rasti karena dirinya harus berangkat ke kantor pagi-pagi sekali karena ada meeting penting dengan klien dari Jepang.
Usai mengantarkan kepergian suaminya, Rasti bergegas menelepon seseorang, lalu mengganti bajunya dan bergegas pergi mengendarai mobil Porsche Cayman miliknya menuju ke suatu tempat untuk menemui seseorang yang baru saja diteleponnya.
Setelah kurang lebih menempuh satu jam perjalanan, akhirnya Rasti sampai juga di pinggiran kota Jakarta, Rasti langsung menuju ke sebuah rumah sederhana milik seorang dukun yang terkenal ahli dalam hal pelet, sudah banyak orang yang meminta bantuan darinya termasuk Rasti yang sudah menjadi langganan Mbah Kromo, demikian biasa dia dipanggil.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Perlahan Rasti mengetuk pintu rumah Mbah Kromo.
"Masuk!" Terdengar perintah dari seorang laki-laki tua di dalam rumah.
Ceklek! Kriet!
Derit pintu rumah Mbah Kromo terdengar sangat nyaring di telinganya, sehingga membuatnya sedikit berjengit.
"Permisi, Mbah," ucap Rasti meminta ijin masuk ke dalam rumah.
"Masuk! Masuk! Langsung saja ke dalam! Mbah ada di tempat biasa!" perintah Mbah Kromo masih tanpa wujud.
Mendengar perintah yang diberikan oleh Mbah Kromo itu, membuat Rasti bergegas mendatangi arah suara. Tanpa menemui kesulitan, Rasti bisa langsung menemui Mbah Kromo yang langsung menyuruh Rasti untuk duduk di seberangnya.
Rasti baru saja akan duduk, ketika Mbah Kromo tiba-tiba memakinya dengan kasar, "dasar bodoh! Kan sudah kubilang, kamu jangan sampai terbujuk rayu lelaki itu untuk ikut menyembah Tuhannya! Kenapa kamu melanggarnya, Hah! Kalau sudah seperti ini aku memasang susuk baru di wajah dan seluruh badanmu itu. Itu artinya kamu tidak bisa berhubungan badan dengan lelaki itu selama 15 hari. Dasar ceroboh!"
Rasti sangat terkejut mendengar penuturan Mbah Kromo yang tepat sasaran. Memang benar kata Mbah Kromo bahwa dia sudah melanggar pantangan yang diberikan oleh Mbah Kromo kepadanya. Dia lupa dengan pantangan itu sebab begitu senang bisa mengelabui suaminya, Arga tentang penyebab kematian anak mereka.
"Maaf, Mbah. Saya lupa tentang pantangan itu, saya betul-betul ...." ucapan Rasti menggantung karena langsung dipotong oleh Mbah Kromo.
"Ya, aku tahu. Kamu lupa, karena kamu terlalu senang bisa memperdaya suamimu yang tolol itu! Ya sudahlah! Sekarang lepas bajumu semuanya dan pakai kain sarung itu, kita akan mulai ritual tiga menit lagi," perintah Mbah Kromo.
"Baik, Mbah," jawab Rasti singkat dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan kain yang tadi ditunjukkan oleh Mbah Kromo.
Usai mengganti baju dengan kain sarung, Rasti segera melakukan sebuah ritual untuk membersihkan dirinya dari pengaruh Arga yang selalu mengajak Rasti untuk mengingat Allah.
Setelah proses pembersihan diri, Mbah Kromo mulai memasukkan berpuluh-puluh susuk emas ke dalam wajah dan tubuh Rasti yang memakan waktu kurang lebih selama satu jam lamanya dan untuk menambah pesona wanita itu, Mbah Kromo juga memberikan sebuah cepuk emas berisi bedak dan sebuah kain berisi foto Arga yang sudah diberi rajah.
"Susuk-susuk emas itu sudah kutanam di tempat-tempat yang kemarin dan dengan jumlah susuk yang lebih banyak. Dan, ini ... untuk menambah pesonamu, mbah berikan cepuk emas berisi bedak yang sudah mbah beri rajah, dan kain itu ... kamu masih ingat kan, harus melakukan apa? Satu lagi, Ingat! Jangan sampai kamu melanggar lagi pantangannya!" tegas Mbah Kromo tajam.
"Iya, Mbah. Saya nggak akan melanggar pantangan lagi, Mbah," janji Rasti.
"Halah kebanyakan janji kamu! Sudah kaya orang kampanye saja. Kalau urusanmu sudah selesai, pergi sana! Aku mau semedi lagi! Tapi itu lepas dulu kain punyaku, nanti kamu bawa ... rugi aku," usir Mbah Kromo tegas.
Rasti menganggukkan kepalanya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti kembali kain sarung itu dengan bajunya yang tadi ditinggalnya di dalam kamar mandi.
"Terima kasih, Mbah. Ini ada sedikit untuk Mbah Kromo beli sesajen. Saya permisi pulang, Mbah," ucap Rasti sambil mengangsurkan sebuah amplop coklat tebal berisi uang sebanyak seratus juta ke depan Mbah Kromo.
Mbah Kromo tidak menjawab perkataan Rasti, karena dia sudah melakukan semedi.
Rasti lalu memutuskan pulang saja untuk melakukan ritual berikutnya dengan kain berajah yang berisikan foto Arga itu.
__ADS_1
***