Santet Pengantin

Santet Pengantin
Part 12


__ADS_3

ICU rumah sakit Pondok Indah


Hari ini adalah hari ke lima Rasti dirawat di ruangan ICU Rumah Sakit Pondok lndah pasca operasi ceasar akibat pendarahan hebat yang dialaminya sewaktu usia tujuh bulan kandungannya. Rahayu, sang mama masih tetap setia menunggui Rasti di sana, bergantian dengan Arga dan Roy, sang papa tercinta.


Rahayu menatap sendu ke arah Rasti berbaring, pilu terasa dalam hati melihat salah satu dari putri kembarnya harus mengalami nasib menyedihkan seperti ini.Sungguh, Rahayu tidak pernah mengira jika bayi yang sudah ditunggu-tunggu itu harus dilahirkan Rasti dalam keadaan meninggal.


Namun, Rahayu sadar itu semua sudah kehendak sang Kuasa. Rahayu baru saja akan duduk, ketika di hadapannya sudah berdiri seorang perempuan yang sangat cantik bergaun merah, perempuan itu mengaku dirinya adalah bekas teman kerja  Rasti di Garuda Nusa Televisi dulu.


"Selamat siang, Tante. Maaf, saya mau tanya, yang di dalam itu apa Rasti ya, Tan?" tanya gadis bergaun merah.


"Adik siapa? Apa saya kenal dengan adik?" Tanpa menjawab pertanyaan gadis cantik bergaun merah itu, Rahayu balik bertanya.


"Saya Kirana, sahabat sekaligus manajer penyiaran Rasti waktu bekerja di Garuda Nusa Televisi, Tante. Saya ke sini karena mendengar berita bahwa Rasti sedang koma pasca operasi ceasar. Maaf kalau kehadiran saya mengganggu," ujar Kirana, gadis bergaun merah itu tersenyum manis.


Mendengar penjelasan Kirana, wajah ayu Rahayu menjadi semakin kelabu, sekelam mendung yang menggantung di luar. Dia mengingat betapa Rasti dulunya adalah seorang dara yang menyenangkan, begitu pula Sasti kembarannya. Akan tetapi, itu semua harus sirna, setelah kejadian itu.


***


Dua Tahun Lalu


Kring! Kring!


Telepon berdering dengan kencang di kediaman Hendrawan, pagi hari itu para penghuni rumah kembali asyik bergelung di kamar masing-masing setelah melakukan salat Subuh berjama'ah, kecuali Bik Muna, asisten rumah tangga yang sudah bekerja pada keluarga tersebut sejak dua puluh tahun silam.


Kring! Kring!


Dering suara telepon kembali terdengar, Bik Muna yang mendengar deringan telepon itu bergegas menuju ke ruang keluarga untuk mengangkat gagang telepon agar berhenti berdering.


[Halo. Assalamualaikum. Rumah keluarga Hendrawan di sini, ada yang bisa dibantu?]


Tanya Bik Muna kepada penelepon di seberang.


[Wa'alaikumsalam. Saya dengan Indira, asisten dokter Jiwo. Bisa saya bicara dengan orang tua Sasti Hendrawan?]


Tanya orang di seberang.


[Ditunggu sebentar, Bu Indira. Akan saya panggilkan tuan atau nyonya rumah saya dulu, ya.]


Pamit Bik Muna, kemudian menuju ke arah kamar utama di rumah itu.


Tok! Tok! Tok!


"Siapa? Tunggu sebentar," terdengar suara perempuan menyahut dari dalam kamar.


"Bik Muna, Nyonya. Ada telepon dari rumah sakit, dari asisten dokter Jiwo, Nyah." Bik Muna menginformasikan kepada wanita yang ada di dalam.


Demi mendengar penjelasan asisten rumah tangganya, Rahayu yang hanya memakai kimono mandi dengan rambut masih dililit dengan handuk itu pun segera menuju ke ruang keluarga untu menjawab panggilan telepon dari rumah sakit.


[Halo, Selamat pagi. Saya Rahayu, mama Sasti. Ada perkembangan terbaru apa, Sus mengenai anak saya, Sasti?]


Rahayu bertanya dengan antusias karena sudah tiga hari ini mereka sekeluarga tidak dapat mengunjungi Sasti di rumah sakit, karena sedang ada acara yang tidak dapat ditinggalkan.

__ADS_1


[Begini, Bu ... sebelumnya saya minta sebab saya harus menyampaikan berita. Tapi ini sudah kewajiban kami untuk segera memberitahu keluarga pasien apabila ada sesuatu pada pasien.]


Terang Suster Indira dengan hati-hati.


[Oh, oke. Suster jangan bikin saya bingung ya, tolong katakan ada apa dengan Sasti anak saya. Dia baik-baik saja 'kan, Sus?]


Tanya Rahayu mulai emosi.


[Begini, bu ... baru saja Sasti mengalami musibah. Kami berharap Ibu sekeluarga bisa datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Sasti. Maaf hanya itu saja yang bisa saya sampaikan. Selamat pagi, Bu Hendrawan.]


Bruk!


Rahayu bagaikan disambar petir setelah mendengar penjelasan Suster Indira tadi, hingga tidak sadar menjatuhkan gagang telepon yang tadi dipegangnya.


"Pah! Pah! Rasti! Rasti!" Rahayu berteriak memanggil suami dan anak sulungnya.


Roy yang memang pada saat itu sudah di depan tangga, kontan berlari mendatangi ke arah suara teriakan istrinya. Sementara Rasti yang masih bermalas-malasan di dalam kamar segera meloncat dari tempat tidurnya dan bergegas mendatangi Rahayu di ruang keluarga.


"Ada apa, Mah? Kenapa teriak-teriak? Mama nggak apa-apa 'kan?" pekik Roy.


"Pah, Mama kenapa, Pah? Kenapa Mama teriak-teriak? Dan itu kenapa ada gagang telepon di lantai?" susul Rasti di belakang Roy.


Papanya hanya mengedikkan bahu, tidak tahu harus menjawab apa karena dia pun juga tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya.


Rasti dan Roy serempak mendatangi Rahayu, baru akan bertanya ada apa, tiba-tiba wanita 45 tahun itu menangis tersedu. Bingung dengan tingkah Rahayu, Roy pun memeluk erat Rahayu dan membiarkannya menangis lebih dulu, sementara Rasti mengembalikan gagang telepon kembali ke tempatnya.


Dalam isak tangisnya, Rahayu menyebut nama Sasti, "Pah ... Sasti, Pah ... Sasti."


"Sasti kecelakaan di rumah sakit, Pah. Ayo kita datangi dia di tempat dokter Jiwo, Pah. Mama, khawatir padanya, Pah. Huhuhu." Tangis Rahayu.


"Apa! Sasti kecelakaan, Mah? Ayo, kita ke sana sekarang! Rasti! Cepat ambilkan baju dan tas serta sandal Mama! Papa mau siapkan mobil sekarang! Bik Muna! Bik Muna! Tolong buka gerbang sekarang, kami mau ke rumah sakit!" Teriak Roy lantang.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rasti bergegas mengambil baju, tas dan sandal untuk mama, sementara untuk dia sendiri hanya mengambil tas dan sandal karena tadi dia sudah sempat mandi dan berganti baju. Bik Muna pun langsung berlari ke luar membuka gerbang untuk majikannya nanti.


Usai berganti baju, Rahayu dan Rasti gegas mendatangi Roy yang sudah menunggu di dalam mobil. Begitu pintu mobil di tutup, Roy langsung memacu Buggati La Voiture Noire miliknya, membelah aspal memecah kesunyian di hari Minggu pagi itu.


Sesampainya di pusat rehabilitasi jiwa milik dokter Jiwo, mereka bertiga langsung berlari mencari dokter Jiwo untuk meminta penjelasan mengenai kondisi Sasti. Namun baru berapa langkah mereka berlari, Suster Indira memanggil mereka.


"Pak Hendrawan!" seru Suster Indira ketika melihat keluarga Hendrawan berlarian dari luar.


Mendengar suara teriakan Suster Indira, mereka bertiga serempak menghampirinya lalu bergegas menghambur mendekati ranjang Sasti dan mendapati gadis ayu itu tengah susah payah berjuang menghirup oksigen dengan bantuan selang ventilator di hidungnya sementara pergelangan tangan kirinya terdapat jarum infus dan jarum transfusi di pergelangan tangan kanannya.


"Sastiiiii ... apa yang terjadi, Nak? Kamu kenapa?" Rahayu histeris melihat keadaan Sasti yang tampak sangat kacau itu.


"Mah, awas! Itu dokter mau menangani Sasti! Mama agak minggir ke sini!" Roy menarik bahu istrinya dan langsung ditepis dengan kasar oleh istrinya.


"MAH!" hardik Roy kasar, membuat Rahayu tersentak dan menuruti suaminya untuk memberi jalan pada para tim medis.


Para tim medis berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Sasti, tetapi Tuhan berkehendak lain. Di antara suara peralatan monitoring yang berada di sisi ranjangnya, terdengar lirih suara Sasti untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya suara itu menghilang bersama tarikan nafas terakhirnya, "Mah, Pah, Rasti ... ma ... af ... kan ... a ... ku. A ... llah ... u ... Ak ... bar."


Tiiiiiiiitttt!

__ADS_1


Terdengar detikan panjang dari mesin monitoring, menandakan si empunya hidup telah mengambil kembali roh yang telah dititipkan beberapa waktu lamanya pada jasad yang kosong.


"SASTIIIIII!" jerit Rahayu histeris langsung luruh ke lantai saat mendapati suara mesin monitoring tidak lagi berdetak mengikuti irama jantung Sasti.


Rasti dan Roy yang sebelumnya sudah memegang tubuh Rahayu dari sisi kiri dan kanannya, serta merta mengangkat tubuh Rahayu ke atas sofa bed yang ada di dalam ruang rawat itu.


Dengan sigap, tim medis menggunakan defibrilator untuk mengejutkan jantung Sasti selama beberapa lama, tetapi usaha mereka sia-sia. Sasti, sudah benar-benar kembali kepada penguasa semesta.


"Pasien sudah meninggal, kejut jantung yang kita lakukan tidak berhasil. Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun," ucap rekan-rekan dokter Jiwo yang ikut membantu menyelamatkan Sasti.


Roy yang menyaksikan kejadian itu gegas mendatangi dokter Jiwo dan mencecar dokter psikiatri itu dengan berbagai pertanyaan mengenai Sasti.


"Dokter, apa terjadi pada Sasti? Bagaimana dia bisa kecelakaan? Sekarang dia di mana dan bagaimana kondisinya, dok?" cecar Roy dengan tatapan nanar.


"Bapak, Ibu, saya harap bapak dan ibu tenang dulu. Saya akan menjawab semua pertanyaan Bapak dan Ibu satu persatu, tapi sebelumnya saya ikut berduka atas kejadian ini. Kami tidak menyangka, Sasti senekat ini," jelas dokter Jiwo dengan wajah sedih.


Rasti memeluk mamanya dari samping sambil berusaha menenangkannya dengan cara mengelus pundak wanita yang tampak kacau itu karena menangis tiada henti.


"Maafkan saya, Pak, Bu. Tadi pagi usai sarapan bersama, Sasti sepertinya sengaja mengakhiri hidupnya dengan menenggak obatnya melebihi dosis yang kami berikan. Kami juga masih mencari tahu bagaimana cara Sasti mengambil obat-obat tersebut tanpa sepengetahuan kami, mengingat obat-obat pasien kami simpan dalam loker khusus pasien yang sudah diberi nama sesuai nama masing-masing pasien dan kami yang menakar langsung sesuai dosis, saat akan diberikan kepada pasien untuk menghindari hal-hal seperti ini," jelas dokter Jiwo panjang lebar.


Roy menarik nafas dalam-dalam ketika mendengar penjelasan dokter Jiwo, Roy tidak meragukan kualitas rumah sakit yang berfungsi sebagai pusat rehabilitasi jiwa tersebut.


"Saya minta, tolong dokter tutup rapat-rapat berita kematian anak saya, jangan sampai media tahu karena itu akan memperkeruh suasana. Untuk selanjutnya biar saya yang urus," pinta Roy kepada dokter Jiwo.


"Baik, Pak kalau itu keinginan Bapak. Kami tidak akan memberitahukan kepada media mengenai berita duka yang sedang Bapak alami saat ini, dan bila Bapak memerlukan bantuan kami nanti untuk mencari tahu bagaimana cara Sasti memperoleh lebihan obat itu, kami pasti akan membantu," ucap dokter psikiatri itu.


"Baik, terima kasih untuk tawarannya, dok. Saya hargai bantuan dokter," balas Roy.


Rahayu yang masih tidak percaya dengan kepergian Sasti, mendesak Roy untuk menyelidiki perihal kematian salah satu anak kembarnya itu, Rahayu merasa kematian Sasti sangat aneh dan di luar kewajaran.


Roy menyanggupi permintaan istrinya dan menghubungi salah satu personal informan yang kerap dia mintai tolong setiap kali dia memerlukan berbagai informasi penting yang bersifat rahasia.


[Selamat siang, Pak Dandi. Saya perlu bantuan bapak segera untuk mencari informasi tentang kematian salah satu anak kembar saya, Sasti.]


Ucap Roy langsung ke inti permasalahan.


[Baik, Pak. Akan saya kerjakan saat ini juga!]


Jawab Pak Dandi, dia sudah cukup paham dengan kliennya yang satu ini, bila Roy memberi perintah itu berarti saat itu juga dia harus langsung bergerak.


Hampir satu bulan setelah meninggalnya Sasti, Pak Dandi datang membawa berita bahwa kematian Sasti itu murni bunuh diri. Rupanya selama beberapa waktu, Sasti tidak benar-benar meminum obat-obatnya melainkan disimpannya ke dalam saku baju atau celananya, dan Sasti meminum obat-obatan tersebut untuk mengakhiri hidupnya setelah mengetahui Adi, lelaki yang dicintainya menikah dengan wanita lain karena mengira Sasti telah menikah lebih dulu dengan lelaki lain.


"Sasti, kenapa pendek sekali akalmu, Nak. Di mana imanmu, kenapa hanya karena seorang Adi kamu tega ninggalin mama seperti ini," ratap Rahayu.


"Sudah, Ma. Semua sudah terjadi, kita juga nggak bisa nyalahin siapa-siapa. Semua sudah kehendak Allah," Rasti mengingatkan mamanya agar bisa menerima keadaan.


Namun, kesedihan Rahayu rupanya sudah tidak terbendung lagi. Setiap waktu, dia hanya melamun mengingat Sasti, hingga suatu hari Roy melihat suatu kejanggalan pada kejiwaan istrinya dan memutuskan untuk mengantarkan istrinya berobat ke pusat rehabilitasi jiwa, untuk memulihkan jiwanya yang terguncang hebat pasca kematian Sasti.


Lalu siapa sebenarnya Kirana, gadis manis bergaun merah yang mendatangi Rahayu itu dan apa yang diinginkannya?


***

__ADS_1


__ADS_2