
Seminyak, Bali
Setelah sempat bervideo call dengan putri semata wayangnya beberapa waktu lalu, Irvan tampak sedikit lebih bersemangat apalagi putri kesayangannya itu selalu memberikan berita-berita menyenangkan tentang dirinya dan bisnis-bisnis keluarga mereka yang saat ini ditanganinya dengan serius, sendirian.
Irvan tampak bangga sekali dengan putri kecil yang sekarang telah menjadi seorang wanita dewasa yang matang. Di mata Irvan, anak perempuannya itu tidak mempunyai cacat cela sama sekali walau pun sebuah peristiwa di masa lalu yang dituduhkan kepada anak tercintanya itu telah membuat dirinya terkena serangan jantung hingga stroke seperti ini, bagi Irvan bidadarinya itu tetap bersih dan suci.
"Ayah, kelihatannya beberapa hari ini begitu bersemangat sekali. Ada apa nih? Boleh ibu tahu?" Citra mendatangi suami tercintanya sambil membawakan sepiring buah naga dan apel kegemaran suaminya yang telah dipotongnya menjadi beberapa bagian kecil-kecil.
"Hiya, hayah mpengen le ... kas sem ... buh, hupaya bisa mpulang hetemu hania." (Iya, ayah pengen lekas sembuh, supaya bisa pulang ketemu Kania) Manik Irvan tampak berbinar bahagia ketika menyebut nama Kania, gadis kecil kesayangannya.
Citra tersenyum haru mendengar perkataan lelaki yang masih tampak gagah walau pun dengan kondisi demikian dan di usianya yang sudah setengah abad. Bagi Irvan saat ini, anak dan istrinya merupakan prioritas utama dalam hidupnya, dia tidak berani lagi bermain api dengan wanita mana pun setelah kejadian lima tahun lalu.
***
Lima tahun silam dalam ruang kerja Irvan di PT. Andara Steel Mining
"Jadi, bagaimana Sasti? Kamu mau 'kan menjadi istri simpanan saya? Saya akan menjamin semua keperluan kamu, sehingga kamu nggak perlu lagi bekerja di luar rumah seperti ini. Saya akan memanjakan kamu dengan semua yang saya miliki." Irvan mengungkapkan hasratnya untuk memperistri Sasti ketika sedang meminta tanda tangan persetujuan Irvan untuk dokumen-dokumen penting yang akan di proses segera oleh pihak keuangan.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa, Bapak sudah memiliki keluarga sendiri dan saya pun sudah mempunyai seorang calon suami. Saya tidak mau menjadi duri dalam rumah tangga orang lain, Pak. Saya tidak ingin menjadi seorang pelakor atau apa pun itu sebutannya. Tolong jangan samakan saya dengan perempuan-perempuan yang sudah menjual murah tubuh dan harga dirinya hanya untuk menjadi seorang pelakor." Sasti menolak dengan halus dan tegas semua permintaan Irvan, dia benar-benar tidak ingij menjadi duri dalam daging bagi rumah tangga orang lain.
"Well, kalau kamu nggak mau jadi simpanan saya atau ya ... minimal pacar saya ... dan ... kenapa kamu berminat bekerja di sini, dengan posisi sebagai seorang sekretaris? Apa tujuanmu? Karena saya tahu latar belakang pendidikanmu dan juga siapa orang tuamu! Kenapa kamu tidak memilih mengelola usaha papamu saja?" Irvan mencecar Sasti dengan berbagai pertanyaan mengenai alasannya bekerja di perusahaan miliknya ini.
Sasti menarik nafas panjang dengan perlahan, akhirnya saat yang di tunggu-tunggu oleh dirinya sampai juga. Dulu, sebelum dia melamar ke perusahaan milik Irvan ini, dia yakin suatu saat pasti akan ditanya apa alasan dia bekerja di sana, sementara latar belakang pendidikan dan latar belakang kedua orang tuanya tidak dapat dipungkiri kenyataannya, dia pun tidak akan pernah memungkiri itu.
"Saya bekerja di sini, karena saya memang ingin bekerja di perusahaan lain yang bukan milik papa saya. Saya ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang staf biasa yang tidak diistimewakan oleh siapa pun di perusahaan tempat saya bekerja. Saya tidak mempunyai maksud dan tujuan lain selain itu, jadi Pak Irvan tidak perlu khawatir atau curiga kepada saya. Saya tidak akan pernah mengkhianati orang-orang yang berada di sekitar saya. Sudah, hanya itu alasan saya, dan saya rasa itu sudah cukup menjelaskan kenapa saya lebih memilih bekerja di tempat lain dan bukannya di tempat papa saya," tandas Sasti menjawab semua keingintahuan Irvan.
"Hmm, baiklah. Saya percaya pada semua yang kau katakan, Sasti. Lalu, bagaimana dengan pinangan saya, saya benar-benar ingin menjadikan kamu sebagai istri simpanan saya, atau pacar gelap saya. Atau ... barangkali kamu lebih tertarik dengan status menjadi istri kedua saya?" Irvan masih terus saja berusaha membujuk Sasti supaya mau menjadi pendamping hidupnya selain Citra.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya benar- benar tidak bisa dan tidak mau! Saya minta tolong pada Pak Irvan, jangan pernah lagi menanyakan hal itu pada saya! Atau ...." Sasti menggantung akhir kalimatnya, karena pada saat itu, terdengar suara pintu diketuk yang menampakkan wajah seorang office girl yang tadi sengaja disuruh oleh Sasti memfotokopikan beberapa dokumen penting untuk kemudian diantarkan ke ruangan Irvan, sedang di depan pintu ruang kerja Irvan yang memang sengaja tidak ditutup.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Pak Irvan, Bu Sasti, maaf kalau saya mengganggu. Saya mau mengantar dokumen-dokumen penting yang tadi Bu Sasti minta untuk difotokopi. Maaf, Bu, saya agak lama memfotokopinya karena harus bergantian dengan beberapa bapak dan ibu karyawan yang lainnya." Office girl itu menyerahkan dokumen-dokumen yang sudah difotokopikannya kepada Sasti dan bermaksud untuk mengundurkan diri dari ruangan, ketika terdengar suara Sasti memanggil dirinya.
"Mbak Rahma, tunggu sebentar, jangan keluar dulu. Ada sesuatu yang mau saya tanyakan sama Mbak Rahma setelah ini, jadi kamu jangan keluar dulu. Nanti sama saya aja keluarnya, sekarang tunggu saya minta tanda tangan Bapak dulu untuk semua dokumen ini, ya." Sasti mencegah Rahma untuk pergi meninggalkan ruangan Irvan, sehingga Sasti tidak perlu lagi mendengar bujuk rayu Irvan.
Irvan yang merasa kesal dengan tingkah Sasti yang malah menyuruh Rahma untuk menunggu dirinya di dalam ruangan, tanpa banyak bicara lagi segera saja dokumen-dokumen yang baru saja diantarkan oleh Rahma ditandatanganinya semua, tidak hanya itu saja, Irvan mendadak menyuruh semua supervisor dan kepala bagian untuk datang ke ruangannya untuk membawa laporan mingguan mereka masing-masing, Irvan berdalih ingin mengecek apakah ada diantara karyawannya yang mencurangi dirinya.
Sambil mengiyakan perintah pimpinannya, Sasti segera keluar dari ruangan dengan membawa semua dokumen yang telah ditandatangani oleh Irvan, dia merasa lega karena Rahma datang pada saat yang tepat.
"Mbak Rahma, terima kasih ya sudah bantu saya tadi. Ini sebagai rasa terima kasih, saya ada sedikit rejeki untuk Mbak Rahma dan keluarga. Saya permisi dulu ya, Mbak." Sasti menyerahkan sebuah amplop coklat agak tebal ke tangan Rahma dan bergegas meninggalkan Rahma seorang diri untuk menyelesaikan tugas memanggil semua supervisor dan kepala bagian untuk menghadap Irvan dengan membawa laporan mingguan milik divisi mereka masing-masing.
__ADS_1
Rahma yang tidak mengerti apa-apa hanya menatap kepergian Sasti tanpa sempat mengucapkan terima kasih kepada gadis cantik itu dengan pandangan heran. Masih dengan perasaan heran menyelimuti dirinya, Rahma membuka amplop coklat yang agak tebal itu dan menarik isi di dalamnya, dan ... alangkah terkejutnya dia saat melihat begitu banyak uang kertas berwarna merah bergambar dua bapak proklamator memenuhi amplop itu. Dia pun segera memasukkan kembali lembaran-lembaran uang itu ke dalam amplop dan bergegas menyimpan amplop coklat itu ke dalam saku celana panjangnya ketika salah seorang temannya mendatangi dirinya.
"Elu ngapain bengong di mari, Ma? Balik kerja sana, nanti ketahuan big bos, dipecat baru tahu rasa lo!" timpal Rani teman sesama office girlnya.
"Eh ... nggak ngapa-ngapain, kok. Ya udah, aku balik ke pantry dulu, Ran. Mau beresin kerjaan di pantry." Rahma berpamitan pada Rani dan langsung beranjak meninggalkan temannya itu sendirian.
Sementara itu, Rani yang ternyata melihat dan mendengar, kejadian di dalam ruangan komisaris utamanya tadi termasuk dengan kejadian yang baru saja terjadi, bergegas mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat yang disertai dengan video dan foto kejadian-kejadian yang beberapa menit lalu disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri, kepada seseorang perempuan yang menurutnya pasti akan memberinya imbalan yang besar, setelah mengetahui apa yang terjadi pada orang yang dicintainya selama berada di kantor.
Dan, memang perempuan yang dimaksud oleh Rani memang menerima pesan singkat dan video-video rekamannya, dan memang perempuan itu memberikan imbalan kepadanya, tetapi tetap saja gadis yang selalu iri hati kepada orang-orang di sekelilingnya itu merasa imbalan itu masih tidak sesuai dengan informasi yang dia berikan tadi.
[Selamat siang, Ibu. Berikut saya kirimkan video-video rekaman yang terjadi baru saja di ruangan kerja Bapak. Semoga Ibu menikmatinya.] tulis Rani mengawali pesan singkatnya.
[Video apa, saya nggak paham dengan apa yang Anda maksud. Tolong jelaskan apa maksud dan tujuan Anda!] perempuan itu menggapi pesan singkat dari Rani dengan perasaan heran.
[Nanti Ibu akan tahu kenapa saya mengirim video-video ini. Tapi sebelum saya kirim video-video ini, saya menginformasikan kepada Ibu bahwa harga video-video ini tidak murah, tapi saya yakin jumlah uang sekian itu tidak akan mengurangi kekayaan keluarga Ibu.] imbuh Rani mengatur siasat untuk mendapatkan uang dari perempuan itu.
[Kirim ke saya rekeningmu, sekarang!] perempuan itu memerintahkan Rani untuk mengirimkan nomor rekening milik Rani kepadanya.
Beberapa menit kemudian masuk sebuah pesan singkat yang berisikan sebuah nomor rekening milik Rani.
[Oke! Saya sudah transfer sebanyak 3 juta lima ratus ribu. Mudah-mudahan worth it atau seimbang dengan uang yang saya kirimkan atau kamu akan saya penjarakan karena sudah memeras saya!] perempuan itu mengeluarkan ancaman kepada Rani agar tidak macam-macam kepada dirinya.
[Pasti, Bu! Saya jamin!] Rani menjawab pasti dan singkat perihal ancaman dari perempuan tadi.
Rani yang merasa menang atas perempuan itu, hanya tersenyum smirk sambil kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana seragam office girlnya, "sudah kubilang 'kan? Video-video itu setara dengan jumlah yang kau kirimkan kepadaku."
***
Sementara itu di dalam sebuah ruangan kerja di Restoran Makanan Jepang Shibuya yang berada di sebuah mal ternama di Jakarta, tampak seorang perempuan yang tengah menatap layar ponsel miliknya dengan tatapan masih tidak percaya, di layar ponsel itu terpampang nyata video-video yang berisikan suaminya tengah merayu sekretaris pribadinya untuk menjadi istri muda atau hanyasekedar menjadi simpanan dan pacar gelapnya saja bila gadis cantik itu tidak mau.
Merasa geram dengan apa yang dilihatnya, perempuan itu lalu menghubungi salah satu kenalannya seorang ahli telematika untuk membuktikan video-video tersebut asli atau editan. Setelah mendapat jawaban bahwa video-video tersebut asli, perempuan itu langsung menghubungi seorang detektif swasta yang sudah menjadi langganan keluarganya, dan meminta detektif swasta itu untuk menjauhkan perempuan muda itu dari suaminya dengan cara apa pun juga, tetapi dengan syarat tidak mencelakai gadis belia tersebut.
[Ingat Pak Doni! Jangan mencelakakan siapa pun! Cukup menjauhkan gadis itu dari suami saya dengan cara apa pun, termasuk memberi dia uang bila dia menginginkan itu sebagai gantinya!] tekan klien Doni, setiap menanyakan perkembangan pekerjaannya.
[Baik, Bu!] Doni menjawab dengan tegas permintaan kliennya, baginya permintaan pasien adalah perintah yang harus dituruti, tanpa syarat.
Pada awalnya Doni, si detektif swasta yang berusia 38 tahun itu memang menuruti semua permintaan kliennya, dia merayu perempuan muda yang dimaksud oleh kliennya itu dengan berbagai macam cara agar gadis tersebut bersedia menjauhi pimpinannya dengan cara mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Namun, semua rencana hancur berantakan ketika Doni mulai timbul hasrat pada gadis belia yang harus ditanganinya itu, dan terjadilah peristiwa laknat yang menjadi awal bencana bagi tiga keluarga besar tersebut.
"Aku sudah peringatkan kamu untuk keluar dari pekerjaanmu dan menjauhi Tuan Irvan Prasetyo untuk selamanya! Tapi kenapa kamu mengacuhkan semua peringatan dari saya! Hah!" Doni membentak Sasti yang baru saja dia culik dari perusahaan Irvan.
__ADS_1
"Aku tidak mau! Tidak akan pernah mau! Karena aku tidak pernah mendekati Irvan Prasetyo! Aku tidak pernah merayu apalagi bermimpi menjadi simpanan Irvan! Sekarang lepaskan aku atau aku berteriak!" Sasti memerintahkan Doni untuk segera melepaskan dirinya.
Namun, alih-alih memenuhi perintah Sasti, Doni bergeming saja sambil menatap Sasti yang saat itu memakai rok pendek di atas lutut yang mulai terangkat saat berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya.
Perlahan tetapi pasti syahwat Doni mulai naik melihat pemandangan indah di depan matanya, jakunnya naik turun bergerak menelan saliva berkali-kali, berusaha menahan syahwat yang kian mendesak. Tetapi semua usaha itu sia-sia, ketika Doni melihat beberapa kancing baju milik Sasti terlepas menampakkan kulit yang mulus tanpa cela dan dua buah gundukan indah yang menantang kejantanannya.
"Baiklah, cantik kalau kau tidak mau mengikuti perintahku! Tidak mengapa, tapi sebagai imbalannya, kau harus menjadi pemuas syahwatku sekarang juga!" Doni memandang liar ke arah tubuh Sasti yang indah dan terlihat semakin menantang akibat berusaha melepaskan tali tadi.
"Tidak! Aku tidak mau! Jangan paksa aku! Tidak! Jangan! Jangan keperawananku! Aaaaaahhh!" Sasti menjerit-jerit histeris berusaha mempertahankan kesuciannya, tetapi apalah daya dirinya yang berada dalam keadaan terlentang dan terikat tidak berdaya, kecuali menerima perlakuan tidak manusiawi dari Doni.
Dan, terjadilah peristiwa laknat itu, yang pada akhirnya hanya menyisakan isakan tangis kebencian dan ketakutan Sasti, hingga membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidup setelah tiga tahun harus dirawat di pusat rehabilitasi jiwa.
Sejak dirawat di pusat rehabilitasi jiwa, Sasti memang lebih senang berada di dalam kamarnya, kamar yang memiliki nuansa khas rumah sakit, dengan sprei putih seperti kebanyakkan warna sprei yang dipakai oleh semua rumah sakit, tetapi memiliki jendela berteralis besi yang sangat kokoh, sehingga tidak mudah untuk dirusak.
Walau pun dirinya setiap harinya mengikuti berbagai kegiatan konseling dan lain-lain yang bertujuan mengembalikan kesehatan jiwanya. Tetapi rupanya ada satu kondisi Sasti yang luput dari perhatian mereka, kondisi itu adalah di mana Sasti mulai bisa berhalusinasi melihat satu sosok bayangan hitam tanpa wajah yang selalu berbincang-bincang dengan dirinya setiap malam. Dan, hal itu baru diketahui oleh para tim medis, satu minggu kemudian setelah kematian gadis itu.
"Sasti, kamu kenapa?" Tanya satu sosok bayangan hitam yang sudah berada di dalam kamar Sasti dan menemaninya sejak senja hari tadi.
"Hidupku sudah hancur sekarang. Adi dan papa pasti marah melihat keadaanku yang sudah tidak suci lagi." Sasti mengeluh lirih sambil menatap bayangan hitam yang berada di depannya dengan wajah dingin.
"Tapi kamu 'kan bisa jelaskan kalau itu semua bukan keinginanmu." Bayangan hitam itu menyarankan Sasti menceritakan semua kebenaran tentang kejadian di hari itu.
Namun, rupanya semua perkataan sosok bayangan hitam yang selalu menyuruhnya tetap menceritakan kejadian sebenarnya, membuat Sasti kembali mendapatkan sebuah serangan ketakutan dan bersalah yang berlebihan.
"Tapi, bagaimana kalau mereka semua tidak percaya dan tetap menuduh aku yang memulai semuanya?" tanya Sasti gemetar dan mulai meringsek ke pojokan kamar.
"Bunuh diri! Itu satu-satunya cara yang akan membebaskan dirimu dari rasa takut, cemas dan bersalah yang berlebihan itu!" Bayangan hitam itu membalas pertanyaan Sasti dengan nada sedingin balok es.
Cukup lama, Sasti berdiam dan mencerna perintah dari si bayangan hitam yang menyuruhnya bunuh diri.
"Tapi, aku nggak berani melakukan itu!" Sasti menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menolak saran yang diberikan oleh bayangan hitam tanpa wajah.
"Ya sudah, kalau kamu nggak berani, hadapi saja kemarahan Adi dan papa, aku tidak akan membantumu sama sekali." Bayangan hitam itu mulai mengintimidasi Sasti sehingga membuat gadis itu menjadi bimbang, dan akhirnya ...
"Ya! Ya! Ya! Baiklah! Aku akan mengikuti saranmu, sekarang aku harus bagaimana?" Sasti akhirnya menyerah dengan provokasi yang terus-menerus dari bayangan hitam.
Untuk beberapa saat bayangan hitam itu diam tidak bersuara, dan sejurus kemudian baru bayangan hitam itu menyampaikan semu idenya.
"Gampang! Begini caranya ...." Bayangan hitam itu memberikan beberapa ide bagus yang bisa dikerjakan Sasti dengan mudah untuk bunuh diri.
"Sepertinya cara terakhir lebih mudah, baiklah mulai besok aku akan mengerjakan itu hingga saatnya semua siap." Sasti memutuskan memilih salah satu ide yang diberikan oleh si bayangan hitam.
__ADS_1
Dan, sejak saat itu, Sasti mempersiapkan rencana bunuh dirinya dengan sangat rapi, sehingga tidak ada yang mengetahui rencana besarnya itu hingga malam nahas itu tiba. Dia bunuh diri dengan over dosis obat.
***