
Di Perumahan Pondok Indah tempat tinggal Arga dan Rasti.
Beberapa bulan sejak Rasti melakukan ritual pemasangan susuk emas dan ritual nikah jin, rumah tangga Rasti dan Arga terlihat baik-baik saja dan semakin mesra saja, hanya ada beberapa perubahan saja yang tampak begitu mencolok. Rasti yang biasanya tidak tampak digandrungi banyak lelaki, sekarang mendadak menjadi sangat populer di kalangan pria manapun yang dia jumpai saat bepergian. Bahkan tak sedikit dari lelaki-lelaki hidung belang itu berani meminta berkenalan dengan dirinya meski ada Arga berdiri di sampingnya.
Arga yang lama kelamaan merasa jengah dengan situasi itu menegur Rasti supaya tidak terlalu mencari perhatian lelaki selain dirinya, tetapi teguran Arga itu diacuhkan Rasti karena dia merasa senang dengan aneka perhatian yang diterimanya, hingga hal itu kembali memicu petengkaran antara mereka.
"Rasti! Sebagai imammu, aku tidak suka melihatmu menerima semua perhatian yang terlalu berlebihan dari laki-laki selain aku! Mulai sekarang, kau lebih baik diam di rumah, nggak usah keluar kemana-mana lagi! Kalau mau pergi, kamu harus pergi denganku dan harus memakai baju yang tertutup, jangan yang mengundang nafsu seperti itu," tegur Arga tegas.
"Ih, Mas Arga nggak usah terlalu lebay deh. Masa cuma kaya gitu aja l main larang aku pergi sih! Lagipula Mas Arga juga tahu kan, dari dulu aku selalu pakai baju yang seperti ini. Aku nggak biasa kalau harus pakai baju yang panjang-panjang, panas tahu!" Rasti memprotes Arga yang mulai melarangnya keluar rumah dan juga harus memakai baju panjang bila bepergian.
"Kamu bilang aku lebay?! Aku ini suamimu! Laki-laki yang bertanggungjawab penuh atas semua perbuatanmu, ucapanmu dan pakaianmu, aku yang akan menanggung dosanya bila kau seenaknya! Dan yang seperti itu kamu bilang, aku lebay?! Di mana akalmu, Rasti!" Nada suara Arga mulai meninggi mendengar sebutan lebay yang ditujukan kepadanya.
Usai mengutarakan kata hatinya, Arga pergi meninggalkan Rasti sendirian. Arga sungguh tidak habis pikir dengan istrinya, yang dengan sangat mudah mengatakan bahwa dirinya terlalu lebay karena telah meminta wanita itu memakai pakaian yang lebih tertutup saat keluar rumah.
Untuk beberapa saat, Arga merasa istrinya sekarang mulai berubah. Arga ingat, sejak kepulangan Rasti setelah menyelawat di rumah salah satu mantan teman kerjanya di Garuda Nusa Televisi dulu, istrinya itu agak berubah terutama dari penampilan dan kebiasaan. Ya, penampilan Rasti kini berbeda dengan biasanya, Rasti memang dari dulu tidak menyukai pakaian panjang tetapi masih tahu batas kesopanan. Tetapi sejak memasang ulang susuk, Rasti lebih sering memilih pakaian yang mengumbar kemolekkan tubuhnya.
'Rasti ... Rasti, kenapa kamu jadi berubah seperti ini. Ada apa denganmu?' Arga mengeluh dalam hati sambil menyugar rambutnya, frustasi.
Sungguh, Arga merasa sangat gusar dengan perubahan yang terjadi pada diri Rasti, istrinya. Dirinya tidak tahu apa yang telah membuat istrinya berubah sebegitu rupa, 'Allah ... ada apa dengan Rasti, apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia jadi seperti ini?! Hhaah!' dengus Arga kesal.
Sementara itu di luar, Rasti masih sibuk melayani permintaan beberapa lelaki yang sibuk mengajak dirinya berkenalan tanpa menyadari ada sesosok laki-laki tak kasat mata tengah mengawasi dirinya. Lelaki tak kasat mata itu menyeringai senang melihat Rasti di dekati banyak kaum adam, sosok tak kasat mata itu senang karena Rasti benar-benar bertekad menjadi budaknya seperti dulu lagi. Sosok tak kasat mata itu tak lain adalah Ganendra, suami gaib Rasti sekaligus jelmaan iblis sekutu Mbah Kromo.
"Bagus, Rasti. Keluarkan pesonamu, jerat semua lelaki dengan pesona susuk emas milikmu itu, tundukkan mereka dengan mata dan keindahan tubuhmu itu. Jadilah budakku seutuhnya, jadilah budakku yang sesungguhnya. Hahaha!" Ucap Ganendra lantas menghilang dari tempat itu.
***
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain kota Jakarta, Kania baru saja sampai di PT. Andara Steel Mining, pabrik baja milik Irvan Prasetyo, ayahnya. Semenjak turun dari mobil hingga masuk ke dalam ruangan kerjanya, Kania menjadi pusat perhatian seluruh karyawan pabrik. Bukan hanya karena dia adalah pemilik perusahaan tetapi karena mereka melihat penampilan Kania yang jauh beda dengan biasanya. Wanita itu terlihat lebih cantik, bersemangat, bersinar, berkharisma dan mempesona.
Kania bukannya tidak menyadari bahwa seluruh karyawannya menatap dirinya dengan begitu rupa. Namun, dia sengaja menjaga agar tetap terlihat seperti hari-hari sebelumnya.
"Selamat pagi semua! Bagaimana pagi kalian? Saya harap kalian semua merasa bersemangat pagi ini ya! Oke! Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian! Selamat pagi! Kania menyapa beberapa karyawan dan karyawati yang masih tampak bergerombol di depan kubikel masing-masing, kemudian berlalu bersama lift yang membawanya ke ruangan kerjanya.
"Eh, kalian lihat nggak? Bu Kania pagi ini kelihatan beda banget ya? Makin cantik, bersinar, dan mempesona," ucap salah satu karyawan pria di situ.
"Iya, bener. Aku aja tadi sampai melongo melihat Bu Kania, seandainya aku masih bujang, bisa nekat kulamar jadi istri dia. Sayang aku baru saja menikah," kelakar seorang karyawan pria yang langsung saja menuai cemoohan dari teman-temannya yang lain.
Sesampainya di dalam ruang kerjanya, Kania langsung disibukkan dengan agenda-agenda pertemuan dengan beberapa calon investor serta berbagai dokumen penting yang memerlukan tanda tangannya. Semua pekerjaan dia lakukan dengan cepat dan sigap, sehingga tidak sampai melewati waktu makan siang semua dokumen sudah dia tanda tangani tinggal menyelesaikan satu pertemuan lagi dengan dua dari lima orang calon klien yang harus ditemuinya hari ini.
Kania baru saja akan meluruskan pinggang ketika telepon di ruangannya berbunyi.
Kring! Kring! Kring! Kring!
[Ya. Halo, Kania's speaking. (Dengan Kania di sini).] sapa Kania begitu mengangkat teleponnya.
[Selamat siang, Bu Kania. Maaf kalau Sita menganggu waktu Ibu. Saya cuma ingin menyampaikan di bawah ada tamu ingin bertemu dengan Ibu, tapi tadi beliau bilang belum ada janji dengan Ibu. Apakah Ibu bersedia menerima atau disuruh kembali besok saja?] Sita, sekretaris pribadi Kania rupanya yang menelepon, memberitahukan bahwa ada seseorang ingin bertemu Kania.
[It's okay, Sita (nggak apa-apa, Sita). Siapa yang mau ketemu saya? Kalau saya kenal biar saya temui sekarang saja.] tanya Kania kepada Sita.
[Resepsionis bilang namanya Pak Andra, Bu. Tapi maaf, Bu, tadi beliau bilang mau bertemu Bu Kania yang jabatannya sebagai staf personalia, Bu. Jadi Ibu mau menerima atau menolak?] tanya Sita kembali dengan nada penasaran, penuh rasa ingin tahu.
[Suruh beliau tunggu di lobby saja, nanti saya yang turun. Oh ya, tolong sampaikan ke seluruh divisi termasuk resepsionis dan sekuriti bahwa saya di sini hanyalah staf personalia biasa, bukan pimpinan. Paham!] Kania memberikan perintah kepada Sita yang langsung diiyakan oleh gadis manis yang menjadi sekretaris pribadinya itu.
__ADS_1
[Baik, Bu. Akan saya sampaikan. Selamat siang, Bu Kania.] jawab Sita lalu menutup teleponnya.
Kania tersenyum mendengar keingintahuan Sita, dia bisa maklum kalau sekretarisnya itu begitu ingin tahu kenapa dia harus menyembunyikan status jabatannya dari pria bernama Andra itu. Hal itu memang disengaja oleh Kania, dia tidak ingin Andra mengetahui seberapa banyak aset yang dimiliki oleh keluarganya.
Dia hanya ingin Andra mengenalnya sebagai Kania yang biasa-biasa saja, Kania yang sangat mudah memaafkan kesalahan siapa pun yang telah melukainya tanpa meninggalkan rasa dendam sedikit pun di hatinya. Kania melakukan itu dengan tujuan untuk memuluskan balas dendamnya pada Andra.
Sebelum turun menemui Andra di lobby, Kania mengambil botol pemberian Mahesa tadi pagi dan kembali mengoleskan isinya di bagian-bagian berpembuluh nadi bagian tubuhnya, dan tidak lupa dirapalnya singkat ajian pengasihan jaran goyang miliknya. Usai merapal ajian pengasihan itu, Kania pun beranjak ke bawah mendatangi Andra.
"Hai, Mas Andra. Maaf ya, lama menunggu Kania. Kania lagi banyak dateline tadi dari bos, jadi harus diselesaikan dulu baru bisa turun nemuin Mas Andra." Kania menyapa Andra dengan senyum terbaik yang dia miliki begitu bertemu dengan pemuda tampan itu.
"Eh, hai. Nggak apa-apa, aku juga sih yang salah, nggak bilang-bilang kalau mau ke sini. Kamu, sudah makan belum? Kalau belum, mau nggak makan bareng aku?" Andra mengajak Kania untuk makan siang bersama dirinya.
"Mmm, boleh. Sebentar aku bilang dulu ke resepsionis dulu ya, biar kalau bosku nyari aku, dia gampang jawabnya," tukas Kania.
Andra menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pernyataan Kania barusan. Begitu mendapat persetujuan dari Andra, Kania langsung menuju meja resepsionis dan meninggalkan pesan bahwa dia akan keluar makan siang sebentar.
Setelah petugas resepsionis menerima pesannya, Kania kembali untuk mendatangi Andra yang sudah menunggu Kania. Andra yang melihat Kania mendatanginya segera memberikan senyuman terbaik miliknya untuk Kania.
"Ayo, Mas. Kita jalan sekarang. Aku udah meninggal pesen sama resepsionis tadi. Aku udah laper banget, nih." Kania meraih tangan Andra dan mengajaknya berjalan keluar.
Andra yang baru sekali ini berpegangan tangan dengan Kania, sontak membeku dalam langkahnya. Sungguh Kania yang sekarang begitu berbeda, Kania sekarang lebih berani menunjukkan diri dan pesona miliknya. Tetapi bagi Andra hal itu justru menyenangkan karena itu berarti Kania sekarang lebih percaya diri bila dibanding sebelumnya.
Kania yang mengetahui Andra bergeming pun memalingkan wajahnya kebelakang. Dilihatnya Andra tengah menatap dirinya dengan intens, dengan mengangkat kedua alisnya, Kania menanyai Andra, "Mas, kok diem aja ngapain? Mana ngeliatin aku kaya gitu lagi? Ada yang salah sama aku? Jadi nggak makan siang, kalau jadi ayo buruan. Waktu istirahatku keburu habis." Kania mendesak Andra untuk bergegas.
"Eh, iya maaf. Aku hanya begitu terpesona pada dirimu, Kania. Kamu sungguh cantik sekali, dan ... ah, sudahlah. Ayo kita pergi," ajak Andra seraya meraih tangan Kania dan menggandengnya keluar.
__ADS_1
Tanpa Andra sadari ada sebaris smirk di bibir Kania, dia merasa senang karena Andra begitu mudah masuk ke dalam perangkap yang sudah dia pasang.
***