Santet Pengantin

Santet Pengantin
Part 4


__ADS_3

Sementara itu di sebuah rumah mewah di kawasan Permata Hijau, Arga baru saja keluar dari kamar mandi ketika terdengar suara dering ponselnya.


Tring-tring! Tring-tring!


Dengan sedikit tergesa, pemuda berkulit sawo matang itu bergegas mencari-cari di mana ponselnya tadi disimpan.


"Ish, mana lagi tu ponsel! Pakai acara ngumpet segala lagi!" gerutu Arga sambil terus mencari.


Diacak-acak seluruh isi kamarnya untuk mencari ponselnya yang terus berbunyi menunggu untuk diangkat.


"Hih! Mana sih! Perasaan, aku tadi naruh di sini deh tapi kok nggak ada sih?" gerundel Arga kesal, karena belum juga dapat menemukan ponselnya.


Tring-tring! Tring-tring! Tring-tring! Tring-tring!


Kembali ponselnya berbunyi, kali ini sedikit lama daripada sebelumnya.


Arga yang merasa penasaran di mana ponselnya berada, berjalan menuju tumpukan baju-baju kotor yang tadi ia tinggalkan berserak begitu saja di samping ranjangnya karena terburu-buru ke kamar mandi.


"Nah, ini dia! Ketemu juga akhirnya," sambung Arga setelah menemukan ponselnya di bawah tumpukan baju-baju kotornya yang masih berserak di atas karpet kamarnya.


Arga bermaksud mengecek siapa yang baru saja meneleponnya ketika suara dering ponselnya kembali terdengar, sekilas dilihatnya nama MAMI tertera di layar ponsel berlogo apel digigit itu.


Tring-tring!


Arga gegas mengangkat panggilan video dari maminya.


[Assalamualaikum, Mami. Mami, Papi apa kabarnya? Kapan mami dan papi pulang dari Dubai? Arga kangen mami papi!]


Sapa Arga setelah panggilan video dengan maminya terhubung.


[Waalaikumsalam, Ga. Ya ampun, Arga kalau mau tanya satu-satu dong. Pelan-pelan ngomongnya, mami jadi bingung nih mau jawab yang mana dulu.]


Mendengar maminya mengomel Arga hanya menyeringai salah tingkah.


Mungkin karena merasa masih anak-anak, Argya menjadi sangat manja kepada sang mami.


[Hehehe, iya, Mi. Maaf, habisnya Arga udah kangen banget sama mami dan papi.]


Terang Arga kepada wanita 47 tahun yang telah melahirkannya 23 tahun lalu itu masih dengan wajah salah tingkah karena malu.


[Ckckck, kamu itu dari dulu memang nggak berubah. Padahal sebentar lagi kamu udah mau nikah lo, Ga, tapi kok ya masih aja manja sama mami!]


Omel mami Arga mendengar suara anak lelakinya yang sangat manja kepadanya itu.


[Mami telepon kamu lama banget dari tadi, kenapa baru dijawab sekarang? Kamu dari mana aja?]


Sambung mami Arga melanjutkan kembali omelannya.


Arga hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena mendengar omelan maminya.


[Maaf, Mi. Arga tadi masih mandi, ini baru aja selesai mandi, jadi baru bisa jawab telepon dari mami. Maafkan anakmu ini ya, Mamiku sayang.]


Jelas Arga sambil meminta maaf atas keterlambatannya menjawab panggilan dari maminya tercinta.


[Sudah, Mi jangan ngomel melulu. Nanti nambah lagi lo kerutan di wajah mami. Hahaha!]


Samar Arga mendengar suara papinya menggoda sang mami yang sedari tadi mengomel karena kemanjaannya.

__ADS_1


[Ish, Papi kenapa ganti mami yang jadi sasaran sih? Ya, nanti kalau kerutan di wajah mami nambah lagi kan tinggal minta anter papi ke klinik langganan mami terus mami ambil perawatan wajah paling mahal deh.]


Jawab  dengan nada seolah merajuk.


[Hahaha, udah ah. Papi mau nge-gym! Ga, papi keluar dulu. Kamu nggak usah ambil hati omelan mami kamu!]


Seru papi Arga berpamitan kepada Arga hendak ke fitness center yang berada dua lantai di atas lantai apartemen mereka di Dubai.


Arga hanya tertawa mendengar suara laki-laki berusia 50 tahun yang disayanginya itu.


[Ga, cerita dong sama Mami, udah sejauh apa persiapan pernikahan kamu sama Kania?]


Tanya mami pada Arga tentang persiapan pernikahannya dengan Kania.


[Sejauh ini persiapan belum begitu banyak perubahan sih, Mi karena Kania dan aku lagi sama-sama sibuk. Kania saat ini sibuk dengan pekerjaannya yang baru sekaligus sibuk mempersiapkan diri untuk wisuda, apalagi minggu-minggu ini Arga juga masih sibuk mengurusi proyek pembangunan real estate di Surabaya, Mi. Kalau semuanya tepat waktu, insyaaAllah tiga minggu lagi paling cepet kami baru bisa bener-bener fokus, Mi. Doain semuanya lancar ya, Mi.]


Jawab Arga disertai helaan nafas panjang.


[Iya, Nak. Mami dan Papi selalu mendoakan kalian berdua. Kalian fokus dulu sama urusan kalian nanti kalau sudah selesai wisuda Kania barulah kalian benar-benar fokus ke persiapan pernikahan, toh pernikahan kalian masih satu setengah bulan lagi. Mami dan Papi insyaaAllah dua minggu lagi pulang ke Indonesia, urusan bisnis Papi tinggal sedikit lagi yang belum beres di sini.]


Arga hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh maminya, sesungguhnya dia merasa sangat kuwalahan mengurusi sendiri acara pernikahan tanpa bantuan kedua orang tuanya.


Akan tetapi kesibukkan papi dan maminya mengurusi bisnis keluarga besar mereka membuat pemuda gagah itu mau tidak mau harus menerima dan memaklumi keadaan.


[Ya udah, nggak apa-apa, Mi. Arga dan Kania masih bisa ngerjain bedua kok meski pun pelan-pelan.]


Jelas Arga untuk menenangkan maminya.


Risa Hartawan, mami Arga bukannya tidak tahu kerepotan yang dialami anak lelakinya itu dalam mengurus pernikahan seorang diri, apalagi anak sulungnya itu juga harus mengurusi salah satu anak perusahaan milik keluarga mereka.


Risa sangat ingin membantu anak dan Kania, calon menantunya mengingat kedua calon besannya juga merupakan seorang pebisnis yang sibuk seperti dirinya dan Indra Hartawan, suaminya. Akan tetapi keadaanlah yang membuat mereka harus meninggalkan Arga sementara waktu.


Risa meminta maaf akan ketidakhadiran diri dan suaminya untuk membantu Arga mempersiapkan penikahan.


[Enggak apa-apa, Mi. Arga paham kok, udah mami sama papi fokus aja sama urusan mami papi di sana. Nanti kalau ada yang Arga nggak paham, aku telepon mami ya.]


Arga berusaha menenangkan maminya agar tidak terlalu merasa bersalah kepadanya.


[Iya, Sayang anak mami. Ya udah, kamu sekarang istirahat dulu, di Indo udah jam 10 malam kan. Mami mau nyiapin jus dulu buat papi. Jaga diri ya, Nak. Doakan urusan papi mami lancar, sukses dan cepet selesai. Salam mami papi untuk Kania dan ayah ibunya. Assalamualaikum.]


Pamit Risa sebelum mengakhiri sambungan telepon dengan Arga.


[Aamiin. Ya, Mi. Mami papi juga hati-hati selama di sana, jaga kesehatan. InsyaaAllah nanti Arga sampaikan, Mam. Wa'alaikumsalam.]


Sahut Arga mengakhiri percakapan dengan maminya.


Selesai menerima telepon maminya, Arga memutuskan untuk mengirim pesan suara kepada Kania melalui aplikasi hijaunya, meminta maaf bahwa dia lupa menelepon Kania karena tengah asyik berteleponan dengan maminya.


Kania yang ternyata juga belum tidur segera membalas pesan suara Arga dan mengatakan bahwa dia tidak marah dan menanyakan bagaimana kabar kedua calon mertuanya yang saat ini sedang berada di Dubai.


[Assalamualaikum, Sayang. Maaf, aku baru bisa hubungin kamu sekarang, tadi mami telepon. Jadinya ngobrol panjang lebar sama mami. Kamu nggak marah kan, Kania?]


Tanya Arga kepada sang pujaan hati.


[Waalaikumsalam. Nggaklah, ngapain juga marah? Malah aneh kalau aku marah sama kamu cuma gara-gara kamu teleponan sama Mami. Mami kan ibu kandung kamu, jadi wajar aja kalau beliau telepon anaknya. Mami sama Papi gimana kabarnya? Kapan mereka pulang ke Indonesia, Yang?]


Cerocos Kania menanyakan kabar calon kedua mertuanya karena lama tidak bertemu mereka.

__ADS_1


[Hahaha.]


Arga tertawa menanggapi pertanyaan dari Kania yang bertubi-tubi tanpa memberinya kesempatan menjawab sedikit pun.


[Ish! Dasar pacar nggak punya akhlak! Aku tanya segitu banyaknya, cuma ketawa aja jawabannya. Nyebelin!]


Kania merajuk dan memajukan bibirnya, kesal karena tak satupun pertanyaannya di jawab oleh kekasihnya.


[Aku? Nyebelin? Ngangenin kali, Yang. Hahaha.]


Tawa Arga kembali pecah, dia senang sekali menggoda Kania apalagi bila gadis cantik berambut ikal itu sudah merajuk seperti saat aa.


[Dih! Nyebelin! Nyebelin! Nyebelin! Arga!]


Teriak Kania kesal, rasanya ingin sekali dia mencubit pacarnya itu seperti yang biasa dia lakukan apabila digoda habis-habisan oleh Arga.


[Sstt! Jangan teriak, Yang! Udah malam, nggak enak kalau edengaran ibu dan ayah. Nanti kalaju terjadi salah paham kan makin repot.]


Ucap Arga merayu Kania supaya tidak merajuk dan berteriak lagi.


[Habis kamu sih, ditanya nggak di jawab, malah godain aku terus.]


Sungut Kania, masih dengan sisa rasa kesalnya pada Arga.


[Maaf deh, Yang. Habisnya kamu juga yang mulai duluan. Kasih pertanyaan keroyokan, itu mau nanya apa ngajakin tawuran? Hehehe.]


Protes pemuda berbadan atletis itu, setengah mengolok Kania.


[Hehehe, iya juga ya. Maaf ya, Yang.]


Balas Kania malu, karena baru menyadari kekeliruanya.


[Ya sudah. Nah, sekarang kujawab semua pertanyaanmu. Satu, syukurlah kamu nggak marah karena aku telat telepon kamu. Dua, kabar mami dan papi, mereka berdua alhamdulillah sehat. Ketiga, tiga minggu lagi mereka pulang ke Indonesia.]


Papar Arga panjang lebar.


[Sayang, udahan dulu ya. Aku ngantuk banget nih, besok kita ketemu lagi. Kamu istirahat ya, Sayang. Jangan kecapekan, nanti kamu sakit.]


Setelah beberapa waktu saling berbalas pesan melalui aplikasi hijau, Arga pun mengakhiri percakapan mereka dengan mengatakan bahwa dirinya mau istirahat, dia pun tidak lupa menyuruh Kania segera beristirahat agar tidak sakit karena terlalu kelelahan.


[Siap! Perintah Jenderal akan segera dilaksanakan! Laporan selesai!]


Bak tentara, Kania mengiyakan perkataan kekasihnya, sebelum akhirnya mematikan ponselnya mengakhiri berbalas pesan suara dengan Arga, pemuda yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


'Hmm, chat sama Arga udah kelar. Mau nonton televisi nggak ada acara yang bagus. Mau lihat video juga males, ceritanya gitu-gitu aja. Enaknya ngapain ya? Apa aku salat Tahajud aja kali ya? Baru tidur,' gumam Kania seorang diri.


Usai menerima pesan terakhir dari Arga, Kania yang memang belum merasa terlalu mengantuk itu memutuskan membersihkan diri dulu untuk mengerjakan salat malam terlebih dahulu sebelum akhirnya beranjak ke kamar untuk tidur.


Namun, tiba-tiba Kania membeku dalam langkahnya ketika dia merasakan ada sesuatu yang jatuh di atas kepalanya.


"Kayanya, tadi ada yang jatuh di atas kepalaku. Apa ya?" Gumam Kania.


Kania meraba kepalanya dan mengambil sesuatu yang tadi jatuh di kepalanya dan ... dengan wajah jijik dan ketakutan, reflek sesuatu itu dia lemparkan jauh-jauh ketika dia tahu sesuatu itu adalah hal yang dia benci dan takuti selama ini.


"Hua! Jijik! Geli! Hii!" teriak Kania histeris, badannya gemetar menahan geli dan jijik sementara tangannya dikibas-kibaskan untuk mengusir rasa itu dari dirinya setelah berhasil melemparkan sesuatu itu keluar jendela kamar.


Setelah membasuh kedua tangannya dengan sabun, gadis berusia 22 tahun itu kembali ke dalam kamar. Dia duduk di tepi ranjang sambil berpikir tentang kejadian yang baru saja menimpanya, dia teringat pada perkataan almarhum kakeknya dulu bahwa barang siapa yang kepalanya dijatuhi cicak maka akan mengalami nasib buruk selama 7 turunan dan hanya dengan mengingatnya ternyata mampu membuat Kania bergidik ketakutan.

__ADS_1


Apakah benar yang dikatakan oleh almarhum kakeknya itu? Atau hanya sebuah mitos belaka? Bagaimana jika ternyata hal itu adalah fakta? Apa dia sanggup menghadapinya kelak?


***


__ADS_2