
Sore itu Rasti mengundang Arga, Kania dan Andra menghadiri acara pengajian kirim doa untuk Sasti kembarannya yang sudah meninggal. Kania yang kebetulan hari itu pulang dari pabrik lebih awal memutuskan datang lebih dulu sepengetahuan Arga, suaminya yang kebetulan tidak bisa menghadiri undangan Rasti karena ada pertemuan dengan klien dari Amerika.
"Hai! Kania, kok elu datang sendiri, mana Arga?" tanya Rasti ketika mendapati Kania datang ke rumahnya seorang diri.
"Iya, Ras. Maaf ya, Arga nggak bisa datang. Dia ada meeting sama kliennya nanti habis makan malam, jadi gue sendirian deh ke sininya. Nggak apa-apa 'kan?" Kania balik bertanya kepada Rasti.
"Nggak apa-apa. Yuk, masuk, sebentar lagi acara dimulai," ajak Rasti menggandeng tangan Kania masuk ke dalam.
Baru saja mereka akan melangkahkan kaki melewati pintu depan, ketika terdengar suara bariton milik lelaki yang mereka kenal.
"Jadi, gue nggak disambut nih sama tuan rumah?" tegur pemilik suara bariton itu.
"Andra! Elu dateng juga akhirnya. Udah yuk kita masuk, acara udah mau mulai," ajak Rasti kepada Andra yang baru saja datang.
Mereka lalu berjalan beriringan bertiga, tetapi tidak disangka oleh Kania, Andra dengan beraninya menautkan jemarinya di jemari Kania dan meremasnya dengan hangat dan ketika mata mereka bersirobok, Kania menemukan sepasang manik indah yang menatapnya penuh perasaan cinta dan nafsu.
Merasa terganggu dengan sikap Andra yang dinilainya sudah keterlaluan itu, Kania segera melepaskan tautan jemarinya dan memalingkan wajahnya. Bahkan wanita itu berpindah posisi ke sebelah kiri Rasti.
"Elu kenapa Kania?" tanya Rasti saat tahu Kania berpindah posisi ke sebelah kirinya.
"Nggak apa-apa. Gue takut kesandung aja, sempit jalannya," jawab Kania singkat.
Rasti hanya mengedikkan bahunya sambil menatap Andra penuh selidik dan hanya dijawab dengan senyuman yang hanya diketahui Rasti maknanya, samar senyum smirk terpapar indah di bibir Rasti.
Usai acara pengajian, Kania sengaja tingal lebih lama di rumah Rasti untuk membantu Rahayu dan Rasti membereskan bekas pengajian yang sudah selesai beberapa saat lalu, tanpa disadarinya ada sepasang mata tengah menatapnya tajam.
"Kania, ini minum dulu. Elu pasti capek, dari kantor langsung ngebantuin gue dan mama gue di sini sampai malam. Setelah ini, elu balik ajalah, kasian Arga kalau dia datang elu belum pulang. Ini, ada sesuatu untuk kalian," ucap Rasti sambil menyodorkan segelas minuman dan sebuah kotak berisi makanan.
"Terima kasih, Rasti. Tahu aja kalau gue haus, gue minum ya," tukas Kania.
"Eh, itu Andra. Sini, Ndra gabung sama kita. Ngapain elu diem dipojokkan gitu, mau jadi kunti elu," ledek Rasti.
Andra yang sedari dari mengawasi Kania, langsung mendekat mendengar dirinya dipanggil oleh Rasti yang langsung berdiri menjauh dengan alasan mengambil minum saat dirinya mendekati kedua wanita cantik itu.
"Temenin Kania sebentar, Ndra, gue mau ambil minum buat kita berdua," pamit Rasti tiba-tiba.
"Tapi ... Rasti!" Suara teriakan Kania tidak dihiraukan oleh Rasti.
__ADS_1
Kania yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan Andra, menggeser duduknya agar tidak terlalu jauh, sementara itu Andra hanya tersenyum misterius menatap Kania.
"Nih, Ndra, satu buat gue, satu buat elu." Kejut Rasti sambil menyodorkan segelas minuman kepada Andra yang segera disambutnya.
"Makasih, Ras," ucap Rasti singkat dan langsung meminum sirup digelasnya hingga habis setengah gelas, diikuti oleh Rasti dan Kania.
Mereka berbincang-bincang hingga pukul tujuh tiga puluh malam, saat Kania tiba-tiba merasakan kepalanya berat, pandangannya meredup, badannya memanas dan seperti ada yang mendesak di bawah sana. Andra pun merasakan hal yang sama, rasa yang semakin lama semakin mendesak kuat, tak tertahankan oleh keduanya.
"Hei, kalian berdua kenapa? Kalian sakit? Kok wajah kalian merah begitu?" tanya Rasti pura-pura tidak tahu.
"Aku ... engh ... ahh." Kania berusaha keras menahan rasa yang ada, tetapi suaranya malah lebih mirip dengan *******.
Tatapan keduanya tampak kosong seperti manusia tidak bernyawa, bahkan mereka tidak bereaksi terhadap apa pun selain suara Rasti saja, dan itu membuat Rasti menyeringai puas, 'ternyata hebat juga sihir Mbah Kromo, mampu menghipnotis ahli ibadah seperti Kania, nggak sia-sia aku bayar dia mahal," batin Rasti senang.
Rasti yang sudah menunggu hal itu segera mengantarkan mereka berdua masuk ke dalam kamarnya setelah memastikan papa dan mamanya sudah berada di kamar mereka.
Di dalam kamarnya, rupanya Rasti sudah siap memasang sebuah kamera cctv dan sebuah lilin aprodisiak yang akan semakin menaikkan libido mereka berdua. Ketika syahwat sudah di ubun-ubun, tidak ada lagi logika dan etika selain rasa ingin segera menuntaskannya dalam pergumulan yang panjang.
Sementara itu di kamar tamu, Rasti sedang menyaksikan pergumulan terlarang dua anak manusia itu melalui layar ponselnya yang sudah disambungkan dengan cctv yang berada di kamarnya. Dalam diamnya, Rasti bersorak kegirangan karena satu lagi rencananya hampir berhasil.
Kira-kira pukul sembilan tiga puluh malam, Kania tersadar, dia begitu terkejut ketika mendapati dirinya terbungkus selimut tanpa sehelai benang melekat di badannya, dan lebih terkejut lagi saat mendapati sesosok laki-laki yang bukan suaminya sedang tertidur pulas disampingnya sama seperti dirinya, polos tanpa sehelai benang menutupi badannya.
Kania yang merasa ketakutan dan bersalah kepada suaminya itu pun menangis tanpa suara. Rupanya tangisan tanpa suara itu sanggup membangunkan Andra yang lelap disampingnya hanya karena merasakan kasur tempatnya berbaring terasa bergetar.
"Nnggh ... siapa?" tanya Andra setengah sadar.
"Pergi! Menjauh dariku!" Kania berusaha mendorong Andra supaya menjauh dari dirinya.
Andra yang merasa terkejut dengan suara wanita langsung tersadar dari kantuknya, refleks tangannya menyalakan lampu meja yang ada di sebelah ranjangnya agar lebih jelas melihat sosok wanita yang sekarang ada bersamanya.
"Hah! Kania! Sedang apa kau di kamarku! Hei, apa-apaan ini kenapa aku bisa sepolos ini! Sial! Ada yang berniat menjebakku!" pekik Andra tertahan.
Dan ... Andra pun melompat dari ranjang ketika melihat Kania berada dalam satu ranjang bersamanya di tempat yang tidak ketahui di mana, dan lebih terkejut lagi saat menyadari dirinya terlihat polos tanpa penutup apa pun. Refleks Andra memungut baju dan celana miliknya sebelum akhirnya lari ke dalam kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, Andra melihat Kania yang sudah kembali rapi itu masih duduk di tepi ranjang dan menangis, dia tampak begitu menyesali kenapa dirinya bisa terjerumus dalam perbuatan laknat itu.
"Kania ...," panggil Andra.
__ADS_1
"Mau apa kau memanggil namaku, hah! Masih kurang puas kau merusakku! Apa yang kau inginkan, Andra! Kenapa kau tega melakukan ini padaku! Kenapa! Apa kata suamiku kalau sampai dia tahu mengenai ini semua! Apa kau memikirkan itu!" Raung Kania histeris.
Andra berusaha menenangkan Kania dengan cara menjauhi wanita itu sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya, menyuruh supaya Kania tidak berteriak lagi.
"Ssstt! Kania jangan ribut! Kita ini ada di rumah orang! Apa kau mau semua orang di rumah ini terbangun dan akhirnya menyeret kita keluar hanya karena perbuatan yang kita lakukan dengan tidak sadar?"
Terakhir kali yang Andra ingat hanyalah dia berada di rumah Rasti untuk mendatangi acara pengajian kirim doa bagi Sasti, di sana dia bertemu dengan Kania, berbincang-bincang sebentar, lalu meminum sirup yang diberi oleh Rasti, dan setelah itu dia ingat lagi apa yang terjadi hingga dia menemukan dirinya berada dalam satu ranjang dalam keadaan polos bersama Kania.
"Kania, gue yakin kita dijebak, karena gue merasa ada sesuatu yang aneh dengan badan gue setelah gue minum sirup dari Rasti dan gue yakin elu juga merasakan hal yang sama dengan gue. Gue nggak takut bersumpah, karena gue memang nggak memperkosa elu, gue nggak maksa elu ngelakuin ini. Semuanya terjadi karena kita sama-sama terbius, kita nggak sadar," tandas Andra mencoba meyakinkan Kania.
Akan tetapi, Kania sudah tidak bisa lagi ditenangkan, dia merasa sangat terhina dengan apa yang telah dilakukan Andra kepadanya. Harga dirinya bagaikan diinjak dan dibenamkan di tempat sampah paling menjijikkan sepanjang hidupnya.
"Apa! Bisa-bisanya kau menyuruh aku diam dan tenang! Di mana perasaanmu, hah! Kau sudah seenaknya menodaiku dan sekarang kau suruh aku diam dan tenang! Brengsek kamu, Ndra!" maki Kania semakin keras.
Ceklek!
Suara pintu kamar yang terbuka, sontak mereka berdua memalingkan kepalanya masing-masing. Seperti dua orang pencuri pencuri yang tertangkap basah, mereka menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyembunyikan ekspresi wajah masing-masing.
'Mampus gue! Bakalan mati gue kalau sampai gue diseret keluar dan akhirnya dipukuli massa, walau pun gue nggak sepenuhnya bersalah,' rutuk Kania dalam hati.
Sementara di sebelahnya, Andra melirik ke arah Kania, terlihat senyuman ... tidak ... bukan senyuman, lebih tepatnya sebuah seringaian tipis di bibir pemuda gagah berkulit coklat itu.
"Kania! Andra! Apa yang kalian lakukan di kamarku!" Terdengar suara setengah berteriak Rasti dari depan pintu yang baru saja dibuka.
Dengan wajah merah padam menahan emosi, Rasti masuk ke dalam kamarnya dan langsung menghampiri kedua anak manusia yang tengah menunduk itu, dan memberikan kode dengan menunjukkan jari jempolnya secara samar saat berlalu di depan Andra.
"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan? Kania, Andra, kalian bukan mahram, tapi kenapa kalian berada dalam satu kamar yang sama?" cecar Rasti tiada henti.
"Aku ... aku ...." Suara Kania tercekat di tenggorokannya, sehingga susah sekali mengeluarkan kalimat pembelaan diri.
Rasti merasa jengah dengan perilaku mereka yang sudah mengotori rumah orang tuanya. Rasti mengatakan kepada kedua sahabatnya itu bahwa dia dan keluarganya tidak akan memperpanjang urusan ini, dengan syarat mereka pergi dari rumahnya sekarang juga dan tidak akan kembali lagi dengan alasan apa pun.
"Oke, aku tidak akan memperpanjang kali lebar urusan kalian ini, tapi kuminta kalian berdua pergi dari rumahku sekarang juga dan jangan pernah lagi menganggapku sahabat! Karena aku tidak ingin punya sahabat pezina seperti kalian!" cela Rasti.
Tanpa banyak kata, Rasti pun mengusir Kania untuk keluar dari rumahnya, begitu pula dengan Andra. Mereka bertiga baru saja melangkah keluar dari pintu depan, saat tiba-tiba ... kisah mereka bertiga berlanjut ke part berikutnya.
***
__ADS_1