
Pak Johan memandang bingung ke arah Pak Candra bergantian dengan arah yang di tunjuk, dia heran dengan perkataan Pak Candra yang menyebutkan bahwa yang di bungkus kain kafan di depannya itu adalah jenazah bayi Arga yang sebentar lagi akan dimakamkan, padahal di mata pak Johan yang terlihat dalam bungkusan kain kafan itu bukan jasad manusia melainkan ... sebuah batang pisang.
Berkali-kali Pak Johan mengucek matanya, ingin memastikan bahwa dirinya salah melihat, tetapi berulang kali itu pula yang dilihatnya tetap sama. Sebatang pohon pisang yang dipotong seukuran bayi lalu dibungkus dengan kain kafan sehingga menyerupai manusia.
"Pak, Pak Johan nggak apa-apa? Kok Pak Johan seperti kebingungan begitu? Ada apa to memangnya, Pak?" Pak Candra semakin penasaran melihat tingkah Pak Johan dan terus mendesak Pak Johan untuk menjelaskan apa yang dilihatnya.
Karena tidak tahan dengan desakan Pak Candra, Pak Johan pun akhirnya meminta Pak Candra untuk memejamkan mata sambil membaca ta'awudz dan istighfar kemudian dilanjutkan dengan sholawat nabi sebanyak tiga kali.
Di dorong oleh rasa penasaran, akhirnya Pak Candra melakukan yang Pak Johan perintahkan, dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat bungkusan kain kafan itu berisi sebatang pohon pisang yang masih agak basah seperti baru sehari di potong.
"Astaghfirullahaladzim! Pak ... pak ... i ... itu bener yang saya lihat? I ... itukan ... itu ...?" Tergagap Pak Candra menyampaikan kenyataan yang dia lihat.
"Iya! Itu dia! Yang saya lihat mungkin sama persis dengan yang bapak lihat sekarang. Gedebog pisang!" tandas Pak Johan.
Pak Candra mengangguk-angguk dengan wajah pucat pasi, dia masih tidak mengerti bagaimana mungkin jenazah bisa tiba-tiba saja berubah menjadi gedebog pisang atau memang dari awal mereka semua telah tertipu tanpa mereka sadari.
Pak Candra dan Pak Johan saling menatap satu sama lain, mereka betul-betul tidak memahami kejadian yang menurut mereka sangat tidak masuk akal tersebut, perlahan tapi pasti bulu kuduk mereka meremang dan tubuh mereka bergidik perlahan.
Suasana pun menjadi mencekam walau pun saat itu matahari masih bersinar, aroma amis pun samar-samar merasuk ke dalam rongga hidung mereka masing-masing.
Pak RT yang kebetulan lewat, hendak mengambil air wudhu untuk mengerjakan salat fardhu kifayah dan kebetulan melihat ke dalam pun keheranan dengan tingkah Pak Johan dan Pak Candra yang di nilainya berbeda dengan biasanya.
"Assalamualaikum, Pak Johan, Pak Candra. Ada apa kok melamun saja di sini, jangan melamun, Pak, nggak baik nanti jadinya," seloroh Pak RT sambil menepuk bahu keduanya.
Pak Johan dan Pak Candra yang memang kurang konsentrasi sejak menyaksikan keanehan pada jenazah bayi Arga langsung melompat karena terkejut.
"Allahu Akbar! Pak RT! Bikin kaget aja, Pak. Kami berdua nggak ngelamun, cuma kami bingung, Pak," papar Pak Candra kepada Pak RT.
"Bingung kenapa, Bapak-bapak? Tolong bapak-bapak cerita pada saya, siapa tahu saya bisa bantu?" Pak RT menawarkan bantuan kepada mereka.
Kedua bapak itu bingung, tidak tahu harus memulai dari mana. Mereka berdua saling sikut, saling memberi kode siapa yang harus memulai bercerita dulu.
"Ada apa, Pak. Coba tolong bilang terus terang pada saya, ada apa? Jangan sampai kita malah ribut sendiri sekarang," tegur Pak RT mulai kesal.
__ADS_1
"Aduh! Pak RT jangan marah dululah. Kami bukannya nggak mau kasih tahu ada apa, tapi kami bingung harus mulai dari mana. Begini aja sudah, bapak pejamkan mata baca ta'awudz dan istighfar lalu lanjutkan baca sholawat tiga kali, nanti bapak akan tahu sendiri." Pak Johan menjawab pertanyaan Pak RT dengan menyuruh Pak RT segera mengerjakan apa yang dia suruh.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Pak RT pun segera mengerjakan perintah dari Pak Johan dan ...
"Innalillahi! Apa itu pak? Itu ... gedebog kan? Kenapa ada di situ? Bukannya di situ tadi tempat jenazah bayi Mas Arga?" tanya Pak RT kebingungan.
"Yaelah, Pak! Satu-satu aja tanyanya, saya jadi bingung kan mau jawab." Pak Johan memprotes Ketua RT-nya karena memberi banyak sekali pertanyaan sehingga dia menjadi bingung untuk menjawabnya.
Mendapat protes dari warganya, Pak RT hanya tersenyum simpul menanggapinya sambil terus menunggu penjelasan dari kedua warganya itu.
"Jadi gini, Pak, setelah selesai menyalatkan jenazah waktu pertama tadi, saya mulai mempersiapkan peralatan untuk ke makam dan kebetulan jam tangan milik saya tadi tertinggal di atas lemari Al-Qur'an. Jadi, saya putuskan mengambil ke sini, tapi pas saya masuk ke dalam sini saya lihat kalau jenazah anak Pak Arga nggak ada."
"Nah, waktu saya celingukan mencari itu jenazah, tiba-tiba Pak Candra datang dan negur saya. Ya, saya bilang aja lagi nyariin jenazah anak Pak Arga. Lalu Pak Candra nunjuk ke arah situ, di situ kami sempat berselisih, karena yang saya lihat saat itu ya sudah seperti ini, tapi Pak Candra tetep berkeras, sampai akhirnya saya suruh ngerjain juga apa yang saya perintahkan ke Bapak, dan kisah setelahnya Pak RT sudah tahu sendiri," urai Pak Johan.
Pak RT mendengar penjelasan Pak Johan sambil sesekali mengusap bulu tengkuknya yang mulai meremang dan beberapa kali menutup hidung karena mencium aroma amis yang tidak biasa.
Mereka bertiga berdiskusi bagaimana sebaiknya, karena sangat tidak mungkin menyampaikan hal ini kepada keluarga besar Arga yang sedang berkabung saat ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk mendatangi Ustadz Hasyim, ustadz yang merangkap sebagai salah satu imam di masjid di itu.
Setibanya di kediaman ustadz, mereka menceritakan kejadian yang menimpa anak Arga. Tidak lupa mereka menceritakan juga perihal aroma amis darah yang mereka cium sewaktu akan mendatangi almarhum bayi Arga.
Ketiga bapak-bapak itu saling tatap satu sama lain, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Ustadz Hasyim. Mereka tidak tahu harus bersikap bagaimana, sebab mereka adalah tetangga Indra paling dekat tetapi di lain pihak mereka mengetahui kalau yang akan dikuburkan nanti bukanlah manusia.
"Jadi, saran saya bapak-bapak jangan memberitahukan perkara ini kepada orang lain dan sebaiknya kita bertingkah biasa-biasa saja dalam arti kita ikuti saja proses pemakaman itu untuk menghormati keluarga yang ditinggalkan. Nanti bila waktunya sudah tepat, baru kita akan bicarakan semuanya pada Mas Arga atau Pak Indra. Bagaimana, setuju?"
"Kalau memang itu jalan yang terbaik untuk masalah ini, kami setuju, Tadz," kata Pak RT yang diiringi dengan anggukan kepala Pak Johan dan Pak Candra sebagai tanda kalau mereka setuju dengan kesepakatan itu.
Akhirnya mereka bertiga bersama Ustadz Hasyim menuju masjid tempat jenazah anak Arga dimakamkan, sesampainya di sana Ustadz Hasyim langsung melakukan salat ghaib untuk mendoakan roh bayi Arga dan melanjutkan mempersiapkan acara pemakaman.
Mereka berempat telah sepakat untuk menyimpan rapat-rapat rahasia tersebut, dan akan membicarakan hal itu dengan keluarga Arga bila sudah saatnya nanti. Mereka pun bersepakat untuk tetap ikut memakamkan gedebog pisang yang tampak seperti jasad bayi itu selayaknya menguburkan jenazah, untuk menghindari keributan.
"Assalamualaikum," sapa Ustadz Hasyim kepada Indra dan Arga yang sedang duduk di samping jenazah, membaca surah Yasin.
"Wa'alaikumsalam. Silahkan, Tadz dan Bapak-bapak," jawab Arga dan Indra secara bersamaan menyilahkan Ustadz Hasyim, Pak Candra, Pak Johan dan Pak RT untuk duduk.
__ADS_1
"Terima kasih, jadi begini Mas Arga dan Pak Indra, saya mau memberitahukan bahwa liang lahat sudah siap, prosesi untuk pemakaman bisa dilaksanakan. Apa Mas Arga, sudah siap untuk memakamkan putra tercinta?" Ustadz bertanya dengan hati-hati kepada Arga.
Arga memandang Indra, papinya, yang memberi isyarat untuk mengerjakan saran Ustadz Hasyim. Dengan menghela nafas panjang, perlahan-lahan Arga mengangkat jasad bayinya dan digendong menuju ke area pemakaman.
Sesampainya di area pemakaman, Indra beserta Ustadz Hasyim melompat masuk ke dalam liang lahat dan menerima jasad bayi malang itu dan di susul oleh Arga. Ustadz Hasyim kemudian mentalqin mayat dan setelah selesa, mereka mulai menutupi jenazah dengan lembaran papan kayu.
Saat itulah tiba-tiba terdengar suara guruh menggelegar dengan keras, mengejutkan semua yang ada di area pemakaman, lalu disusul dengan kilat dan petir menyambar-nyambar membuat sebagian besar pelayat lari menyelamatkan diri karena takut kalau tersambar petir.
"Astaghfirullah! Lari! Ada petir! Berlindung di tempat yang aman! Jangan ada yang berdiri di bawah pohon!" Terdengar teriakan para pelayat sambil berlari menyelamatkan diri masing-masing.
"Astaghfirullah! Pertanda apa ini, Pi, Tadz?" tanya Arga sendu.
"Sabar, Mas Arga. Kita pasrahkan semua pada yang kuasa, sebaiknya kita menunduk saja dulu di dalam sini sampai petirnya benar-benar berhenti, baru kita lanjutkan lagi," ucap Ustadz Hasyim menenangkan Arga dan Indra.
Untuk beberapa saat lamanya mereka bertiga memutuskan berjongkok di dalam liang lahat, menunggu sampai petir dan kilat benar-benar berhenti menyambar. Setelah kurang lebih satu jam lamanya mereka menunggu, akhirnya petir dan kilat tidak lagi menyambar, sehingga mereka memutuskan untuk melanjutkan prosesi pemakaman.
Namun, tidak lama kemudian angin berhembus dengan kencang, membuat beberapa pohon-pohon kecil meliuk-liuk seakan hendak tercabut akarnya. Udara terasa dingin dan mencekam, awan gelap menyelimuti matahari membuat suasana semakin terasa mengerikan, di kejauhan tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing bersahut-sahutan.
"Ya Allah, Ustadz. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba cuaca berubah seperti ini, padahal sekarang masih jam lima sore?" tanya Indra, papi Arga gelisah.
"Saya juga tidak tahu, Pak Indra. Sebaiknya kita pasrahkan saja semuanya pada Allah, karena hanya Allah yang Maha Tahu dan semua yang terjadi saat ini sudah menjadi ketentuannya. Mari, sebaiknya secepatnya kita selesaikan saja," ajak Ustadz Hasyim.
"Baiklah. Ayo, Ga. Cepetan kamu tutup lubang makam anakmu, agar cepat selesai semuanya." Papi Arga memerintahkan Arga untuk segera menutup kembali lubang makam dengan tanah yang ada, dan setelah usai semuanya mereka bertiga bergegas meninggalkan area pemakaman yang semakin terasa mencekam.
***
Sementara itu tanpa mereka sadari, di seberang makam bayi Arga yang baru saja dimakamkan, terlihat sesosok perempuan bergaun merah mengamati mereka dalam diam. Dari mulutnya masih menetes cairan kental berwarna merah, di tangan kirinya ada seonggok daging yang sudah tercabik di beberapa bagian.
Sepeninggal Arga, Indra dan Ustadz Hasyim, sosok itu mengangkat wajahnya yang tertutupi rambut sebagian. Matanya yang tak tertutup rambut menatap lekat pada makam bayi itu, tiba-tiba mulutnya membentuk senyuman atau lebih tepatnya seringaian yang sangat lebar sehingga menampakkan gigi-gigi runcing miliknya dengan tetesan-tetesan darah yang masih menetes.
"Sudah lama kunantikan saat-saat seperti ini, sekarang aku bebas! Akan kuambil semua anak keturunanmu sebagai hadiah untukku dari dia yang telah kau sakiti hatinya! Hihihihihi." Suara kikikan hantu perempuan itu terdengar begitu melengking menakutkan.
Setelah ini, apa lagi yang akan dilakukan oleh Kania untuk membalas dendam kepada Arga dan Rasti?
__ADS_1
***