
Sementara itu di Senopati, Jakarta Selatan
Malam menjelang subuh itu udara terasa sangat dingin setelah hujan mengguyur dengan lebatnya, sebagian orang memilih mengusir dingin dengan bergelung selimut. Namun, tidak dengan Andra. Baginya udara malam itu terasa sangat panas, gerah! Itu yang dirasakannya.
Dirinya yang sudah lumayan lama terlelap dibuai mimpi, tiba-tiba terbangun, dalam tidurnya yang telah dirasuki kekuatan sihir ajian pengasihan Jaran Goyang, Andra bermimpi tengah memadu kasih dengan Kania, mimpi yang terasa begitu nyata. Bahkan harum tubuh Kania seperti masih menempel lekat di dalam rongga nafasnya.
'Kania. Kenapa tiba-tiba aku memimpikan Kania ya? Apa karena pertemuan kami kemarin siang? Pertemuan yang tidak direncanakan, tetapi begitu melekat di dalam ingatan. Kania ... kau membuatku begitu bergairah. Aku mencintaimu, Kania. Aah...,' desis Andra yang mulai bergairah hanya dengan membayangkan pertemuan tak terduganya dengan Kania kemarin siang.
Desakan demi desakan yang muncul di bagian bawah tubuhnya ditambah dengan munculnya sesosok bayangan wanita yang menyerupai Kania, akhirnya memaksanya untuk menuntaskan sendiri karena sejak memutuskan untuk melupakan Rasti dan menghentikan bantuannya guna membalas dendam kepada Kania, Andra lebih memilih untuk hidup menyendiri.
Butiran keringat membasahi tubuh Andra, ingatannya seakan tidak mau lepas dari Kania. Nafsunya begitu membuncah tidak terkendali ditambah dengan kehadiran satu sosok bayangan serupa Kania di depannya. Berulang kali Andra melakukan pelepasan, tetapi seakan tidak ada rasa puas pada dirinya bahkan nafsunya semakin menggila dan liar setiap Andra menyelesaikan satu pelepasan.
'Ka ... nia ... aaahhh ....' Suara ******* Andra terdengar tiada henti sepanjang malam. Bagaikan tak kenal lelah Andra melepaskan semuanya ditemani sosok wanita serupa Kania, Andra bahkan tidak menyadari sama sekali bahwa dirinya telah di sihir oleh Kania dengan ajian pengasihan paling ampuh, yang membuat dirinya terus mengingat dan melihat Kania seorang.
Dan, semuanya baru berakhir saat suara azan Subuh berkumandang memanggil setiap muslim untuk segera memenuhi panggilan sang penguasa semesta. Andra menatap bekas-bekas pelepasannya yang berceceran di alas tempat tidurnya, tak ada rasa letih yang dia rasakan meski pun dia hampir tidak tidur semalaman.
Andra bergegas menggulung seprei yang basah dan lengket itu kemudian diletakkan di keranjang cucian, lalu bergegas mandi junub untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan salat Subuh.
Usai menunaikan salat Subuh, Andra kembali teringat pada Kania, sosok yang baru saja berhasil meloloskan tulang-tulang persendiannya lewat angan semu belaka.
'Kania. Kenapa aku jadi teringat terus pada perempuan itu ya? Apa karena dosaku di masa lalu yang membuatku kembali ingat kepadanya?' resah dan gelisah rasa hati Andra memikirkan kejahatan yang selalu berusaha dilupakannya itu.
Semakin Andra merasa bersalah kepada Kania, semakin ingatannya tertuju kepada sosok Kania. Sosok yang begitu ceria saat bertemu dengannya kemarin, seakan di antara mereka tidak pernah ada masalah apa pun.
Keresahan hati Andra membuatnya merasa begitu lelah dan mengantuk, sehingga dia memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak untuk mengistirahatkan pikirannya dari mengingat Kania.
'Aahh ... lelah sekali rasanya dan mataku pun mengantuk. Mumpung masih ada waktu satu setengah jam, lebih baik aku tidur sejenak. Siapa tahu dengan cara itu, aku tidak lagi mengingat Kania,' gumam Andra sambil merebahkan badannya di ranjang dan mulai memejamkan matanya.
Namun, belum sampai sepuluh menit dia memejamkan mata, siluet bayangan Kania kembali muncul di dalam angannya. Dalam angan Andra, Kania tampak begitu cantik sekali, dia mengulurkan kedua tangannya seakan ingin merengkuh Andra dalam dekapannya.
Andra baru saja bermaksud meraih tangan wanita berbibir seksi itu ketika tiba-tiba telinganya menangkap samar suara dering ponselnya, berkali-kali. Dengan sedikit limbung karena belum sepenuhnya sadar, Andra bangun dari tidurnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di meja tulisnya, diliriknya sekilas siapa yang meneleponnya tetapi hanya tertera sebuah nomor tanpa nama.
[Halo, selamat pagi. Apa betul ingin dengan Mas Andra?] terdengar suara merdu milik seorang wanita.
__ADS_1
[Pagi. Betul, saya Andra. Maaf ini siapa?] jawab Andra dengan suara serak khas orang bangun tidur.
[Kania, Mas. Masa baru kemarin ketemu, sekarang sudah lupa sih?] suara Kania terdengar sangat merdu, merayu kalbu bagi yang mendengarnya.
[Kania? Nggak mungkin! Karena Kania nggak tahu nomor ponselku. Kamu pasti bohong.] sergah Andra dengan yakin.
[Ini beneran Kania, Mas Andra sayang. Bisa kita video call, biar Mas percaya sama aku.] ajak Kania, lalu mengubah panggilan suaranya menjadi panggilan video.
Andra yang penasaran dengan kebenaran yang disampaikan penelepon wanita itu pun segera menerima perubahan panggilan menjadi panggilan video.
[Mas Andra, sudah percaya 'kan kalau ini Kania?] ucap Kania manja.
[Eh. Ya bener, kamu tahu dari mana nomor ponsel aku, 'kan kita nggak ada tukeran nomor ponsel?] tanya Andra kebingungan.
Kania tertawa mendengar Andra memberi sebuah pertanyaan bodoh seperti yang baru saja dilontarkannya.
[Hahaha. Itu soal mudah, siapa sih yang nggak kenal Andra Indrayana, seorang pengusaha sekaligus politisi muda yang terkenal di tanah air?] seloroh Kania.
[Nggak jugalah, aku ini baru saja belajar berdagang dan berpolitik. Senior-senior sukses di atasku jauh lebih banyak lagi.] sanggah Andra merendah.
[Aku berharap siang ini kita bisa bertemu lagi untuk makan siang bersama, Kania mau 'kan?] harap Andra.
[Mmm, mau nggak ya? Oke, nanti jam satu siang kutunggu ya, Mas. Jemput aku di kantor bisa 'kan?] pancing Kania pasti.
[Oke, nanti share loc kantor kamu, ya. See you nanti siang, Kania. Aku mau siap-siap ke kantor dulu.] ucap Andra berpamitan.
Dengan memberikan kode berupa jari jempol diangkat dan senyuman terbaiknya, Kania mengakhiri panggilan videonya kepada Andra yang dibalas lambaian tangan oleh Andra.
Andra merasa begitu berbunga-bunga, sungguh dia tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan seseorang yang dulu pernah disakitinya karena memenuhi permintaan Rasti, gadis yang pernah dia cintai dalam diam, tetapi ternyata lebih memilih merebut cinta sang kumbang dari bunga yang lain daripada memilih cintanya yang tanpa syarat.
'Kania, akan kubuat kau bahagia. Akan aku tebus semua kesalahanku kepadamu dulu. Maafkan aku, untuk semua yang telah lalu, Kania. Aku berjanji akan melindungimu dan membahagiakanmu, karena sekarang aku mencintaimu,' gumam Andra perlahan, lalu beranjak ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan bersiap untuk bekerja.
***
__ADS_1
Sementara itu di kawasan Ancol, di sebuah rumah paling mewah di kawasan tersebut, tampak seorang wanita berparas cantik rupawan tengah tersenyum sendiri sambil memandangi pantulan wajahnya di sebuah cermin besar di hadapannya.
Perempuan itu adalah Kania, sejak bercerai dengan Arga dua tahun lalu, Kania memilih untuk pergi meninggalkan rumah suaminya di Pondok Indah dan memilih membeli rumah sendiri di sebuah kawasan elit di Ancol
Usai mengakhiri panggilan videonya, Kania tertawa terbahak-bahak, dia merasa sangat bahagia karena ternyata ajian pengasihan Jaran Goyang yang dia dapat dari Nyai Lakeswari, salah satu sesepuh adat salah satu suku di Blambyangan, ahli teluh luar biasa hebat dan sakti, berhasil memikat Andra bahkan belum sampai satu hari dari waktu mereka bertemu. Tidak percuma dulu dia mengeluarkan banyak uang untuk menemui perempuan sakti itu hingga ke pelosok hutan di ujung timur Pulau Jawa.
'Well Andra, the game is starting now, so let's play and enjoy it (Andra, permainan telah dimulai, ayo kita mainkan dan nikmati semuanya),' desis Kania disertai seringaian di bibir.
Angin dingin berhembus di dalam kamar Kania, membuat bulu kuduk meremang seketika, dinginnya seolah ingin merobek persendian dan tulang. Wangi bunga kantil berpadu dengan bunga kenanga dan dupa merebak memenuhi kamar menandakan ada sosok tak kasat mata di sana, sayup terdengar suara gending jawa khas suku tersebut semakin lama semakin jelas, membuai setiap sukma yang mendengar.
Pintu kamar Kania terbuka sendiri tanpa memperlihatkan siapa yang membukanya. Di luar kamar, tepat berseberangan Kania berdiri tampak sesosok wanita muda yang sangat cantik berbaju kebaya hitam dengan kerudung tipis berwarna senada dengan kebayanya. Sosok itu tampak mengawasi Kania, dia adalah Gayatri, ratu lelembut di Blambyangan yang mempunyai kekuatan dan pesona luar biasa yang akan menjerat setiap mata yang memandang tidak perduli laki-laki atau perempuan, sosok itu tampak tersenyum melihat Kania dan menghilang sesaat kemudian. Namun, harum bunga kantil dan bunga kenaga yang bercampur dengan dupa itu tidak menghilang, tetapi malah semakin tajam baunya.
Dari pantulan cermin, Kania dapat melihat wajah cantik mempesona milik Gayatri. Tanpa sadar, bibir Kania mengulas segaris senyum paling manis yang dia miliki dan tersadar saat sosok itu menghilang. Rasa ingin tahu tentang siapa sosok cantik dan anggun itu memenuhi dirinya.
'Cantik sekali perempuan tadi, wajahnya memancarkan aura dan pesona luar biasa. Membuat siapa pun yang memandangnya menjadi seperti orang bodoh yang sudah pasti melupakan segalanya. Andai aku memiliki kecantikkan paripurna seperti wanita itu, tentu akan lebih mudah bagiku untuk menundukkan pria mana pun yang aku mau,' gumam Kania masih menatap wajahnya di cermin.
Tiba-tiba dari dalam cermin, pantulan wajahnya tiba-tiba menjadi dua dan satu dari mereka bergerak tak searah dengan satunya. Pantulan wajah itu tiba-tiba menampakkan wujudnya, rupanya Gayatri yang menyusup ke dalam cermin dan menyaru sebagai Kania.
"Kania! Kania! Kau bisa mendengarku, Sayang? Aku adalah Gayatri, ratu lelembut paling sakti bumi Blambyangan, siapa pun yang memandangku pasti akan terpesona. Kau pun bisa seperti aku, menjadi wanita kharismatik yang akan dengan mudahnya menguasai lelaki mana pun yang kau inginkan," ucap Gayatri di telinga Kania.
Sosok Gayatri berpindah posisi ke sebelah kiri Kania, dia membisikkan sesuatu di telinga Kania.
"Syaratnya, kau hanya perlu puasa putih selama empat puluh hari empat puluh malam dan di hari ke empat puluh ragamu akan kupakai untuk menyempurnakan ajian Jaran Goyang yang sudah kau miliki."
Kania mendengarkan ucapan Gayatri dengan khidmat, sungguh tawaran yang luar bias menarik hati. Kapan lagi dia bisa menguasai pria-pria di luar sana bila tidak sekarang, tapi bagaimana dengan Kirana?
"Kamu tenang saja, Kania. Kirana tidak akan marah hanya karena kau memiliki aku sebagai salah satu pendampingmu. Kami ini mirip tapi berbeda, aku akan membantu dirimu mendapatkan apa yang kamu mau dan dia yang membantumu menuntaskan semua penghalangmu. Paham!" imbuh Gayatri menjawab sikap bimbang Kania.
'Hmm, baiklah aku setuju dengan syarat yang kau berikan. Kita akan mulai besok, dan pastikan Kirana tidak akan marah bila mengetahui ini,' bisik Kania kepada Gayatri.
"Baik. Kita mulai besok dan soal Kirana ... kamu tidak perlu khawatir, aku pastikan dia akan mendukungmu, bahkan menjadi abdi yang paling setia." Gayatri meyakinkan Kania, kemudian menghilang.
Sepergi Gayatri, Kania menjadi semakin yakin bahwa dendamnya akan terbalaskan dengan mudah dan indah. Dengan percaya diri yang tinggi dan senyuman indah di bibir sensualnya, Kania mempersiapkan diri untuk berangkat ke pabrik dan lanjut ke acara makan siang dengan Andra.
__ADS_1
Sementara itu tanpa Kania sadari boneka jerami berbalut kafan yang sudah lama tidak disentuhnya itu tiba-tiba bergerak sendiri tanpa disentuh oleh siapa pun, mata boneka yang semula tidak berwarna pun berubah menjadi semerah darah, lilin yang sebelumnya mati pun mendadak menyala sendiri, dan tiba-tiba kepala boneka itu ... menoleh ke bab selanjutnya.
***