
Sementara itu tanpa Kania sadari boneka jerami berbalut kafan yang sudah lama tidak disentuhnya itu tiba-tiba bergerak sendiri tanpa disentuh oleh siapa pun, mata boneka yang semula tidak berwarna pun berubah menjadi semerah darah, lilin yang sebelumnya mati pun mendadak menyala sendiri, dan tiba-tiba kepala boneka itu ... menoleh ke arah pintu kamar, memandang Kania yang sedang berjalan menuju ke kantor dengan tatapan penuh misteri.
Boneka jerami berbalut kafan itu masih terus memandangi Kania hingga hilang dari pandangan. Dengan tatapan kemarahan, dia bermaksud mencelakai Kania karena telah mengacuhkan dirinya sekian lama. Namun, boneka jerami itu dikagetkan dengan kemunculan suara Mahesa secara tiba-tiba di belakangnya.
"Kirana! Aku tahu kamu ingin berbuat jahat kepada Kania! Kuperingatkan kau, jangan pernah kau berani berbuat jahat kepadanya kalau kamu ingin selamat!" Ancam Raden Mahesa kepada Kirana tegas.
"Kamu mengancamku, hah! Kau pikir kau itu siapa, sehingga berani mengancamku sedemikian rupa! Kalau kamu berani, sini datangi aku sekarang! Kita adu kesaktian ... sekarang!" bentak Kirana jengkel kepada sosok Mahesa yang tidak terlihat olehnya.
Mendadak di luar awan berubah gelap, bunyi petir bersahut-sahutan, ditingkahi suara burung gagak bersahut-sahutan tepat di depan jendela kamar Kania.
Sementara itu di dalam kamar Kania terjadi pertempuran antara dua sosok astral yang sama-sama kuat. Kirana dan Mahesa saling menyerang, berusaha menghabisi satu sama lain. Namun, apalah daya, walaupun Kirana adalah yang terkuat dalam bangsa kuntilanak, tetapi ternyata kekuatannya itu masih berada jauh di bawah kekuatan Raden Mahesa.
Kirana kalah telak dari Raden Mahesa, dan sebagai imbalannya Kirana bersedia menjadi anak buah Mahesa tetapi dengan syarat dia masih diperbolehkan mengikuti Kania, karena di antara mereka masih ada perjanjian yang mengikat.
"Baiklah. Kamu tetap kuijinkan mengikuti Kania. Dengan satu syarat, kau sama sekali tidak boleh lengah selama mengikuti Kania, terlebih lagi saat ini aku mencium bau busuk menyengat, sepertinya ada yang ingin mencelakakan Kania." Raden Mahesa memberi perintah kepada Kirana.
"Baik ... umm ... boleh aku tahu namamu?" Kirana menanyakan nama Mahesa dengan tubuh yang masih lemah, karena tenaganya telah habis melawan Raden Mahesa dalam pertempuran tadi.
"Panggil saja aku Raden Mahesa, mulai saat ini kita berdua harus membantu Kania membalaskan dendamnya, membuat para lelaki jahanam itu tunduk di bawah kaki Kania. Paham kamu, Kirana!" tandas Raden Mahesa.
Kirana menganggukkan kepalanya pelan, sungguh dia tidak pernah menyangka kalau dirinya akan kalah dengan Raden Mahesa, seorang raja lelembut yang gagah dan rupawan. Memalukan memang untuk satu sosok kuntilanak merah sehebat dia, tetapi untuk Kirana, baginya kekalahannya dari Raden Mahesa mendatangkan keuntungan tersendiri, sebab dia bisa mengetahui seberapa besar kekuatannya selama ini.
Kirana mengundurkan diri dari hadapan Raden Mahesa, dia harus memulihkan tenaganya setelah bertarung dengan Raden Mahesa. Sementara itu, Raden Mahesa sudah merencanakan sesuatu terhadap Kania di malam ke empat puluh nanti.
'Kania, aura gelapmu sungguh menarik bagiku. Di malam ke empat puluh nanti, aku akan menjadikan dirimu sebagai manusia yang paling hebat tiada banding, sehingga nantinya tidak hanya bangsa manusia saja yang tunduk kepadamu, bangsa lelembut pun akan tunduk dan tidak berkutik apabila berhadapan denganmu. Aku akan bersabar untuk hari itu, Kania.' Mahesa menggumam dalam hati menghibur dirinya sendiri.
***
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Arga di Pondok Indah, Arga dan Rasti sedang beradu mulut karena Rasti merasa jengkel dengan sikap Arga yang dirasanya mulai berubah sejak kematian anak mereka. Rasti merasa Arga tidak lagi perhatian kepadanya dan terus menerus melamun tanpa memperdulikan sekitarnya.
Sedangkan Arga merasa jengah dengan sikap Rasti yang sekarang terlalu menuntut darinya, Arga merasa lelah dengan sikap Rasti yang dirasakannya semakin lama semakin egois, mau menang sendiri.
"Mas, kenapa ya sejak kematian anak kita, aku merasa sikap Mas Arga kepadaku nggak seperti dulu lagi! Mas Arga sekarang berubah, Mas Arga yang sekarang beda dengan Mas Arga yang dulu aku kenal!" keluh Rasti dengan nada ketus melihat sikap suaminya yang dirasanya mulai berubah.
"Beda gimana sih? Aku biasa aja, nggak ada yang beda. Kamu kali yang berubah, kamu sudah nggak semanis dulu lagi sama aku. Rasti yang sekarang terlalu banyak menuntut, terlalu ingin menang sendiri! Sebenarnya bukan aku yang egois, tapi kamu!" Arga menyanggah tuduhan Rasti bahwa sikapnya terhadap Rasti sekarang berbeda dengan yang dulu.
"Apa! Kamu bilang aku yang berubah? Aku yang egois? Mas nyadar nggak, kalau sejak kematian bayi kita, Mas Arga berubah jadi lebih sering melamun dan nggak perhatian lagi sama aku! Mas Arga nggak peduli lagi sama aku. Salahku apa, Mas sampai Mas Arga menghindari aku seperti ini? Jangan-jangan Mas Arga selingkuh dari aku." Rasti semakin meradang dengan sikap Arga yang dinilainya sudah keterlaluan.
Arga mendengus mendengar kata demi kata yang Rasti ucapkan, dia merasa amat kesal karena terus dipojokkan oleh istrinya. Arga merasakan sikap istrinya itu terlalu menyebalkan karena selalu saja menuntut dirinya untuk berada di samping Rasti, dan terkadang juga Rasti menuduh tanpa bukti bahwa dirinya berselingkuh di belakang Rasti.
"Terserah apa katamu! Aku tidak peduli! Silahkan kamu tuduh aku semaumu! Asal kamu tahu, aku menjauh darimu karena aku bosan selalu kau tuduh! Selalu kau tuntut untuk berada di sampingmu terus!" bentak Arga, "seharusnya kamu berpikir, mungkin nggak aku ninggalin perusahaan hanya karena harus nemenin kamu dua puluh empat jam dalam satu minggu penuh! Dan soal tuduhanmu tadi, kamu introspeksi dirilah, siapa yang menjauh sekarang! Setiap kali aku meminta hakku sebagai suami, kamu selalu menolak tanpa memberi alasan apa pun! Seandainya aku benar berselingkuh, apa itu murni salahku?" imbuhnya lagi.
Arga merasa kesal dengan tuduhan Rasti yang menurutnya terlalu berlebihan, padahal selama beberapa bulan ini Rasti yang terus menerus menolaknya setiap kali Arga meminta haknya. Arga merasa Rasti sangat berbeda dengan Kania yang tidak pernah menuntutnya bahkan menuduhnya macam-macam. Ah, seandainya peristiwa laknat itu tidak terjadi ....
Rasti meradang saat melihat Arga pergi meninggalkan dirinya begitu saja, dia tidak terima dengan semua ucapan Arga. Dengan penuh kemarahan, Rasti bersumpah akan membuat Arga kembali bertekuk lutut kepada dirinya seperti yang terjadi selama ini.
"Mas! Mas! MAS ARGA! Mau ke mana kamu, Mas! Aku tidak terima dengan ini semua, Mas! Aku bersumpah membuatmu kembali bertekuk lutut dan tunduk kepada diriku seperti dulu. Kali ini kamu tidak akan mudah melepaskan pelet dariku, Mas!" jerit Rasti dengan kerasnya, sehingga membuat petugas keamanan perumahan yang sedang berpatroli lewat di depan rumahnya menghentikan langkah, dan memandang dengan penuh tanda tanya ke arah rumah Arga.
Namun, petugas keamanan itu segera meneruskan kembali langkahnya setelah melihat Rasti tengah menatapnya dengan pandangan tidak suka dan menusuk seolah ingin mencongkel bola matanya, selain ancaman dan makian yang dilontarkan kepadanya.
"Apa lu lihat-lihat, hah! Pergi nggak lu, atau lu mau gue bunuh terus gue congkel biji mata elu karena udah berani kepo sama urusan gue! Pergi nggak lu! Pergi!" teriak Rasti nyaring sehingga mengagetkan petugas keamanan perumahan itu dan membuatnya segera meninggalkan rumah Rasti dan Arga dengan setengah berlari sambil menempelkan jari telunjuknya di dahi.
Rasti yang dari sebelumnya sudah merasa sangat marah kepada Arga pun semakin marah dan melemparkan pot bunga yang berada di dekatnya, kemudian masuk ke dalam rumah dan membanting pintu kencang-kencang. Dengan penuh amarah, Rasti berlari menuju kamarnya untuk menyiapkan peralatan ritual yang akan dikerjakannya nanti tengah malam di hari terakhir dia berpuasa.
Namun, sebelum itu Rasti membuat janji temu dengan Mbah Kromo sore ini untuk mencari tahu kebohongan yang sedang disembunyikan oleh Arga saat ini darinya.
__ADS_1
[Halo, ada apa lagi kamu meneleponku?] tanya Mbah Kromo dari seberang.
[Anu, Mbah ... saya mau bikin janji sore ini sama Mbah, bisa?] jawab Rasti takut-takut.
[Mau apa lagi! Bukannya malam ini malam terakhir kamu berpuasa dan mengerjakan ritual? Mau apa kamu mendatangi aku?] tanya Mbah Kromo lagi dengan nada ketus.
[A ... a ... anu, Mbah ... saya ... saya mau minta tolong sedikit sama Mbah Kromo. Bisa kan, Mbah?] Rasti berharap Mbah Kromo mengijinkan dirinya datang ke rumah Mbah Kromo.
[Ya sudah, kamu datang saja petang ini. Soal kepulangan suamimu biar aku yang urus.] terdengar Mbah Kromo memerintah Rasti.
[Baik, Mbah. Saya pasti akan datang. Terima kasih, Mbah.] putus Rasti segera.
[Hmm.] Mbah Kromo membalas perkataan Rasti, lalu menutup teleponnya.
Rasti yang semula merasa kesal, berubah menjadi gembira karena Mbah Kromo bersedia menerima kedatangannya nanti petang. Dengan langkah lebar, Rasti segera menyelesaikan persiapan ritualnya, agar nanti saat dia kembali dari rumah Mbah Kromo semuanya sudah siap, tinggal pakai saja.
Di tengah melakukan persiapan ritual, Rasti teringat dengan perkataan Mbah Kromo yang terasa menganggu ingatannya.
'Mbah Kromo tadi mengatakan bahwa dia akan mengurus soal kepulangan Mas Arga sore ini. Kira-kira apa yang akan dilakukan Mbah Kromo guna mengulur waktu Mas Arga ya? Mudah-mudahan saja Mbah Kromo tidak membuat Mas Arga celaka.' Rasti merasa cemas akan keselamatan Arga, suaminya.
Sejurus kemudian Rasti menepis sendiri perasaan cemas itu, tidak mungkin rasanya Mbah Kromo akan melakukan tindakan untuk mencelakakan suaminya, apalagi target ritualnya adalah Arga, suaminya.
Akan tetapi mengingat reputasi Mbah Kromo yang terkenal tidak pernah memberi ampun kepada targetnya, membuat Rasti kembali merasa khawatir. Dia takut Arga mengalami kecelakaan saat pulang nanti.
Sambil berharap-harap cemas, Rasti kembali meneruskan persiapan untuk ritualnya nanti malam, sambil sesekali melirik ke arah ponselnya berharap tidak mendapatkan berita buruk tentang suaminya.
***
__ADS_1