
Sementara itu di Mahasura, kerajaan para lelembut, tampak Raden Mahesa sedang duduk termenung di singgasananya. Raja para lelembut yang usianya sudah ribuan tahun itu sedang memikirkan Kania, istri manusia ke duanya setelah Lakeswari, perempuan separuh abad yang selama ini selalu setia membantunya mencari orang-orang yang sedang di mabuk asmara tetapi
tidak ingin repot dalam memperjuangkan cintanya, dan juga mereka yang sakit hati setelah cintanya ditolak orang yang mereka cintai.
Dulu bagi Mahesa, tidak ada manusia satu pun yang mampu berkorban seperti Nyai Lakeswari, tetapi setelah bertemu dengan Kania, hatinya bergetar begitu hebat. Bagai terhipnotis, Mahesa merasakan cinta yang luar biasa kepada Kania, bahkan dia rela mengorbankan dirinya asalkan wanita itu bahagia, satu hal yang tidak pernah dia rasakan kepada Nyai Lakeswari.
"Raden. Raden, sedang memikirkan apa? Raden teringat pada manusia perempuan itu? Raden jatuh cinta padanya? Sehebat apa perempuan itu melayani dirimu hingga mampu membuat seorang raja lelembut yang tampan dan gagah perkasa seperti ini, bisa jatuh cinta kepadanya? Apa dia lebih hebat dari aku yang selama ini selalu setia menemani dan membantumu mencari mangsa?" Nyai Lakeswari yang ternyata diam-diam sudah berada di dekat Mahesa, mencecar Raden Mahesa dengan begitu banyak pertanyaan.
"Diam kamu Nyai! Jangan karena selama ini kamu selalu membantu aku mencari mangsa dan bebas keluar masuk kerajaan, lalu berhak atas diriku! Apa semua yang kau lakukan untukku itu sudah cukup untuk menjadikan dirimu sebagai ratuku! Dirimu sama sekali tidak pantas menjadi ratuku apalagi menjadi permaisuriku! Kau hanya pantas memiliki gelar sebagai selir! Satu lagi yang harus kau ingat, jangan berani- berani mengganggu atau menyakiti wanita itu sedikit pun! Kecuali dirimu sudah bosan hidup!" Mahesa mengeluarkan peringatan dan ancaman kepada Nyai Lakeswari agar tidak menyentuh Kania.
Lakeswari yang tidak pernah menyangka akan mendapat peringatan atau ancaman dari Raden Mahesa merasa sangat terkejut dengan perlakuan Mahesa kepada dirinya, sebab selama ini sikap raja lelembut itu begitu manis dan lembut pada dirinya.
Mendengar ancaman Mahesa, Lakeswari merasa sangat marah. Dia merasa semua pengorbanan yang dilakukannya tidak ada artinya sama sekali, "Mahesa! Memang benar kau adalah seorang raja lelembut yang sakti, tapi apakah dirimu masih ingat beberapa tahun lalu kau datang kepadaku, mengemis bantuanku untuk membantumu mencari manusia-manusia yang haus akan cinta dan akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cintanya, sehingga kelak dari mereka engkau dan rakyatmu akan mendapatkan makanan berupa ruh-ruh yang tergadai. Apa dirimu lupa, Wahai raja lelembut yang gagah perkasa, siapa yang mengemis?! Aku yang hina menurut dirimu atau justru kau yang hebat ini?! Jika menurutmu, aku sudah tidak berguna lagi, aku akan melepaskan perjanjian kita dan kau harus membayar lunas semua yang telah kau ambil dari mangsa-mangsamu termasuk tumbal-tumbal yang telah kau terima selama ini!" Hardik Nyai Lakeswari, sambil hendak beranjak meninggalkan Mahesa yang tampak terkejut dengan perlawanan Lakeswari.
Mahesa tidak menduga Lakeswari berani menentangnya, walaupun Mahesa adalah seorang raja tetapi sesungguhnya semua ilmunya masih berada di bawah ilmu Nyai Lakeswari.
"Maafkan aku, Nyai. Maafkan karena aku tidak sengaja mengancam dirimu karena manusia perempuan bernama Kania itu. Aku hanya tidak ingin ada yang menyakiti perempuan itu karena hanya dari dialah aku bisa memiliki keturunan dan hanya dari dirinya aku dan rakyat-rakyatku tidak perlu lagi kesusahan mendapatkan ruh-ruh yang tergadai, karena aku yakin rasa dendamnya yang besar itu akan memberi kami semua makanan yang lebih dari cukup." Mahesa bergegas menahan laju Nyai Lakeswari yang ingin meninggalkannya dengan menjelaskan tujuan sebenarnya mendekati Kania, tetapi semua itu tidak ada artinya bagi Lakeswari yang telah sakit hatinya. Dia tetap bersikeras meninggalkan Mahesa sehingga Mahesa menggendong Lakeswari dan dibawanya ke kamar lalu dicumbunya perempuan itu hingga akhirnya terjadilah penyatuan yang penuh nafsu, liar hingga menguras tenaga mereka berdua.
Meski Lakeswari sudah mengetahui wujud asli Mahesa, tetapi tidak ada rasa jijik pada dirinya. Malahan Lakeswari dengan rakus melahap semua belatung yang jatuh di atas badannya dan menghisap rakus belatung-belatung yang tidak pernah berhenti keluar dari ******** Mahesa yang berbentuk layaknya belatung raksasa itu, sehingga membuat Mahesa merasa bagai terbang ke awang-awang. Sungguh penyatuan luar biasa yang baru sekali ini dirasakan oleh Mahesa selama menjadi peliharaan Nyai Lakeswari, "Nyai, tak kusangka dirimu begitu luar biasa. Kau bahkan sanggup menghabiskan belatung-belatung sakti milikku. Tapi kenapa baru kali ini kau mau melakukan itu, Lakeswari sayang? Mahesa memuji Nyai Lakeswari usai percintaan hebat mereka.
"Kenapa katamu?! Agar kau tahu bahwa dirimu tidak bisa seenaknya saja padaku, Mahesa! Mengerti?!" tandas Lakeswari dengan tegas.
Mahesa mengangguk dan tersenyum tipis, di dalam hatinya masih terselip keinginan untuk melepaskan diri dari wanita tua ini, tetapi ilmu serapan wanita separuh abad itu masih terlalu kuat untuk dilawannya. Nyai Lakeswari memang bukan wanita yang bisa diremehkan begitu saja, selain terkenal sebagai ahli teluh paling hebat, dia juga terkenal sebagai salah satu cucu dari raja Kerajaan Blambyangan yang disembah oleh nenek dan kakek moyang Mahesa, yang kebetulan memiliki ilmu kanuragan dan ilmu-ilmu hitam super tinggi lainnya.
__ADS_1
Setelah beberapa lama, Nyai Lakeswari berpamitan kepada Mahesa untuk kembali ke dunia manusia, sebelum pergi tidak lupa dia meninggalkan pesan supaya Mahesa jangan sampai jatuh cinta kepada Kania, apabila dirinya masih ingin selamat.
Mahesa mengangguk tanda setuju, karena bagaimanapun juga permasalahannya dengan Nyai Lakeswari, Mahesa tidak ingin mencelakakan ratunya.
Sambil beranjak pergi meninggalkan Mahasura, Nyai Lakeswari menyusun satu rencana untuk Kania. Karena tanpa diberi tahu siapapun sebenarnya Nyai Lakeswari sudah mengetahui apa yang terjadi antara Raden Mahesa dan Kania. Nyai Lakeswari berkeinginan menjadikan Kania sebagai penerusnya, sebab Nyai Lakeswari sangat tertarik dengan aura gelap yang dimiliki oleh Kania, sangat gelap, mempesona tetapi mampu menipu musuh untuk mendekat dan membunuh musuh dengan perlahan.
'Kania ... aku sudah tahu apa yang terjadi antara kau dan Raden Mahesa tadi malam, sekarang aura kegelapan milikmu semakin kuat, makin mempesona dan mematikan untuk musuh-musuhmu. Aku harus bisa mengangkatmu menjadi muridku, kau harus menjadi penerusku, Kania. Karena ilmu-ilmu yang kumiliki hanya pantas jadi milikmu,' Nyai Lakeswari menggumam lirih sepanjang perjalanan sejak meninggalkan Mahasura menuju dunia manusia dengan menggunakan ilmu kanuragan bernama ajian Ngrogoh Sukmo, yang dipelajarinya dari nenek moyangnya. Ajian Ngrogoh Sukmo adalah salah satu ajian dari ilmu kanuragan yang bisa mengeluarkan ruh dari raga kasarnya dan kembali lagi saat diinginkan. Ajian ini biasa dipakai untuk melawan musuh dengan cara tak kasat mata.
***
Sementara itu di rumah Kania, Kania yang baru saja bangun tidur setelah menikmati malam panjang bersama Raden Mahesa. Kania merasa seusai pernikahan gaib yang dilakukannya dengan Mahesa membuat kekuatan di dalam dirinya semakin kuat, kepekaannya pun semakin meningkat, dan hasrat untuk menuntaskan dendamnya pun semakin membara.
Kania tidak perduli lagi dengan Tuhannya, bahkan panggilan Tuhan yang beberapa tahun silam tidak pernah ditinggalkannya sekarang seakan menjadi pengganggu waktu tidurnya saja.
Tanpa sadar, tangan Kania memegang satu persatu anggota tubuhnya sementara ingatannya terbang mengingat kejadian tadi malam bersama Raden Mahesa.
Namun, suara ketukan di pintu kamarnya membuatnya harus menghentikan hasrat yang sudah mulai naik.
Tok! Tok! Tok!
"Non! Non Kania! Ini bibik, Non! Sudah pagi, Non! Non Kania pagi ini, katanya mau ada rapat penting! Nanti telat lo!" Terdengar suara Bik Sumi membangunkan dirinya.
"Iya, Bik! Kania sudah bangun kok! Makasih sudah dibangunin!" Suata teriakan Kania terdengar dari dalam kamar, ada sedikit rasa kesal di dalam hatinya karena harus menunda hasratnya yang sudah mulai menggebu.
__ADS_1
Dengan malas, Kania bergegas menyeret langkahnya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, Kania menuntaskan hasratnya yang tadi tertunda dengan membayangkan dirinya sedang berduaan dengan Mahesa.
Usai mandi, Kania bersiap menuju pabrik milik ayahnya. Hari ini dirinya ada jadwal pertemuan penting dengan salah satu calon investor dari Inggris. Saat sedang bercermin, tiba-tiba tercium bau bunga kantil dan kenanga, wangi khas yang menandai kemunculan Raden Mahesa si raja lelembut yang kini telah menjadi suami gaibnya, hawa dingin menyeruak masuk ke dalam kamarnya terasa menggigit hingga ke tulang sumsumnya.
"Kania, Ratuku. Kedatanganku kali ini tidak lama, aku hanya ingin menyerahkan ini kepadamu. Pakailah ini setiap kali kau mau pergi bekerja, benda ini tidak akan pernah habis dan akan membuat pesona dirimu akan semakin tak terkalahkan. Semua yang memandangmu akan terpesona padamu, semua yang mendengarkan suaramu akan terpikat dan memenuhi semua inginmu," bisik Mahesa sambil menyerahkan sebuah botol kecil ke tangan Kania.
Kania menerimanya dengan mata yang berbinar sambil mengucapkan terima kasih Kania memberikan senyuman termanis miliknya, 'terima kasih suamiku. Akan aku pakai pemberian darimu setiap kali aku pergi bekerja,' bisik Kania menjawab bisikan Mahesa sebelum raja lelembut itu menghilang dari pandangannya.
Sejenak, Kania memandangi botol kecil pemberian Mahesa, dengan perasaan bahagia dibukanya tutup botol tersebut dan dihidunya bau wangi kantil dan kenanga khas wangi tubuh Mahesa.
Isi botol itu diteteskannya sedikit ke jari telunjuknya dan dioleskannya ke belakang telinganya, lehernya, kedua pergelangan tangannya, kedua lipatan siku dan lututnya, kemudian dengan langkah percaya diri dia keluar dari kamarnya.
'Mmm, harum tubuh Mahesa. Aku suka,' bisik Kania sambil melangkah keluar dari kamarnya.
Sesampainya di ruang makan, Kania bertemu dengan Bik Sumi yang tengah mempersiapkan sarapan untuknya. Tidak sengaja mata Bik Sumi menatap Kania dan sungguh tidak disangka-sangka, mata Bik Sumi terus menatap ke arah Kania dengan pandangan kagum dan terpesona, bahkan setiap perkataan Kania diiyakannya tanpa banyak pertanyaan.
"Non, cantik amat hari ini. Non Kania beda banget, kelihatan lebih ayu, lebih bersinar. Bibik aja sampai terpesona melihat Non Kania. Kerenlah pokoknya," puji Bik Sumi.
"Ah, masa sih, Bik. Biasa aja, aku dandan gini juga 'kan setiap mau kerja. Ya sudah, aku berangkat dulu ya, Bik. Bibik, tolong beresin rumah, habis itu belanja ya." Kania mengangsurkan sejumlah uang, menyuruh Bik Sumi belanja, dan tanpa diduganya Bik Sumi langsung mengiyakan perintahnya tanpa banyak bicara.
"Ya, Non," jawab Bik Sumi menerima uang dari Kania dan langsung membereskan sisa sarapan Kania.
Di dalam Lamborghini Reventon miliknya, Kania tersenyum mengingat reaksi Bik Sumi sewaktu di rumah tadi, dia semakin yakin mulai detik ini usahanya membalas dendam semakin terbuka lebar, apalagi ditambah dengan adanya botol yang baru saja dihadiahkan oleh Raden Mahesa kepadanya.
__ADS_1
***