Santet Pengantin

Santet Pengantin
Part 8


__ADS_3

Para tim medis bergegas melanjutkan operasi ceasar dan berhasil mengeluarkan bayi Rasti, tetapi malang ... bayi tersebut dilahirkan dalam keadaan sudah tidak bernyawa.


"Dok, janinnya tidak bisa diselamatkan. Janin sudah meninggal, perkiraan waktu janin meninggal adalah satu jam sebelum proses operasi terjadi, dok." Salah seorang tenaga medis memberitahu dokter Indri bahwa janin Rasti tidak tertolong.


Dokter Indri memandang keruh pada janin yang sudah tidak bernyawa itu, dia yakin janin itu pasti kehilangan nyawanya di tangan hantu perempuan tadi.


"Tolong urus jenazah bayi itu, Sus. Minta bagian pemulasaraan jenazah untuk membersihkan dan memandikan jenazah, serta mengkafani. Setelah menyelesaikan semuanya di sini, saya akan memberitahu suami pasien di luar," ucap dokter Indri.


Suster itu hanya mengangguk dan membawa jenazah bayi Rasti ke ruang pemulasaraan jenazah untuk dimandikan, sementara dokter Indri menyelesaikan proses operasi.


Setelah proses operasi usai, dokter Indri meminta kepada salah satu suster untuk memindahkan Rasti ke ruang rawat yang tersedia, sementara dia menemui Arga yang menunggu di luar.


"Maaf, Pak Arga," panggil dokter Indri perlahan.


"Iya, dokter. Bagaimana operasi istri saya? Istri dan anak saya selamat 'kan, dok? Anak saya laki-laki atau perempuan, dok?" Arga mencecar dokter Indri dengan berbagai pertanyaan yang menjejali otaknya sedari tadi.


Dokter Indri menghela nafas panjang, berat rasanya untuk menyampaikan berita duka bahwa bayi itu sudah meninggal bahkan dari sebelum proses operasi berjalan, tetapi tidak ada pilihan lain selain dia harus menyampaikan kenyataan itu.


"Saya minta bapak bersabar atas semua kejadian yang terjadi, semua adalah takdir Tuhan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan istri bapak dan bayinya, tapi Tuhan berkehendak lain. Anak bapak, meninggal," ucap dokter Indri.


"Dia sudah tidak ada sebelum operasi ceasar berlangsung, anak bapak laki-laki. Jenazah sudah kami antar ke bagian pemulasaraan jenazah untuk dimandikan dan dikafani, jadi bapak bisa ke sana kalau mau melihatnya."


Dokter Indri lalu melanjutkan kembali penjelasannya, "sementara untuk Ibu Rasti, beliau masih harus berada di ICU sebab beliau kehilangan banyak darah yang menyebabkan beliau koma, dan untuk donor darah yang tadi saya perlukan, tolong tetap bapak carikan karena istri bapak  masih memerlukan banyak darah. Untuk kekurangan yang dua kantong tadi sudah kami atasi, kebetulan anggota tim kami ada yang memiliki golongan darah sama dan merekalah yang berdonor karena situasi mendesak dan kami tidak bisa kalau harus menunggu terlalu lama."


"Jadi anak saya meninggal, dok. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, terima kasih untuk usaha yang sudah dokter dan tim berikan untuk anak dan istri saya. Saya sangat menghargainya, saya permisi mau ke bagian pemulasaraan jenazah dulu, dok" pamit Arga kepada dokter Indri.


Dengan langkah gontai dan mata berkaca-kaca, Arga melangkahkan kakinya ke ruang pemulasaraan jenazah untuk melihat jenazah bayinya ketika tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera tulisan PAPI, gegas di angkatnya telepon dari papinya.


[Assalamualaikum, Pi.]


Salam Arga begitu mengangkat telepon papinya.


[Wa'alaikumsalam, Arga. Ga, maaf papi dan mami baru aja sampai di rumah sakit, tadi kami terjebak macet karena hujan angin ribut. Semoga istri dan anak kamu bisa tertolong, ya.]


Indra, papi Arga menjelaskan alasan keterlambatan mereka kepada Arga.


[Iya, nggak apa-apa, Pi. Rasti, alhamdulillah selamat, tapi anak Arga ....]


Arga menggantung kalimat, tak sanggup rasanya mengatakan bahwa anaknya telah tiada.


[Kenapa, Arga? Ada apa dengan bayi kalian, dia baik-baik saja 'kan? Cucu papi dan mami selamat 'kan?]


Indra Hartawan mencecar Arga dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


[Lebih baik Papi dan Mami ke sini aja, ya.]


Pinta Arga kepada kedua orang tuanya.


[Baik, kami ke sana sekarang. Kamu ada di mana ini, Nak?]


Papi Arga bertanya lagi kepada Arga.


[Aku di depan taman, pertigaan ke arah ruang VIP, ruang pemulasaraan jenazah dan ruang OK, Pi.]


Jelas Arga, dia memutuskan menghentikan langkahnya dan menunggu kedua orang tuanya.


[Oke, lima menit lagi kami sampai sana. Ini kami sudah ada di depan ruang OK.]


Jawab papi Arga. Kedua orang tua itu bergegas melajukan langkah mereka untuk mendatangi Arga di tempat yang dimaksud.


Sementara itu selepas menerima telepon dari orang tuanya, tidak selang berapa lama ponselnya kembali berdering. Arga segera mengangkat ponselnya setelah sempat membaca nama PAPA ROY di layar ponsel berlogo apel di gigit miliknya.


[Assalamualaikum, Arga.]


Papa Roy, Papa Rasti mengucapkan salam begitu mengetahui panggilannya terjawab.


[Wa'alaikumsalam, Pa.]


Arga menjawab kembali salam yang diucapkan oleh papa mertuanya.


Urai papa Rasti panjang lebar.


[Iya, nggak apa-apa, Pa. Kebetulan ini papi dan mami Arga juga baru sampai, Papa dan Mama langsung masuk ke dalam saja. Kami ada di depan taman, pertigaan ke arah ruang pemulasaraan jenazah, IGD dan ruang OK, Pa.]


Terang Arga.


[Oke, papa dan mama langsung ke sana sekarang. Ayo, Ma.]


Putus Roy dan langsung mengajak Rahayu, istrinya untuk menemui Arga.


Lima belas menit kemudian, Roy dan Rahayu sampai di tempat yang disebutkan Arga di telepon tadi, di sana terlihat sudah ada Indra dan Risa Hartawan, besan mereka berdiri bersama Arga.


Roy dan Rahayu melihat wajah mereka bertiga begitu tegang, terlebih wajah Arga yang tampak pucat, lusuh dan seperti menahan sesuatu. Roy merasa ada yang tidak beres yang sedang disembunyikan oleh menantunya itu, oleh karena itu setelah bersalaman dengan Indra dan Risa, Roy langsung bertanya pada Arga.


"Arga, papa dan mama minta maaf karena datang terlambat. Sebenarnya kami tadi langsung berangkat setelah menerima telepon darimu, tapi nggak tahu kenapa mobil papa tiba-tiba saja mogok dan nggak mau dinyalakan lagi mesinnya. Jadi kami terpaksa harus menunggu tukang bengkel langganan kita untuk datang mengambil mobil papa dan menelepon taksi untuk melanjutkan perjalanan ke sini," papar Roy.


"Ya, nggak apa-apa, Pa, Ma. Papi dan mami juga baru datang kok, karena tadi mereka kejebak hujan angin ribut dan nggak berani nerusin perjalanan karena jarak pandang terlalu dekat," jelas Arga kepada Roy.

__ADS_1


"Oh, oke. Sekarang beritahu pada kami, bagaimana keadaan istri dan calon anak kalian? Mereka selamat 'kan?" Risa bertanya kepada Arga mewakili suami dan kedua besannya.


Wajah Arga semakin murung. Tanpa suara, Arga menggamit tangan mamanya dan meminta mereka semua untuk mengikuti dirinya menuju ke ruang pemulasaraan jenazah.


Wajah ke empat orang tuanya terlihat tak mengerti kenapa mereka di bawa ke sana, dan saat mereka baru mau menanyakan hal itu pada Arga, tampak seorang suster keluar menggendong jenazah bayi berlapis kain selimut yang sepertinya meninggal saat baru dilahirkan, menghampiri mereka dan menyerahkan jenazah bayi itu kepada Arga.


"Pak Arga, ini jenazah bayi bapak sudah kami mandikan, tinggal dikafani saja. Barangkali bapak mau melihat untuk yang pertama dan terakhir kalinya sebelum kami mengkafani putra bapak," ucap petugas pemulasaraan jenazah.


Diiringi dengan isak tangis yang tertahan, Arga menerima bayi laki-laki yang sudah dinantinya selama dua tahun menikah dengan Rasti, sungguh dia tidak pernah menyangka akan seperti ini jalan takdirnya.


Dipandanginya bayi merah yang ada di pelukannya itu, bayi itu tampak tenang dan bahagia seperti hanya tertidur pulas. Arga memandang anaknya tak berkedip, dia terpukau dengan keindahan ciptaan Allah walau pun ciptaannya itu sudah tidak bernyawa lagi. Perlahan diciumnya bayi mungil tanpa dosa itu, Arga membisikkan sesuatu di telinga jasad bayinya.


"Assalamualaikum, Jagoan ayah. Terima kasih sudah hadir dalam hidup ayah dan ibu meski tak lama dan hanya sebatas USG saja. Tunggu ayah, ibu, kakek, nenek, oma dan opa di surga ya. We love you, Boy." Usai mengucapkan kalimat itu, Arga menangis tersedu-sedu hingga Risa, ibunya harus mengambil alih jasad cucunya agar tidak terjatuh.


"Assalamualaikum, Cucu oma dan opa yang ganteng. Oma dan opa cuma mau bilang, kalau oma dan opa bangga punya kamu walau kita nggak bisa bersatu di dunia. We love you, Sayang," ucap Risa sambil mencium pipi jasad bayi mungil itu diikuti oleh Indra, suaminya yang kemudian menyerahkan jasad bayi mungil itu kepada Roy dan Rahayu.


Roy dan Rahayu pun melakukan hal yang sama dengan Arga dan kedua besannya, kemudian menyerahkan kembali jasad bayi merah itu kepada petugas pemulasaraan untuk dikafani. Mereka semua sudah memutuskan untuk memakamkan bayi itu hari ini juga.


Setelah semuanya beres, Arga, Roy, Risa dan Indra meninggalkan rumah sakit untuk membawa pulang jenasah bayi itu ke rumah Arga untuk kemudian disalatkan dan dimakamkan di makam keluarga besar Arga, sementara itu Rahayu memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit untuk menemani putrinya yang baru saja selesai operasi ceasar dan masih harus berjuang di ICU.


"Ya Allah, Rasti. Mama bener-bener nggak nyangka, nasib kamu seperti ini, Nak. Dulu adikmu yang mendapatkan ujian sekarang kamu. Mama harap kamu kuat nanti, dan tidak mengikuti jalan yang dipilih Sasti." Rahayu meratapi jalan hidup kedua anak kembarnya, yang tidak lepas dari cobaan.


***


Sementara itu di kediaman Indra, papa Arga, para tetangga mulai berdatangan untuk membantu proses pemakaman anak Arga. Beberapa ibu, membantu memasak dan menyiapkan air minum serta camilan untuk para pelayat dan keluarga beserta beberapa penggali makam. Sementara itu para bapak bersiap untuk menyalatkan jenazah dan menyiapkan keranda untuk membawa jenazah ke makam, di masjid wakaf 1keluarga Indra Hartawan.


Sekilas tidak ada yang aneh dari kegiatan itu, semua tampak wajar dan normal. Arga yang masih ingin bersama buah hatinya menolak memasukkan jenazah bayinya ke dalam keranda, dia ingin menggendong jenazah anaknya selama perjalanan hingga ke liang lahat.


"Bisa nggak, Pak kalau saya gendong anak saya saja mulai dari sini hingga ke makam. Ya, itung-itung gendongan pertama dan terakhir saya untuk dia, Pak," pinta Arga kepada beberapa tetangganya yang ikut mengurusi jenazah.


"Silahkan, Nak Arga. Nanti kalau Nak Arga sudah siap, kita langsung berangkat ya. Kasian kalau kelamaan, Nak." Salah satu pengurus masjid menepuk bahu Arga, mengingatkan.


Arga mengangguk mantap menanggapi perkataan bapak pengurus masjid tersebut. Beberapa saat kemudian datang imam masjid tersebut dan menyampaikan bahwa salat fardhu kifayah akan dilaksanakan. Arga mempersilahkan imam tersebut untuk memimpin salat fardhu kifayah diikuti oleh para tetangga dan keluarga besar Arga dan Rasti.


Usai salat jenazah, sebagian besar pelayat  bersiap mengantarkan jenazah menuju peristirahatan terakhir. Namun, tiba-tiba  ada salah satu pelayat terlihat kebingungan seperti sedang mencari sesuatu, dan menjawab mencari jenazah almarhum saat ditanya oleh pelayat yang lain.


"Pak Johan, kenapa kok kelihatan bingung gitu? Nyari apa to?" Pak Candra bertanya pada Pak Johan yang kelihatan bingung.


"Nyari jenazah anaknya Arga yang mau di makamkan itu lo, Pak, kok nggak ada? Apa ada yang mindahkan ya?" tanya Pak Johan balik.


"Lho, gimana sih, Pak. Itu di depan Pak Johan yang dibungkus kain kafan itu 'kan bayinya Nak Arga. Masa Pak Johan nggak bisa bedain?" tunjuk Pak Candra yang kebingungan dengan sikap Pak Johan.


Pak Johan memandang bingung ke arah Pak Candra bergantian dengan arah yang di tunjuk, dia heran dengan perkataan Pak Candra yang menyebutkan bahwa yang di bungkus kain kafan di depannya itu adalah jenazah bayi Arga yang sebentar lagi akan dimakamkan, padahal di mata pak Johan yang terlihat dalam bungkusan kain kafan itu bukan jasad manusia melainkan ....

__ADS_1


Jika bukan jasad manusia, lalu apa yang dilihat Pak Johan dalam bungkusan kain kafan yang baru saja selesai disalatkan?


***


__ADS_2